Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 30 – PANGGILAN DARI KERAJAAN



Ini telah dialaminya sejak pertama kali meninggalkan hutan monster. Sebuah suara wanita misterius telah menginvasi pikiran Yasmin sejak saat itu.


“Dasar Witch Kotor! Berani-beraninya kau mendekati sang terpilih dengan badanmu yang kotor itu! Enyah kau dari hadapannya, wahai witch kotor!”


Suara yang berulang-ulang dan terus berulang-ulang terkadang menginvasi ke dalam pikiran Yasmin itu yang sampai-sampai membuatnya tidak tahan yang terkadang sampai membuatnya pingsan.


Termasuk saat ini, lagi-lagi suara misterius itu menyerang ke dalam pikiran sang wanita seputih salju berambut dan bermata penuh kegelapan itu.


“Yasmin! Yasmin! Kamu baik-baik saja?!” Dengan penuh khawatir, Helios menggapai tubuh Yasmin yang gemetaran yang hampir saja terpelanting ke tanah saking dia tak lagi mampu menyokong tubuhnya sendiri.


“Bukan witch… Aku bukan witch!” Yasmin pun tiba-tiba berteriak yang semakin menambah kekhawatiran Helios dan Alice yang ada di dekatnya.


Pada akhirnya, rombongan Helios, Alice, dan Yasmin pun menyudahi inspeksi mereka ke kawasan pertumbuhan tanaman grassfilt demi segera membawa Yasmin untuk beristirahat.


.


.


.


“Venia, bagaimana keadaan Yasmin?”


“Aku tidak mendapatkan kejanggalan apapun di tubuhnya, Yang Mulia Pangeran. Besar kemungkinan bahwa Yasmin hanya kelelahan sehingga dia akan segera sembuh dengan beristirahat sebentar.”


“Baguslah kalau begitu. Rawatlah dia dengan baik.”


“Sesuai perintah Anda, Yang Mulia Pangeran.”


Setelah merasa lega dengan jawaban konfirmasi dari Venia, sang rekan cleric yang juga berhasil selamat dari serangan the king of undead itu yang kini menjadi dokter eksklusif Helios sekaligus anak buah yang aktif membantunya di usaha potion-nya, Helios pun hendak meninggalkan ruangan.


Akan tetapi sekali lagi Yasmin bergumam dengan penuh kesakitan.


“Aku bukan witch. Aku adalah maid Yang Mulia Pangeran Helios yang paling setia!”


Melihat wajah Yasmin yang penuh kesakitan, Helios pun membatalkan niatnya untuk meninggalkan ruangan lantas memegang tangan Yasmin yang menggigil dan mulai mengalirkan mana es-nya ke tangannya yang membuat Yasmin bisa mulai tenang kembali.


Sementara itu di alam bawah sadar Yasmin, Yasmin sedang bertemu dengan sosok seorang wanita yang tidak dikenal.


“Siapa kamu? Kenapa kamu melakukan ini padaku?!” Yasmin terlihat sangat frustasi di hadapan sosok wanita itu.


Namun, alih-alih menanggapi pernyataan Yasmin, sosok wanita itu hanya terus-terusan saja mengulang kata-katanya.


“Segera tinggalkan sang terpilih! Witch kotor seperti dirimu tak pantas bersanding dengan keagungan-nya!”


“Tidak! Tidak Tidak! Tuan Helios-lah satu-satunya penyelamat hidupku di kala aku hampir saja mati kehabisan mana setelah berhasil kabur dari cengkeraman raja iblis di benua barat! Mana Tuan Helios yang menyejukkan-lah yang berhasil menyelamatkanku dari sekarat. Dan sejak saat itu, kuputuskan untuk akan terus mengikuti dan melindungi Tuan Helios selamanya! Aku takkan membiarkan seorang pun memisahkanku dari Tuan Helios!”


“Lagipula mengapa setiap orang menyebut aku sebagai witch, entah itu kamu, entah itu si raja iblis sialan itu?! Aku akan menjadi apa di masa depan, hanya akulah yang akan menentukan jalan hidupku! Sebagaimana Tuan Helios juga takkan pernah goyah membiarkan orang lain mendikte jalan takdirnya!”


“Mengapa… Mengapa aku harus merasakan penderitaan itu?! Sejak aku mengingat, aku telah berada di kolam mana yang dingin, dipaksakan untuk menelan mana dalam jumlah yang sangat banyak perharinya oleh si raja iblis kejam itu. Mengatakan bahwa aku adalah witch yang kelak akan membantunya untuk menghancurkan dunia. Aku ini bukanlah witch.”


Perasaan sedih teramat sangat Yasmin di dunia alam bawah sadarnya itu pun tersalurkan ke dunia nyata melalui tangisan yang amat perih. Namun, ketika Helios menggenggam tangannya dan mulai menyalurkan mana es-nya ke dalam tubuh wanita seputih salju itu, seakan semua pikiran negatif Yasmin terpadamkan, tampak bahwa wajah Yasmin tak lagi menanggung beban berat itu, tergantikan oleh ekspresi damai di dalam tidurnya.


Sejenak kemudian, Yasmin pun tersadar dari tidurnya.


“Master. Venia. Tampaknya lagi-lagi aku merepotkan kalian.”


“Tenanglah, Yasmin. Beristirahatlah kembali agar kondisimu bisa segera pulih.” Ujar Helios dengan senyum penuh kehangatan kepada Yasmin.


Yasmin menuruti perkataan Helios itu dengan tetap berbaring untuk sementara waktu di tempat tidurnya. Akan tetapi sesaat kemudian, Jilk pun datang dengan membawa surat pemberitahuan dari kerajaan.


“Master, surat pemberitahuan kedua dari kerajaan telah tiba.”


“Begitu rupanya. Akhirnya hari di mana aku harus kembali ke ibukota kerajaan tidak bisa dihindari lagi.”


Helios kemudian meninggalkan ruangan bersama Jilk. Namun di luar dugaannya, Yasmin bersikeras untuk mengikutinya pula di belakang.


“Tidak, Master. Aku telah beristirahat cukup banyak. Kini saatnya aku harus kembali menjalankan tugasku. Lagipula aku adalah maid eksklusif Master.” Ujar Yasmin dengan senyum penuh keyakinan.


Melihat Yasmin yang penuh tekad, Helios tak sanggup berkata apa-apa lagi lantas mengizinkan saja wanita itu melakukan apa yang membuatnya lebih bahagia.


.


.


.


Demikianlah, menanggapi surat itu, kini Helios, Albert, Alice, Nunu, Yasmin, Jilk, dan Curtiz berkumpul di ruangan yang sama untuk mengadakan rapat.


***


“Jadi demikianlah keputusanku. Alice dan Yasmin-lah yang akan menemaniku untuk menghadap raja di ibukota kerajaan. Sementara itu, Curtiz tetap mengurus masalah administrasi kota, terutama masalah bisnis perburuan monster dan potion. Jilk, kamu membantu Curtiz dengan segenap kemampuanmu.


“Sesuai perintah Anda, Yang Mulia Pangeran.”


“Sesuai perintah Anda, Master.”


Kemudian untuk Nunu, lanjutkan pelatihanmu. Albert-lah yang akan menjadi mentormu selama itu. Dan juga Albert, di samping melatih Nunu, aku juga menitipkan keamanan kota padamu.”


“Serahkan saja padaku, Tuan Helios. Aku pasti akan memanfaatkan barang pemberian Tuan Helios ini dengan baik. Aku akan berlatih dengan sungguh-sungguh sehingga aku akan bisa menjadi berguna bagi Tuan Helios.”


“Kamu telah cukup sangat membantu dengan keadaan kamu saat ini, Nunu.” Aku mengatakan itu sembari membelai rambut hitam Nunu yang terasa sangat lembut itu.


“Hehehehehehe.” Terlihat bahwa Nunu juga sangat senang akan pujianku itu.


Namun seketika, kuamatilah sesuatu yang aneh. Albert sama sekali tak merespon perintahku.


“Albert?”


Lalu pemandangan di luar nalar itu pun tiba-tiba saja terpampang di hadapanku.


Albert tiba-tiba saja membaringkan tubuhnya yang besar dan kekar itu ke lantai lantas merengek dengan menangis tersedu-sedu sembari mengguling-gulingkan tubuhnya di lantai.


“Hiiiiks, hiiiiiks, sejak punya Alice dan Yasmin di sisinya, Master tidak lagi memperdulikanku. Tidak hanya meninggalkanku sendiri di belakang sewaktu ekspedisi monster, kini Master juga meninggalkanku sendirian di sini dan pergi bersama Alice dan Yasmin saja ke ibukota.”


“Aku masih tahan jika itu di hutan monster, tetapi untuk pergi meninggalkanku jauh ke ibukota… hiiiiiik, hiiiiiiks, Master tidak sayang lagi padaku! Master kejam! Master kini hanya sayang kepada Yasmin dan Alice saja, hiiiiiik, hiiiiiiiks.”


Begitulah Albert merengek bagaikan anak kecil yang tidak dibawa pergi ke pesta oleh ibunya. Aku benar-benar tidak mengerti lagi tentang apa yang ada di jalan pikiran Albert.


***


Sementara itu di bagian selatan Kerajaan Meglovia, tempat salah satu dungeon di luar hutan monster berada, seorang pria yang penuh dengan darah sedang membantai monster dengan kejamnya.


“Hah, dungeon yang dipersiapkan hanya untuk latihan anak kecil memang tidak menantang. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan dungeon yang ada di dalam hutan monster. Kudengar-dengar bahwa situasi di hutan monster kini telah mereda. Haruskah aku segera berkunjung ke sana demi menantang dungeon hutan monster?”


Sejenak kemudian, salah satu anak buah pemuda itu pun menghampirinya.


“Yang Mulia Pangeran, ada laporan masuk dari mata-mata yang kita tempatkan di dekat Pangeran Kedua.”


“Oh, Jilk kah? Apa gerangan yang kakek-kakek itu katakan?”


Sesaat kemudian, sang pemuda kemudian terdiam sejenak untuk membaca surat. Lalu kemudian, dia lanjut berkata,


“Oho, ini menarik. Tampaknya sudah waktunya si kakak sampah itu untuk datang kembali ke ibukota kerajaan. Kini sudah saatnya pula aku untuk bergerak. Semuanya, persiapkan untuk segera balik ke ibukota!”


“Siap, Yang Mulia Pangeran.”


Serentak, semua prajurit menjawab perintah dari sosok pemuda bertampang bengis yang ditambah dengan paduan senyum psikopatnya dan warna merah darah monster di wajahnya.


Dialah pangeran ketiga Kerajaan Meglovia, Leon de Meglovia.