
Mayat-mayat berhamburan di sepanjang tanah Cabalcus. Itu tiada lain dan tiada bukan adalah buah dari amukan Helios.
Terlihatlah melayang dua sosok di udara di atas mayat-mayat yang berhamburan itu.
Salah satunya adalah seorang wanita cantik dengan tinggi sedang, tipikal princess jahat di novel-novel. Rambutnya merah, dengan pakaian merah membara yang dikenakannya, berupa gaun macaroni yang mengembang bak bunga mawar berduri. Bibirnya begitu merah karena menggunakan lipstick yang terlalu tebal seakan wanita itu baru saja meminum darah.
Wanita itu tersenyum dengan senyuman yang membuat seluruh bulu kuduk akan merinding seolah wanita cantik itu sedang meminta darah untuk diisapnya.
Dialah Marie, sang witch kutukan, witch nomor lima di legion the great five witch raja iblis.
“Manusia memang makhluk yang paling bodoh. Mudah marah dan dendam, lantas membunuh tanpa belas kasihan persoalan emosi sesaat. Tetapi berkatnya ini akan mudah untuk memanen kutukan demi mempercepat kebangkitan sang Raja Iblis.”
Perhatian princess jahat itu kemudian teralihkan pada rekannya yang kikuk. Dia terlihat sangat kikuk dalam melayang, hampir tidak sanggup menyamai kecepatan melayang Marie. Dengan ngos-ngosan, dia menguatkan dirinya sembari menggenggam tongkat kesayangannya itu erat-erat. Berbeda dengan Marie, wajahnya tua dan keriput yang tampak telah bau tanah.
Dialah Shipton, sang witch mimpi buruk, witch nomor empat di legion the great five witch raja iblis.
“Hei, Shipton! Kalau kerja yang benar! Mengapa kamu begitu lambat, hah?!”
-Puaaak.
“Aduh. Maafkan aku, Marie. Aku tidak memiliki stamina sehebat dirimu.”
“Huh, dasar parasit tidak berguna!”
-Puaaak.
“Aduh. Maaf. Maafkan aku.”
Marie yang kesal dengan kekikukan Shipton lantas tanpa hesitasi menampar rekannya itu, melupakan bahwa Shipton sejatinya adalah seniornya.
“Tapi, bukankah kelakuanmu terlalu kasar padaku, Marie? Bagaimanapun, aku ini seniormu.”
-Puaaak.
“Aduh. Maaf. Kumohon, jangan pukul lagi.”
“Apa kamu bilang? Senior?! Berani-beraninya kamu yang jelek itu menyamakan posisimu denganku! Lagian, Marie?! Sudah kubilang panggil aku dengan Princess Marie! Kamu itu sadar diri! Kamu itu bukan bagian dari kami! Mana sudi aku mau disama-samakan sama orang sejelek kamu!”
“Tapi, Nyonya Isis sendiri yang telah mengakuiku sebagai yang keempat.”
-Puaaak.
“Aduh. Maaf. Maaf, aku salah dalam berbicara. Kumohon jangan pukul lagi.”
“Sekali lagi kamu banyak komplain. Aku kutuk kamu hingga mati. Ikuti saja perintah Princess ini dengan baik, apa susahnya sih?! Lagian, orang bodoh macam apa yang bisanya cantik hanya di dalam mimpi, tapi sangat buruk menjijikkan di kenyataan. Sekarang kamu bantu aku baik-baik pegang boneka-boneka ini ke dekat mayat-mayat yang bergelimpangan untuk menyerap energi kutukan mereka.”
“Baik, Princess Marie.”
“Huh, lakukan pekerjaan dengan benar!”
Demikianlah kedua penyihir itu lantas mengisap suatu energi yang tampak berwarna hitam pekat yang berasal dari para mayat.
Lalu secara kebetulan, lewat-lah seorang gadis yang mengalahkan cantiknya Marie. Marie seketika mengamati sang gadis.
“Oya, oya. Bukankah itu Cassandra? Enaknya dia dizinkan sama Raja Iblis dekat-dekat sama pemuda gebetannya.”
Terlihat ekspresi penuh kesal, tidak, itu adalah amarah, terpampang di wajah Marie begitu melihat gadis tersebut. Marie merasa cantik. Walau demikian, diapun bisa segera sadar diri bahwa kecantikannya tiadalah superior jika dibandingkan dengan orang pertama dan kedua di legion witch raja iblis.
Isis dan Cassandra jauh lebih cantik darinya, bagaikan membandingkan bumi dan langit, bahkan tiada yang bisa menyamai kecantikan mereka di jagad raya ini. Rambut hitam pekat mereka yang sama-sama halus dengan kulit seputih susu yang menyegarkan membuat siapapun yang melihat mereka akan segera terpana oleh kecantikan mereka.
Marie mengutuk dalam-dalam dirinya karena tidak memiliki anugerah kecantikan yang sepadan dengan kedua witch seniornya itu.
Marie sering mencela umat manusia karena selalu memiliki emosi yang bodoh, namun tanpa sadar, dirinya pun memiliki emosi manusia yang dianggapnya bodoh itu.
Iri hati.
Sesuatu yang tidak akan ada obatnya. Bagaimana pun kita memiliki kecukupan, kita akan selalu merasa kurang karena selalu membanding-bandingkan diri kita dengan seseorang yang lebih superior dari diri kita.
Begitulah Marie akhirnya menjadikan sosok Isis dan Cassandra sebagai sumber hujatan di dalam hatinya yang tak sanggup bersaing dengan kecantikan mereka.
Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa kepada Isis sejak dia adalah pimpinan di legion the great five witch raja iblis dengan kekuatan yang luar biasa. Salah sedikit menyentuhnya, dia bisa saja kena sihir Isis lantas dirubah menjadi seonggok serangga yang kemudian mati dalam wujud penuh hina.
Tapi berbeda dengan Cassandra.
“Witch cinta? Apa-apaan itu witch cinta? Apa dia mau bilang kalau dia mengalahkan musuhnya dengan menebarkan pesonanya untuk membuat musuhnya lengah? Menjijikkan!”
“Princess Marie, Anda mau ke mana?”
Namun begitu Shipton juga pada akhirnya bisa melihat sosok Cassandra, wajahnya tiba-tiba saja menegang.
“Tidak, Princess Marie! Anda sebaiknya tidak mencari gara-gara dengan wanita itu!”
-Puaaaak.
“Apa? Apa kamu mau bilang kalau aku ini kalah hebat darinya?”
“Tidak, bukan begitu.”
-Puaaaaak.
“Aakh.”
“Kamu pikir mentang-mentang dia nomor dua lantas dia lebih hebat dariku? Tunggu saja, akan kupermalukan witch tidak berguna itu.”
Marie tersenyum bengis. Dia tampak memikirkan suatu rencana jahat di dalam kepalanya. Lalu pada akhirnya, dia pun benar-benar mencegat langkah Cassandra.
Melihat itu, Shipton jadi semakin gemetaran ketakutan dan akhirnya memilih untuk bersembunyi di balik sebuah pohon saja, memilih untuk tidak ikut terlibat dalam tindakan Marie.
“Oya, oya, siapa ini? Senior Cassandra rupanya. Apa yang Senior lakukan dengan setumpuk makanan manusia di tangan Anda?”
Yasmin alias Cassandra lantas menatap Marie dengan tatapan yang menunjukkan aura membunuh.
Bulu kuduk Marie seketika merinding karenanya. Dia ketakutan. Dia tidak dapat menyembunyikan badannya yang seketika gemetaran itu. Walau demikian, dia ingin tetap terlihat kuat di hadapan sosok yang eksistensinya sangat mengganggunya itu. Marie pun dengan sekuat tenaga berusaha menunjukkan ekspresi sebiasa mungkin.
“Apa ini? Tidakkah Anda ingin memberikan salam pada junior Anda?”
“Aku Yasmin. Bukan Cassandra. Aku ini maid setia Yang Mulia Pangeran Helios. Aku bukan rekanmu.”
Yasmin mengucapkannya dengan yakin. Itulah sebabnya Marie sedikit dibuat kebingungan dengan sikapnya itu.
“Lucu sekali. Seorang witch mau-maunya diperbudak oleh seorang manusia? Jangan-jangan makanan ini kamu sengaja bawa jauh-jauh untuk melayaninya. Dasar witch memalukan!”
Marie menghempaskan makanan yang dibawa oleh Yasmin itu dengan energi kutukannya. Makanan pun seketika jatuh berhamburan ke tanah.
Itu bukan persoalan makanannya kotor karena terkena tanah. Makanan-makanan itu telah terkontaminasi oleh energi kutukan Marie sehingga tidak mungkin lagi bisa dikonsumsi oleh seorang manusia.
Dan itulah yang akhirnya menyebabkan Yasmin naik pitam.
“Kau! Apa yang kau lakukan pada makanan yang kusiapkan buat Yang Mulia Pangeran Helios?!”
“Hah, kau witch memalukan yang mau-maunya diperbudak oleh manusia… Kueeeek!”
Belum selesai Marie berucap, Yasmin seketika mencekik lehernya lantas menyebarkan setiap energi kehidupan yang ada di dalam diri witch itu ke permukaan. Marie seketika sekarat.
Dia tidak mampu melawan di bawah aura mendominasi sang witch cinta. Dia pun akhirnya menyesal telah mencari gara-gara pada orang yang seharusnya tidak dia provokasi. Tidak hanya soal penampilan, sang witch cinta juga lebih unggul darinya dalam hal kekuatan.
Marie tidak dapat berbuat apa-apa. Dia mulai kehabisan nafas. Energi kehidupannya berkurang secara drastis dan mulutnya pun mulai berbusa.
“To… tolong, am… ampuni aku. Selamatkan aku. A… aku berjanji ti… tidak akan melakukannya la… gi.”
Marie pun akhirnya memilih merendahkan dirinya untuk meminta maaf.
Namun tiada tanda-tanda bahwa Yasmin meredakan niatannya untuk membunuh Marie. Dia mengisap vitality Marie dengan tiada hesitasi.
Begitulah sihir sang witch cinta bekerja. Cinta menimbulkan kekaguman. Kekaguman yang berlebihan menciptakan rasa posesif. Lantas rasa posesif menumbuhkan inferioritas. Demikianlah sang witch cinta membunuh lawan-lawannya dengan dominasi aura yang menakutkan yang seketika membuat sang lawan merasakan inferioritas.
Akan tetapi, sebelum energi kehidupan Marie itu benar-benar habis, Isis, sang pemimpin legion the great five witch raja iblis, tiba-tiba saja datang menghampiri mereka berdua lantas menghentikan tindakan Yasmin.
Itu Shipton-lah yang telah memanggilnya setelah merasa bahwa Marie akan segera memperoleh bahaya. Dan dugaannya itu ternyata tepat.
“Cassandra, cukup. Lepaskan dia!”
Bagaimana pun unggulnya Yasmin, dia tetap tak mampu menang jika lawannya itu adalah Isis. Dia pun akhirnya memilih untuk melepaskan mangsanya itu untuk saat ini.
Akhirnya, Marie justru dapat selamat dari amukan Cassandra alias Yasmin berkat campur tangan Isis, sosok yang tidak kalah dibencinya.
Namun, Marie telah mengambil pelajarannya. Cassandra juga adalah sosok yang tidak bisa dia ganggu.