
“Rio! Rio! Kamu di mana?!”
Kegaduhan yang diperbuat oleh salah seorang prajurit itu membuat Damian tidak dapat lagi mengabaikannya.
Dengan ekspresi palsunya itu pun, dia mendekati sang prajurit lantas bertanya, “Tuan Jeffrey, ada apa?”
“Oh, Tuan Damian. Maafkan atas keributan yang aku perbuat ini.”
Dengan tingkah segan yang ditujukan kepada wakil komandannya tersebut, sang prajurit yang membuat kegaduhan tadi lantas menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Damian. Tampak raut senang di wajahnya perihal wakil komandan sekelas Damian rupanya mampu mengingat dengan baik nama seorang prajurit biasa seperti dirinya.
“Tidak. Bukan apa-apa kok.”
Damian pun tersenyum basa-basi nampak seindah dan senatural mungkin, walaupun di dalam hatinya betapa dia mengumpat ketidaksopanan prajurit itu dalam membuat kegaduhan di pagi buta tersebut.
“Terima kasih atas pengertiannya, Wakil Komandan. Hanya saja, anak muda yang selalu bersama saya tiba-tiba saja tidak pernah lagi nampak batang hidungnya sejak kemarin.”
“Palingan dia sedang bersenang-senang di suatu tempat. Bukankah itu sudah biasa bagi para prajurit muda ketika suasana benteng sedang damai untuk bersenang-senang dengan para wanita di suatu bar?”
Sang prajurit lantas menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
“Tidak, tidak, Rio bukan anak yang seperti itu, Wakil Komandan. Dia adalah tipikal anak yang serius dan tidak pandai bersenang-senang. Tempo hari saja betapa dia memuji sang maid Yasmin dan bersumpah akan menjadi pelindungnya setelah mendapatkan penyembuhan dari Beliau.”
“Oh iya, kalau tidak salah kemarin katanya dia ingin menemui sang maid untuk berterima kasih padanya karena telah diselamatkan nyawanya. Aku mungkin harus menanyakan Beliau mengenai keberadaan Rio.”
Damian dengan lihainya menampakkan senyum palsunya di luar, tetapi tampak dia sama sekali tak tertarik dengan pembicaraan tersebut.
Dia hanya berbasa-basi sebentar sebelum akhirnya meninggalkan prajurit itu lantas kembali memasuki ruangan pribadinya.
Bersamaan dengan waktu itu, terlihat kristal merah bersinar terang dari dalam kamarnya. Siapa menduga bahwa itu adalah sejenis alat komunikasi.
Padahal alat komunikasi di zaman itu belumlah berkembang di mana yang tercanggih saat ini mungkin hanya seperti yang dibuat oleh Helios saja dengan memanfaatkan material living armor. Namun demikian, Damian memiliki alat komunikasi yang canggih, tampak tak sesuai dengan zamannya. Tidak salah lagi, itu adalah sihir hitam.
“Hei kamu bajingan! Mengapa kamu mengacaukan semua rencana kita?!”
Rupanya yang ada di balik panggilan tersebut adalah Vindycta Eros, sang kepala kuil suci Kerajaan Meglovia.
“Heh, bisakah seorang rahib berkata kasar seperti itu? Bagaimana kalau para pengikutmu mendengarkannya?”
“Kamu, dasar bajingan! Kamu pikir karena siapa aku jadi begini, hah?!”
“Aku tidak mengerti apa yang Anda maksud, Rahib.”
“Jangan berlagak bodoh! Kamu kan yang telah membunuh Pangeran Leon?! Kamu juga yang menuduh Pangeran Helios sebagai pelakunya?! Padahal sudah kubilang ini belum saatnya untuk menyentuh keluarga kerajaan! Bagaimana kalau rencana kita jadi kacau-balau karenanya! Bagaimanapun, kita masih butuh sosok Pangeran Helios untuk memancing pergerakan Kekaisaran Vlonhard!”
Damian hanya sibuk mengorek-ngoek kupingnya dengan ujung kelingkingnya tampak sama sekali tidak tertarik dengan keluh-kesah Rahib Vindycta tersebut.
“Kamu? Kamu?! Dasar bajingan!”
“Tenanglah sedikit, emangnya kenapa? Pada akhirnya kan kita juga harus membunuh mereka berdua. Apa salahnya jika urutannya diubah sedikit? Justru itu menjadi tugas Anda sebagai pemikir yang merencanakan rencananya untuk memikirkan tindakan perubahan strategi yang harus kita ambil.”
“Kau berkata seakan itu mudah saja!”
Namun, Damian segera mengalihkan topik pembicaraan tersebut.
“Ngomong-ngomong bagaimana dengan penyelidik ibukota yang dikirim kemari untuk menyelidiki kasus pangeran itu?”
“Huh, itu sudah kami atasi dengan baik, terima kasih berkat kesibukan istana saat ini dalam perang menghadapi Kekaisaran Vlonhard di utara. Aku sudah memastikan bahwa orang-orang kitalah yang diturunkan di dalam penyelidikan itu. Kita juga akan memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat bidak kita itu kembali terkurung sebagai mainan sehingga rencana kita akan kembali menjadi lancar seperti dulu.”
“Huh, dasar anak bajingan!”
Damian tidak lagi ingin menunggu celotehan panjang-lebar Vindycta lantas segera mematikan alat komunikasi tersebut.
“Apa? Dia mematikan alat komunikasinya? Anak kurang ajar itu! Tapi ya sudahlah, ujung-ujungnya semuanya berjalan ke arah yang lebih baik. Anak buah si Ozazil itu pada akhirnya tidak dapat menemukan bukti keberadaanku. Entah sebagai Rahib Vindycta maupun sebagai Rahib Ngezot.”
Itu adalah jelas suara Rahib Vindycta yang berbicara. Namun untuk suatu alasan, suaranya kian bertambah berat.
Rahib Vindycta tiba-tiba saja berubah menjadi sosok yang menyeramkan. Rupanya dia adalah seorang demon yang menyamar menjadi manusia.
“Sebagai entitas yang telah terjebak di dalam tower dalam jangka waktu terlalu lama, si Ozazil itu telah menjadi idiot. Tiada cara yang lebih baik dalam menghancurkan umat manusia selain menjauhkan mereka dari tuhannya terlebih dahulu. Dan untuk itu, aku sudah berupaya mati-matian selama lebih dari lima ratus tahun ini untuk membangun kuil suci.”
***
Beberapa hari setelahnya, sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Rahib Vindycta tersebut, para penyelidik pun tiba di Kota Painfinn. Namun, tindakan kejam apa yang mereka perbuat sesampainya di sana adalah menyeret Pangeran Helios keluar dari kamarnya, mengaraknya keliling kota lantas hendak menjebloskannya ke dalam penjara bawah tanah. Mereka menyeret sang pangeran layaknya menyeret seekor anjing.
Sungguh tindakan pelecehan yang sangat mengabaikan status Pangeran Helios sebagai keluarga kerajaan.
Tentu saja hal ini mendapatkan pertentangan dari para pengikut Helios, terutama Albert.
“Apa yang kalian lakukan, bajingan?! Tidak tahukah kalian siapa yang sudah kalian seret itu?! Dia adalah Yang Mulia Pangeran Helios, Pangeran Kedua Kerajaan Meglovia!”
Salah satu penyelidik itupun menjawab ucapan Albert tersebut dengan nada yang sangat tidak sopan.
“Heh, memangnya apa peduli kami jika dia itu anak raja atau bukan? Cuih! Sekarang dia hanya tidak lebih dari seorang terdakwa.”
“Apa maksudmu bajingan?! Kalian bahkan sudah memperlakukan Yang Mulia Pangeran sebagai terdakwa sebelum kalian menemukan bukti kebenarannya, hah?!”
Albert menarik kerah baju sang penyelidik yang bermulut lancang tersebut, akan tetapi sang penyelidik segera menghempaskan genggaman tangan Albert. Dia pun lantas kali ini menumpahkan ludahnya. Bukan kepada Albert, tetapi malah kepada Pangeran Helios.
“Cuih! Penjahat sepertinya tak layak diperlakukan sebagai manusia!”
“Dasar laknat!”
Albert pun tampak akan menghunuskan pedang besarnya itu. Tetapi sebelum semua itu terjadi, Helios bergerak cepat untuk menghentikannya.
“Hentikanlah, Albert.”
Para penyelidik yang tidak sempat melihat pergerakan cepat Helios tersebut sebelum dia tiba-tiba berdiri di hadapan mereka seketika mengeluarkan keringat dingin.
“Master.”
Helios tidak berkata apa-apa lagi. Ekspresinya sendu dan terlihat pasrah. Pukulan kematian Leon ternyata jauh lebih besar dampaknya kepada Helios.
Helios pun diseret bagai anjing dan mutlak diperlakukan bukan lagi sebagai tersangka, melainkan terdakwa, bahkan sebelum semua penyelidikan resmi membuktikan kebenaran di balik peristiwa tersebut.
Di tengah-tengah Albert berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya, menyaksikan tuannya memperoleh perlakuan yang sangat tidak adil itu, namun tiada pula yang bisa dia perbuat untuk membantu tuannya, Damian pun datang menghampiri sisi Albert.
“Sesuai dugaan kalau perlakukan mereka akan seperti itu kepada Yang Mulia Pangeran Helios.”
“Apa maksudmu, Damian?”
“Yah, dari dulu kan kita tahu bagaimana bencinya kuil suci kepada Yang Mulia Pangeran. Tampaknya, istana sangat sibuk dalam menghadapi perang dengan Kekaisaran Vlonhard sampai-sampai penyelidik yang diutus kemari adalah orang-orang dari kuil suci.”
Mengetahui kebenaran tentang siapa identitas para penyelidik yang diutus untuk menyelidiki kasus Pangeran Helios tersebut, amarah Albert pun bertambah menjadi-jadi.