
Ibelal menatap Albert dengan senyum yang penuh penghinaan. Putra mahkota Kekaisaran Vlonhard itu benar-benar menghinakan Albert.
“Ah, aku ingat. Begitu, begitu rupanya. Kamu anak bungsu dari Duke Lugwein yang tak bisa kami sentuh karena hukum anak di bawah umur dari kekaisaran. Kalau aku tahu kamu akan menjadi batu penghalang kami setelah dewasa, seharusnya aku suruh saja para preman untuk membunuhmu langsung alih-alih kamu kujual ke colossium.”
“Oh iya, kamu tahu tidak, kakakmu yang bernama Roxane? Tiada yang tahu tapi aku berhasil diam-diam menyelundupkannya keluar dari tahanan kuil suci untuk aku cicipi dulu sebelum dibunuh. Sayang sekali kan, kalau wanita secantik itu harus mati begitu saja. Setidaknya, aku harus mencicipi rasanya dulu.”
“Itulah sebabnya seharusnya Duke Lugwein menuruti permintaan kami saja untuk ikut berkolaborasi dalam proyek the first order. Mengapa dia harus menentang kami sehingga mau tidak mau kami harus menyingkirkannya. Jika saja sang duke dengan patuh mengibaskan ekornya di hadapan kami, hal ini tidak akan pernah terjadi pada dirinya dan keluarganya.”
“Tapi ngomong-ngomong, bagaimana caranya kamu bisa bertahan hidup di colossium yang penuh monster itu? ini mengherankan, soalnya tak mungkin seorang anak kecil biasa bisa selamat dari tempat itu hidup-hidup.”
Albert hanya menatap Ibelal dalam diam. Albert terlihat sama sekali tidak tertarik menanggapi omongan Ibelal yang menyebutkan tentang nama keluarganya itu dengan penuh penghinaan. Namun, ekspresinya cukup untuk mengisyaratkan bagaimana Albert sangat membenci sosok tersebut.
Ibelal tidak tahu bagaimana Albert bisa selamat dari tempat yang penuh dengan monster itu karena secara beruntung di usia 7 tahun Helios, tepat beberapa saat dia mulai menguasai kekuatannya dan mampu mengendalikan beberapa familiar, salah satu familiar Helios diterbangkannya ke arah selatan kekaisaran dan tanpa sengaja bertemu dengan Albert yang dalam kondisi mengenaskan di sana.
Helios merasa simpatik pada Albert kala itu yang walaupun masih kecil sepertinya, tetapi telah memiliki ekspresi seperti ikan mati. Helios simpatik dan seakan menemukan secercah kecil dirinya pada diri Albert kala itu.
Lalu ketika Helios tahu bahwa Albert akan dikorbankan di colossium, Helios pun memaksa untuk memperoleh haknya memiliki ksatria pengawal seperti saudara-saudarinya yang lain kepada Raja.
Raja tak dapat berbuat banyak untuk menolak permintaan Helios tersebut sebab menolaknya sama saja berarti melanggar konstitusi Kerajaan Meglovia. Itu adalah permintaan tiba-tiba Helios yang biasanya tenang dan penurut sehingga Raja pun merasa iba dan ingin memberikannya pengawal seorang ksatria yang terbaik.
Tetapi kemudian, Helios menolak secara tegas ksatria pemberian Raja dengan alasan ingin seorang pengawal ksatria yang seumuran dengannya. Raja di dalam hatinya sebenarnya tidak pernah membenci Helios walaupun setelah turunnya ramalan tiran itu di mana diramalkan bahwa dialah yang kelak akan membunuh sang Raja di masa depan.
Hanya saja, sang Raja sempat bertanya-tanya mengapa Helios sampai menolak kebaikan hatinya itu. Apa mungkin putranya itu berpikir bahwa dia sebagai ayahnya akan tega merencanakan pembunuhan kepada anaknya sendiri melalui tangan ksatria yang hendak diberikannya kepadanya?
Sang Raja tidak membenci Helios akan hal itu, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa sang raja merasakan sakit hati.
Sang Raja pun akhirnya hanya menyetujui keinginan putranya itu demi ketenangan hati sang putra. Tetapi sang Raja bahkan tidak pernah tahu sampai saat ini bahwa Helios menginginkan ksatria saat itu semata-mata hanya untuk menyelamatkan Albert, bukan untuk dirinya sendiri.
Jadilah Helios mengungkapkan niatnya tentang calon ksatria yang diinginkannya dan itu adalah suatu hal yang benar-benar mengguncang istana. Helios ingin mengambil ksatria seorang budak dari salah satu anjing kekaisaran.
Sempat terjadi kekacauan di istana di mana banyak kubu politik yang kemudian menyarankan sang Raja untuk memberikan sangsi yang tegas kepada Helios perihal keinginannya yang hendak menjadikan salah satu anjing kekaisaran yang sangat dibenci oleh rakyat Kerajaan Meglovia itu sebagai ksatrianya.
Tentu sang Raja menolak tegas terhadap semua saran itu. Itu semua perihal rasa sayang sang Raja kepada sang putra. Tetapi di luar daripada semua itu, mereka juga tidak dapat berbuat banyak sejak Helios memang tidak pernah melanggar satu pun baik kode etik maupun konstitusi kerajaan. Semua itu hanya terkait terhadap sentimen kebencian terhadap bangsa Vlonhard saja, keinginan Helios sama sekali tidak melanggar hukum.
Sang Raja sebenarnya sangat simpatik terhadap putranya itu. Helios selama ini harus terkurung sendirian di dalam istana kumuh tanpa bisa ke mana-mana kecuali pada waktu-waktu tertentu yang diizinkan, itu pun, harus ada seseorang yang mengawasinya. Ini sama saja perlakuan terhadap tahanan. Padahal, sang Raja tahu betul bahwa putranya itu tidak pernah melakukan kesalahan satu pun yang membuatnya pantas untuk diperlakukan seperti itu.
Sebagai seorang pangeran, seharusnya putranya dijunjung tinggi, bukannya diperlakukan dengan penuh penghinaan seperti itu. Namun sang Raja tidak dapat berbuat banyak. Walau dengan otoritas sang Raja, dia juga tak mampu untuk menyentuh kuil suci yang memberikan perlakuan buruk kepada putranya itu dengan dalih sebuah nubuat.
Sebagai upaya terakhirnya demi rasa sayangnya kepada putranya itu, setidaknya Helios harus punya teman sebaya yang dapat menguatkan hatinya, mendukungnya di kala Helios butuh dukungan teman sebaya. Itulah akhirnya yang menjadi pertimbangan Raja untuk menyetujui proposal Helios tersebut.
Setelah memperoleh persetujuan Raja, Helios segera pergi bersama Owin, mendiang kepala pelayan istana Helios sebelum Albert yang telah lama wafat, ke colossium di mana Albert akan ditumbalkan untuk kemenangan para petarung lain di colossium tersebut.
Tepat pada saat Albert akan memperoleh kematiannya, dia pun pada akhirnya terselamatkan berkat Helios yang membelinya sebagai budak dalam harga yang sangat besar sampai menghabiskan seluruh kekayaan rumah tangga istana Helios yang telah dikumpulkannya selama dua tahun lamanya dia terkurung di situ.
Di situlah untuk pertama kalinya Albert yang kurus kerempeng bertemu seorang pemuda dengan warna rambut dan mata segelap abyss.
Bahkan di pertemuan pertama mereka, Albert sampai berucap, “Apakah Anda adalah malaikat kematian yang akan mencabut nyawa saya?”
Lalu dengan tersenyum, Helios menjawab, “Albert, penampilan malaikat itu lebih suci dan lebih indah dari yang banyak digambarkan oleh seniman-seniman jalanan.”
Pertemuan takdir antara dua orang yang saling menyelamatkan keduanya pun terjadi. Berkat keberadaan Albert, Helios terhindar dari kegelapan hatinya. Lalu berkat keberadaan Helios, Albert kembali memperoleh alasan untuk hidup.
Ada sedikit hal yang tidak diketahui baik sang Raja maupun seluruh bangsawan istana kala itu, yakni tentang identitas Albert. Mereka hanya mengetahui bahwa Albert adalah salah satu anjing kekaisaran, tetapi sama sekali tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya Albert memiliki status yang cukup tinggi karena dia merupakan anak seorang mantan duke, walaupun kini keluarganya telah jatuh karena dituduh melakukan bidat.
Bahkan setelah melihat warna rambut dan mata Albert yang merupakan ciri khas bangsawan kekaisaran, berkat kecerdikan Helios, akhirnya Albert hanya dirumorkan sebagai anak haram salah seorang bangsawan terhormat kelas rendah yang perihal keberadaannya sangat dibenci oleh keluarga utama sang bangsawan, dia pun dijahati dengan dijual sebagai budak di colossium.
Beruntungnya, tidak ada yang terlalu tertarik dengan Albert setelah itu sehingga tidak ada yang menggali lebih dalam lagi terkait identitas sebenarnya darinya. Itu semua hanya mungkin karena sikap patuh Helios selama itu yang menjauhkan diri dan bahkan terlihat sama sekali tidak tertarik dengan perebutan tahta.
Bahkan pendidikan yang diinginkan Helios kecil kala itu hanyalah berkutat pada medis, obat-obatan herbal, sejarah, bisnis, berpedang, dan beladiri saja. Dia sama sekali tidak tertarik belajar tentang ilmu politik dan strategi perang yang dibutuhkan untuk menjadi seorang penerus raja. Itulah sebabnya banyak yang membiarkan tanpa terlibat dengan Helios.
Selain persoalan tidak ada keuntungan yang diperoleh dengan menghilangkan nyawanya yang tidak punya pengaruh besar di persaingan tahta, kuil suci juga saat itu sedang mengawasinya sehingga alih-alih keuntungan, malah akan menimbulkan bahaya laten bagi kubu mereka masing-masing.
Walau demikian, itu bukan berarti hidup Helios aman selama berada di istana itu. Perihal posisinya yang lemah, banyak bangsawan termasuk yang golongannya rendah ingin menghinakan Helios dengan menghajarnya habis-habisan atau terkadang mengiriminya assassin. Sang Raja tidak dapat mengawasi Helios selamanya sehingga selalu saja ada celah untuk melakukan hal itu di luar pengawasan sang Raja.
Hukum bangsawan yang menyakiti keluarga kerajaan walaupun ada, tidaklah seberat jika rakyat jelata yang melakukannya yang harus berakhir pada guillotine. Di samping itu, prosedurnya amatlah sangat ribet di mana harus melalui pembuktian persidangan berkali-kali dengan melibatkan barbagai jaksa dan pengacara.
Itulah sebabnya dalam mengatasi perlakuan itu, Helios lebih memilih menyelesaikannya dengan tangan.
Helios hanya perlu menghancurkan setiap bangsawan yang merendahkan dirinya dengan pukulannya, balik menyergap jikalau dia disergap. Itulah prinsip Helios selama hidup di istana kumuh itu, setidaknya sampai Albert datang.
Semenjak ada Albert di sisinya, hal itu lantas semakin memudahkan hidup Helios sejak Helios tidak perlu turun tangan secara langsung lagi dalam melakukannya.
Helios adalah orang yang sangat berharga bagi Albert, begitu pula sebaliknya, nilai Albert tak dapat digantikan oleh siapapun bagi Helios.
Itulah sebabnya alih-alih marah untuk dirinya sendiri akan penghinaan Ibelal itu, Albert lebih mengutuk putra mahkota sampah tersebut perihal dia telah berupaya menyakiti Helios dengan memporak-porandakan tanah air yang dicintainya.