Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 234 – WANITA PENGHUNI DUNIA LAIN



Siang itu di ruang kerjanya, Helios disibukkan oleh setumpuk dokumen.


Walau demikian, bagi Helios hari itu tetaplah surga jika dibandingkan dengan kesibukan yang harus dia alami belakangan ini.


Dia bersyukur setidaknya walau sibuk, dia bisa duduk di ruangan kerjanya yang sejuk.


Telah lebih dari setahun Helios hampir tidak terlihat lagi di istananya lantaran disibukkan oleh ekspedisi benua barat, bekas wilayah demon.


Terlebih, baru-baru ini, tower menunjukkan aktivitasnya lebih cepat dari yang diprediksikannya.


Menurut prediksi Helios berdasarkan argumen Milanda, tower akan aktif sekitar 30 atau 40 tahun lagi.


Siapa yang sangka itu mulai menunjukkan aktivitasnya sekarang.


Di samping Helios telah berdiri Luic van Growmyerre, kakak ipar Helios yang sekaligus menjadi perdana menteri baru yang baru-baru ini menggantikan ayahnya, Newmann van Growmyerre yang memutuskan untuk menghabiskan masa-masa tuanya bersama istri tercintanya di wilayah mereka.


“Yang Mulia, terkait masalah itu…”


“Ya, aku tahu. Ancaman bencana tower tidak bisa kita pandang sebelah mata lagi. Mulai sekarang, kita harus menanggapinya dengan serius. Omong-omong kamu sudah menyampaikan panggilanku kepada The Hand dan The Foot, bukan?”


“Ya, sudah yang mulia.”


The Hand dan The Foot.


Itu adalah inisial untuk orang kepercayaan Helios di belakang layar yang baru-baru ini direkrutnya, atau setidaknya itulah pandangan Luic.


The Hand alias Albert dan The Foot alias Albexus, sampai akhir tidak ingin mengungkapkan identitas mereka kepada orang lain di luar party pahlawan dan Leon dan akhirnya memutuskan untuk hidup dengan menggunakan identitas baru.


Bahkan sampai anak mereka sendiri sama sekali tidak tahu bahwa ayah mereka masih hidup.


Anak-anak mereka selama ini berpikir bahwa mereka telah menjadi yatim piatu, nyatanya setidaknya mereka masih punya ayah.


Sayangnya sampai saat ini, para anak-anak itu belum mengetahui fakta tersebut.


Walau demikian, Albert masih sering mengunjungi Allios dengan identitas barunya tersebut sebagai guru berpedang Allios, begitu pula Albexus yang masih sering mengunjungi anak semata wayangnya dengan dalih samaran seorang merchant.


“Baguslah kalau begitu. Aku akan membicarakan detilnya nanti kepada mereka. Kakak tidak usah perhatikan hal ini dan berfokus saja pada urusan internal negeri.”


“Anu… Yang Mulia… Itu juga penting, tapi sebenarnya yang ingin aku konsultasikan adalah masalah lain.”


“Masalah lain?”


“Iya, itu…”


“Apa urusannya seberbahaya itu sampai membuat Kakak begitu panik?”


“Bukan itu, Yang Mulia. Masalahnya adalah sumber keributannya…”


“Hmm?”


“Itu… Yang Mulia Putra Mahkota Helion dan Yang Mulia Pangeran Ilyaas yang sedang berbuat kegaduhan, Yang Mulia.”


“Hah? Memangnya apalagi yang dilakukan anak-anak itu?”


“Itu… Yang Mulia sudah tahu mengenai keberadaan Suraidah kan?”


“Ah, anak itu. Aku telah mendengar beritanya. Dia katanya tiba-tiba saja jatuh dari langit dan ditemukan oleh Helion di tengah danau di atas bukit.”


“Ya, Yang Mulia. Kami sebelumnya telah menginterogasinya. Dan dia bersikeras berasal dari planet yang bernama bumi dan sama sekali tidak mengenal tempat di mana dia berada sekarang.”


“Untuk memastikan bahwa dia tidak melakukan kebohongan, kami mencoba menggunakan interogasi dengan sihir, tapi tidak didapatkan tanda-tanda kebohongan sedikit pun dari ucapannya tersebut. Hanya saja untuk mempercayai keberadaan seseorang dari planet lain, itu terlalu tidak masuk akal.”


Helios merenung sejenak terhadap hal itu.


Keberadaan makhluk dari planet lain.


Di zaman Helios bahkan sampai sekarang, belum ada yang pernah melakukan penjelajahan sampai ke luar angkasa.


Oleh karena itu, Helios belum bisa memastikan apakah planet Bumi yang dimaksud wanita itu adalah planet yang jauh keberadaannnya dari planet Gaia tempat mereka berada, tetapi masih di dimensi yang sama, ataukah mungkin saja, itu sama seperti Ozazil dan Baal yang datang ke planet ini dari dimensi yang berbeda.


Dan itu lantas membuat kepala Helios semakin pusing.


Namun Helios tiba-tiba tersadar.


“Eh, lantas apa hubungan wanita dari planet lain itu dengan ulah yang diperbuat oleh Helion dan Ilyaas?”


“Itu… Suraidah mengatakan bahwa di kampung halamannya berasal, tidak ada satu orang pun yang diperlakukan sebagai budak. Semua orang diperlakukan secara setara. Itulah yang kemudian menginspirasi Yang Mulia Putra Mahkota Helion dan Yang Mulia Pangeran Ilyaas untuk menentang kebijakan Anda tentang perbudakan dan sekarang sedang mengadakan protes di depan umum yang disebut mereka sebagai ‘aksi’.”


-Brak.


Helios yang marah lantas memukul meja.


“Anak-anak yang tidak tahu apa-apa itu dengan seenaknya bertindak!


“Memangnya mereka pikir memerdekakan budak itu semudah membalikkan telapak tangan apa?!”


“Jika budak dimerdekakan begitu saja tanpa diberikan pendidikan keterampilan dan pengetahuan yang memadai, itu sama saja menyuruh mereka mati kelaparan karena tidak bisa lagi memperoleh makanan!”


“Memperlakukan manusia sebagai produk memang tidak beretika, tetapi itu efektif untuk menekan angka kemiskinan di situasi seperti sekarang.”


“Dan apa-apaan pula istilah ‘aksi’ itu?!”


“Apa dia tidak belajar akan jatuhnya Negara Republik Joupun karena menerapkan sesuatu seperti itu tanpa persiapan yang matang?!”


“Hanya karena hal itu sukses diterapkan di dunia lain, bukan berarti itu juga bisa sukses diterapkan di dunia ini!”


“Masyarakat belum mengenal kesadaran hak dan kewajiban asasi manusia!”


“Dan anak itu seenaknya bertindak tanpa tahu itu semua?!


“Memangnya apa yang diajarkan oleh guru Helion selama ini di kelasnya?!”


“Anu… Yang Mulia… Rasanya kurang tepat jika menyalahkan gurunya jika ini berasal murni dari keegoisan anak-anak.”


“Ya, Kak. Dari situ aku juga paham. Hanya saja, mengapa bukannya membantu, kedua anak itu malah mempersulit urusanku? Lihat saja Farhaad. Meski tiga tahun lebih muda dari Helion, dia telah banyak membantuku dalam menangani masalah kekaisaran. Kuharap mereka berdua setidaknya punya setengah dari kesadaran diri Farhaad sebagai anggota keluarga kekaisaran.”


“Lantas bagaimana Elisa menanggapinya?”


“Maksud Yang Mulia? Kalau masalah urusan kekaisaran, Yang Mulia Putri Mahkota telah menjalankan tugasnya dengan baik menutupi celah yang ditinggalkan oleh Yang Mulia Putra Mahkota.”


“Bukan itu. Maksudku, tidakkah Helion terlalu dekat dengan wanita penghuni planet lain itu? Tidakkah Elisa cemburu?”


“…”


Luic sedikit cemas menjawab pertanyaan Helios tersebut, dan itu sudah cukup untuk mengonfirmasi segalanya apa yang telah dilewatkan Helios selama dia sibuk mengurus ekspedisi benua barat.


“Tampaknya aku harus menemui Helion setelah sekian lama.”


***


Di lain pihak, Suraidah yang baru saja menyadari dirinya telah berada di tempat antah-berantah mulai bisa menyesuaikan diri berkat Helion.


Suraidah yang awalnya bercita-cita menjadi seorang suster, kini terlarut dalam pekerjaan sukarela bersama para anggota kuil suci.


“Wah, kamu mahir ya mengobati pasien yang terluka.”


Dengan senyum ramahnya yang nuansanya nampak sedikit mirip dengan Helios di waktu muda, Helion menyapa Suraidah.


“Ah, Yang Mulia bisa saja. Siapapun pasti akan bisa jika sudah mempelajarinya, Yang Mulia. Aku hanya beruntung mempelajari ilmunya di sekolah. Lagian, dibandingkan para anggota kuil suci di sini yang bisa sihir suci, aku sangat ketinggalan.”


“Suraidah jika belajar pasti suatu saat akan bisa menggunakan sihir juga kok. Itu hal yang wajar sejak di dunia Suraidah tidak ada yang namanya sihir.”


“Begitukah, Yang Mulia?”


Wajah Suraidah seketika tersipu malu atas tatapan penuh ransangan dari Helion.