
“Kau… Kau sama sekali tak terlihat sebagai sisi putihku. Begitu rupanya, kau pun telah rusak.”
Aku menggelengkan kepala terhadap pernyataan sisi gelapku itu.
“Aku mengatakan itu semata-mata karena kau adalah sisi gelapku. Sudah sewajarnya bagianmu yang akan marah jika apa yang kita sayangi tersakiti. Kamu tidak perlu menahan diri untuk mengamuk lagi.”
“Dapatkah aku menggunakan kekuatan monster ini secara bebas?”
“Tentu saja. Siapa yang bisa melarang kita?”
“Bukankah itu akan membahayakan dunia? Bukankah kamu hero yang bertugas melindungi dunia? Kenapa kamu malah berkata seperti itu?”
Aku lantas menepuk pundak sosok gelap diriku itu.
“Aku hanya mengatakan bahwa kamu bebas mengamuk dan tak perlu menahan diri karena itulah memang instingmu yang demikian. Jika itu sampai membahayakan dunia sebagai akibatnya, maka tugaskulah yang akan menghentikanmu.”
“Aku tidak suka cara bicaramu itu! Kau seakan berkata bahwa aku jauh lebih lemah dibandingkanmu padahal akulah sumber kekuatanmu selama ini!”
Sosok itu pun menjadi murka lantas berupaya menyerangku dengan brutal.
Namun begitu dia tepat akan mendaratkan serangannya padaku, dia berhenti di tengah-tengah. Tidak, tepatnya dia tak mampu melakukannya.
“Mengapa bisa?”
“Karena kita berada di dunia astral yang aku kendalikan. Segala yang terjadi di sini adalah berdasarkan kehendakku.”
“Apa?”
“Kamu lihat sendiri kan betapa mudahnya aku menghentikanmu? Jadi kamu tidak perlu menahan diri lagi dan mengamuklah sepuasnya kapanpun kamu merasa menginginkannya.”
“Apa aku benar-benar bisa melakukannya?”
“Tentu saja bisa.”
“Bagaimana seandainya orang yang kita sayangi terluka karenanya.”
“Sudah kubilang aku bisa menghentikanmu.”
“Hero, kamu benar-benar serakah rupanya. Bukankah di sini seharusnya kau menyingkirkanku agar kau bisa mengendalikan kebajikan hatimu sepenuhnya?”
“Mengapa juga aku harus menyingkirkan keberadaan yang merupakan bagian dari diriku? Percaya dirilah! Kau juga adalah bagian dari diriku yang takkan pernah kusingkirkan.”
Mendengar ucapanku itu, sosok gelap diriku itu pun tersenyum padaku lantas kami pun mulai bersatu. Bisa kurasakan gelap dan terang bercampur-aduk di dalam ragaku.
Dengan demikian, trial kepemilikan formasi dungeon Milanda pun berakhir.
Aku kini telah sempurna sebagai master baru dari formasi busur dungeon di Benua Ernoa.
Aku bisa kembali melihat sekelilingku menjadi terang. Di hadapanku telah ada Milanda yang tersenyum padaku.
“Kau hero yang menarik. Jalan pikiranmu benar-benar kacau.”
“Akan kuanggap itu sebagai pujian.”
“Hahahahaha. Tentu saja itu pujian. Sudah kuduga keturunan Aries memang tidak pernah membosankan.”
“Aku keturunan pahlawan pertama Aries?”
Satu fakta besar pun terungkap seketika di hadapanku.
“Kau tidak akan bisa menjadi pahlawan tanpa mewarisi darah pahlawan dari nenek moyangmu. Tidakkah kau tahu fakta yang sudah jelas ini?”
“Itu karena identitas pahlawan pertama telah lama disimpangkan oleh Baal.”
Milanda kemudian lama diam sembari menatap wajahku.
“Hanya yang mampu mengendalikan abyss-lah yang memiliki kualifikasi untuk menjadi pahlawan. Itu bisa dibilang kutukan karena sensasi abyss telah berbekas di mata dan rambutmu yang menjadikannya menghitam.”
Begitu rupanya. Sekarang aku paham mengapa Baal berusaha menyimpangkan fakta bahwa pahlawan adalah mereka yang berambut dan berbola mata secerah matahari. Itu karena semua pahlawan sudah pasti akan memiliki warna rambut dan bola mata hitam karena pengaruh menekan abyss.
Lalu dia pun membumbui ceritanya dengan mengatakan bahwa keturunan berambut hitam dan berbola mata hitam adalah keturunan iblis yang berasal dari gelapnya abyss. Semuanya untuk menekan terbangkitkannya kekuatan pahlawan.
“Apa maksudmu bahwa aku adalah keturunan Pahlawan Pertama? Apakah itu berarti Irgard sun Meglovia, kakek moyang pendiri Kerajaan Meglovia, juga keturunan Pahlawan Pertama?”
Milanda menggeleng atas pertanyaanku itu.
“Tidak, bukan dia. Tepatnya istrinya. Lalu setelah melahirkan anak, salah satu anaknya meninggalkan Benua Ernoa lantas berkembang biak di utara Benua Asium. Perlahan, keturunan mereka membesar hingga sampai kembali ke dataran Benua Ernoa di Ignitia. Lalu itu dari Alfreon yang diwariskan kepada saudara-saudarimu, termasuk kamu. Dari situlah akar keturunan pahlawan pertama darimu berasal.”
“Begitu rupanya. Kalau begitu, satu lagi yang ingin aku tanyakan. Mengapa Raja Iblis Ozazil berusaha melindungiku?”
“Kalau kau tahu sejarah darimana dia berasal, maka kau akan bisa memahaminya. Satu yang bisa aku katakan. Itu sama sekali tidak datang dengan intensi yang baik. Dia semata-mata hanya ingin memperoleh lawan yang terkuat secara maksimal perihal kesombongannya yang terlalu menganggap rendah umat manusia. Di pikirannya, tidak terlintas sedikit pun bahwa dia akan kalah dari umat manusia.”
“Maka akan kupatahkan kesombongannya itu dengan mengalahkannya hingga dia akan menyesal bahwa mengapa dia tidak membunuhku di saat aku lemah.”
***
Aku segera bertolak kembali ke kota selatan begitu aku berhasil memperoleh kendali penuh atas formasi busur dungeon.
Begitu aku kembali, aku bisa melihat para monster yang berseliweran ke mana-mana perihal dungeon break. Para tentara benar-benar kewalahan untuk menutup dungeon satu-persatu hingga tidak heran jikalau sampai terjadi dungeon break di mana-mana perihal apa yang mesti ditutup jauh lebih banyak daripada sumber daya prajurit yang harus menutupnya.
Syukurlah barier yang dibentuk oleh gabungan kekuatan Yasmin dan Dokter Minerva beserta beberapa golem es yang kutinggalkan cukup untuk menghalau para monster hingga tidak ada yang berhasil meninggalkan kota selatan.
Di samping itu, seluruh penduduk juga berhasil dievakuasi keluar dari kota selatan hingga tidak ada lagi korban jiwa yang jatuh dari para rakyat sipil. Walaupun sayangnya itu tidak berlaku bagi para prajurit.
Aku harus segera menghentikan kekacauan ini.
Aku mensummon jarum-jarum es-ku memenuhi seisi langit kota selatan lalu kupastikan bahwa itu semuanya hanya akan membidik semua monster tanpa mengenai satu prajurit pun.
“Semuanya! Menjauh dari monsternya!”
Suaraku menggelegar memberikan perintah kepada para prajurit itu lalu para prajurit pun meresponnya dengan sigap.
Lantas,
-Dash dash dash dash dash dash dash dash.
Jarum-jarumku mulai menusuki titik vital para monster satu-persatu. Itu adalah monster yang jauh lebih kuat daripada monster yang biasanya muncul di hutan monster karena terlahir dari energi akar dungeon yang berasal dari tower secara langsung, bukannya monster yang tercipta dari dungeon yang telah dilemahkan esensinya oleh kekuatan Milanda.
Akibatnya, ada beberapa monster yang cukup alot untuk dihadapi hanya dengan jurus jarum-jarum es-ku saja. Aku pun memerintahkan para golemku dan beberapa petarung andal lainnya untuk membantuku menahan pergerakan para monster itu, di antaranya ada Buron, Olbero, dan Adam.
Pertarungannya benar-benar menyita cukup stamina. Namun, pada akhirnya semuanya berhasil teratasi.
Aku kemudian membiarkan seekor monster harimau yang tidak cukup kuat untuk hidup. Dari esensinya, aku kemudian menjebaknya ke dalam suatu perangkap artifak. Perlahan, artifak itu kian lama kian membesar sembari terus tertanam di dalam tanah. Artifak itu pun tumbuh menjadi dungeon dengan monster harimau itu sebagai penjaga esensinya alias bos monsternya.
Setelahnya, dungeon liar tak lagi terbentuk. Beberapa yang dekat dengan dungeon yang kubuat yang merupakan pengganti esensi bagian formasi busur dungeon yang hilang karena dihancurkan oleh Angele dan Noel Dumberman juga turut melemah esensinya lantas menghilang.
Adapun yang letaknya berjauhan, masih utuh bertahan, namun miasmaya telah melemah sehingga monster-monster di dalamnya pun turut melemah. Alice dan timnya pun masih mencari hewan liar yang terpapar energi miasma lantas menjadi monster di bagian hutan yang lebih dalam lagi. Sisanya, tinggal mempercayakan pada para prajurit untuk menanganinya sejak situasinya telah berhasil kukontrol sampai taraf tertentu.
“Yasmin! Dokter Minerva! Bagaimana dengan keadaan yang di sini?”
Aku berlari menghampiri Yasmin dan Dokter Minerva yang tampak sibuk menangani para prajurit yang terluka parah.
“Semuanya berhasil ditangani, Yang Mulia. Ada beberapa korban jiwa berjatuhan di kalangan para prajurit, namun jumlahnya sangat kecil untuk ukuran invasi monster besar-besaran. Beberapa yang terluka parah juga sudah tidak lagi dalam kondisi kritis karena ditangani dengan tepat.”
Walau jumlah kecil sekalipun, nyawa tetaplah nyawa. Karena kejadian hari ini, ada lagi beberapa keluarga bahagia yang kehilangan tampuk kebahagiaannya dengan kematian suami, ayah, atau anak-anak mereka di medan perang. Tapi aku hanya dapat mengantarkan kepergian mereka dengan ucapan penuh syukur karena berkat pengorbanan mereka, tanah air Ernoa ini sekali lagi bisa mempertahankan kedamaiannya.
Sejak aku tak perlu lagi menghemat manaku, aku pun mengumpulkan esensi energi suci sekitar dengan rune yang aku pelajari dari Milanda, lantas aku mengobati para korban yang terluka hingga para taraf tertentu di mana nyawa mereka tidak lagi terancam dan semua luka luar mereka tertutupi.
Itu tidaklah sesempurna pengobatan dari grand priest, namun aku cukup pecaya diri pula dengan kemampuan penyembuhanku.
Setelahnya, aku pun jatuh pingsan dan tak dapat lagi mengingat apa-apa perihal over out mana.
Namun, di penghujung pingsanku, aku bisa melihat wajahnya dengan baik.
“Ah. Lagi-lagi aku membuat keputusan yang salah.”
Tidak seharusnya aku lengah sampai akhir perihal sang dalang masihlah ada di tempat.
Kulihat Noel Dumberman menyengir di penghujung pingsanku.
Semoga saja Yasmin dan Dokter Minerva bisa menahannya sampai aku kembali tersadar dari pingsanku.