
Leon, sang ayah yang perhatian, sedang membawa putrinya jalan-jalan di jalanan terdekat dari rumahnya.
Suasana yang benar-benar damai di ibukota.
Semua warga menyadari ekspedisi benua barat, tetapi mereka hanya mengira bahwa itu sebatas menjarah lahan yang mereka berhasil rebut dari bangsa iblis semata.
Tidak satupun dari mereka yang tahu tentang kejadian yang sebenarnya terjadi di benua barat sana, tentang amukan tower, tentang bencana ledakan monster yang berasal dari invasi tower tersebut.
“Ah, damainya! Andai para warga ini tahu apa yang sedang terjadi di benua barat, mereka tak mungkin lagi bisa tertawa riang seperti ini.”
“Kakak memang licik. Apa baik-baik saja merahasiakan hal sepenting itu kepada penduduk, terlebih juga kepada istrinya sendiri? Aku jadi kasihan sama Kak Talia.”
Leon mendongkol pada keputusan kakaknya tersebut.
Namun dia lebih tahu bahwa apa yang terbaik bisa dilakukannya adalah mendukung keputusan kakaknya tersebut dengan menjaga keamanan benua selama kepergian kakaknya.
“Aku harap Alice dan yang lain juga menjalankan tugasnya dengan baik.”
“Alice sayang, pulanglah dengan selamat.”
Pinta Leon dengan tulus.
***
Sementara itu di dalam tower, Helios dan party dengan cepat telah mendaki sampai tower tingkat kesepuluh.
“Sejauh ini masih berjalan dengan mudah ya, Yang Mulia.”
Sembari menciptakan semilir angin lewat sihirnya untuk mendinginkan badannya yang kepanasan pasca menghadapi monster-monster tipe api di lantai sebelumnya, Dokter Minerva bertanya kepada Helios.
“Itu karena kita masih menghadapi monster-monster yang sering kita lihat di hutan monster.”
“Untuk yang selanjutnya berdasarkan catatan pahlawan pertama, itu minotaur kan?”
“Ya, seharusnya ini juga masih mudah. Tetapi kalian tetap harus hati-hati.”
Helios segera mengonfirmasi pertanyaan Albexus tersebut sebelum melanjutkan menuntun party-nya ke arah lebih dalam dari dungeon.
“Semuanya berhenti!”
Perintah Helios yang seketika melihat dengan waspada ke depan.
Tak terlihat apa-apa sama sekali di depan, begitu pula para anggota party-nya sama sekali tak menyadari keanehan apapun.
Namun Helios yang peka tahu ada sesuatu di depan.
Dan benar saja, sejenak kemudian minotaur berpedang dengan skill stealth segera hendak menerjang Albexus.
Helios segera menarik Albexus mundur, tetapi sebagai gantinya Helios-lah yang justru tertusuk oleh ketajaman pedang sang minotaur assassin.
Dokter Minerva dengan sigap menembakkan dua bola api yang segera meledakkan kepala sang minotaur assassin tersebut.
Setelahnya, luka Helios diobati oleh Albexus.
Namun ada keanehan.
Ada semacam lendir hitam di luka Helios yang menghalangi kemampuan pemulihan Albexus.
“Tenang saja. Ini bukan luka yang fatal. Kita lanjutkan saja perjalanan.”
“Tapi Master! Anda tidak boleh meremehkan luka sekecil apapun.”
“Aku bilang aku baik-baik saja, Albert. Tidak usah memperbesar masalah.”
“Tapi, Master…”
“Aku baik-baik saja.”
“Ini pasti karena akar tower yang semakin kuat mengakar di Benua Ifrak, Armstemis, dan Asium yang semakin mengikis keberadaan mana di sana sehingga para monster pun berevolusi lantas semakin kuat.”
“Kita tidak boleh lengah.”
“Ini jelas berbeda dari minotaur yang sering kita hadapi sebelumnya.”
“Itulah sebabnya kita tidak boleh membuang-buang waktu lagi dalam ekspedisi tower ini.”
“Setidaknya kita mencapai lantai sebelas lantas mengalahkan naga kuno.”
“Di catatan dikatakan bahwa jantung naga bisa menyembuhkan luka yang disebabkan kutukan apapun.”
“Itu pasti juga bisa mengobati lukaku ini.”
“Kita baru beristirahat lega setelah mencapai lantai kesebelas, pusat tiba-tiba meliarnya monster dari tower sehingga tidak ada lagi kemungkinan para monster akan kelar dari tower secara serampangan.”
“Setelah itu baru kita bisa menyelesaikan tower pelan-pelan.”
Demikianlah Albert pun menyerah lantas Helios dan party melanjutkan perjalanan mereka.
Bahkan Dokter Minerva tertipu oleh akting Helios yang sempurna.
Jelas Helios tidak sedang baik-baik saja.
Itu bukan sembarang kutukan, itu kutukan pedang naga.
***
Dialah Ruvaliana yang kini tinggal di luar istana demi mengejar cita-citanya menjadi merchant paling sukses di Benua Ernoa.
Ruvaliana walapun terlahir sebagai seorang putri, tumbuh menjadi anak yang kuat dan tegas.
Tidak sekalipun dia tampak bermanja-manja kepada kedua orang tuanya.
“Yayang Allio, kaki Valia atit nih. Tolong dipijatin dong.”
“Ah, yang mananya, Kak?”
Tetapi pengecualian kepada sang kekasih brondongnya, Allios.
Tentu saja Allios belum pernah menyatakan cintanya sekalipun kepada Valia.
Itu adalah pernyataan sepihak Valia bahwa Allios adalah kekasihnya.
Namun, Allios juga tidak membenci hal tersebut.
Allios juga senang berada di sisi Valia dan diperlakukan lembut dan manja olehnya.
“Duh, sudah kuduga tidak baik bagiku berjalan jauh dengan kereta kuda nih, Ayang.”
“Makanya kan sudah kubilang mending kita boncengan aja naik sepeda mekanik.”
“Iya, Valia nyesal tidak mendengar ucapan Ayang Allio. Allio memang pintar deh.”
Valia sengaja merebahkan badannya ke bagian depan tubuh Allios sehingga bagian menggunung Valia itu bisa terasa jelas di kulit Allios.
Itu seketika membuat wajah Allios memerah.
“Ya, sudah, Kak. Sini Allios gendong saja.”
Tampang Valia tiba-tiba memerah dengan begitu menggoda seakan seirama oleh suasana hati Allios.
“Kenapa Kakak yang justru malu-malu begitu?”
“Habis bagian depan Kakak, bisa dirasakan nanti sama Allio. Tapi untuk Allio, tidak mengapa deh. Hehehehehehehe.”
Wajah Allios pun seketika bertambah merah akibat ulah Ruvaliana yang tak henti-hentinya menggodanya itu.
Ruvaliana hanya bersikap seperti itu di depan Allios, namun tentu saja Allios sama sekali tidak mengetahui hal tersebut.
Ruvaliana selalu serius jika itu berkaitan dengan bisnis-bisnisnya.
Seperti saat ini, Ruvaliana bahkan jauh berpetualang ke negara Rosea demi pengembangan bisnis ulat sebagai obat kuat yang efektif.
Walau demikian, Ruvaliana sama sekali tidak pernah ketinggalan sedikit pun mengenai informasi apa saja yang sedang terjadi di negaranya, termasuk pemberontakan kekanak-kanakan Helion, kakak kandungnya itu.
“Ck. Lagi-lagi Kak Helion berulah. Pasti Ayah saat ini sedang sakit kepala dibuatnya. Tapi kuyakin jika itu Farhaad, dia pasti dapat mendukung Ayah dengan baik.”
“Ada apa, Kak?”
“Ah, Ayang Allio, Kak Helion berulah lagi nih. Pasti itu membuat Ayahanda kerepotan banget.”
“Hmm? Bukannya ayah kamu sedang menjalankan ekspedisi ke benua barat?”
“Hah?!”
Saking kagetnya Ruvaliana, dia sejenak menunjukkan sifat aslinya kepada Allios yang tidak imut sama sekali.
Dan itu juga sempat membuat Allios terkaget.
Ruvaliana hanya segera memperbaiki ekspresinya kembali, lantas mencari tahu lebih dalam lewat Allios.
“Darimana Yayang tahu?”
“Ah, guru berpedangku, Mr. X, yang ikut bersama Paman Helios, yang baru saja memberitahuku lewat surat.”
“Ah, begitu rupanya.”
Pikiran Ruvaliana seketika rumit.
Namun itu bukan lagi hal yang jarang bahwa ayahnya terkadang sering turun langsung ke benua barat untuk melakukan ekspedisi, jadi dia pun hanya mengabaikannya saja.
Setidaknya, itu sampai sebuah surat datang kepadanya yang memintanya untuk segera kembali pulang ke istana.
“Ada apa, Kak?”
Ruvaliana bahkan tak sanggup lagi untuk merespon pertanyaan Allios tersebut.
Badannya seketika gemetaran lantas Ruvaliana tiba-tiba saja menangis.
Dengan tampak lunglai, Ruvaliana tersungkur ke tanah.
“Kak?”
“Bagaiamana ini, Allio? Katanya di surat, Ayahanda baru saja meninggal dalam ekspedisi ke benua barat bersama seluruh rekan party-nya.”
Tidak hanya Ruvaliana, Allios pun seketika shok mendengar berita duka mendadak tersebut.