Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 100 – PENJEMPUTAN RAJA IGNITIA



Kerajaan melakukan upaya terbaiknya demi meredam demonstrasi para pelajar, termasuk ancaman potensial lainnya yang bisa membahayakan kedatangan Raja Ignitia ke Kerajaan Meglovia ini.


Para demonstran dapat ditekan sampai pada taraf tertentu sehingga setidaknya, kondisi istana kembali kondusif, namun kita tidak akan pernah tahu apa yang bisa terjadi di luar istana.


Itulah sebabnya pada hari H, tepat beberapa hari setelah demonstrasi para pelajar itu, pengawalan kedatangan Raja Ignitia benar-benar dilakukan secara ketat.


Aku dan Ilene berperan dalam menyambut kedatangan Paman.


“Hormat kami pada bintang cerah yang selalu bersinar terang di angkasa yang gelap gulita, Raja Kerajaan Ignitia, Algebra Star Ignitia.”


“Hohohohoho. Ilene, Helios, rupanya kalian berdua sudah sangat besar ya. Terutama kamu Helios, bukannya ini pertama kalinya kita bertemu kembali setelah 15 tahun setelah pertunanganmu itu? Hohohohoho.”


Paman turut menyambut kami dengan ramah.


Kami berdua segera mengantar Paman ke istana dengan pengawalan ketat para royal knight yang juga ditempatkan di tiap titik jalan menuju ke istana tersebut. Ada Albert dan Yasmin yang juga turut bercampur di barisan para royal knight yang bertugas mengantar kami dari pintu gerbang perbatasan timur menuju ke istana.


Ini adalah perjalanan yang memakan waktu selama 4 hari, jadinya pasti akan sangat melelahkan di mana kami juga harus tetap waspada selama perjalanan mengingat wilayah ini adalah wilayah faksi Marquise August van Tellborne yang mana sedang memiliki hubungan yang dingin dengan keluarga royal pasca kematian Leon.


Syukurlah selama sehari perjalanan kami, semuanya berjalan baik-baik saja.


Kota timur adalah kota yang relatif aman. Itu karena kerajaan tetangga kami, Kerajaan Cabalcus dan Kerajaan Ignitia sedang dalam perjanjian damai dengan kerajaan kami, terlebih dengan Kerajaan Ignitia yang memiliki hubungan ikatan keluarga dengan Ayahanda, raja kerajaan ini.


Kota Timur merupakan suatu kota perdagangan sehingga tempat ini relatif ramai. Juga terdapat satu dungeon yang relatif aman di sudut selatan perbatasannya sehingga membuat kota ini menjadi salah satu kota yang relatif kaya.


Kami beristirahat dengan baik di penginapan yang sengaja dikosongkan untuk para tamu keluarga royal beserta para knight-nya. Dan, emm… minuman angora-nya benar-benar enak. Sungguh yang diharapkan dari pusat industri pengolahan minuman angora terbesar di kerajaan.


Haruskah aku juga nantinya memikirkan untuk mengembangkan komuditas tanaman angora di wilayah kami? Banyak pula wilayah kami yang merupakan dataran tinggi.


Tapi tampaknya aku harus memikirkan ulang rencana itu sejak dataran tinggi wilayah Kota Painfinn terdiri dari bebatuan dengan cuaca yang lembab. Sangat tidak sesuai bagi lingkungan pertumbuhan tanaman angora. Sudah sangat merepotkan bagiku dalam penerapan sihir untuk penanaman tanaman grassfilt. Aku tidak ingin menambah pekerjaanku lagi, setidaknya untuk saat ini.


Ketika matahari terbit keesokan harinya, kami melanjutkan perjalanan kami ke barat. Lalu malam harinya, kami pun kali ini terpaksa melakukan kemping di alam liar sejak tidak ada desa atau kota terdekat di sini.


Sebenarnya, kami bisa saja memperoleh desa jika kita mau effort dalam perjalanan sebelumnya untuk memutar ke utara atau ke selatan, tetapi itu akan sangat menambah waktu perjalanan kami.


Namun akhirnya, kami memutuskan untuk mengambil rute tersingkat sejak walaupun ini kawasan hutan, tempat ini relatif aman. Tidak ada bandit yang bisa berkeliaran di tempat ini sejak patroli prajurit kerajaan cukup ketat di sini. Itu karena ini adalah spot penting dalam rute menuju baik Kerajaan Cabalcus maupun Kerajaan Ignitia langsung dari ibukota kerajaan.


Setidaknya, itu yang sebelumnya aku duga. Siapa sangka kejadian seperti itu akan terjadi. Rupanya ada sekelompok pembunuh bayaran yang berhasil lolos dari mata para prajurit patroli yang kini sedang mengincar rombongan kami.


Waktu aku menyadari hal itu, aku sedang duduk berbincang bersama dengan Paman. Aku pun berdiri lantas menghampiri Yasmin yang sedang menghidangkan teh dengan senatural mungkin agar Paman tidak curiga.


“Yasmin, rasanya hidangan takkan lezat tanpa disajikan kue. Bisakah kamu membawakannya beberapa untuk kami dari dalam penyimpanan?”


“Baik, Master.”


“Ah, pastikan kamu menyingkirkan lalat yang mengganggu hidangan dengan tenang ya.”


“Siap, Master.”


Mendengar ucapanku itu, mata Yasmin segera menajam. Dia tampaknya segera mengerti tentang apa yang kumaksudkan. Walaupun gelagatnya seperti biasa-biasa saja, Yasmin yang juga peka terhadap aliran mana pasti telah menyadari pula bahwa sekeliling kami saat ini telah diintai oleh sekolompok assassin yang berupaya menyamarkan keberadaan mereka.


‘Lalat’ adalah kode khususku pada Yasmin yang mengacu pada annihilation.


Yasmin adalah orang yang cerdas yang sangat berbeda dengan Albert yang kikuk dan bodoh. Jika itu Albert yang aku ajak bicara, maka pasti dia sudah tidak akan menyadari kode rahasiaku itu.


Untuk urusan tugas rahasia, aku lebih senang jika mempercayakannya kepada Yasmin. Selain dia kuat dengan pembawaan yang tenang, dia mampu bergerak layaknya assassin seolah bakatnya memang terlahir sebagai seorang assassin.


Tentu saja ketika aku tidak mengatakan tugasnya secara spesifik, Yasmin adalah tipe orang yang lebih memilih untuk menyelesaikan setiap pertarungan secara brutal, sebelas dua belas dengan Albert. Jadi sebenarnya, dia tidak jauh berbeda sifatnya dari Albert yang senantiasa aku harus pantau.


Suasana tenang dan damai di tenda di mana aku dan Paman mengobrol dengan santainya. Hanya ada Albert dan empat penjaga lainnya, dua berasal dari Kerajaan Meglovia, dan dua lagi lainnya berasal dari Kerajaan Ignitia yang jelas-jelas sangat bisa dibedakan dari warna mata, kulit, dan rambut mereka.


-Tuak, tuak


“Akh.”


“Akh.”


“Matilah kau, dasar keturunan iblis!”


“Matilah demi kejayaan benua Ernoa!”


Aku sempat tidak paham terhadap perkembangan yang terjadi. Dua pengawal Kerajaan Meglovia selain Albert, tiba-tiba saja mengamuk lantas hendak menusuk aku dan juga Paman.


“Paman!”


Aku segera mensummon beberapa bilah runcing dari es melalui sihirku yang tanpa perapalan kemudian tepat kutancapkan ke kepala pengawal yang hendak akan menyerang Paman. Dia pun mengalami kematian seketika bahkan tanpa sempat berhasil menyentuh sehelai rambut pun milik Paman.


Namun, karena aku terlalu fokus pada pengawal yang hendak menikam Paman, aku jadi mengabaikan prajurit lain yang hendak menikamku.


Aku terkena tikaman dengan mulus yang tampak membuat Albert menjadi sangat frustasi. Akan tetapi, aku berhasil menghindari bagian vital sehingga yang ditusuknya hanyalah di daerah bagian bawah belikatku saja.


Albert seketika berada dalam mode mengamuknya. Dia segera menendang bajingan itu keluar tenda lantas menghunuskan pedangnya. Namun, sepengetahuanku dia adalah kepala pengawal prajurit istana yang juga adalah seorang master pedang level 5. Itulah sebabnya, aku tetap bisa terkena tusukan yang tajam walau aku telah berusaha melindungi diriku sendiri dengan perisai mana yang tidak sempurna karena baru aku berusaha bentuk di detik-detik terakhir.


Aku tidak terluka parah, terima kasih berkat kalung serba bisa yang kukenakan ini. Itu akan secara otomatis menutup luka yang fatal, walaupun penyembuhan yang optimal tetap memerlukan sihir suci.


Sementara itu, Albert di luar bertarung dengan gagah berani walaupun lawannya adalah sesama master pedang level 5. Sang kepala prajurit berusaha mengayunkan pedangnya kepada Albert, tetapi walaupun level mereka sama, kekuatan mereka mutlak sangat jauh berbeda. Albert segera dapat mengungguli lawannya lewat kekuatan.


Melihat dirinya terpental dengan mudah oleh Albert, sang kepala prajurit yang berada di usia empat puluhan-nya itu tampak berencana lebih mengandalkan teknik untuk menjatuhkan Albert yang dilihatnya lebih muda dari usianya sehingga dia yakin bahwa teknik Albert masih ampas.


Dia tidak tahu saja siapa guru berpedang Albert. Itu juga adalah sekaligus guruku, Guru Kanazawa Junoichi, sang master pedang level 8 dari Benua Asium yang dikatakan sebagai tiga legenda berpedang terbaik di benua tersebut.


Sang kepala prajurit tampaknya ingin melakukan gerakan menusuk dengan tipuan. Namun Albert segera menangkis serangan itu dengan depan pedangnya, lantas dengan lihai memutar pedangnya dengan sudut tujuh puluh derajat searah dengan perputaran tubuhnya kemudian tanpa menunggu jeda lagi, teknik berpedangnya seketika berubah dari posisi defensif ke posisi offensif dengan menyerang ke area bagian leher lawan.


Leher sang kepala prajurit tertebas bahkan tanpa dia sadari. Sang lawan pun segera sekarat dengan bersimbah darah. Begitulah hebatnya Albert sebagai master pedang, tidak hanya dari segi kekuatan saja, tetapi juga dari segi teknik.


Tetapi anak itu…


“Hei, bodoh! Mengapa kamu malah membunuhnya?! Kalau seperti itu, bagaimana kita bisa menginterogasinya?!”


“Master juga kan membunuh orang yang ada di dalam, juga Master tidak pernah bilang apa-apa padaku soal tidak membunuhnya… Ah, bukan itu yang penting, Master. Bagaimana dengan luka Anda?”


Aku segera menampik tangan Albert yang hendak memeriksa luka tusukanku itu.


“Itu bukan apa-apa sejak artifak kalung ini menyembuhkannya. Tapi sekarang bagaimana… Ah!”


Aku segera teringat kepada Yasmin yang juga saat ini sedang melakukan assasinasi diam-diam kepada para assassin yang berkeliaran.


[Yasmin, kamu dengar. Tolong sisakan satu lalat selamat untuk bisa kita interogasi.]


Sejak semuanya sudah ketahuan oleh Paman, tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikan soal rencana pembunuhan pihak radikalis ini. Namun, yang tidak bisa aku duga adalah bahwa kekuatan mereka ternyata lebih besar daripada apa yang aku bayangkan. Mereka tidak saja berhasil mempengaruhi pelajar yang naif, tetapi pengaruh mereka juga sudah merambah sampai kepada para prajurit kerajaan bahkan sampai kepala prajuritnya pun ikut-ikutan.


Pertanyaanku, siapa sebenarnya dalang di balik semua kejadian ini? Yang bisa aku curigai saat ini adalah para bangsawan korup karena kebetulan kami juga berada di wilayah mereka sejak tidak ada lagi Leon yang mampu mengontrol mereka.


Jika bukan, apakah kekuatan dari luar semisal Kekaisaran Vlonhard atau bahkan Kerajaan Maosium? Ataukah jangan-jangan, ini perbuatan para witch? Mereka punya kekuatan di luar nalar sehingga tidak aneh jika mereka punya kekuatan untuk mengendalikan orang lain seperti boneka.


Dan apakah serangkaian penyerangan ini juga ada keterkaitannya dengan kejadian penyerangan di Kota Painfinn dua tahun silam yang menyebabkan kematian Leon? Banyak hal yang tidak kuketahui dan itu semakin membuatku marah.


“Maaf, Master. Perintah Master terlambat. Aku sudah terlanjur membunuh mereka semua sebelum perintah Master datang. Tetapi aku bawakan kepala-kepala mereka, siapa tahu ada petunjuk yang bisa didapatkan dari mengenal wajah mereka.”


Dengan polosnya, Yasmin datang dengan bersimbah darah di sekujur tubuhnya dengan membawa lebih dari sepuluh kepala di kedua tangannya. Melihat hal itu, tentu saja Paman yang sudah berada pada batasnya setelah melihat seorang prajurit tepat mati di hadapannya, seketika pingsan melihat penampilan horor Yasmin tersebut.


Yasmin seketika mengalihkan kemarahanku ke arah yang lain. Dia idiot layaknya Albert dalam artian lain.