
“Kedamaian adalah hal yang terbaik!” Ucapku puas dari atas benteng pertahanan Kota Painfinn setelah melihat bahwa suasana kota telah menjadi suasana yang tentram yang sangat berbeda ketika pertama kali kumenginjakkan kaki di sini.
Dengan kembali sempurnanya segel hutan monster setelah salah satu bagian artifak yang rusak diperbaiki, kini, para monster tidak lagi bermunculan secara liar dari dalam hutan monster. Yah, walaupun terkadang masih saja muncul satu atau dua monster perhari, tetapi itu bukan lagi jumlah yang mengancam untuk dihadapi para prajurit pertahanan Kota Painfinn seorang diri.
Jika ada ribut-ribut di luar benteng saat ini, itu bukan lagi soal pertarungan dengan monster, melainkan…
“Apa ada sesuatu yang menarik perhatian Master di luar benteng? Master tampak sangat menikmatinya.” Ujar Yasmin yang tiba-tiba membuyarkan pikiranku.
“Ah, pertarungan dua prajurit berotak otot itu ya?” Lalu Nunu segera masuk dengan komentarnya pula yang tanpa kontrol seperti biasa.
Setelah merasa tak puas berlatih serangan tombak barunya dengan Yasmin sebagai mentornya yang hanya di sekitar halaman mansion saja, Nunu pun mendesak kami untuk pergi ke tempat ini agar dia bisa mempraktikkan kembali sihir ledakannya yang overpower dengan menggunakan tombak baru hadiah pemberianku itu.
Karena aku juga penasaran dengan sampai berapa banyak kali Nunu akan sanggup menembakkan sihir overpowernya seperti dahulu dengan bantuan penyimpanan cadangan mana oleh cincin sihir hadiah pemberianku itu, aku pun langsung menyetujuinya saja.
Kalau secara teori, itu akan bisa sampai lima kali, tetapi di dalam praktiknya akan ada saja variabel yang tidak terkendali sehingga hasilnya bisa saja berbeda.
Namun, ketika kami berada di atas sini, perhatianku justru teralihkan oleh latih tanding antara Albert melawan rekannya yang bertampang biasa yang bernama Damian.
Pertandingan mereka bisa dibilang cukup epik. Aku sama sekali tak menyangka bahwa prajurit baru yang dikirim dari ibukota seperti Damian bisa melawan prajurit veteran seperti Albert secara seimbang.
Aku menyaksikan bagaimana Damian memanfaatkan tubuhnya yang kecil itu untuk menyerang bagian bawah Albert yang bertubuh jauh lebih besar darinya.
Damian mengayunkan pedangnya dengan lincah melalui gaya menusuk ke bagian sekitar perut Albert. Albert tampak sangat kewalahan menangkis serangan itu sejak dia harus menunduk untuk menggapai serangan Damian.
Tidak sampai di situ saja, Damian melakukan gerakan memutar feint yang sampai membuat Albert tertipu. Akan tetapi, tepat di saat pedang kayu latihan itu akan mengenai Albert, insting Albert segera bekerja lantas menghindarinya dengan segera menarik tubuhnya ke arah belakang.
Albert segera bersalto dengan memutar badannya sebanyak tiga kali sembari terus menangkis serangan pedang Damian, lalu segera menarik dirinya mundur ke belakang.
Damian tidak memberikan peluang kepada Albert untuk mundur lantas segera pula dengan kecepatan yang cukup cepat mengejar Albert ke belakang. Namun di situlah letak kesalahan Damian. Gerakan itu adalah tipikal gerakan feint Albert.
Tubuhnya tampak sempoyongan, namun ketika Damian menyerangnya, Albert segera menangkis serangan itu lantas segera membalikkan keadaan dengan balik menyerang Damian dengan serangan yang sama sekali tidak pernah diduga-duganya.
Albert menang melawan Damian. Itu adalah hasil yang wajar mengingat walaupun Albert dan Damian hanya terpaut satu tahun, Albert pada dasarnya mempunyai pengalaman bertarung yang jauh lebih lama ketimbang Damian yang baru-baru saja ini menjadi prajurit ibukota.
Tetapi untuk berpikir bahwa dia mampu menahan serangan Albert dalam waktu yang cukup lama, aku yakin bahwa masa depan Damian sebagai ksatria akan sangat menjanjikan.
Melupakan pertandingan itu, Nunu sejak dari tadi merengek di sampingku.
“Tuan Helios, mengapa Tuan Helios justru memperhatikan mereka? Bukankah kita ke sini untuk melihat mahakarya ledakanku?”
“Ah, maaf, Nunu. Perhatianku teralihkan sejenak. Kamu bisa mencoba sihir ledakanmu itu sekarang.”
Belakangan ini aku baru menyadari bahwa dibandingkan dengan jenis sihir yang lain, Nunu tampaknya lebih terobsesi dengan sihir ledakan bahkan sampai dia menyebut motto hidupnya sebagai ledakan adalah mahakarya seni yang terindah.
“Duaaaar!”
Ledakan yang dihasilkan oleh serangan jarak jauh Nunu ke daerah sekitar hutan monster itu pun, seketika mengalihkan perhatian para prajurit di daerah sekitar benteng kepada gadis bermata merah mungil itu.
Jurus yang begitu overpower, kali ini tidak hanya bisa dilakukannya sekali, melainkan sampai lima kali.
“Ah, Master. Kok walaupun pagi hari begini, banyak sekali bintangnya di langit ya?”
Tapi cara Yasmin mengangkat Nunu itu, tidak seperti mengangkat seorang gadis melainkan tampak mengangkat sebuah barang. Aku ingin menegurnya, sayangnya Yasmin keburu pergi sehingga aku kehilangan timing untuk melakukannya.
.
.
.
Di sore hari, aku, Yasmin, dan Alice berjalan-jalan di area pengembangan tanaman grassfilt-ku.
Aku telah banyak memproduksi potion peningkatan mana dengan itu lantas menjualnya ke Akademi Sihir Kerajaan Meglovia. Sudah kuduga itu akan hits sejak akademi sihir tak perlu lagi mengimpor potion sejenis dari Kekaisaran Vlonhard yang sedang dalam status tegang dengan kerajaan kami.
Namun tak kusangka, itu lebih populer dari yang kuduga sampai-sampai para pedagang pengekspor barang ke kerajaan Cabalcus dan Ignitia juga ingin menjalin kerjasama demi menjual potion hasil racikanku itu.
Sayangnya, saat ini hanya akulah dan seorang mantan cleric dari kuil suci yang waktu itu juga selamat seperti Yasmin dari amukan the king of undead yang menjadi tenaga kerja pembuatan potion itu.
Tenaga kerja yang tersedia saat ini tidak cukup untuk membuat banyak potion untuk juga bisa diekspor ke kerajaan lain. Tampaknya, aku harus segera memikirkan perekrutan pegawai baru yang khusus menangani produksi potion ini.
“Yang Mulia Pangeran, apa yang Anda lakukan? Apa ada barang Anda yang terjatuh di sini?”
Alice tiba-tiba saja bertanya padaku. Di situlah aku baru tersadar bahwa tanpa sadar, aku lagi-lagi menelisik ke berbagai sudut demi mencari sesuatu yang sangat berharga bagiku yang kini telah hilang tanpa pemberitahuan.
“Ah, bukan apa-apa kok, Alice. Terkadang, aku hanya mengingat bayi kura-kura es yang sempat kurawat dulu waktu pertama kali tiba di Kota Painfinn. Dia tiba-tiba saja menghilang dalam kekacauan serangan monster. Dan jika seandainya dia masih hidup, tempat ini adalah kemungkinan terbesar kura-kura es-ku itu dapat bertahan hidup di kota ini. Jadi tanpa sadar tiap kemari, aku selalu saja melayangkan pandanganku ke mana-mana. Hahahahahaha.”
“Anda tampaknya sangat menyayangi hewan peliharaan Anda itu ya, Yang Mulia Pangeran.”
“Ya, aku sangat menyayangi Yasmin imutku.”
“Yasmin?”
“Ah, maaf. Maksudku bukan Yasmin maidku. Kebetulan nama kura-kura es-nya juga Yasmin.”
“Oh, begitukah? Tapi kalau merujuk kepada kura-kura es, apakah itu adalah salah satu jenis monster di kutub utara, Yang Mulia Pangeran? Apa tidak apa-apa bagi umat manusia merawat monster sebagai hewan peliharaan?”
“Yasmin itu berbeda! Dia anak yang baik!” Tanpa sadar, aku membentak Alice yang entah mengapa ada sedikit rasa amarah di hatiku ketika dia menyebutkan bahwa Yasmin adalah juga salah satu jenis monster, walaupun itu benar adanya.
Alice nampak kaget dengan perubahan sikapku yang tidak biasa itu. Aku pun merasa bersalah padanya karena bukan maksudku pula menyalahkan Alice akan pemikirannya itu. Sudah wajar jika seseorang merasa waspada terhadap keberadaan monster, terlebih Alice mempunyai trauma yang mendalam akan kematian rekan-rekannya perihal serangan monster.
Namun, suasana yang tidak nyaman itu segera pecah ketika Yasmin sekali lagi terlihat pucat dan nampak akan pingsan.
“Ukh!”
“Yasmin!”
“Yasmin!”
Aku dan Alice pun bergerak bersamaan menggapai Yasmin sang maid.
Entah mengapa, samar-samar kumendengar Yasmin bergumam pelan, “Aku bukan witch.”