Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 38 – AUDIENSI DENGAN RAJA



Setelah 14 hari tiba di ibukota Kerajaan Meglovia, audiensi di hadapan raja dan ratu pun tiba. Alfreon Sun Meglovia dan Theia Madama Meglovia, demikianlah nama raja dan ratu kerajaan ini, alias kedua orang tuaku.


Namun meski dibilang orang tua, sejak hari di mana ramalan itu diumumkan, aku hampir tidak pernah menemui mereka lagi.


“Hormatku kepada api paling bersinar di negeri beserta penjaga terang pelitanya, raja dan ratu negara ini, Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu Kerajaan Meglovia.”


Aku membungkuk dengan hormat formalitas di hadapan raja dan ratu negara ini yang tidak lain adalah kedua orang tuaku sendiri.


Meski ini adalah acara formal di mana tak seharusnya hubungan kekerabatan sebagai orang tua dan anak ditonjolkan, tetapi tak terlihat sedikit pun afeksi di balik ekspresi mereka.


Yang ada, malahan ekspresi datar dari Ayah dibarengi ekspresi jijik dari Ibu padaku seakan melihat sampah.


Tampak berkumpul pula para bangsawan yang menduduki posisi parlemen di istana dan juga Leon serta Ilene. Untuk beberapa alasan, aku tak dapat melihat keberadaan Kakak.


Lalu, sang raja pun mengumumkan keputusannya perihal evaluasiku sebagai pimpinan Kota Painfinn selama empat bulan terakhir ini.


Awalnya, kukira dia akan segera mempermasalahkan soal banyaknya tentara yang mati perihal insiden The King of Undead itu. Namun, di luar dugaanku,


“Helios de Meglovia, pangeran kedua kerajaan ini, setelah menilai performamu dalam mengatasi akar masalah gelombang monster di Kota Painfinn dan bagaimana kamu meningkatkan kemakmuran kota itu, aku memutuskan untuk menjadikanmu pimpinan tetap di kota itu serta menganugerahimu gelar count sekaligus...”


Sang raja menyelesaikan pembacaan keputusannya. Tetapi daripada berisi ekspresi ketidakpuasan, itu malah justru berisi apresiasi atas pencapaianku dan bahkan sampai menganugerahiku dengan gelar count.


“Tunggu Yang Mulia Raja! Aku rasa itu bukan keputusan yang tepat mengingat usia Yang Mulia Pangeran Kedua masihlah tergolong muda, ditambah dengan kejadian the king of undead di mana Yang Mulia Pangeran Kedua yang menjadi pemimpin pasukan sewaktu bencana itu terjadi, tentu akan banyak muncul ketidakpuasan di mana-mana jika Yang Mulia Pangeran Kedua justru memperoleh prestasi alih-alih hukuman.”


“Jadi kau mau bilang kalau keputusan yang aku buat itu tidak bijaksana, wahai dewan perwakilan sarjana?”


Salah satu dewan perwakilan sarjana yang turut memegang suara yang penting di parlemen itu seketika terdiam di saat sang raja memelototkan mata ke arahnya.


Akan tetapi kemudian, Ilene-lah yang bersuara.


“Jika dipersilakan, bolehkah aku menambahkan pendapatku, Ayahanda.”


“Ehem, jika di tempat umum seperti ini, kamu harus memanggilku dengan sebutan formal, Putri Pertama.”


“Ah, maafkan aku, Aya, ah, maksudku Yang Mulia Raja.”


“Ehem. Baiklah, kupersilakan kau bersuara.”


“Menurut pendapatku, aku sepakat dengan apa yang dikatakan oleh dewan perwakilan sarjana tadi. Yang Mulia Pangeran Kedua tidak berhak menerima penghargaan, tetapi itu juga bukan berarti Yang Mulia Pangeran Kedua berhak menerima hukuman. Prestasi yang diperolehnya setimpal harganya dengan kegagalan yang diperbuatnya. Oleh karenanya, prestasi dan hukuman sebagai akibatnya saling meniadakan.”


Itu tentu saja tanggapan yang wajar mengingat bagaimana posisiku di negara ini yang sangat dibenci. Namun demikian, melihat Ilene, adik kandungku sendiri, turut memojokkanku, membuat hatiku ini terasa amat perih. Yah, setidaknya apa yang dikatakannya memang benar, jadi mari ambil positif saja apa yang barusan dikatakannya. Mungkin saja ada niat baik Ilene yang tersembunyi di sana tanpa sepengetahuanku.


“Hmm. Kalau menurut pendapatku, agak salah juga jika tanpa memberi apa-apa pada Yang Mulia Pangeran Kedua setelah prestasi apa yang dia lakukan. Bagaimana kalau memberinya setumpuk koin emas?”


“Itu pastinya akan lebih berguna, di samping Yang Mulia Pangeran Kedua selain dapat menggunakannya untuk perkembangan bisnis potion dan batu kristalnya, uang itu juga dapat digunakannya sebagai kompensasi pribadi sebagai bentuk permintamaafannya pada tentara yang gugur akibat perintahnya.”


“Hmm, aku kagum padamu, Putri Pertama. Kamu sungguh bijak. Baiklah mari lakukan itu. Kalau begitu, hadiah Pangeran Kedua digantikan dengan lima puluh ribu koin emas atas prestasinya pada penghentian akar masalah gelombang monster di Kota Painfinn.”


“Adapun untuk hukumannya karena kegagalannya dalam insiden yang melibatkan the king of undead yang menewaskan lebih dari seribu prajurit ditiadakan berkat prestasinya yang gemilang dalam mengembangkan Kota Painfinn. Apa ada lagi yang keberatan dengan keputusan itu?”


“Tunggu, Yang Mulia.”


“Ada apa lagi, Putri Pertama?”


“Mengenai masalah kepemimpinan Kota Painfinn, akan ada ketidakpuasan dari keluarga para korban prajurit jika Yang Mulia Pangeran Kedua masih terus menjadi pemimpin di sana. Bagaimana kalau menarik mundur Yang Mulia Pangeran Kedua lantas menggantikannya dengan Yang Mulia Pangeran Ketiga saja, Yang Mulia?”


Jadi begitu rupanya, aku baru paham alur pembicaraan ini. Pantas saja Leon dan Ilene bertemu secara pribadi beberapa hari yang lalu. Rupanya, itu semua untuk tujuan hari ini. Semuanya kembali pada ketakutan mereka jika aku sampai menggunakan momentum di Kota Painfinn itu untuk memperkuat posisiku demi merebut tahta, lalu ramalan itu pun akan terwujud.


Lagi-lagi, ini semua perihal ramalan sialan itu.


Aku jadi teringat obrolanku bersama Albert beberapa hari yang lalu.


“Master, apakah Master benar-benar tidak berniat menjadi raja?”


“Mana mungkin… Mana mungkin aku memikirkan hal yang seperti itu?! Mana mungkin aku akan mengincar posisi Kak Tius layaknya Leon. Sudah kubilang aku tak tertarik dengan tahta, malahan ada, aku sangat membencinya! Lantaran tahta sialan itulah kini keluargaku jadi tercerai-berai!”


Itu benar. Aku takkan pernah sekalipun tertarik dengan tahta. Impianku adalah menjadi pengusaha kaya raya yang terbebas dari etiket kerajaan. Jika bukan karena para warga di Kota Painfinn yang sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri, aku pasti dengan kemauanku sendiri akan sudah melepaskan posisiku saat ini.


Banyak juga hal yang menyakitiku di sana seperti ketika insiden dengan para pedagang itu yang membuat para warga menghujatku. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa lebih banyak kenangan indah yang aku ukir di sana.


Sejak aku terbebas dari sangkar istana kumuh itu, Kota Painfinn-lah yang telah mengisi kekosongan di relung hatiku itu dengan berbagai kenangan indah. Ada Nunu, Alice, Curtiz, Jilk, dan juga mendiang Fernand. Tanpa sadar, Kota Painfinn telah menjadi sesuatu yang begitu berharga bagiku.


Aku takkan pernah merebut tahta seperti yang mereka khawatirkan. Entah itu ramalan tiran atau apa, aku takkan pernah menjadi seseorang seperti apa yang digambarkan oleh ramalan itu. Akan kuukir masa depanku sendiri sesuai dengan jalan yang kuinginkan.


Walau demikian, beda ceritanya dengan Kota Painfinn. Selama aku bisa mempertahankannya tanpa melawan keputusan kerajaan, maka tentu saja akan kupertahankan hingga tetes darah penghabisan.


“Hmm, tapi terus-terang, aku cukup suka dengan prestasi Pangeran Kedua selama berada di sana. Terutama tentang bagaimana dia mampu menciptakan potion yang sangat bermanfaat bagi perkembangan sihir di kerajaan. Bagaimana menurutmu pendapatmu, Pangeran Kedua?”


Oleh karena itu, terhadap pertanyaan Ayahanda itu, sudah jelas jawabannya, “Jika Yang Mulia Raja memperkenankan, aku ingin tetap mempertahankan kepemimpinan Kota Painfinn itu di bawahku.”