Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 68 – SOSOK SEJATI MILANDA



Helios menunjukkan ekspresi kerumitan di wajahnya setelah baru saja merasuk ke dalam memori ingatan seseorang.


Nafasnya masih ngos-ngosan secara tidak teratur sembari dia kembali berdiri setelah tersungkur jatuh karena tak tahan pada tekanan yang tiba-tiba terjadi di kepalanya.


Helios pun memegangi kepalanya yang masih pusing itu seraya berkata, “Jadi inikah tujuanmu yang sebenarnya menunjukkan aku memori ingatan itu?”


Tentu saja Helios hanya menerima raungan penuh amarah alih-alih jawaban atas pertanyaan yang dilontarkannya itu kepada Milanda yang telah lama kehilangan akal sehatnya yang perlahan-lahan terkikis oleh waktu tanpa keberadaan.


“Yah, tapi berkatnya juga, aku akhirnya memperoleh sekitar setengah jawaban yang selama ini membuatku penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu itu.”


Helios menunjukkan ekspresi yang bercampur dengan kemarahan di wajahnya. Dia mengepalkan tangannya erat-erat.


“Penasihat spiritual mencurigakan itu bisa saja ada kaitannya dengan kuil suci di zaman sekarang. Jika demikian, mungkin saja ramalan tiran yang telah membuatku menderita selama ini adalah juga hanya hasil rekayasa mereka belaka.”


Helios menatap ke arah Milanda, sesosok wanita raksasa yang matanya dipenuhi dengan kegilaan.


Tidak bisa diamati lagi apakah parasnya itu cantik ataukah tidak karena seluruh tubuhnya diliputi oleh kabut merah yang terbakar.


Helios kembali menelisik ke dalam memori ingatan tersebut.


Dia kembali mengingat bahwa ada bagian pula di situ ketika Rizard menunjukkan ciri-ciri yang sama seperti apa yang telah terjadi pada Milanda saat ini.


Jika Helios tidak salah mengingat, itu berupa proses degradasi menjadi demon. Sepertinya, sebelum seorang manusia normal berubah menjadi demon, mereka akan menderita kegilaan seperti itu terlebih dahulu.


Apa yang menjadi penyebabnya mungkin adalah mana yang telah terkontaminasi oleh sesuatu yang belum diketahui. Sayangnya, Helios pun belum mengetahui secara detail terkait hal tersebut walau sudah menyaksikannya sendiri di dalam memori ingatan.


Dia pun mengingat kembali apa yang Milanda lakukan untuk menyembuhkan Rizard yang sedang dalam prosesnya menjadi seorang demon.


Helios menggunakan kemampuan es-nya untuk melayang di sekitar Milanda. Berkatnya, dia pun mampu menggapai bagian jantung dari tubuh wanita raksasa itu.


Helios kemudian mulai menyentuhnya lantas mengalirkan aliran mana-nya dan mencampurkannya ke dalam aliran mana Milanda.


Awalnya, aliran mana yang terhubung itu saling bergejolak menunjukkan ketidaksukaan mereka berinteraksi satu sama lain yang bagaikan ketika air dan minyak berusaha untuk disatukan.


Namun perlahan, aliran mana Helios berhasil dengan sukses menyusup ke celah-celah aliran mana Milanda, lantas perlahan mendorong keluar ketidakmurnian yang terdapat pada aliran mana Milanda tersebut sedikit demi sedikit.


Tetapi itu bukanlah suatu proses yang mudah. Pergejolakan dan perlawanan ketidakmurnian itu cukup memberikan impak kepada tubuh Helios.


Helios sempat mimisan, tetapi dia segera mampu memperbaiki keadaan tubuhnya itu dengan merendahkan suhu di tubuhnya. Berkatnya, ketidakmurnian yang awalnya begitu bergejolak hendak melukai aliran mana Helios, perlahan mulai kehilangan kemampuannya untuk bergerak lagi lantas akhirnya menjadi bola seukuran kepalan tangan yang patuh.


Ketidakmurnian itu perlahan terus membesar dan membesar, hingga pada suatu titik ukuran tertentu, Helios mengeluarkannya dari aliran mana di dalam tubuh Milanda tersebut. Helios pun mengulang-ulang prosedur tersebut sampai beberapa kali.


Beberapa saat kemudian, aliran mana Milanda telah kembali bersih dan dia tidak lagi berada dalam kondisi gilanya. Sebagai gantinya, sosok wanita bermartabat yang penuh dengan keanggunan-lah yang terlihat.


“Terima kasih, sang terpilih karena telah menyelamatkanku.” Ujar sosok yang bernama Milanda itu setelah kembali ke wujudnya yang anggun sembari tersenyum lembut kepada Helios.


“Aku tidak perlu itu. Sekarang, bisa kau kembalikan aku saja ke tempat rekan-rekan party-ku berada? Aku bisa merasakan bahwa kota-ku saat ini sedang dalam bahaya sehingga aku harus segera menyelamatkannya.”


Milanda hanya menatap Helios tanpa ekspresi seakan menolak permintaan Helios tersebut.


“Aku juga bisa merasakan bahwa energi iblis mulai bermunculan kembali di permukaan. Justru karena itu, ada satu hal lagi yang mesti aku pinta darimu, wahai sang terpilih. Tolong selamatkanlah dunia ini.”


“Apa? Menyelamatkan dunia? Kamu meminta hal tersebut kepada seseorang yang menerima julukan tiran dari semua orang?”


“Tampaknya banyak umat manusia yang telah salah paham. Ketiranan bukanlah lawan kata dari kebaikan.”


Helios tampak kehilangan kata-kata atas pernyataan Milanda tersebut. Memang benar ucapannya bahwa lawan kata kebaikan bukanlah ketiranan, melainkan kejahatan. Tetapi ketiranan cenderung mendorong umat manusia kepada kehancuran melalui perlakuan sewenang-wenang penguasa.


Tindakan sewenang-wenang itu tidak lain adalah gambaran sebagaimana kejahatan didefinisikan sehingga tidaklah salah jika banyak orang di zaman sekarang ini yang menyalahartikan defenisi ketiranan sebagai kejahatan itu sendiri.


Akankah ketiranan itu masih diartikan sebagai kejahatan? Tentu saja itu tidak akan berlaku lagi. Tergantung seorang pemimpin bagaimana menerapkan sikap ketiranan itu, hasilnya bisa saja berbeda dari apa sebuah defenisi kejahatan.


Namun demikian, bisakah seseorang saja secara tiba-tiba mampu melawan dan memutar-balikkan defenisi yang telah mengakar kuat di masyarakat tersebut? Tentu saja jawabannya adalah tidak.


Perlu waktu untuk penerapannya. Pemaksaan kehendak hanya akan mewujudkan defenisi ketiranan sebagai kejahatan itu sendiri walaupun niat awalnya adalah baik.


Melihat Helios yang lama terdiam, Milanda pun melanjutkan ucapannya, “Maafkan aku, wahai sang terpilih. Perihal tak ada waktu lagi sebelum kekuatanku dan Arxena akan habis, tolong gantikan kami menjadi master hutan monster ini demi melindungi benua, tidak, seluruh dunia ini dari ancaman Raja Iblis.”


Helios tetap diam, tetapi Milanda terus melanjutkan permohonannya, “Pelajarilah apa yang telah kami kumpulkan yang mungkin akan membantu Anda mengalahkan sang Raja Iblis. Jika itu Anda, wahai sang terpilih, kuyakin Anda akan sanggup membawa sang Raja Iblis kepada tidur abadinya. Aku mohon dengan sangat kepada Anda, wahai sang terpilih, tolong selamatkan dunia ini dari ancaman Raja Iblis. Hanya Anda yang bisa melakukannya.”


Sang raksasa Milanda kemudian menundukkan kepalanya serendah mungkin di hadapan Helios walau posisi tubuhnya tidak mungkin bisa lebih rendah sekalipun Helios telah berdiri.


Tentu saja Helios tidak keberatan untuk menyelamatkan dunia, terlebih itu memang cita-citanya sedari awal untuk mewujudkan dunia yang damai. Akan tetapi, instingnya tentu membuatnya waspada terhadap sesuatu yang tidak dia kenal.


“Aku menolak. Aku tidak tahu apa-apa perihal resiko yang bisa saja terjadi jika aku menjadi master hutan monster itu.”


Mendengar jawaban Helios yang di luar harapannya, Milanda meninggikan suaranya, “Tetapi jika dibiarkan begitu, suatu saat ketika kekuatanku dan Arxena telah habis, maka seluruh monster di hutan monster akan terbebaskan lantas membuat kekacauan di seluruh benua yang tidak akan pernah dapat dibayangkan sebelumnya!"


Ekspresi kosong nan sendu Helios membuat Milanda seketika terdiam.


“Baiklah, aku mengerti. Anda hanya butuh waktu untuk memikirkannya, bukan? Suatu saat jika Anda telah siap memikul tanggung jawabnya, datanglah kembali ke tempat ini. Untuk saat ini, aku berikan kau saja sebagian kekuatanku sebagai jaga-jaga kalau-kalau kau akan berkonfrontasi dengan para pengikut Raja Iblis.”


Helios tidak menanggapi perkataan Milanda itu, namun tidak juga menolaknya. Milanda pun melihat itu sebagai pertanda persetujuan untuk saat ini.


Helios yang telah memiliki potensi jumlah mana yang sangat besar, kembali memperoleh kekuatan kuno yang tak bisa dibandingkan dengan kekuatan yang ada di zaman modern yang selama ini dimilikinya.


Itu adalah kekuatan untuk memanipulasi mantra sihir termasuk mantra sihir milik seseorang, yang bisa menguatkannya atau bisa pula melemahkannya atau bahkan meniadakannya sebelum mantra sihir itu berhasil ditembakkan.


Milanda lantas membuka kembali pintu dungeon yang memisahkan Helios dengan para anggota party-nya itu.


“Silakan kembali-lah dan kalahkan para pengikut Raja Iblis itu, wahai sang terpilih.”


“Kau ingin berkata bahwa apa yang menyerang saat ini bukan berasal dari hutan monster, melainkan Raja Iblis? Aku hanya bisa merasakan bahwa jenis mana mereka sama saja.”


“Itu bukan berasal dari kami perihal tidak ada koneksi yang terhubung sedikit pun denganku. Jika ada, itu terkoneksi dengan tempat di mana Raja Iblis tersegel.”


“Koneksi? Koneksi apa? Aku sama sekali tidak menyadari adanya aliran mana yang terhubung ke suatu tempat.”


“Koneksi maksudku di sini bukanlah aliran mana, wahai sang terpilih. Namun, itu bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan dengan mudah.”


Helios menghela nafasnya lantas menyerah untuk bertanya lebih lanjut perihal kondisinya yang sedang diburu waktu. Dia pun mulai berjalan cepat untuk buru-buru keluar meninggalkan tempat tersebut.


“Tunggu sebentar, wahai sang terpilih!”


Akan tetapi baru beberapa langkah, Milanda kembali mencegat perjalanan Helios.


“Di dekatmu saat ini ada seorang wanita yang terlihat sangat mirip denganku kan? Sebaiknya kau jauh-jauhlah darinya.”


Mendengar ucapan itu, Helios pun kembali berbalik lantas menatap wajah Milanda dengan tajam.


“Mengapa?”


“Itu karena dialah witch yang sesungguhnya.”


Setelah mendengar ucapan Milanda tersebut, nampak benar raut amarah di wajah Helios yang biasanya selalu kalem dan penuh kelembutan itu.


Helios sungguh-sungguh marah.