
“Nah, serang aku di bagian mana pun, Hero!”
Helios tersenyum manis di hadapan Noel Dumberman. Dia tersenyum dan mampu menyembunyikan dengan baik niat membunuhnya di dalam hatinya.
Dengan dalih perintah Noel Dumberman sendiri sebagai bagian dalam sesi pelatihan Helios, Helios pun melangkah dengan cepat hendak menebaskan pedang auranya itu ke leher Noel Dumberman.
Helios tidak menganggap itu sebagai latihan sama sekali. Dia serius ingin membunuh Noel Dumberman jika ada kesempatan.
-Slash.
-Trang.
Sayangnya, pedang aura Helios itu lagi-lagi kurang tajam untuk menembus sisik-sisik keras milik Noel Dumberman.
“Cih, rupanya pedang auraku masih kurang tajam.”
“Semangat yang bagus, Hero! Tapi jangan sampai lengah dalam pertarungan!”
-Dash.
-Buak.
-Kruduk, kruduk.
Noel Dumberman melancarkan serangan secara cepat kepada Helios. Itu hanyalah serangan sapuan biasa tanpa niat mencederai Helios. Walau demikian, Helios yang masih sangat jauh lebih lemah daripada Noel Dumberman terpental dalam sapuan yang menurut Noel Dumberman sendiri itu masih terlalu lembut.
“Ayo bangkit lagi! Sampai kapan kau mau terus-terusan yang dihajar, hah?! Apa kamu tidak malu dengan statusmu sebagai hero itu? Jika kamu malu, cobalah layangkan sekali saja pukulan pada wajahku ini!”
“Sejak tadi aku juga mau melakukannya, sialan!”
”Apa?”
“Bukan apa-apa. Mari kita lanjutkan saja latihannya.”
Helios tersenyum. Namun sejatinya di dalam hatinya, dia sangat marah dan benar-benar ingin membunuh sosok Noel Dumberman yang ada di hadapannya itu.
Helios terus berlatih di bawah arahan Noel Dumberman tanpa diketahui oleh siapapun kecuali Yasmin dan Dokter Minerva yang dimintanya untuk jaga-jaga jikalau sampai Noel Dumberman melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Helios merahasiakan latihan rahasianya itu dengan musuhnya bahkan kepada keluarganya sendiri.
Tanpa terasa, waktu tiga bulan pun berlalu.
Helios telah mampu menyamakan pace dengan serangan Noel Dumberman.
Helios menusuk melalui pedang auranya, namun berhasil ditangkis oleh cakar Noel Dumberman. Tidak berhenti sampai di situ, Helios bersalto dan melayangkan serangan panah es berkali-kali kepada Noel Dumberman. Noel Dumberman sama sekali tidak menghindarinya karena baginya, serangan Helios tersebut tidak lebih dari sekadar gigitan semut saja.
Di tengah-tengah itu, Helios menyerang kembali dengan pedang auranya. Noel Dumberman segera mematahkan serangan itu dan balik menyergap Helios dengan menekuk tangan kanannya yang memegang pedang astral ke bawah.
Namun, di situlah trik Helios dimulai. Sebuah pisau sihir yang berhasil ditajamkannya dengan sangat tajam datang dari arah belakang yang sempat tertutupi oleh badan Helios sehingga gagal segera diantisipasi Noel Dumberman.
Pisau itu pun berhasil mengenai pipi Noel Dumberman. Terlihatlah perbedaan dari serangan-serangan Helios selama ini kepada Noel Dumberman. Kulitnya yang keras itu terkelupas dua sisik oleh tajamnya pisau itu yang biasanya bahkan tak bisa tergores sedikitpun oleh senjata terkuat Helios sekalipun.
Tidak hanya pace, Helios telah mampu meningkatkan ketajaman, kekuatan, serta keakuratan serangannya selama dalam waktu tiga bulan latihan tersebut.
“Luar biasa! Sungguh yang diharapkan dari perkembangan di luar nalar dari seorang hero. Kini kau bukan lagi seorang bayi yang tidak bisa melukaiku. Kau telah tumbuh menjadi balita yang berhasil menggores pipiku dengan pisau mainanmu.”
Helios kesal dengan ucapan sarkastik Noel Dumberman yang sangat menganggap remeh dirinya itu seolah sampai kapanpun Helios tidak akan sanggup mengalahkannya, namun di sisi lain Helios senang karena pada akhirnya dia bisa melukai sosok yang sebelumnya tak terbayangkan kuatnya olehnya itu.
“Itu tidak akan berakhir di situ. Sebentar lagi aku pastikan akan tumbuh sehingga kali ini bisa menggorok lehermu.”
Helios mengucapkan kalimatnya dengan senyum yang ramah, tetapi bagaimanapun dicerna, sama sekali tak terdapat kelembutan dari makna di balik kata-katanya itu.
“Tentu saja. Aku menantikannya, Hero.”
Noel Dumberman hanya menjawabnya dengan senyum sinisnya seperti biasa.
Entah hubungan apa yang mereka miliki saat ini. Mereka adalah guru dan murid, namun di sisi lain mereka adalah musuh bebuyutan yang suatu hari harus saling membunuh. Helios tidak dapat menahan keambiguan itu di dalam hatinya.
“Hei, jika kau sekuat itu, mengapa kau harus mengabdi kepada Raja Iblis?”
Noel Dumberman hanya terdiam dengan ekspresi kosong di wajahnya. Dia tidak menjawab, juga tidak marah terhadap pertanyaan Helios itu.
“Aku pergi dulu.”
“Mau bagaimana lagi. Pemilikku ingin menikmati barang eksklusifnya.”
Helios sama sekali tak paham akan apa yang diucapkan oleh Noel Dumberman itu. Dia ingin menahannya pergi kala itu karena Helios merasa jika dia melepaskan Noel Dumberman saat itu, tidak akan ada lagi peluang mereka akan bertemu sebagai guru dan murid.
Namun, tentu saja harga diri membatasi langkah Helios. Itu wajar sejak Noel Dumberman tidak salah lagi adalah seorang musuh. Hanya saja, untuk alasan yang tidak diketahuinya, dia merasakan perasaan yang sama ketika dirinya harus meninggalkan Leon sendirian di Kota Painfinn demi menyelidiki dungeon Milanda kala itu yang harus berakhir dirinya tak lagi dapat melihat sosok adiknya itu untuk selamanya karena telah dibunuh oleh Damian.
Mungkin nuansanya atau cara bicaranya yang kasar, Helios merasakan sedikit kemiripan antara sosok Noel Dumberman terhadap Leon adiknya itu. Apalagi warna rambut serta warna mata mereka benar-benar mirip. Jika saja bukan karena kekuatan overpower yang dimiliki oleh Noel Dumberman yang tidak mungkin dimiliki oleh adiknya, Leon itu, mungkin Helios sudah akan mengira bahwa Noel Dumberman memang benar-benar adalah adiknya, Leon.
***
Sosok Noel Dumberman memasuki suatu istana yang penuh dengan kilauan emas dan berlian. Tidak, itu bukan istana melainkan kamar eksklusif milik Isis, sang the first witch di Legion Witch Raja Iblis.
“Darimana saja kamu, Noel?”
“Apalagi. Aku jalan-jalan ke berbagai tempat di dunia manusia.”
Dengan nafsu birahi memuncak, Isis mendekati Noel dengan tampang yang sangat menggoda. Dia membelai-belai dagu Noel, satu-satunya yang tidak tertutupi oleh sisiknya yang mengerikan itu.
“Tampaknya kamu belum menyadari, tapi kau itu sekarang bukan manusia lagi, Noel. Kamu adalah seekor chimera.”
Tatapan Noel tajam kepada Isis seketika mendengar witch itu mengucapkan hal tersebut padanya.
“Aku tahu. Tidak usah lagi diingatkan.”
Noel mengucapkannya sembari menampik tangan Isis yang terus saja membelai wajahnya yang mengerikan itu dengan penuh nafsu.
“Hei, Noel, kamu lupa, siapa pemilikmu?”
“Mana mungkin aku melupakannya. Itu adalah kau, ratuku, Isis, sang pengendali objek termahsyur dari Kerajaan Aegist.”
Mendengar jawaban itu, Isis tersenyum puas, tetapi seketika matanya tiba-tiba melotot dengan menyeramkan sembari mendekatkan wajahnya ke arah Noel Dumberman. Dia mencengkeram kuat-kuat pipi Noel yang terluka itu.
“Itu benar. Aku pemilikmu. Tidak ada lagi seorang pun wanita yang boleh merebut pria-priaku.”
“Jadi, wanita mana yang berani melakukan ini padamu, Noel?” Tanya Isis sembari membelai pipi Noel yang terluka.
“Tenang saja. Itu bukan dilakukan oleh wanita, tetapi seorang pria, jadi kamu tidak perlu cemburu.”
-Brak.
Isis dengan penuh birahi langsung mendorong Noel tersungkur ke dinding sambil mendekapnya dengan kedua tangannya di kiri dan kanan badan Noel.
“Kenapa aku tidak boleh cemburu kalau itu adalah pria? Mau pria atau wanita, tidak boleh ada yang menyentuh Noel-ku yang berharga. Kamu tahu kan mengapa aku menggabungkan tubuhmu dengan tubuh naga? Tujuan utamanya bukan untuk kekuatan. Itu supaya tak ada lagi yang dapat menikmati keindahan wajahmu selain diriku.”
Isis lantas mendekatkan bibirnya dengan bibir Noel. Perlahan, bibir mereka mulai saling akan bersentuhan. Di saat itulah seluruh sisik Noel membentuk cahaya yang menyilaukan. Perlahan, cahaya-cahaya menyilaukan itu mulai berkumpul menjadi satu titik, lantas menghilang ke dalam udara kosong begitu saja.
Sosok tampan Noel Dumberman pun yang tanpa sisik terungkap. Namun ada yang aneh. Wajah itu… Wajah itu benar-benar adalah milik Leon de Meglovia, adik kandung Helios yang dikabarkan telah tewas.
“Nyonya Isis, Kekaisaran Tong Kong menanyakan kepada kita tentang persiapan pembuatan senjata perangnya.”
Sebelum bibir mereka berdua itu benar-benar bertemu untuk berciuman, Shipton datang dengan membawa berita penting yang tak mungkin diabaikan oleh Isis.
Isis yang telah kehilangan mood lantas mengembalikan saja bentuk tubuh Noel Dumberman itu ke bentuk yang semula yang penuh dengan sisik.
Dengan tatapan kesal, dia menatap Shipton yang bungkuk dengan wajah tuanya yang menyeramkan yang tidak seperti image para witch kebanyakan. Isis menatapnya dengan kesal, namun sejak tidak ada alasan bagi Isis untuk marah pada Shipton, dia pun mengabaikan perasaan hatinya yang kesal tersebut lantas menerima saja laporan yang masuk dari tangan Shipton.
“Nenek tua itu benar-benar penghancur mood.”
“Apa? Apa Nyonya Isis mengatakan sesuatu?”
“Tidak ada. Kamu boleh pergi memberitahukan utusan yang datang kalau dalam dua minggu ini persiapannya akan matang dari sisi kita.”
“Baik, Nyonya.”
Shipton melangkah dengan sangat lambat dengan kakinya yang bengkok serta tongkatnya yang bentuknya sangat unik itu. Melihat pemandangan menjijikkan itu, Isis segera tersadar bahwa jika bukan karena kekuatan witch-nya, mungkin wujudnya sudah akan menyerupai Shipton sang witch mimpi buruk tersebut bahkan lebih buruk. Mau tidak mau Isis melihat dirinya dalam sudut pandang lain melalui Shipton itu dan itu tanpa sadar membuatnya sangat kesal.
“Sialan!”
Isis yang mengumpat secara tiba-tiba tanpa sebab sampai mengundang perhatian Noel Dumberman.