Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 236 – KONFLIK ANAK-ANAK HELIOS



“Pertahankan formasi kalian!”


“Jangan biarkan pertahanan kalian kendor!”


Alice memimpin prajurit terdepan untuk menekan invasi para monster yang berasal dari tower.


Itu adalah para monster yang telah biasa dilihat di hutan monster.


Akan tetapi jelas ukurannya terlihat lebih besar dan lebih ganas.


Terlebih, berbeda dari monster yang ada di hutan monster, monster-monster itu tentu saja tak dapat dikendalikan oleh Helios menggunakan kekuatan formasi busur.


Itu karena para monster itu dikendalikan langsung oleh tower.


Alice yang dikira oleh Helion sedang asyik melaksanakan hobinya dengan meninggalkan sang suami, Leon de Meglovia, sendirian di rumah untuk mengurus anak mereka, rupanya telah sementara mempertaruhkan nyawanya demi nasib benua.


Tidak, demi nasib seluruh umat manusia di dunia.


Itu karena keberadaan tower yang sedang mengamuk adalah suatu rahasia besar bagi dunia.


Jika ini diungkapkan ke khalayak, itu hanya akan memberikan kegemparan belaka tanpa membuahkan jalan penyelesaian.


Itulah sebabnya, Helios sun Meglovia, Kaisar Kekaisaran Meglovia, memutuskan untuk merahasiakan keberadaan tower yang sedang mengamuk tersebut sembari berusaha menyelesaikannya dari balik layar.


Sebagai yang berdiri paling depan, itu adalah Alice, sang magic swordsman.


Dengan pedang aura di tangan kanannya serta artifak perisai Alkasa di tangan kirinya, Alice tampil dengan gagah berani meluluh-lantakkan para monster.


Dengan sekali tebasan pedang aura, Alice menyingkirkan para monster yang berada di jalur serangnya.


Lalu dengan perisainya, Alice menghempaskan para monster yang hendak menerjang memasuki pertahanannya sembari mengisap beberapa esensi monster dengan jarak yang lebih dekat.


Alice tidak salah lagi adalah pilar utama pertahanan umat manusia di tempat itu.


Tak lama kemudian, Helios, Albert, Albexus, dan Dokter Minerva turut bergabung bersama Alice.


Setelah persiapan mereka matang, Helios tak membuang-buang waktu lagi lantas segera berangkat ke Benua Armtemis tersebut secara langsung melalui gate.


Agak sulit untuk menggunakan portal pada tempat yang dipisahkan jaraknya oleh laut.


Itulah sebabnya alih-alih dengan menggunakan portal Dokter Minerva, Helios membuat gate yang meminimalisir dampak dari air laut tersebut.


Bukannya tidak mungkin untuk pemakaian portal pada suatu jarak yang dipisahkan oleh laut, namun berdasarkan kesaksian yang dialami sendiri oleh Dokter Minerva, itu membuatnya sangat mual dan memilih sebisa mungkin tidak melakukan hal tersebut kecuali untuk situasi darurat seperti pada pertarungan melawan Raja Iblis sebelumnya.


Sebagai hero, Helios segera menggantikan posisi Alice untuk berdiri di depan menghantam para monster.


Adapun Alice tetap berada di sisi Helios sebagai tamengnya.


Albert masuk ke celah mereka yang mengambil peran seorang ranger.


Sementara ketiga orang itu bertarung di barisan depan mengeliminasi para monster dari tower, Dokter Minerva memposisikan dirinya sedikit ke belakang untuk memberikan support serangan sihir.


Adapun Albexus menjalankan perannya dengan baik dengan memberikan anggota party-nya tersebut dukungan buff sekaligus penjaga pertahanan belakang.


Para monster yang keluar dari tower dengan mudah dapat dikalahkan oleh party pahlawan.


Namun mereka bukanlah masalah utamanya.


Itu tower.


Usai monster-monster berhasil disingkirkan, para prajurit tetap berjaga di luar untuk menjaga kemungkinan adanya gelombang susulan monster.


Adapun untuk party pahlawan, mereka pun mulai melangkahkan kaki mereka memasuki lantai pertama tower tersebut.


Ini adalah langkah awal bagi party pahlawan untuk menyelesaikan masalah tower yang telah menancapkan akarnya sangat dalam di dunia Gaia tersebut, tentu saja baik dari arti tersirat, maupun secara harfiah.


Di lain tempat, Helion yang sama sekali tidak menyadari kesulitan yang sedang dialami oleh sang ayahanda, sedang asyik berkencan bersama Suraidah, penghuni dunia lain yang tiba-tiba terdampar ke dunianya


Dia memilih bersenang-senang bersama Suraidah dan turut melakukan pemberontakan terhadap sang ayahanda dengan meninggalkan istri sahnya, Elisa, di istana dan juga Farhaad untuk menyelesaikan urusan kekaisaran yang dibiarkan kosong karena ditinggalkan oleh sang putra mahkota yang belakangan ini membuat Helion sangat gusar dan penat.


“Wah, selendang sutra ini bagus banget, Yang Mulia! Kalau di tempatku, ini seharusnya barang yang langka dan mahal. Siapa sangka di sini harganya sangat murah.”


Helion segera meraih selendang itu lantas mengalungkannya ke leher Suraidah.


“Wah, ini memang sangat cocok untukmu, Suraidah. Abang yang jualan, aku beli selendang ini.”


“Wah, wah, wah, wah, wah, jangan Yang Mulia! Aku tak pantas memperoleh kebaikan hati Anda.”


“Apa yang kamu katakan, Suraidah? Tentu saja kamu pantas sejak kamu cantik begini.”


Suraidah tersipu malu oleh pujian tiba-tiba Helion tersebut.


Setelahnya, mereka pun berwisata mengeliligi berbagai tempat di Kota Apes tersebut di mana para pemberontak memusatkan kegiatannya.


Helion tampak bersenang-senang bersama Suraidah dengan riangnya.


Segala jenis permainan, jajanan kuliner, aksesoris, serta berbagai toko pakaian mereka kunjungi untuk bersenang-senang.


Suraidah yang datang dari tempat dengan kebudayaan yang sangat berbeda, tampak sangat menikmati kebudayaan yang menurutnya sangat mirip dengan zaman pertengahan di dunia tempatnya berasal tersebut.


Tentu saja kecuali keberadaan beberapa peralatan modern yang seperti tidak pada tempatnya semisal televisi, telepon pintar, sepeda cepat, dan berbagai penemuan spektakuler Helios lainnya di masa-masa jayanya sebelum dia sangat disibukkan oleh urusan tower.


Namun, kesenangan itu tak berlangsung lama.


Ilyaas segera mengunjungi Helion yang sedang asyik-asyiknya berkencan dengan Suraidah tersebut.


“Kakak, ada berita gawat dari ibukota.”


“Farhaad mengajukan protes ke senat untuk menurunkan Anda dari jabatan Anda sebagai putra mahkota.”


“Kurang ajar adik sialan itu! Tidak hanya selalu cari muka di depan Ayahanda, kini dia secara terang-terangan menusukku dari belakang!”


Helion segera memperhatikan ekspresi Ilyaas yang kusut seakan tampak masih ada lagi yang ingin disampaikannya.


“Katakan saja. Masih ada kan yang ingin kamu sampaikan?”


“Itu… Tampaknya istri Kakak, Kak Elisa, juga mendukung surat gugatan dari Farhaad tersebut dan itu semakin menguatkan kekuatan pihak senat yang setuju.”


Mendengar hal itu, Helion sangat kaget.


Itu karena Helion selama ini berpikiran bahwa Elisa mau menikahinya karena tergiur oleh jabatan putri mahkota semata.


Tiada cinta yang selama ini ditunjukkan oleh Elisa padanya.


Tentu saja juga sebaliknya, Helion bahkan tidak pernah sekalipun memperlakukan lembut Elisa.


Itulah sebabnya Helion selama ini berpikir bahwa Elisa bertahan di sisinya demi kekuasaan.


Namun kini dia justru ingin membuang jabatan putri mahkota itu dengan mudahnya.


Mau tidak mau Helion menunjukkan ekspresi kegusaran.


“Apakah wanita itu akhirnya tidak tahan lagi di sisiku dan memilih untuk meninggalkanku ataukah mungkin Farhaad memberikannya tawaran yang lebih menarik daripada sekadar jabatan putri mahkota?”


Sedikit mirip dengan ekspresi Helion, Suraidah juga menunjukkan ekspresi keterkejutan.


Akan tetapi, itu bukanlah karena surat gugatan yang dilayangkan oleh Farhaad yang membuatnya bereaksi seperti itu, melainkan yang lebih penting lagi dari itu.


Suraidah baru mengetahui fakta bahwa rupanya sang putra mahkota, Helion star Meglovia, tidak lagi perjaka.