Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 226 – PECUNDANG YANG TAK PERNAH KAPOK



[POV Buron]


“Ah, aku benar-benar bosan.”


“Hoaaam.”


Aku menguap saking bosannya.


Di tempat sepi ini aku duduk sendirian sembari memandangi pemandangan laut dari atas gunung.


Di saat Yang Mulia Kaisar justru menempatkanku di sini sendirian di kala yang lain sedang mempertaruhkan nyawa mereka pada peperangan di barat, aku sempat marah.


Namun, Yang Mulia Kaisar yang bilang sendiri padaku justru karena akulah yang menjaga tempat ini meski seorang diri, Yang Mulia Kaisar bisa menghadapi medan perang dengan perasaan yang lega.


Semula aku menduga itu tak mungkin.


Mana mungkin di kala perwakilan bangsa manusia sedang gencar-gencarnya melakukan perang melawan bangsa iblis, akan ada bangsa manusia lain yang menikam mereka dari belakang.


Ternyata aku salah.


Seperti apa yang dikatakan oleh Yang Mulia Kaisar.


Orang-orang sampah seperti itu benar-benar ada.


Aku bisa melihat armada yang lumayan kecil yang hanya terdiri dari sepuluh kapal ukuran menengah yang berisikan persenjataan lengkap, hendak mendarat di pelabuhan timur laut Kekaisaran Meglovia di saat pertahanan tempat itu sedang lemah-lemahnya perihal sebagian besar prajurit ditarik pada peperangan di barat benua.


Mereka tampaknya menyamarkan diri mereka sebagai bajak laut, namun bagaimanapun kumelihatnya, mereka pastilah prajurit terlatih.


Mereka terlalu meremehkan tampilan seorang bajak laut.


Walaupun mereka mengenakan pakaian compang-camping, jelas kulit mereka terlalu bersih dari luka-luka untuk bisa dikenali sebagai bajak laut.


Pastilah mereka utusan dari persatuan kerajaan di Benua Asium yang sekali lagi berniat membuat kekacauan di Benua Ernoa.


Tentu saja aku tak bisa membiarkannya.


Di pelabuhan saat ini, para warga sipil sedang berjuang mati-matian dengan cara mereka sendiri untuk bertahan hidup sembari mendoakan kemenangan Yang Mulia Kaisar di medan perang.


Terus terang, aku bangga dengan Yang Mulia Kaisar.


Kudengar dia dulunya adalah pangeran yang dikucilkan dan terbuang.


Itulah sebabnya tidak satu pun bangsawan di Benua Ernoa yang ingin menjadi pengajarnya sampai-sampai Yang Mulia Kaisar harus mencari berbagai talenta dari kalangan rakyat jelata dari berbagai tempat untuk menjadi pengajarnya.


Kudengar guru berpedang Yang Mulia Kaisar adalah seorang anak haram sama sepertiku dari seorang raja negara kecil pengikut mantan Kekaisaran Joupun yang baru saja terlengserkan dengan beralihnya kekaisaran itu menjadi Negara Republik Joupun.


Tidak hanya itu, guru pengetahuan obat-obatan herbal Yang Mulia Kaisar juga hanyalah seorang nenek-nenek pemilik toko herbal tua dari wilayah Ignitia yang karena status rakyat jelatanya, dia tidak bisa memperoleh pengaruh yang lebih besar di kalangan para ilmuwan walaupun dirinya sangatlah berbakat.


Guru sejarah, guru ekonomi, guru pertanian, dan masih banyak lagi yang lainnya, semuanya Yang Mulia pilih dari kalangan rakyat jelata yang berbakat.


Yang Mulia Kaisar tidak membeda-bedakan seseorang dari status sosialnya, melainkan murni karena bakatnya.


Yang Mulia Kaisar pun telaten hingga mempelajari banyak ilmu pengetahuan yang kini terbukti benar-benar berguna bagi pengembangan kekaisaran di masa depan.


Aku benar-benar bersyukur setidaknya di penghujung usiaku ini, aku dipertemukan dengan seorang anak muda pemberi inspirasi seperti Yang Mulia Kaisar yang berhasil membangun negeri impian tanpa diskriminasi rasial dan keturunan, Kekaisaran Meglovia ini.


Yang Mulia Kaisar benar-benar pantas menjadi seorang hero.


Dan di tanah air yang telah susah-payah Yang Mulia Kaisar bangun tersebut, orang-orang sialan itu sekali lagi ingin menghancurkannya.


Tiap tetes darah rakyat Kekaisaran Meglovia sama pentingnya bagi Yang Mulia Kaisar.


Jika sampai ada penduduk yang terluka apalagi terbunuh oleh para berandal itu, pasti Yang Mulia Kaisar akan sedih.


Jadi jelas apa yang harus kulakukan.


Aku harus menangani mereka semua sebelum mereka berhasil mendaratkan kaki busuk mereka di tanah air Meglovia.


-Syur, syur, syur.


Aku melompat dari atas gunung lalu bergegas berlari di atas air laut dengan sekencang-kencangnya.


Sejak aku mampu melapisi tubuhku dengan aura, bukan hal yang sulit bagiku lagi untuk berlari berjam-jam di atas permukaan air laut.


Aku segera mensummon pedang aura-ku.


Lantas,


-Slash, slash, slash, slash, slash, slash, slash, slash, slash, slash.


Aku menebas kapal-kapal itu satu-persatu.


Satu tebasanku di tiap kapal telah cukup untuk membelah dua kapal-kapal itu hingga karam.


Ada yang seketika mati karena tak sanggup berenang.


Namun ini masih sekitar bulan ketiga.


Permukaan Gaia bagian utara belum sepenuhnya reda dari musim dingin.


Air laut pastinya akan terasa masih sangat dingin.


Sebagian besar dari mereka yang tak sanggup bertahan dari hipotermia pun akhirnya mulai tewas satu-persatu.


Yang tersisa, kini para pemimpin mereka yang memiliki kelas tingkat lanjut, swords master dan wizard.


Tapi apa itu akan menjadi masalah buatku yang seorang grand master ini, terlebih dengan pengalaman bertarungku yang sudah lebih dari 70 tahun?


Jawabannya tentu saja tidak, sebanyak apapun para kroco itu berkumpul.


Aku tak perlu membunuh mereka satu-persatu.


Aku cukup mengalirkan aura-ku menyelubungi laut.


Tergantung cara penggunaannya, aura seorang grand master bisa menjadi senjata pembunuh yang efektif bagi orang-orang yang lebih lemah.


-Dash.


Aku menancapkan pedang aura-ku yang kali ini dengan sedikit perubahan bentuk aura ke dalam air laut.


Melalui air laut, aura-ku yang sudah kupelintir pun mulai merasuk ke aliran mana para prajurit itu yang bagaikan racun seketika membuat sekujur tubuh mereka membiru.


Hanya dengan mengubah rotasi dan pola lintasan di partikel-partikel penyusun aura, aura tersebut mampu mengoyak seketika aliran mana seseorang.


Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengeluarkan busa di mulut mereka lantas mati secara mengenaskan.


Demi Yang Mulia Kaisar, aku akan berjuang sekuat tenaga menjalankan peran yang dipercayakan padaku ini untuk melindungi daerah bagian timur benua.


Aku memang tidak berkontribusi secara langsung pada perang melawan bangsa iblis.


Walau demikian, tiada yang memungkiri bahwa ini juga merupakan peran yang besar.


Berkatku yang melindungi tempat ini, ribuan nyawa rakyat sipil di tempat ini bisa terselamatkan.


Kuharap yang Mulia Kaisar dan yang lain pun di medan perang di barat sana bisa segera membawa pulang kemenangan.


Aku bahkan tak mengeluarkan keringat sedikit pun setelah memberantas para kroco-kroco itu.


Namun, ini mengganggu.


Mayat-mayat mereka mencemari lautan.


Pekerjaan belum berakhir hanya dengan mengalahkan mereka.


Aku harus pula membersihkan mayat-mayatnya pasca mengalahkan mereka.


Sorak-sorai dari para rakyat sipil menyertai kemenanganku begitu aku menuju ke pelabuhan.


Perasaan yang terasa asing bagiku.


Aku juga adalah pahlawan hebat di mata orang-orang di negeriku sebelum negeriku dihancurkan oleh Kekaisaran Tong Kong.


Ironisnya, itu pulalah yang menyebabkan raja muda waspada terhadapku dan akhirnya gelap mata lantas mencapku sebagai pengkhianat.


Melupakan itu, pada dasarnya seberapa besarnya pun pencapaianku, aku tidaklah bisa melepaskan diri dari bayang-bayang seorang anak haram.


‘Andai saja dia bukan anak haram, dia pasti bisa menjadi ksatria yang lebih hebat.’


Seringkali aku menguping pembicaraan itu di tengah kerumunan orang yang memuji prestasiku.


Namun Kekaisaran Meglovia benar-benar berbeda.


Kekaisaran ini benar-benar hanya memandang seseorang dari bakatnya, bukan berdasarkan keturunannya.


Itu tidak terlepas dari jasa-jasa Yang Mulia Kaisar.


Yang Mulia Kaisar telah bersusah-payah menciptakan negeri seideal ini bagiku.


Aku takkan membiarkan siapapun merenggutnya.


“Tuan Grand Master, Anda bisa beristirahat. Pasti Anda lelah setelah bertempur sendirian. Biarkanlah kami yang tak bisa membantu apa-apa pada pertarungan yang mengerjakan pekerjaan sepele seperti membersihkan mayat.”


Bukanlah perasaan takut yang membangun perasaan kagum mereka padaku, tetapi itu murni bentuk penghargaan.


Itulah yang membuatku benar-benar nyaman hidup di kekaisaran ini.


Akhirnya aku benar-benar menemukan oasis-ku setelah tujuh puluh tahun lebih perjalanan hidupku.