
Seekor monster singa dan babi yang awalnya adalah manusia tepat berdiri di hadapan Alice.
“Awalnya kukira kalian hanya sekelompok orang yang sangat haus akan kekuatan hingga menghalalkan segala cara, rupanya aku salah. Kalian rupanya bahkan telah mengorbankan kemanusiaan kalian.”
“Jadi kenapa, wanita? Apa sekarang kamu takut dengan kami? Kalau kamu bersedia melayani kami dengan tubuh montokmu itu, mungkin kami setidaknya akan mengampuni nyawamu.”
Alice yang tak bisa lepas dari insting masokisnya seketika menunjukkan wajah kemerahan membayangkan dirinya diperbudak oleh para monster itu.
“Tidak, tidak, tidak. Bukannya saatnya seperti ini!”
“Hmm?”
“Apa kamu yakin kamu akan sanggup memuaskanku dengan tubuh monstermu itu? Bukankah ****** babi dan singa itu lebih kecil dari ukuran manusia? Atau jangan-jangan kalian bahkan sudah dineuterisasi?"
“Kamu meledek kami ya, wanita?! Jangan pikir karena kamu cantik, kami akan bersikap lunak padamu!”
Tentu saja bukannya terprovokasi, wajah Alice semakin menunjukkan tampang mesum dengan hinaan itu.
“Hmm? Kalau begitu maju sini. Kita buktikan apa kamu yang akan meng******* tubuhku ataukah aku yang akan memotong ******mu duluan.”
Baik sang monster singa maupun sang monster babi itu sama sekali tak mengerti mengapa arah pembicaraan Alice jadi demikian. Namun mengabaikan itu, pertarungan dua lawan satu mulai berlangsung, antara Alice melawan sang monster singa dan babi.
Alice berupaya menahan serangan sudukan dari sang monster babi dengan pedang besarnya, namun Alice tidak pernah menyangka bahwa dirinyalah yang justru akan terhempas duluan ke belakang.
Sudukan itu begitu kuat sehingga tubuh Alice pun tertubruk ke dinding hingga mengalami luka dalam lantas mulutnya mengeluarkan darah.
“Hahahahahaha. Inilah kekuatan kesempurnaan yang bisa dicapai seorang manusia! Dengan kekuatan dari iblis, manusia bisa berada di puncak evolusinya! Nah, rasakanlah akibat penghinaanmu terhadap hasil penelitianku yang cemerlang ini, wahai wanita laknat!”
Rahib Robell Zarkan terlihat antusias begitu Alice jatuh dan mengeluarkan batuk darah.
“Evolusi katamu? Itu salah! Kamu hanya mengubah mereka menjadi monster! Apalah arti kekuatan itu jika mereka harus kehilangan rasa kemanusiaan mereka yang menjadikan mereka manusia! Apa kamu pikir mereka akan diterima hidup di masyarakat dengan kondisi tubuh seperti itu?!”
“Hahahahahahahaha.”
“Kukukukukuk.”
Bukannya simpatik terhadap perkataan Alice, kedua monster bawahan Rahib Robell Zarkan itu justru tertawa, ada yang terbahak-bahak, ada pula yang cekikikan.
“Mengapa kami yang harus menerima mereka? Kami sebagai manusia baru justru yang bisa menentukan siapa manusia lama yang pantas dipertahankan hidup dan mana yang tidak berguna.”
“Itu benar. Kita bunuh saja siapa yang menentang kita. Lagian, sebentar lagi dunia ini akan dipenuhi oleh manusia baru.”
“Persetan dengan semua itu. Apakah kalian bangga memperoleh tubuh itu setelah mengorbankan nyawa ribuan orang? Lagian kalian pikir bisa berkembang biak dengan tubuh itu?!”
“Hah, apa gunanya kami punya keturunan di kala kini kami bisa hidup abadi?”
“Abadi katamu? Seberapa banyaknya nyawa pun yang kalian telah hisap, tetap ada batasan umur di mana daya nyawa yang tersimpan itu akan habis!”
“Kalau begitu, kita sisa menghisap nyawa baru kembali.”
“Kalian, dasar monster!”
-Trang.
Tumbukan antara pedang Alice dan kuku sang monster singa terdengar nyaring. Alice yang biasanya tenang tak sanggup untuk mengendalikan amarahnya di hadapan monster yang tak punya hati nurani.
Berbeda dari sebelumnya, Alice telah memprediksi dengan benar kekuatan yang dimiliki oleh makhluk-makhluk hasil ciptaan sorcery itu, terima kasih berkat sudukan sang babi. Dia sengaja memiringkan pedangnya 45 derajat. Alih-alih menghalau serangan dengan kekuatannya yang tidak memadai, Alice lebih memilih untuk membelokkannya ke arah yang menguntungkannya.
Lalu dengan lihai, Alice mengalirkan jurus petirnya tepat di punggung sang monster singa.
-Flash.
Walau demikian, terlihat sang monster singa tak bergeming sedikit pun.
Alice tidak punya waktu untuk berpikir. Sembari masih mengaktifkan jurusnya, dia segera melompat dan bersalto untuk menghindari sudukan sang monster babi.
-Slash.
Samar namun terlihat, tubuh monster itu jelas-jelas memantulkan hampir sebagian besar cahaya petir Alice yang menandakan bagaimana tingkat kekerasan kulit tubuhnya. Itu hampir sekeras adamantite, logam sihir dengan kekerasan terlemah, namun itu saja sudah lebih keras dari baja terkuat mana pun.
-Flash.
Sebelum mendarat, Alice kini mengalirkan sihir petirnya tepat di hadapan sang monster babi sambil bergerak mundur. Sama seperti sebelumnya, sang monster babi juga tampak tak bergeming sedikit pun. Bedanya, alih-alih dipantulkan, cahaya-cahaya petir itu sedikit terbiaskan.
Alice pada awalnya ingin menangkap Rahib Robell Zarkan, namun gerakan lincah dari sang monster singa segera menangkap pergerakan itu yang menyebabkan Alice terpaksa segera harus bergerak menjauh.
Berbeda dengan sang monster singa, bagian tengkuk leher sang monster babi rupanya keras dari pantulan yang ditunjukkan oleh cahaya petirnya. Uniknya, bagian perutnya itu tidak keras, malahan saking lunaknya sehingga sulit pula ditembus oleh pedang. Racun mungkin akan lebih efektif melukai sang monster babi itu. Masalahnya, Alice bukanlah petarung yang menggunakan racun sedari awal.
Alice bertarung dengan strategi serang mundur karena dia tahu bahwa tenaganya tidak seberapa jika dibandingkan dengan kedua musuhnya. Satu-satunya kelebihannya yang kemungkinan bisa membuatnya menang hanyalah sihir petirnya yang membuat musuhnya takut untuk mendekat.
Namun Alice tidak boleh lengah sama sekali karena untuk ukuran badan yang besar, pergerakan kedua monster itu sangat lincah. Untunglah sang monster babi hanya dapat bergerak cepat dalam gerakan yang lurus. Yang jadi masalah adalah sang monster singa yang mampu bergerak zig-zag dengan kecepatan yang bukan main.
Alice melakukan serang mundur dengan senantiasa mempertahankan posisi defensifnya.
“Tidak boleh begini, gerakanku terlalu lambat. Kalau begini terus, akulah yang akan kalah. Ah.”
Alice seketika mengingat obrolannya bersama Helios beberapa waktu lalu.
“Alice, apa kamu akan terus memakai pedang besarmu itu?”
“Tapi aku sudah nyaman bertarung dengan gaya pedang besar, Master.”
“Tidak, bukan itu maksudku. Maksudku kamu adalah seorang magic swordsman. Sayang sekali jika kamu tidak memanfaatkan keahlianmu itu. Zirah dan pedang besarmu terlalu menghalangi pergerakanmu, bukan?
“Tapi jika aku harus mengubah style-ku menjadi swordsman dengan pedang minimalis sekarang, itu agak…”
“Bukan itu maksudku, Alice. Bukankah magic swordsman punya keunggulan dibandingkan dengan swords master biasa? Seorang swords master hanya bisa menajamkan pedangnya dengan aura, tetapi berbeda dengan seorang magic swordsman. Mereka bisa mensummon pedang itu sendiri dengan menggunakan sihir mereka.”
“Jadi maksud Master…”
“Alice, cobalah summon senjata spiritmu sendiri, tidak hanya pedang, tapi juga dengan zirahnya sekalian. Kurasa itu akan memperbaiki kelemahan fatalmu dalam pertarungan. Kamu berbeda dari Albert soalnya yang berotak otot.”
Itulah percakapan yang sempat dilakukannya beberapa waktu lalu dengan tuannya. Lalu Alice, benar-benar berhasil mensummon senjata dan zirah spiritnya sendiri. Itu memang benar-benar meningkatkan keahliannya dalam bertarung. Tetapi terdapat kelemahan fatal yang tidak bisa membuatnya menggunakannya secara bebas sampai sekarang.
Itu adalah karena jurus itu sangat menghabiskan baik mana maupun staminanya. Jika dia menggunakan jurus itu sekarang dengan sisa mana dan staminanya, mutlak dia tak dapat lagi menggunakan mana-nya untuk mensummon petir.
Oleh sebab itu, Alice ingin berlatih dulu hingga mana pool-nya cukup besar untuk memungkinkannya menggunakan jurus itu secara bebas. Namun Alice tidak punya pilihan lain sekarang. Melakukannya atau kalah, hanya itulah pilihan yang dimilikinya sekarang.
Alice pun membuang pedang besarnya dan juga melepaskan setiap lempeng zirah emas yang dia kenakan. Buah melonnya yang tertutupi oleh dalaman hitamnya benar-benar terlihat berguncang.
“Oho, jadi sekarang kamu berniat merubah pikiranmu untuk menggunakan tubuhmu itu meminta maaf kepada kami?”
“Tapi bagaimana ya, wanita montok, biarkan kami memotong setidaknya dua atau tiga jarimu dulu untuk meredakan amarah kami.”
Alice tidak memperhatikan provokasi babi dan singa itu lantas bergerak cepat sembari mensummon senjata dan zirah spiritnya. Ketajaman senjata spirit itu jauh lebih tajam, namun lebih ringan daripada pedang besarnya sebelumnya walaupun ukurannya sama.
Dalam sekali gerakan, dia berhasil memotong kepala sang monster singa yang lengah tanpa sempat sang monster bereaksi. Sayangnya, tubuh sang monster babi yang kenyal menyelamatkan dirinya dari amukan pedang spirit Alice. Tubuhnya itu hanya terpantul ke belakang akibat perutnya yang kenyal.
“Kau, wanita sialan! Apa yang kau lakukan?!”
Sang monster babi seketika merinding begitu mendapati ekspresi mesum sang wanita berbadan montok di dalam perlindungan zirah spiritnya yang hampir tembus pandang itu.
Dia tidak sama sekali senang melihat badan montok Alice. Yang ada, dia malah sangat jijik melihat ekspresi Alice yang sekarang.
“Dasar wanita laknat! Apa yang kau lakukan pada hasil ciptaanku yang hebat?! Hai kau, Beta! Kubilang juga jangan main-main setiap kali dalam pertarungan atau kalian akan mati! Lihat sekarang si Alfa malah mati konyol karena wanita laknat itu padahal telah banyak uang yang kuinvestasikan padanya!”
Kegeraman Rahib Robell Zarkan semakin menjadi-jadi. Pandangan matanya menunjukkan kegilaan, lantas dia berubah bentuk ke wujudnya yang sebenarnya.
“Jadi kau rupanya juga telah melakukan eksperimen pada tubuhmu sendiri, Rahib.”
Namun jawaban apa yang diterima oleh Alice menggema seakan itu bukan suara milik seorang manusia, tidak, sedari awal mungkin itu bukan suara yang berasal dari dimensi itu. Itu jelas terdengar, tapi terasa tidak ditangkap oleh indera pendengaran.
“Jangan rendahkan aku dengan menyamakan tubuh agungku ini dengan makhluk spesimen rendahan itu, wanita laknat! Berbanggalah karena kamu bisa menyaksikan tubuh agungku ini secara langsung. Perkenalkan, aku adalah Baal, penguasa tower lantai 44.”
Dialah sang iblis, Baal, dengan tanduk kambing dan janggutnya yang menjijikkan yang telah membawa bencana tower ke dunia itu sepuluh ribu tahun silam.