
“Ukh. Kak Nunu, lutut Kukuna sakit, Kak. Kukuna tidak tahan lagi.”
“Yosh, anak yang pintar tidak boleh cengeng. Biar Kak Nunu beri mantra supaya rasa sakitnya menghilang ya. Sakit yang nakal, sakit yang nakal, enyahlah dari lutut Kukuna! Bagaimana? Sakitnya udah redaan kan, Kukuna?”
“Umm.”
Di salah satu desa pinggiran Kerajaan Maosium yang berdekatan dengan dungeon break artifisial yang dibuat oleh Helios demi menyibukkan Kerajaan Maosium agar menunda invasinya ke Kekaisaran Selatan Meglovia, banyak penduduk yang menderita luka-luka, baik ringan, maupun berat, akibat dungeon break tersebut.
Bau hangus terbakar bisa tercium di mana-mana, entah itu berasal dari mayat monster, maupun dari mayat manusia yang turut menjadi korban dungeon break. Rumah-rumah di desa juga kebanyakan hangus terbakar, hingga hampir tidak menyisakan sedikit pun harta-benda.
Walau dengan keadaan yang separah itu, terlihat Nunu berusaha optimis dengan tetap tersenyum demi menenangkan hati para warga desa yang turut menjadi korban perihal rencana tuannya tersebut.
Tindakan Helios jelas-jelas salah. Bagaimana pun, tidak ada nyawa yang berhak dikorbankan walau itu demi menyelamatkan bangsa dan negaranya sendiri. Namun, dia juga tak memiliki alternatif solusi yang lebih baik. Nunu sedih karena tak dapat membantu banyak selain menjadi bidak tuannya di garis depan.
“Kukuna! Kukuna! Nak, kamu di mana?!”
“Madam Tampoe, di sini!”
“Ukh, Kukuna anakku sayang, syukurlah kamu selamat.”
“Iya, Bu. Monster-monster itu benar-benar mengerikan. Bisakah tentara Yang Mulia Raja benar-benar menghentikan monster-monster mengerikan itu?”
Olo datang ke tengah-tengah pembicaraan itu seraya mengusap rambut Kukuna dengan lembut.
“Tenang saja. Kalian tahu sendiri kan bagaimana kuatnya sang Raja? Krisis seperti ini pasti bukan apa-apa baginya dan tentaranya.”
Olo tersenyum sembari mengucapkan kalimat tersebut, namun hatinya tidak. Bagaimana tidak. Penyebab semua bencana itu tidak lain dan tidak bukan adalah Kaisar Meglovia sendiri, Helios sun Meglovia, tuan yang dia layani.
Nunu tidak butuh waktu lama untuk menyadari perubahan tingkah aneh dari Olo tersebut.
“Ada apa, Junior?”
“Ah, Senior Nunu.”
Ujarnya singkat. Olo hanya menatap pemandangan yang penuh kehancuran tersebut. Dia lega bahwa dalam waktu sehari, prajurit Kerajaan Maosium segera datang untuk menangani bencana. Walau demikian, tetap jatuh korban dalam jumlah banyak perihal kekurangmampuan mereka dalam melindungi para warga.
Berdasarkan perintah Helios, Olo, Nunu, dan para prajurit Kekaisaran Meglovia lainnya sudah harus mundur begitu para prajurit Maosium datang agar kecurigaan Maosium dalam keterlibatan Kekaisaran Meglovia sebagai penyebab dungeon break itu dapat diminimalisir.
Bagaimana pun, Olo, Nunu, dan kawan-kawan datang ke tempat itu dengan identitas samaran, terlebih para prajurit kekaisaran yang lain hanya mengenakan samaran menyerupai penduduk asli yang dapat terlepas begitu saja.
Namun demikian, terdapat rasa bersalah di hati Olo dan Nunu sebagai salah satu orang yang terlibat dalam bencana dungeon break itu. Walaupun sejatinya Helios yang merencanakannya dan Helios pula yang mengeksekusinya seorang diri, rasa bersalah itu tetap ada perihal mereka sudah tahu dari dulu akan keberadaan rencana dari tuannya itu, namun mereka tidak menghentikannya.
Itulah yang saat ini menjadi alasan mengapa mereka menunda kepulangan mereka kembali ke negeri di mana mereka kini menjadi warga negara. Dokter Minerva pun telah menyampaikan keinginan mereka tersebut kepada Helios dan Helios tampak tak memiliki masalah dengan itu. Setidaknya, dengan kemampuan penyembuhan Nunu serta tenaga Olo dan para prajurit lainnya, mereka dapat meringankan sedikit beban para warga desa.
Namun, itu pun sulit. Sebesar apapun mana di dalam tubuh Nunu, ada batasnya juga sehingga mana itu bisa habis. Dan itulah yang kini terjadi, Nunu tidak punya kekuatan berlebih lagi untuk menyembuhkan luka di lutut Kukuna, tetapi setidaknya dia berhasil mengobati luka luarnya dengan pengetahuan obat-obatan herbalnya yang diperoleh dari kebiasaannya mengganggu Helios di laboratoriumnya di kala Helios masih aktif sebagai ilmuwan.
“Hei, Senior Nunu. Sebelumnya aku tidak memikirkannya, tetapi setelah melihatnya langsung, bukankah Tuan Helios terlalu kejam dengan menyebabkan bencana besar seperti ini di kerajaan lain?”
“Dan kamu pikir Tuan Helios tidak mengetahui itu lebih dari siapapun?”
Nunu menatap Olo dengan sedikit pandangan kekesalan.
“Walau demikian, dia tetap berusaha melawan hati nuraninya untuk melakukannya karena perannya sebagai kaisar yang harus melindungi rakyatnya. Jika dungeon break tidak terjadi di kerajaan ini, pastinya tanah air Meglovia yang sudah diluluh-lantakkan oleh tentara Kerajaan Maosium.”
“Tapi pastinya ada jalan yang lebih baik… Duh, kepalaku sakit hanya dengan memikirkannya! Mengapa orang-orang di atas itu suka sekali dengan konflik dan perang?! Aku suka bertarung, tapi dengan melawan yang kuat. Untuk berpikir bahwa rakyat lemah yang harus menjadi korban konflik penguasa… Ini benar-benar keliru!”
***
Di lain tempat, Lusiana ditinggalkan di istana kekaisaran sebagai tamu penting dengan ditemani seorang pengawal kepercayaannya yang bernama Adam.
-Gruduk, gruduk.
Karena penasaran dengan suara berisik yang selama ini terdengar di samping kamarnya, di kala situasi istana telah sepi karena kebanyakan berkonsentrasi pada situasi perang, Lusiana pun menjelajahi tempat tersebut bersama dengan Adam, pengawalnya.
“Adam, ayo kita cek apa yang terjadi di kamar sebelah.”
“…”
Adam hanya mengangguk dalam diam lantas ikut bersama Lusiana menyusuri kamar yang tepat berada dua ruangan di sebelahnya.
-Krieeeek.
Secara perlahan, Lusiana membuka pintu kamar itu yang rupanya sedang tidak terkunci.
“Aaaaaakkkkkhhhhh.”
Namun betapa kagetnya dia ketika mendapati bahwa kamar itu tengah dijaga oleh banyak golem es yang berukuran lebih kecil daripada yang dibawa oleh Helios ke medan perang. Ada golem yang bertindak sebagai pengawal dengan membawa tombak yang juga terbuat dari es, dan ada pula yang bertindak sebagai pelayan yang tampak sedang melayani seseorang yang terduduk di tempat tidur bertirai indah dengan seprai sutra.
Sosok itu terlihat sama sekali tidak menunjukkan ekpresi. Hanya sesekali dia terlihat kesal dengan para pelayan tidak bernyawa yang melayaninya itu dengan membanting gelas atau nampan yang dipegangnya ke tanah.
Sosok itu tiba-tiba menatap ke arah Lusiana dengan pandangan yang tajam yang terlihat seperti sosok hantu penasaran di matanya. Dan mungkin itulah poin lebih utama yang sampai membuat Lusiana ketakutan dibandingkan para golem es yan berseliweran.
“Ara, ara, ada tamu wanita cantik rupanya. Apakah kamu calon ratu baru yang akan dinikahi oleh anak pembawa sial itu?”
Ujar sosok tersebut dengan sentimen.
“Anda adalah?”
“Oh, aku? Dulu hidupku begitu bahagia di kala suamiku masih hidup. Tetapi anak jahanam itu telah membunuh ayahandanya sendiri beserta kakak laki-laki dan adik laki-lakinya. Beruntung putriku yang paling bungsu bisa menyelamatkan diri dari kekejaman anak jahanam itu berkat bantuan kuil suci. Siapa yang tahu, mungkin besok atau lusa adalah giliranku dibunuh oleh anak jahanam itu.”
Sosok tersebut tidak menjawab pertanyaan Lusiana secara langsung. Ekspresinya hanya datar dengan raut mata yang tampak seperti ikan mati meratapi nasibnya yang malang. Namun dari ucapannya itu, Lusiana bisa segera tahu siapa sosok tersebut. Dia adalah mantan permaisuri Kerajaan Meglovia, Theia Madama Meglovia.
Lusiana terlihat kebingungan. Memang Helios tidak lepas dari gosip buruk di mana pun pemuda itu dibicarakan. Akan tetapi, berdasarkan penyelidikannya yang dia yakini akurat, Helios sebenarnya adalah kaisar yang bijak dan berhati lembut.
Namun untuk berpikir bahwa ibunya juga sampai menganggapnya demikian, dia jadi berpikir adakah yang terlewat dari penyelidikannya? Bagaimana pun seorang ibu pasti lebih tahu bagaimana sifat sebenarnya dari anak yang dibesarkannya.
“Tapi setahuku, Yang Mulia Kaisar Helios adalah sosok yang bijak…”
Theia semakin menatap Lusiana tajam seakan bola matanya itu adalah peluru yang bisa kapan saja lepas melubangi kepala Lusiana.
“Itu karena anak itu sangat pandai menyembunyikan monster yang terkubur di dalam dirinya sampai-sampai dia berhasil menipu dirinya sendiri kalau dirinya itu adalah orang yang baik.
Ujar sang ibunda menceritakan anaknya sendiri dengan semena-mena. Matanya tanpa keraguan yang membuat seketika Lusiana diyakinkan oleh omongan tanpa dasar Theia itu.
“Kamu juga, hati-hati jika dekat-dekat dengannya. Jika kamu berencana menjadi ratu keduanya, cepat-cepat batalkan saja keinginanmu itu dan kembali ke tempat keluargamu berasal, atau kalau tidak… nasibmu juga akan berakhir malang sama sepertiku.”
Tiada kata lagi yang dapat keluar dari mulut Lusiana, hanya terdengar suara telanan ludahnya dengan tangan yang gemetar. Jika tidak ada Adam yang berdiri di situ mendampinginya, mungkin sudah lama sang putri itu jatuh tersungkur ke tanah.
Dia bahkan sampai-sampai tidak sempat menjawab bahwa tidak pernah ada sama sekali niatnya untuk menikahi Helios sedari awal.