
“Apa yang membuat manusia terlihat bersinar adalah karena walaupun mereka sangat lemah, terkadang ada api semangat yang terpancar di mata mereka yang takkan surut.”
“Dan itulah yang saat ini aku lihat di matamu, hero.”
-Trang, trang, trang.
Helios bersungguh-sungguh menghadapi Raja Iblis Ozazil, namun tampak di pihak sebelah, Helios hanya dipermainkan.
“Tapi apa kau tahu?”
“Melebihi api semangat, aku lebih suka api keputusasaan.”
“Tatapan mata yang rela mengeluarkan apa saja ketika sudah tidak ada lagi yang berarti darinya yang bisa dilindunginya.”
Terhadap perkataan sang Raja Iblis berikutnya itu, Helios merasakan firasat buruk.
“Apa yang kamu rencanakan, Ozazil?!”
“Kau pikir aku hanya mengirim para demon di perbatasan saja?”
“Kau pikir kekuatan portalku terbatas di ujung benua saja?”
“Apa?”
“Saat ini, di saat kau membuang-buang waktu hendak mengalahkanku, aku telah mengutus beberapa demon untuk menghabisi keluargamu.”
Raja Iblis Ozazil menatap Helios dengan senyuman sinis.
“Kau biadab!”
“Apa ini yang namanya kau ingin bertarung dengan segenap kemampuanku?!”
“Dasar iblis licik! Ujung-ujungya kelicikanmu telah menggunakan keluargaku untuk membatasi pergerakanku!”
-Trang, trang, trang.
“Kuharap kamu tidak salah paham, hero.”
“Sedari awal aku tidak berencana untuk melakukannya.”
“Namun hanya segini saja kesenangan yang bisa kamu berikan lewat pertempuran, jadi aku berniat menambah tekananmu agar jadi lebih menarik lagi.”
Seketika, pandangan Raja Iblis Ozazil dalam tubuhnya yang hitam legam berubah menjadi sangat serius.
“Jika kau tak sanggup segera mengalahkanku di tempat ini, maka keluargamu yang kau sayangi semuanya akan mati.”
“Biadab!”
***
-Durr, durr, durr, durr, durr, durr.
“Apa yang sebenarnya terjadi di luar?”
Dengan panik, Lusiana mendekap Farhaad dan Illies di dalam pelukannya.
“Maaf, Yang Mulia sekalian. Tampaknya kalian harus segera mengungsi. Istana telah menerima serangan.”
Adam menghalau pintu di mana terdengar suara pusat keributan sembari memberi isyarat kepada Talia, Vierra, dan Lusiana untuk segera meninggalkan tempat tersebut melalui jalan rahasia.
“Olo, Nunu, kalian pandu jalan mereka.”
Namun belum sempat Olo dan Nunu mengambil aksi, dari arah jalan rahasia juga terdengar keributan yang mencurigakan.
“Ini?”
Ekspresi di wajah Olo segera terpelintir begitu mendapati puluhan demon baru saja keluar dari jalan rahasia.
Mereka telah terkepung baik dari depan maupun dari belakang.
“Tidak, aku takut, Bu.”
“Aku takut, hiks… hiks…”
“Tenang saja, sayang. Semuanya akan baik-baik saja.”
Talia segera mendekap Ruvaliana dan Allios yang ketakutan.
Sementara itu, walau mencoba menyembunyikan kekhawatirannya, Vierra terlihat menggengam tangan Ilyaas di sebelah kanan dan Illios di sebelah kirinya dengan cukup kencang yang membuat Illios kesakitan.
“Uwa uwa…”
“Ah, maaf, Illios, sayang.”
Vierra lantas segera mendekap Illios yang kesakitan.
-Bruak!
Belum cukup demon yang datang dari bawah tanah, kini demon yang memblokir pintu masuk mulai menampakkan wujudnya setelah mendobrak pintu.
Mereka secara bersamaan maju dengan beringas.
Adam yang biasanya tidak pernah mengeluarkan sepatah kata pun, mulai menunjukkan senioritasnya sebagai prajurit paling terlatih di antara mereka bertiga.
“Olo, Nunu, kalian lindungi bagian belakang. Jangan biarkan demon-demon kotor itu menyentuh sehelai rambut pun dari Yang Mulia sekalian. Aku akan menghadapi yang di depan sembari membuka jalan!”
Aura pedang menjalar secara horizontal lantas membabat para demon yang berada pada jalur geraknya.
Sayangnya, walaupun itu hanya demon minion, dengan jumlahnya yang cukup banyak, itu cukup tangguh untuk menyingkir dari jalan mereka hanya dalam satu sapuan aura pedang.
“Groaarrrgh.”
Satu demon dengan kecepatan yang sangat tinggi tiba-tiba ingin menyerang Talia dan yang lain.
“Tidak!”
“Serahkan padaku.”
Akan tetapi, berier suci Talia sanggup untuk melindungi segenap jiwa yang berada di dalam barier tersebut.
“Uwaakkh, uwaakkh, uwaakkh.”
Sayangnya para balita jadi ketakutan oleh suasana yang mencekam tersebut, termasuk Ilyaas sehingga menimbulkan kegaduhan.
Hanya Helion saja yang tetap mampu tenang dalam situasi itu.
-Swarsh.
Kini giliran Lusiana yang mengeluarkan kemampuannya dengan mengeluarkan sihir penenang yang mampu menenangkan para anak.
Memanfaatkan kesempatan itu, Adam berusaha secepat mungkin menyingkirkan para demon di depan.
Adapun Olo dan Nunu menyingkirkan yang bagian belakang.
-Swarsh, swarsh, swarsh, swarsh, swarsh, swarsh.
Perpaduan ayunan tombak Olo dan Nunu bekerjasama dengan baik menutupi celah masing-masing.
Olo yang tinggi fokus menyerang pada bagian atas lawan, sementara Nunu yang lebih pendek fokus menyerang bagian bawahnya.
“Apapun yang terjadi, akan kujalani misi ini demi Tuan Helios!”
“Dan aku akan menjadi support junior terhebat dari Senior!”
Sedikit rona merah terlihat di pipi Nunu begitu Olo mengucapkan kalimat tersebut.
Sayangnya, jumlah monster bahkan lebih banyak lagi dari dalam tanah ketimbang yang ada di depan yang membuat bahkan perpaduan kekuatan Olo dan Nunu tersebut terpukul mundur.
“Ah, ini tidak bisa dibiarkan.”
“Vierra?”
“Kak Vierra, apa yang Kakak lakukan? Kalai Kakak keluar barier, kekuatan suciku tidak bisa melindungi Kakak!”
“Talia, Kak Lusiana, aku titip anak-anak pada kalian di belakang.”
Lalu, Vierra pun mensummon pedang auranya.
Ya, Vierrra adalah sejatinya seorang swords master yang sejak kecil berlatih bersama Damian.
Walau tidak sehebat Damian, setidaknya Vierra telah mencapai level 5, satu level di atas Adam.
Dalam artian, Vierra jauh lebih kuat daripada Adam.
-Swarsh.
Ayunan pedang aura Vierra begitu lembut yang seketika menyapu banyak demon yang tepat berada di hadapan Adam.
“Kau, ajudan Kak Lusiana. Tolong support aku dengan baik.”
“Ya? Iya…”
“Kita tidak bisa memprediksi jumlah demon di ruang bawah tanah, juga ada masalah keamanan jika sewaktu-waktu langit-langitnya runtuh. Jadi kita akan menerobos demon yang ada di depan untuk kabur.”
Vierra yang biasanya lembut, kali ini justru memberikan perintah dengan elegan layaknya komando veteran sembari menatap dengan penuh kebencian para demon yang ada di pintu masuk yang menghalangi jalan mereka.
Adam sampai tak percaya terhadap apa yang dilihatnya.
Bukannya Vierra bermaksud menyembunyikan kemampuannya.
Dia hanya tak punya peluang untuk menunjukkannya.
Sejak ditunjuk sebagai putri mahkota, dia di hadapan khalayak hanya banyak dikenal dengan image-nya yang santun.
Di komunitas bangsawan, Vierra hanya dikenal banyak berlatih soal jamuan teh, politik, sejarah, diplomasi, dan hal-hal lain yang terkait terhadap posisinya sebagai putri mahkota.
Namun jauh sebelum itu, Vierra adalah seorang jenius berpedang, dan bahkan setelah naik ke jabatan putri mahkota, dia tetap rajin berlatih berpedang secara diam-diam bahkan bisa mencapai ranah swords master.
Karena statusnya waktu itu yang sebagai putri mahkota, dia harus menyembunyikan bakatnya itu karena dinilai tak cocok dengan image seorang putri mahkota.
Dan itu tetap tidak berubah ketika suaminya, sang putra mahkota, telah wafat dan dia kini justru dinikahi oleh adik sang putra mahkota.
Tidak banyak yang mengetahui fakta ini, bahkan sampai Talia yang cukup dekat dengannya tidak mengetahuinya.
Hanya keluarga kekaisaran Meglovia, margrave Peronaz, serta beberapa orang yang dekat dengannya saja seperti Damian yang mengetahui fakta tersebut.
-Swarsh, swarsh.
Kombinasi berpedang antara kedua swords master itu segera membuka jalan lebar yang akhirnya membuat Talia dan yang lainnya mampu menyelamatkan diri dari tempat yang telah penuh dikepung oleh para demon tersebut.