
Pandemonium, itulah kota di mana dulu Baal tinggal di suatu dunia yang bernama Hellar. Berbeda dengan Gaia, dunia yang kini ditempatinya itu, setiap makhluk sejenisnya punya kekuatan untuk meramalkan masa depan, layaknya dirinya.
Semakin jauh ke depan dan semakin spesifik suatu nubuat yang bisa dibuat oleh ras di dunianya tersebut, maka kelasnya akan semakin tinggi pula. Baal adalah satu dari anggota ras-nya yang memiliki kelas tinggi itu.
Namun, penduduk dunia Hellar adalah makhluk-makhluk yang sangat membangkang pada penciptanya dan teramat angkuh perihal kemampuannya yang tak dimiliki oleh banyak makhluk lain di berbagai dimensi lain.
Mereka pun dengan angkuhnya menolak ketentuan yang sudah ditetapkan kepada mereka dari penciptanya untuk mencari kehidupan lain yang bebas dari aturan dengan keahlian nubuat mereka itu. Mereka bahkan sampai-sampai punya rencana yang sangat hina untuk menjatuhkan dan menggantikan posisi penciptanya itu. Begitulah angkuhnya penduduk dunia Hellar.
Pencipta pun lepas tangan kepada mereka dan mereka semakin mudah untuk menuju ke kehancuran diri mereka itu melalui tangan-tangan mereka sendiri.
Karena telah bebas dan mereka telah menguasai segalanya, kini mulailah konflik antar suku terjadi. Setiap suku ingin menjadi suku yang terdepan di antara suku yang lainnya.
Mereka berlomba-lomba untuk memperoleh nubuat terbaik melalui kemampuan penerawangan masa depan mereka untuk merancang kemakmuran suku mereka masing-masing. Jadilah perburuan individu-individu calon berbakat di masa depan dari suku lain dimulai.
Setiap individu berbakat dari suku lain yang mereka temukan dari nubuat mereka yang akan menghalangi kesuksesan suku mereka atau sebaliknya meningkatkan kesuksesan suku saingan mereka, tidak akan lagi mereka segan-segan untuk segera membunuhnya dengan berbagai cara.
Kekacauan pun mulai merembes tanpa adanya aturan yang dapat mengekang mereka. Satu-persatu suku pun musnah sejak kehilangan generasi berbakat penerus suku mereka dimulai dari yang terlemah hingga pada akhirnya menyisakan suku pandemonium.
Apakah kalian berpikir itu selesai sampai di situ? Maka kalian berpikir terlalu naif, keserakahan penduduk dunia Hellar lebih besar dari apa yang bisa kalian bayangkan.
Setelah suku mereka keluar sebagai pemenang, kini yang terjadi adalah pertikaian antara keluarga dari suku tersebut untuk menentukan keluarga mana yang terbaik.
Tidak lepas sampai di situ saja, sehabis pertikaian antara keluarga, kini yang terjadi adalah pertikaian antarkeluarga untuk menentukan pimpinan yang layak dari keluarga pemenang itu untuk berdiri di puncak. Demikianlah, akhirnya Baal yang berdiri di posisi puncak itu.
Namun, tidak ada lagi yang tersisa. Mana yang mendukung dunia mereka telah terkikis habis akibat konflik perang tak berujung. Tiada lagi yang dapat dilakukan Baal untuk memperbaiki dunianya bahkan setelah dia berdiri di puncak.
Lalu yang tersisa, hanyalah kematian. Di saat itulah dunia Hellar yang telah mati ditelan oleh sang Tower. Demikianlah kisah Baal di dunianya yang lama berakhir.
“Khehehehehehek. Pemuda sombong, kau tidak tahu kesulitanku selama ini dan bisa hidup dengan nyaman tanpa mengetahui apa-apa di duniamu yang kecil ini! Tidak adil kalau dunia Hellar saja yang binasa! Dunia Gaia, tidak, seluruh dunia di belahan dimensi mana pun juga harus turut musnah tertelan oleh kekejaman Tower!”
Tatapan Helios dingin. Dia tidak mengetahui asal-usul Baal dan dia masa bodoh pula untuk mengetahuinya. Apa yang perlu diketahuinya bahwa perihal nubuat Baal-lah yang menjadi awal kehancuran keluarganya. Dan itu sudah cukup menjadi pembenaran Helios untuk menjatuhkan hukuman mati pada rahib itu, tidak, pada demon itu.
Ribuan es-es Helios tersummon ke udara, lalu seketika ditembakkannya ke Baal dan tubuh bonekanya yang lain.
Es itu meleleh dan walaupun itu berhasil menembus kulit para boneka, otot-otot dan daging menjijikkan milik para boneka itu hanya segera bersatu kembali, menyisakan bentuk yang lebih menjijikkan.
“Khehehehehehehek. Kamu kira dengan serangan lemah itu, itu akan membunuhku?! Makhluk yang superior ini?!”
“Baal, kamu lupa telah mengajariku sesuatu yang menarik? Aku ini orang yang sangat pandai belajar.”
Ucapan tiba-tiba dari Helios itu benar-benar tak terduga oleh Baal.
“Apa yang…”
“Virus vampir itu begitu menarik. Itu merubah DNA makhluk hidup di tingkat molekuler dan menjadikannya berubah fungsi. Menurutmu, apa yang menyebabkan manusia, tidak, makhluk hidup mempertahankan wujudnya?”
“…”
“Itu karena antarjaringan berkorelasi yang dihubungkan oleh setiap sel-sel otot, kulit, dan daging. Ditambah intervensi molekuler oleh sel mitokondria dan sel-sel lainnya.”
“Omong kosong apa yang…”
Namun belum sempat Baal berucap lebih lanjut, tubuh Baal dan seluruh pengikutnya telah mulai meleleh. Daging-daging terlepas dari tulang, tidak, bahkan tulang pun ikut melunak bagaikan slime.
“Apa yang kau lakukan pada tubuh kami?!”
“Entah itu manusia, binatang, atau bahkan slime sekalian, jika interaksi yang harusnya terjadi dikacaukan, itu akan rubuh ke tingkat molekuler tentu saja. Itulah yang terjadi jika tiap-tiap sel di tubuh tiba-tiba menjadi terlalu angkuh untuk bekerjasama dengan sel lainnya. Mereka tidak akan dapat membentuk tubuh, malah hancur oleh keegoisan mereka.”
“Bagaimana…”
“Jangan kira ini telah berakhir, Helios! Tubuh utamaku masih utuh di tower lantai 44. Jika kau tidak datang kepadaku, maka akulah yang nantinya akan datang kepadamu begitu aku memulihkan kekuatanku! Camkan itu, manusia bajingan!”
Seraya mengatakan itu, tubuh Baal meleleh.
Helios melihat Baal dalam kehampaan. Dalam sekejap, para tubuh boneka itu telah menguap ke udara tanpa bersisa satu bagian tubuh pun, kecuali bekas sobekan pakaian yang semula mereka kenakan.
“Ayah, Leon, Kak Tius, Ilene. Jadi benar perkaraku, kalian harus meninggal. Apa yang harus kulakukan sekarang di dunia ini? Sekarang hanya tersisa aku dan Ibunda saja. Benar, Ibunda. Aku takkan mengulangi kesalahan yang sama. Apapun caranya akan kulindungi Ibunda dari makhluk-makhluk biadab itu.”
“Tetapi, sampai terakhir dia tidak menjawabku soal pahlawan dan antibodi dunia itu. Yah, walau dia jawab pun mana mungkin aku mempercayai perkataan yang datang dari mulut busuk demon itu.”
***
Sementara itu, Albert di Kota Tarz masih disibukkan oleh orang-orangnya.
“Sudah kubilang, kalian semua tenanglah. Yang Mulia Kaisar Helios itu adalah pribadi yang bijak dan terpercaya. Keagungan Yang Mulia akan sanggup mengatasi tuntutan kalian jika kalian bisa sedikit bersabar!”
“Master Albert, harap pertimbangkan kesetiaan Anda terhadap kaisar kejam itu. Kami tidak percaya pada kuil suci, tapi kami tahu bahwa nubuatnya tentang kejahatan sang tiran es di masa depan itu benar adanya! Anda adalah anak dari Yang Mulia Duke Alphonse, itulah sebabnya kami menghormati Anda dan mempercayai keputusan Anda. Maka dari itu, pertimbangkan lagi kesetiaan Anda padanya!”
“Kalau kalian begitu mempercayaiku, maka tidak ada masalah! Karena aku mempercayai Yang Mulia Kaisar Helios dengan segenap hatiku, itu berarti kalian semua berkewajiban pula untuk mempercayainya!”
“Tapi…”
“Tidak ada tapi-tapian!”
“Yang Mulia…”
“Apalagi!”
Itu bukanlah pengikut Albert yang sebelumnya, melainkan prajurit suruhan mansion yang datang mengabari Albert bahwa Lilia tiba-tiba saja jatuh sakit.
Mengetahui hal itu, Albert pun segera berlari dengan khawatir tanpa peduli lagi dengan perwakilan rakyat yang memprotes.
Akan tetapi, apa yang didapati oleh Albert di dalam mansion adalah senyum cerah dari dokter magang yang merawat istrinya.
“Selamat, Tuan Albert. Anda akan segera menjadi calon ayah.”
Lilia rupanya telah hamil dan dia sakit perihal mengidam.
Albert akhirnya tersenyum bahagia.
“Sayang.”
Dia segera memeluk istrinya bagai seekor anjing retriever yang menjilati tuannya. Lilia turut membalas pelukan suaminya itu dengan kasih sayang pula. Itu adalah kebahagiaan terindah Albert selain waktu-waktu yang dihabiskannya bersama tuannya.
Namun di suasana yang bahagia itu, sebuah suara pun menggema di benak Albert.
“Wahai rekan yang terpilih. Akhirnya kamu datang juga ke tempat ini. Begitu lama aku telah menunggumu untuk datang. Datanglah ke hutan monster di barat. Aku akan menunggumu di dungeon paling besar di sana.”
Itu adalah suara yang sama yang pernah didengar oleh Albert sebelumnya sewaktu bertarung dengan Charlot di kesempatan pertama. Karena sudah lama berlalu, Albert tidak lagi memikirkannya. Namun seketika dia bisa cepat mengingatnya kembali perihal aksen suara yang unik dari sang suara itu yang sangat mirip dengan sukunya yang terletak di barat laut Vlonhard.
Akan tetapi berbeda dengan yang dulu, Albert mendengar jelas apa yang suara itu katakan kali ini. Itu memintanya untuk datang ke suatu tempat.
Jika sang sosok memintanya untuk memasuki dungeon terbesar di hutan monster yang terletak di bekas wilayah Vlonhard, itu hanya berarti mengacu pada satu dungeon. Jika di selatan ada dungeon besar Milanda, maka di utara dekat dengan wilayah yang kini diamanahkan oleh Helios untuk dikelolanya ada dungeon besar Arxena.
“Siapa kamu?”
Dengan curiga, Albert pun bertanya kepada sosok yang suaranya menggema di dalam kepalanya itu. Terlihat benar ekspresi kecemasan di wajah Albert yang seketika membuat Lilia turut khawatir.