Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 97 – NASIB BENUA



Suatu waktu, aku secara kebetulan berada di ruang istirahat yang sama dengan Kak Tius. Aku baru selesai mengadakan audiensi dengan menteri pertanian, sementara Kak Tius tampaknya baru saja keluar dari kamarnya setelah mengurus segala persiapan yang diperlukannya untuk mengikuti kembali pertemuan diplomatik persatuan tiga kerajaan selatan.


“Hah, belakangan ini benar-benar melelahkan! Aku bahkan tak sempat istirahat dengan benar dan harus bertolak kembali ke Cabalcus.”


Kemarahanku kepada kak Tius perlahan mereda oleh waktu. Kini, kami dapat mengobrol kembali seperti biasa.


“Walau Kakak berkata begitu, Kakak terlihat lebih segar seperti biasanya. Apa itu karena Kakak akhirnya tidak bisa menahan godaan sang peri cantik kerajaan? Kakak juga aneh, ada istri cantik begitu, kok baru sekarangnya diapa-apakan.”


Aku sekadar mengatakannya sebenarnya tanpa bermaksud apa-apa. Aku hanya sekadar mengungkapkan keluhanku kepada Kak Tius saja. Namun di luar dugaan mendengar hal itu, seluruh muka Kak Tius memerah.


“A…ap…apa yang ka… kamu bi… bilang, Helios? Dasar tidak sopan!”


Kakak adalah orang yang berpikiran luas dan bijak. Namun entah mengapa setiap menyinggung masalah asmara, dia kembali menjadi seperti anak remaja yang baru mengenal cinta.


Padahal Kak Tius saat ini sudah berusia 23 tahun, bukanlah hal yang aneh lagi baginya untuk melakukan suatu adegan dewasa bersama istrinya. Bahkan aku saja sudah melakukannya di usiaku yang 20 tahun ini.


“Ngomong-ngomong, Kakak, bagaimana keadaan pertemuan diplomatiknya?” Dalam suasana santai itu, aku berupaya mencari-cari tahu sedikit informasi soal perkembangan suasana pertemuan politik yang belakangan diadakan di Kerajaan Cabalcus tersebut. Kebetulan Kak Tius adalah penanggung jawab yang diutus mewakili Kerajaan Meglovia.


“Yah, agresi yang digencarkan Kekaisaran Vlonhard belakangan ini memanas, terutama di Kerajaan Ignitia. Entah apa yang dipikirkan kaisarnya itu. Tapi karena itu pula segala keputusan di dalam pertemuan lebih mudah dibuat sejak ada musuh bersama yang mesti kita segera lawan. Tetapi jika seperti itu, perang tidak lagi bisa terhindarkan.”


“Namun, aku saat ini berupaya berkomunikasi sebaik mungkin dengan putra mahkota mereka yang bisa diajak bicara baik-baik agar sebisa mungkin menghindari perang.”


Kak Tius secara aktif telah berjuang secara maksimal dalam ranah kemampuannya. Tetapi selebihnya, itu tergantung dari upaya sang putra mahkota kekaisaran sendiri.


“Hei, Kak Tius, mau aku temani ke sana?”


Kak Tius tiba-tiba saja menunjukkan ekspresi bodoh atas ucapanku yang mendadak itu.


Namun dengan bijak, Kak Tius menjawab, “Tidak, aku bisa mengatasinya sendiri.. Helios, kamu saat ini lebih dibutuhkan di istana ini.”


“Tapi aku khawatir dengan keamanan Kakak di sana. Bagaimana pun, itu di kerajaan lain. Bagaimana jika tiba-tiba Kerajaan Cabalcus berkhianat lantas menyerahkan Kakak mentah-mentah ke kekaisaran?”


“Hahahahahahaha.” Terhadap spekulasiku yang sangat di luar nalar menurutnya itu, Kak Tius tampak tertawa terbahak-bahak.


“Tidak mungkinlah hal itu terjadi sejak ideologi mereka sangat bertentangan. Kita dan Kerajaan Ignitia bisa mentolerir sampai taraf tertentu pemahaman ateis Kerajaan Cabalcus, tetapi itu tidak akan berlaku bagi kuil suci kekaisaran yang sangat ortodoks.”


Walaupun Kak Tius berkata seperti itu, berdasarkan penyelidikanku, pangeran kedua Stephanus de Cabalcus dan sahabat baiknya, ahli strategi kerajaan Cabalcus, Roggie fin Bayotte terlihat terlalu simpatik pada pemeluk ajaran kuil suci kekaisaran di perbatasan utara mereka. Aku harap saja bahwa itu bukanlah pertanda buruk.


“Tetap saja aku penasaran, Kak, dan ingin ikutan ke sana…”


“Tidak boleh. Helios harus berfokus membantu Ayahanda di kerajaan selama aku tidak berada di sini. Kasihan kan jika Ayahanda yang sudah tua diporsir bekerja terlalu keras?”


“Kan ada Ilene juga di sini yang membantu tugas Ayahanda…”


“Perbedaan perlakuan karena jenis kelamin kah? Hal itu benar-benar menyebalkan. Jika demikian, aku sama saja. Aku kan selalu saja dihina dari belakang persoalan ramalan tiran itu.”


“Tidak ada lagi yang berani memperlakukanmu seperti itu di kerajaan, adikku, sejak prestasimu di Kota Lobos serta berbagai prestasimu yang cemerlang sebelum-sebelumnya juga.”


“Ah, andai saja Leon masih hidup…”


“Helios!”


Entah karena alasan apa, ekspresi Kakak tiba-tiba saja suram begitu aku menyebut kembali nama mendiang adikku yang telah meninggal itu.


“Sebagai keluarga kerajaan, kita harus melaksanakan tugas kita dengan baik demi para warga kerajaan ini, demi kedamaian Kerajaan Meglovia kita yang tercinta ini.”


“Meski nyawa menjadi taruhannya kah? Itulah yang selalu Kakak bilang. Tetapi apakah itu adil jika kedamaian kerajaan mesti ditebus dengan nyawa kita? Itu artinya kita tidak dapat turut merasakan kebahagiaan itu kan?”


“Apa yang kamu katakan, Helios. Tentu saja itu sepadan. Demi calon bayimu dan demi masa depan cikal-bakal penerus bangsa ini, kita yang berdiri di puncak harus menjadi tiang dan atap yang kokoh demi melindungi mereka hingga mereka siap berkarya di dunia ini.”


Kak Tius benar-benar menunjukkan apa yang disebut sebagai karakter yang terlalu idealis. Hal seperti inilah yang membuatku selalu mengkhawatirkannya. Jika suatu saat dia disuruh memilih antara nyawanya sendiri atau keselamatan kerajaan, maka dia tidak akan hesitasi sedikit pun dalam mengorbankan nyawanya.


Padahal sebagai individu, wajar saja jika manusia itu sedikit egois. Namun tampaknya, ini sama sekali tidak berlaku buat Kak Tius.


Mengenai masalah pangeran kedua dan ahli strategi kerajaan itu, mungkin hanyalah aku yang terlalu berburuk sangka. Adalah yang lumrah-lumrah saja jika seseorang mengobrol dan berbaur dengan ramah walaupun ideologi mereka berbeda. Namun, sebagai jaga-jaga, akan kuutus lebih banyak familiarku untuk menjaga Kak Tius dengan lebih seksama.


Jika terjadi apa-apa, aku bisa segera bergerak ke sana, sementara para familiarku akan berubah ke dalam mode tempur demi melindungi Kak Tius sampai aku tiba di sana.


Untuk saat ini, sebaiknya aku stand by di ibukota dulu saja selama pelaksanaan pertemuan itu sehingga jika ada apa-apa, aku bisa lebih cepat mengamankan Kak Tius dari dalam bahaya sejak dibutuhkan waktu hingga hampir dua hari untuk terbang dari Kota Painfinn menuju ke ibukota Kerajaan Cabalcus.


Ah, andai saja aku bisa segera menyelesaikan penemuan video call-ku itu, segalanya pasti akan lebih mudah. Aku bisa kapan saja menghubungi Talia ketika aku rindu atau mengkhawatirkannya.


Padahal aku telah berhasil menerapkan penciptaan televisi dan juga alat komunikasi kalung jarak jauh. Sayangnya, batasan jarak komunikasinya hanya bisa mencapai bagian barat kerajaan saja dan juga alat tersebut belum bisa menerapkan gambar seperti halnya penemuan televisiku.


Sebenarnya, bagaimana ya cara agar kita mampu meneruskan sinyal dalam jarak yang lebih jauh hingga mencapai seluruh kerajaan? Dan kalau sinyal suara saja bisa dikirim, apakah sinyal gambar tidak memungkinkan? Ini benar-benar PR yang sulit bagiku. Aku masih harus banyak berusaha.


***


Keesokan harinya, Kak Tius pun kembali melakukan perjalanan empat belas hari demi mencapai Ibokota Cabalcus. Tampaknya, setelah hari ini, Kak Tius akan lebih lama lagi menetap di sana sampai masalahnya benar-benar selesai diatasi.


Selama Kak Tius berjuang keras melindungi kerajaan dari luar, aku juga harus semangat menjaga kerajaan ini dari dalam.


@@@


Satu yang Helios gagal amati menggunakan para familiarnya, kuil suci sekte penyembah matahari telah dari dahulu berada di kubu yang sama dengan sang kaisar. Dan kini, mereka telah berhasil melakukan assasinasi kepada sang putra mahkota Albexus Star Vlonhard dari balik layar.