Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 128 – RUMOR MENGENAI HELION



Situasi politik di kerajaan berkembang sangat cepat seiring dengan kepergian sang raja, Alfreon sun Meglovia.


Lalu di waktu-waktu sekitar bulan ke-10, berkembanglah rumor bahwa Helion bukanlah anak kandung Helios, melainkan hasil perselingkuhan antara Talia dengan Leon, adik kandung Helios.


Helios geram dengan semua itu. Walaupun tes DNA telah dilakukan dan membuktikan ketidakbenaran rumor tersebut, itu sama sekali tidak membantu perihal muncul rumor baru bahwa bukti DNA itu sendiri hanyalah hasil rekayasa Helios bersama Anna Rosse Bridgette yang merupakan kepala farmasi ibukota sejak rakyat belum terlalu familiar dengan yang namanya konsep medis.


Dalang dari penyebaran rumor ternyata adalah Duke Ares van Orsena pemimpin wilayah perlindungan ibukota Kerajaan Meglovia yang bekerjasama dengan kepala akademi kerajaan sekaligus pemimpin wilayah faksi tengah, Marquise Roderick van Moriant. Kedua-duanya merupakan mantan anggota faksi putra mahkota, Tius Star Meglovia.


Setelah kematian sang putra mahkota, kini mereka hendak menjadikan Ilene Rosse Meglovia sebagai ratu baru Kerajaan Meglovia tersebut menggantikan ayahanda-nya yang kini telah wafat. Hal yang tidak terduga adalah mereka berhasil merangkul Viscount Aloquince von Maxwell, pemimpin faksi kemiliteran, mantan faksi Pangeran Leon.


Kubu baru yang terbentuk untuk mendukung calon ratu baru, Ilene tersebut, tanpa diduga menjalankan aksinya dengan gencar menyingkirkan sang saingan Ilene, Helios de Meglovia, sang pangeran tiran es, dengan berbagai rumor spekulatif, bahkan sebenarnya tanpa Ilene terlibat dengan semua itu.


Helios kesulitan menampik rumor tersebut. Helion, sang putra Helios, memiliki ciri-ciri fisik mata biru dengan warna rambut secerah emas, mirip dengan sang kakek dan nenek, Alfreon sun Meglovia dan Theia Madama Meglovia, termasuk Marquise Newmann van Growmyerre.


Hanya saja, warna rambut dan mata Helion itu sangat berbeda dengan kedua orang tuanya di mana Helios memiliki warna rambut dan mata hitam legam segelap abyss, sementara Talia, ibunya, memiliki warna rambut perak dan mata emas yang diwarisi Talia dari ibu dan nenek dari ibunya.


Pernikahan beda ras di Kerajaan Meglovia sendiri adalah hal yang langka terjadi sehingga ciri-ciri fisik percampuran ras yang memiliki ragam variasi masih belum terlalu familiar di Kerajaan Meglovia tersebut. Hal itu bisa terjadi karena didukung oleh sikap primordialisme bangsa Meglovia yang terlalu tinggi yang menganggap diri mereka superior di antara bangsa lainnya, sebelas dua belas dengan bangsa Vlonhard.


Mereka hanya akan segera menghubungkan ciri-ciri fisik sang anak dengan kedua orang tua mereka.


Begitu tidak sama, mereka lantas dicurigai sebagai anak haram sebagaimana dulu sempat pula berkembang rumor bahwa Helios bukan akan kandung dari pasangan raja dan ratu. Namun rumor ini sendiri tidak terlalu berkembang karena segera tenggelam oleh ramalan sang tiran.


Jika rakyat Kerajaan Meglovia mau sedikit saja belajar tentang genetik, maka keberadaan rumor tersebut pasti takkan berkembang seliar ini sejak ada yang namanya dominan dan resesif di dalam gen. Gen dominan lebih besar peluangnya dalam menentukan fenotip dan genotip dari suatu individu, tetapi itu tidak menutup kemungkinan sekitar 25 persen, gen resesif-lah yang justru muncul.


Inilah yang menyebabkan Helion mampu memiliki warna rambut dan mata yang sangat berbeda dari kedua orang tuanya. Hasil pemeriksaan klinik di toko farmasi Anna telah dengan jelas membuktikan hal tersebut. Helion tidak lain dan tidak bukan adalah anak kandung pasangan Helios dan Talia.


Tentu saja pihak lawan tidak peduli dengan semua kebenaran itu. Bagi mereka, ini adalah suatu peluang emas untuk menyingkirkan duri pengganggu yang menghalangi jalan mereka.


***


“Tuan Helios, apa yang Anda lakukan sendirian di sini?”


Terhadap panggilan suara itu, Helios yang sedang asyik melamun di suatu sudut taman terpencil dekat dengan istana kumuhnya lantas berbalik.


“Ah, Nunu rupanya. Ada Olo juga. Kamu sendiri bagaimana? Apa sudah terbiasa tinggal di ibukota?”


“Itu…”


Terlihat Nunu hesitasi untuk menjawab pertanyaan Helios tersebut.


“Apa kubilang. Mengapa juga kamu memutuskan untuk datang kemari? Akan lebih baik kalau kamu menungguku pulang di Kota Painfinn saja. Berbeda dengan di sana, ibukota adalah tempat penuh rasisme dan rumor jahat.”


“Itu karena Tuan Helios terlalu lama baliknya. Aku jadi rindu Tuan.”


Nunu mengucapkannya dengan setengah bergumam yang bahkan tak mampu didengarkan dengan jelas oleh Olo.


Helios hanya berekspresi sendu. Wajahnya benar-benar terlihat sendu. Dia tidak mengatakan apa-apa, tetapi bahkan Olo yang kikuk pun dapat menangkap kesedihan terpancar dari balik wajah pemuda tampan bermata menyeramkan itu.


Olo lantas bertanya, “Apa ini rumor soal putra Anda, Helion, Tuan Helios? Kalau itu, kami juga percaya bahwa tak mungkin Nyonya Talia akan berselingkuh. Itu hanya rumor jahat yang disebarkan oleh orang-orang yang membenci Anda.”


“Lucu ya, betapa orang-orang di Kota Megdia ini begitu sensitif terhadap perbedaan warna rambut dan kulit. Helion jelas-jelas punya warna mata dan rambut persis sama dengan kedua kakek dan nenek dari ayahnya, ciri khas keluarga kerajaan, tetapi masih pula diperlakukan demikian. Itu semua hanya bisa terjadi karena mereka menilai ayahnya memiliki ciri-ciri fisik yang sama dengan ras rendahan yang mereka benci.”


Nunu yang tak tahan akan sarkasme Helios pada dirinya sendiri lantas turut menambahkan komentarnya, “Jika Tuan Helios berpikir begitu, maka mendiang Yang Mulia Raja Alfreon, ayahanda Anda, juga memiliki ayah yang berwarna rambut dan mata demikian! Kemuliaan seseorang tidak bisa dinilai dari warna rambut dan mata mereka!”


Helios segera meminta maaf kepada Nunu karena sampai melupakan bahwa Nunu juga termasuk ras yang direndahkan oleh Benua Ernoa itu layaknya dirinya. Tidak sepantasnya dia mengungkit-ungkit hal yang sesensitif itu di hadapan gadis berambut hitam dan bermata semerah darah itu.


“Bukan itu Tuan Helios. Maksudku…”


Namun sebelum Nunu berhasil menyelesaikan kalimatnya, Olo-lah yang terlebih dahulu berteriak,


“Itulah mengapa aku benci keluarga kerajaan. Mereka terlalu menilai ras mereka tinggi. Bahkan raja dan ratu yang memimpin negara hanya dapat diangkat di antara keturunan mereka sendiri. Contohlah di Asium sana, di sana tidak mengenal pembagian kasta bangsawan dan rakyat jelata. Siapa yang berbakat jadi raja, dialah yang bisa menjadi raja, tidak peduli siapa orang tua mereka.”


Mendengar ucapan Olo itu, Helios menatapnya.


“Olo, apakah menurutmu sistem di Benua Asium itu jauh lebih baik daripada sistem bangsawan di Benua Ernoa?”


“Ya, itu tentu saja. Dengan adanya sistem bangsawan, sekat di antara kelas bangsawan dan rakyat jelata semakin melebar. Akibatnya, tidak jarang kita lihat rakyat jelata tertindas oleh kaum bangsawan dengan semena-mena tanpa bisa membela diri.”


“Lantas dari sistem Benua Asium itu, bagaimana menentukan siapa yang paling berbakat untuk menjadi raja?”


“Ya itu tentu saja dari pemilihan rakyat. Siapa yang paling populer, maka dialah yang akan menjadi raja. Semudah itu sistemnya.”


“Lantas jika sudah tidak populer lagi, apakah itu berarti rajanya akan segera berganti?”


“Ya, kurang lebih begitu.”


“Lantas bagaimana dengan biaya yang mesti dikeluarkan oleh kerajaan dengan sistem pemilihan raja yang baru? Jika itu dilakukan hampir setiap tahun karena senantiasa dibutuhkan raja yang disukai semuanya, pasti akan begitu membebani finansial suatu kerajaan yang pastinya akan berimbas pada kemiskinan kerajaan itu.”


“Lantas bagaimana pula cara raja supaya bisa populer? Menggunakan uang untuk menyuap rakyat adalah hal yang termudah untuk dilakukan. Lantas darimana dananya bersumber? Apakah dari kas kerajaan yang diperoleh dengan susah-payah meggunakan keringat dan air mata rakyat kerajaan tersebut? Bukankah itu kembali kepada beban finansial baru bagi kerajaan?”


Olo merenung baik-baik terhadap perkataan Helios itu. Penghilangan sistem kasta dan membuat siapa saja berhak menjadi raja memang adalah suatu hal yang ideal untuk terjadi di dalam suatu kerajaan. Namun perwujudannya tidaklah seideal yang dibayangkannya.


Olo lupa satu faktor penting.


Manusia adalah jenis makhluk yang paling serakah, terlepas dia adalah bangsawan ataupun rakyat jelata.


Olo seketika membenarkan perkataan Helios itu di dalam hatinya. Penghilangan sistem kasta juga bukanlah solusi menghilangkan absurditas kekuasaan semena-mena di muka dunia ini. Dengan adanya pembatasan konstitusi yang jelas? Bukankah itu juga merupakan warisan sistem aristokrasi yang telah terbukti kurang efektif?


“Lantas apa jawaban tepatnya, Tuan Helios?”


Olo menyerah untuk berpikir lantas membiarkan Helios untuk memberikan sendiri jawaban tepat itu padanya.


“Aku juga tidak tahu. Jika saja seluruh individu di dunia ini bisa saling mengerti, tanpa adanya penguasa pun, pastilah kehidupan yang damai nan indah akan terwujud dengan mudah.”


“Jadi itu tergantung dari hati diri kita masing-masing?”


Terhadap komentar Olo itu, Helios menggelengkan kepalanya.


“Tidak sesederhana itu. Manusia adalah makhluk egois yang selalu ingin kebutuhannya terpenuhi. Jika itu tidak dikontrol dengan baik, maka pencurian dan perampokan pasti sudah akan merajalela di mana-mana sebab yang namanya kebutuhan pasti ada saja yang kurang. Hanya saja…”


Helios lantas menatap wajah Olo baik-baik.


“Untuk mengontrol keegoisan dan keserakahan tiap individu manusia, terkadang ketakutan itu diperlukan. Memang ironis, tetapi daripada senyum santun, tatapan menakutkan dari seorang pimpinan terkadang lebih mengontrol mereka. Bagiku, ketiranan tidak sejelek itu. Selama sang pimpinan tiran itu rela mendedikasikan dirinya demi kemanusiaan dan tak tenggelam oleh keserakahan pribadinya.”


Itulah komentar yang dikemukakan oleh Helios de Meglovia, sang pangeran yang diramalkan akan menjadi calon raja paling tiran di masa depan tersebut.