
Helios segera memutuskan untuk memenuhi permintaan Ilene yang disampaikannya lewat surat itu sejak menurutnya, memang hanya dirinyalah saat ini di kerajaan yang mampu mengatasi masalah tersebut.
Berdasarkan penjelasan Ilene, secara tiba-tiba saja banyak orang di perbatasan kerajaan utara yang mengalami muntah-muntah dan diare parah. Melalui penjelasan detail Ilene mengenai gejala yang dialami lewat suratnya itu, hanya satu penyakit yang dapat dipikirkan oleh Helios, yakni kolera.
Anehnya, penyakit tersebut hanya terjadi pada para petualang serta orang-orang yang memiliki status yang tinggi di sana, yakni para bangsawan dan saudagar kaya.
Penyakit tersebut telah menyebabkan kematian yang sangat signifikan di sana walaupun baru tiga hari sejak terjadinya di mana lebih banyak lagi korban yang sedang dalam proses gejalanya. Hal ini tentu saja tak lagi dapat dibiarkan oleh Helios.
Tanpa pikir panjang, Helios pun memutuskan untuk segera menggunakan kekuatannya demi mencapai perbatasan kerajaan di utara. Hal itu dilakukan oleh Helios lantaran merasa bersalah.
Karena khawatir dengan keamanan Talia yang baru akan pindah ke Kota Painfinn terhadap niat jahat para bangsawan yang terlibat dalam permainan tahta, Helios selama ini memfokuskan para familiarnya hanya untuk mengawasi Kota Painfinn, ibokota kerajaan, serta kota timur dan selatan yang menjadi pusat perkumpulan para bangsawan korup sehingga Helios sampai mengabaikan apa yang telah terjadi di utara.
Hanya dalam waktu tiga hari saja, siapa yang menyangka bahwa peristiwa naas yang besar seperti itu akan terjadi.
Tanpa menunggu lagi dan tanpa mempersiapkan secara matang, Helios segera terbang menggunakan kecepatan supersonik dengan sayap es-nya meninggalkan anak buahnya di belakang dengan harapan dia mampu untuk segera mencapai tempat terjadinya wabah itu berharap akan lebih banyak lagi korban yang bisa dia selamatkan.
Akhirnya dengan niatnya yang kuat, bahkan sebelum malam hari itu berakhir, Helios telah tiba di tempat tersebut yang padahal dengan cara biasa, itu pastinya akan memakan waktu hingga hampir satu bulan untuk mencapai ke sana.
Helios terpaksa meninggalkan sang istri, Talia, yang baru saja dinikahinya dengan dijaga oleh para anak buahnya yang setia dengan turut pula beberapa tambahan para familiar Helios yang tersembunyi di berbagai sudut kota. Bahkan Helios tak sempat mengajak Albert ikut bersamanya saking mendesaknya situasi tersebut.
***
Malam itu, Yasmin mengingat kembali bagaimana dia menyaksikan secara langsung Helios tersenyum penuh bahagia yang selama ini tak pernah dilihatnya. Itu hanya mungkin karena kini Talia ada di sisi Helios. Namun, untuk alasan yang dia sendiri pun tak tahu, Yasmin sama sekali tak dapat turut merasakan kebahagiaan melihat kali ini tuannya bahagia.
Untuk suatu alasan yang tak diketahuinya itu, dada Yasmin terasa begitu sesak. Dia ingin marah, namun dia sendiri bingung kepada siapa dia akan marah dan mengapa dia harus marah.
Dengan perasaan bercampur-aduk yang tak jelas itu, Yasmin pun memegangi kepalanya yang akhirnya turut sakit terkontaminasi oleh rasa sakit di hatinya tersebut. Dia lantas meringkuk dalam ketakberdayaan dan tanpa sadar, air mata jatuh menetes membasahi lututnya.
“Sampai kapan kamu akan membohongi dirimu seperti itu, Cassandra? Kalau kau sangat mencintainya, mengapa kamu tidak gunakan saja sihir cintamu pada pemuda itu lantas culik dia dan jadikan dia anjing peliharaanmu. Kau sangat mahir melakukannya kan?"
Perkataan sang witch objek, Isis, seketika terngiang kembali di ingatan Yasmin dan itu semakin lama semakin terdengar dengan jelas di kepalanya bagaikan itu adalah perkataan yang terlontar lewat mulutnya sendiri.
“Tidak! Hentikan itu! Tidaaaak!”
Yasmin meronta mencoba menolak suara yang bergema di kepalanya itu. Suara erangan Yasmin terdengar sangat menggelegar sampai-sampai akhirnya terdengar keluar ruangan oleh Talia dan Alice yang saat itu tak jauh dari kamar Yasmin.
Karena cemas dengan Yasmin, Talia dan Alice pun mencoba mengetuk pintu kamar Yasmin. Namun, berapa kali pun pintu itu diketuk, hanya ada erangan tanpa jawaban dari dalam dan itu semakin membuat mereka cemas.
Sementara itu di dalam kamar, Yasmin telah diliputi oleh kelegaman. Mata Yasmin memutar-mutar ke atas dan ke bawah diliputi oleh raut wajah penuh emosional seakan Yasmin telah kerasukan oleh sesuatu.
”Sadarilah bahwa dirimu adalah sang witch cinta, witch yang akan membawa kehancuran mahligai rumah tangga yang awalnya baik-baik saja di mana pun kamu berada melalui rayuan cintamu!”
Namun sesaat kemudian, mata Yasmin tampak mulai tenang. Bibirnya tak lagi pula tampak gemetaran. Sang witch telah kembali ke kewarasannya.
“Itu benar. Jikalau aku sangat mencintai Yang Mulia Pangeran Helios, sisa aku rebut saja dia dari istrinya.” Ujar Yasmin dengan gila.
Sang witch tidak salah lagi telah kembali ke kewarasannya. Justru itulah kini dia tidak menolak lagi insting pelakor-nya itu.
“Paaaaak!”
Akan tetapi, tanpa diduga-duga dan tanpa disangka-sangka, Yasmin menampar pipi kanannya sendiri melalui tangan kanannya.
“Tidak. Itu salah. Jika aku melakukannya, maka Yang Mulia Pangeran Helios hanya akan kehilangan kebahagiaannya saja. Jika demikian, semua itu percuma.”
Dengan tertatih-tatih, Yasmin tampak berusaha kembali berdiri di tengah kaki-kakinya yang terlihat gemetaran tak sanggup untuk mengimbangi berat di tubuhnya. Dia memegangi kembali kepalanya yang pusing itu.
Yasmin akhirnya memutuskan untuk tidak menyerah melawan insting witch-nya yang menjijikkan itu.
“Aku ingin agar Yang Mulia Pangeran Helios bahagia dan kebahagiaannya itu hanya dengan bersama Nyonya Talia saja. Sedangkan aku sebagai seorang maid-nya, harus senantiasa mendukungnya dari belakang tanpa mengharapkan imbalan lebih.”
“Paaak!”
“Yosh.”
Yasmin menampar kedua pipinya sendiri untuk membuatnya kembali ke dalam pace ceria-nya dan menganggap bahwa bisikan dari instingnya kejinya itu sama sekali tidak pernah ada dari awal.
“Ramuan cinta apa lagi yang bagus kucampurkan ke teh Yang Mulia Pangeran Helios ketika dia kembali pulang dari misi?” Ujar Yasmin polos dengan senyum ceria terpampang pada wajahnya yang selalu saja menunjukkan ekspresi datar ketika berada di depan orang lain itu.
***
Bersamaan pada saat Yasmin mengerang di kamarnya itu, Helios telah tiba di Kota Lobos, kota yang terletak di bagian utara Kerajaan Meglovia yang dipimpin oleh Duke Glenn van Rodriguez.
Suasana kota yang benar-benar eksotis dengan nuansa yang sangat berbeda dengan Kota Painfinn. Terdapat serikat petualang dan mercenary, serta banyak tempat penempaan senjata yang tampak benar-benar sangat berbeda dengan kota kediaman sang pangeran tersebut.
Kota itu jelas memiliki sistem pertahanan yang lebih baik daripada Kota Painfinn sebelum Helios menjadi pimpinan wilayah sementaranya. Namun sekarang, Kota Painfinn telah jauh berkembang pesat sejak pemerintahan Helios sehingga itu bahkan tak dapat lagi disejajarkan dengan kota pertahanan terhadap agresi Kekaisaran Vlonhard yang dulunya merupakan kota yang dijuluki sebagai pertahanan terkuat di Kerajaan Meglovia tersebut.
Walau demikian, Helios masih iri terhadap kota tersebut. Itu karena sumber daya manusia di kota tersebut sangatlah berlimpah yang bahkan tak dapat dibandingkan walaupun hanya sepersepuluh bagiannya saja dari jumlah sumber daya manusia di Kota Painfinn yang notabene memiliki luas wilayah yang lebih luas dari kota tersebut.
Itu hanya mungkin karena Duke Glenn telah dikenal sebagai pemimpin yang bijak yang sangat menyayangi rakyatnya, tidak seperti seseorang yang dijuluki tiran yang tidak segan-segan akan mengorbankan nyawa rakyat di bawah naungannya sendiri demi memenuhi keinginannya.
Tapi di kota yang seharusnya damai tersebut, kini hanya bisa terdengar suara rintihan dan erangan di mana-mana perihal wabah kolera yang melanda.