
Instabilitas prajurit perihal masalah kekurangan armor segera bisa teratasi berkat karisma Leon.
Walau demikian, aku sama sekali tak menduga bahwa Leon akan memanfaatkan situasi seperti ini untuk memperkuat posisinya dalam perebutan tahta. Aku yang tak ingin wilayah Kota Painfinn yang selama ini netral turut dijadikan sebagai alat politik lantas segera melabrak Leon di mejanya.
“Leon, apa maksudnya semua ini? Mengapa kamu memanfaatkan musibah longsor itu untuk mendesak Count Ares menjadi bagian dari faksimu?”
Leon tampak tidak terlalu menggubris perkataanku itu. Sembari menjawab pertanyaanku, dia tetap melanjutkan menandatangani dokumen yang ada di depan mejanya.
“Kakak Sampah, apa kamu pikir aku tipe orang yang akan bersedia melakukan amal untuk membantu orang lain?”
Demi menjaga stabilitas industri senjata dan armor di wilayah Count Ares yang baru saja kehilangan sumber pemasukan utama bahan baku besinya sejak kejadian longsor di wilayahnya itu, Leon mengiming-imingi Count Ares tersebut bantuan sumber bahan baku besi yang didatangkannya dari wilayah selatan, tempat di mana faksi Marquise Vince van Rodhelton yang merupakan faksi pendukung Leon berada.
Sayangnya, bantuan yang ditawarkan Leon itu diiringi dengan syarat ikut bergabungnya wilayah tersebut ke faksi Leon.
“Apa kamu sadar akibat dari tindakanmu itu?! Selama ini faksi kalian dan Kak Tius bisa berada hanya dalam posisi saling mengawasi karena kekuatan kedua faksi saling berimbang. Tetapi bayangkan apa yang akan terjadi jika kamu merusak keseimbangan itu dengan melibatkan bantuan faksi wilayah barat ke dalam faksimu! Ketimpangan kekuatan faksi akan seketika terbentuk lantas mengantarkan wilayah kerajaan kita kepada kekacauan!”
“Apa pedulinya aku dengan semua itu selama aku yang berada pada posisi yang lebih di atas.”
Dengan muka yang acuh dan tak acuhnya itu yang hanya terus melanjutkan pekerjaannya dengan setumpuk dokumen di atas mejanya, Leon menanggapi tanpa terlihat peduli sedikit pun tentang sesuatu seperti kedamaian kerajaan.
Seharusnya, aku sudah bisa menduga hal itu sebelumnya sejak Leon memang adalah karakter yang seperti itu yang hanya peduli akan kekuatan dan kekuasaan. Dia sama sekali tidak pernah memikirkan sesuatu seperti nasib rakyat jelata yang bisa saja ikut terlibat dalam pertarungan dua kubu pangeran yang paling berpengaruh di kerajaan tersebut.
“Leon! Kamu! Pernahkah setidaknya kamu sekali saja memikirkan nasib rakyat kerajaan kita ini?! Situasi di perbatasan utara sudah mulai memanas berkat provokasi Kekaisaran Vlonhard. Dan kini, akankah kamu ingin memperparah buruk situasinya dengan hal yang sepele seperti perebutan kekuasaan internal kerajaan? Kalau terus-terusan begini, kita bisa segera dilahap oleh negara rakus itu jika sedikit saja kita memperlihatkan kelemahan kita.”
Barulah setelah itu, Leon akhirnya melepas juga pulpen yang ada di tangannya lalu menyatukan kedua tangannya yang tampaknya mulai pegal perihal cukup lama bergelut dengan dokumen lantas mulai menatap langsung ke arah mataku.
“Oho, tak kusangka kakak sampahku punya pengetahuan yang tinggi juga soal politik padahal semua gurumu selama ini hanyalah berasal dari kalangan rakyat jelata. Apakah justru karena semua gurumu berasal dari kalangan rakyat jelata itukah sehingga kamu bisa sangat peduli dengan nasib rakyat jelata?”
Leon kemudian berdiri dari duduknya sembari menatap keluar dari arah jendela yang tepat berada di belakang mejanya itu.
“Kalau kamu segitu khawatirnya dengan hal seperti keseimbangan kekuatan tersebut, mengapa bukan kamu alih-alih aku yang bergerak, Kakak Sampah?”
“Itu bagaimana mungkin?”
“Aku pun demikian. Bagaimana mungkin aku memberikan bantuan tanpa imbalan sejak aku punya banyak pengikut yang memiliki keserakahannya masing-masing. Kamu kira Marquiss Rodhelton akan berkenan memberikan secara gratis biarpun hanya sepersepuluh jalur distribusi hasil tambang wilayahnya jika tidak diiming-imingi dengan hadiah?”
“Kamu seharusnya lebih tahu dari siapapun bahwa hampir semua bangsawan di wilayah kerajaan kita adalah makhluk yang egois dan serakah yang lebih mementingkan keuntungan pribadi ketimbang nasib kerajaan ini.”
Apa yang dikatakan Leon tidaklah salah. Tetapi jika demikian, masih akan lebih baik jika Count Ares tidak memperoleh saja bantuan dari faksi Marquiss Rodhelton itu. Bantuan itu mungkin saja akan menyelematkan sementara wilayah Count Ares dari kebangkrutan, tetapi sebagai akibatnya, seluruh wilayah kerajaan inilah yang akan meniti jalan menuju kemusnahannya.
Namun, jika wilayah Count Ares dibiarkan bangkrut, itu akan berdampak pula pada kestabilan wilayah barat yang meliputi wilayah Duke Rucanthes dan ketiga county.
Selama ini wilayah barat memperoleh ketenangannya di wilayah terpencil tanpa sedikit pun terlibat politik keluarga kerajaan. Itu hanya mungkin karena masing-masing wilayah saling mampu menggenapi kebutuhan wilayah yang lain, Ares county di utara dengan industri persenjataan dan armornya, Phyles county di timur dengan hasil pertaniannya, serta Sallas county di selatan dengan hasil lautnya.
Tentu perdagangan masih tetap dilakukan dengan wilayah lain pula, tetapi bisa dikatakan bahwa wilayah barat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa bergantung terhadap wilayah lain.
Bukannya Kota Painfinn yang merupakan wilayah paling barat Duke Rucanthes ini tidak bisa mengimpor perlengkapan senjata dan armor dari wilayah lain selain Ares county, tetapi jika demikian, itu akan mengganggu keseimbangan ekonomi wilayah barat.
Hal itu lebih lanjutnya akan berakibat kami bisa saja dimanfaatkan oleh wilayah lain yang sedang terlibat dalam pertarungan panas antarfaksi memperebutkan posisi penerus raja tersebut seperti apa yang baru saja Leon berusaha lakukan pada Count Ares.
‘Ah, haruskah aku meminta tolong pada Ayahanda yang telah pikun itu?’
Aku segera menggelengkan kepalaku sendiri terhadap ucapan dalam hatiku itu perihal jika sedari awal, ayahku itu belumlah pikun dan sakit-sakitan, mana mungkin pertarungan panas perebutan tahta antara kubu Kak Tius dan Leon yang cukup mengganggu situasi internal kerajaan terjadi seawal ini.
“Jadi bagaimana, Kakak Sampah? Kamu sendiri juga tidak punya solusi kan?”
“Tetapi Leon, solusi apa yang kamu tawarkan itu jelas keliru.”
“Lantas? Kamu bisa melakukannya lebih baik? Hahahahahaha.”
Leon tiba-tiba saja terbawa terbahak-bahak mengejekku.
“Kamu yang seorang sampah tanpa satu pun pendukung itu mana bisa membantu keadaan wilayah barat saat ini, kecuali jika kamu bisa membangun kembali wilayah tambang yang rusak itu.”
Perkataan Leon itu memang bermaksud mengejekku. Tetapi berkatnya, aku berhasil memperoleh inspirasi.
Benar apa yang dikatakan Leon tersebut. Selama ini aku terlalu terfokus tentang bagaimana cara memperoleh sumber bahan baku besi baru, menggantikan yang lama, yang tidak bisa diakses lagi perihal bencana.
Mengapa aku tidak pernah berpikir bahwa selama aku bisa memperbaiki sumber tambang Ares county yang rusak itu, semuanya akan kembali bisa dipulihkan?
Aku juga kurang tahu detailnya, tetapi sejak bencana the king of undead itu, aku mengalami peningkatan kualitas sirkuit mana dan jumlah mana yang luar biasa pesat. Seharusnya dengan kekuatanku saat ini, aku bisa melakukan sesuatu terhadap sumber tambang yang rusak itu.
Tetapi sayangnya, aku tidak bisa melakukannya seorang diri. Bagaimana pun, kearsitekturan bukanlah bidang keahlianku. Aku hanya tahu gambaran dasarnya, tetapi untuk membuat struktur bangunan kompleks semisal daerah pertambangan, itu sudah di luar kemampuanku. Aku butuh tenaga lain yang ahli di bidangnya untuk menyupportku.
Tetapi sejak aku artinya punya peluang dalam mengatasi krisis wilayah barat selama aku memperoleh tenaga bantuan itu, aku pun menyanggupi tawaran Leon tersebut.
“Baiklah, Leon, aku mengerti. Mengenai krisis armor dan senjata itu, serahkan saja padaku untuk menanganinya.”
Ujarku dengan penuh percaya diri.