Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 80 – SURAT ILENE



Curtiz adalah mantan anak buah Duke Alvon Rucanthes yang diangkat langsung oleh Beliau dari statusnya yang sebagai rakyat jelata menjadi seorang kepala administrator berkat bakatnya yang cemerlang.


Berkat pengelolaan Curtiz yang cemerlanglah, wilayah Kota Painfinn masih dapat bertahan bahkan setelah Duke Rucanthes meninggal selama invasi monster dari hutan monster sebelum kedatanganku kemari.


Untuk berpikir dia adalah seorang pengkhianat, rasanya tidak mungkin. Duke Rucanthes memang tidak pandai mengelola perekonomian wilayah, tetapi aku yakin akan bakatnya soal melihat siapa yang dapat dipercayainya. Itulah sebabnya dia mampu mengumpulkan orang-orang setia di sekelilingnya, termasuk Curtiz yang telah mengikuti Beliau sejak dia berusia 12 tahun.


Kemudian ada Damian. Melihat potensinya yang cemerlang walaupun dia seorang rakyat biasa, tetapi dia justru bersikap pasif dan bersedia mengabdi di kota terpencil seperti Kota Painfinn, padahal jika berusaha lebih keras dia seharusnya bisa mencapai hal yang lebih tinggi di ibukota, membuatku semula curiga bahwa dia adalah seorang mata-mata kekaisaran atau sejenisnya.


Namun, begitu kumengetahui bahwa rupanya dia adalah teman masa kecil dari Kak Vierra, istri Kak Tius, aku kembali meninjau pendapat itu. Tiada alasan baginya untuk mengkhianati kerajaan sejak teman baiknya adalah calon ratu masa depan.


Ada juga Venia, seseorang yang diasingkan oleh kuil suci perihal mendalami ilmu pengobatan menggunakan herbal yang dinilai racun oleh kuli suci, Grodzky dan kawan-kawannya yang awalnya berasal dari kekaisaran, tetapi mendapatkan penindasan di sana persoalan ras-nya yang berasal dari dwarf yang disamakan dengan iblis di wilayah tersebut sehingga mengungsi ke Kota Painfinn ini, mereka pun bagiku sulit untuk menjadi karakter pengkhianat.


Sama sekali tak ada yang bisa terpikirkan perihal perkataan Leon di dalam mimpiku tersebut. Jelas bahwa mimpiku itu hanyalah mimpi buruk. Dengan adanya sisa mana sihir hitam yang rupanya menjadi penyebab aku tertidur, tampaknya memang benar bahwa jelas ada yang berupaya memanipulasi diriku agar mencurigai anak buahku sendiri. Tujuannya jelas, mungkin untuk menggoyahkan pemerintahanku di Kota Painfinn ini.


Mengingat waktunya yang hampir bersamaan dengan munculnya Angele, sang witch wabah, satu yang bisa kupikirkan, mungkin ini juga ada kaitannya dengan witch yang belum aku ketahui identitasnya.


Lantas apakah ini murni perbuatan dari Raja Iblis? Mengingat temperamennya selama ini, aku sulit membayangkan bahwa dia akan bersedia merendahkan dirinya menggunakan strategi tipu muslihat yang hina hanya untuk kemenangannya. Di situlah poin yang tak kumengerti. Firasatku mengatakan bahwa jika asumsiku itu nyata, maka bukanlah Raja Iblis dalang di baliknya.


Lalu siapa yang akan diuntungkan jika pemerintahanku goyah di Kota Painfinn? Apakah itu kuil suci? Apakah itu Kekaisaran Vlonhard? Rasanya skalaku sebagai pemimpin suatu kota di sudut terpencil kerajaan terlalu kecil bagi mereka untuk sampai melirikku.


Namun, ada juga kemungkinan bahwa bisnis potion-ku terlalu berkembang sehingga membawa kerugian yang cukup signifikan dari yang kuprediksikan bagi Kekaisaran Vlonhard sehingga mereka menilai keberadaanku adalah duri dalam daging yang harus segera disingkirkan.


Ada juga kemungkinan bahwa kuil suci tidak suka bidak yang ingin dijadikannya tumbal bagi sang calon pahlawan masa depan menjadi terlalu sukses sehingga sebelum nantinya aku bertumbuh terlalu besar sehingga akan sulit lagi bagi mereka untuk menanganiku, mereka ingin memangkasku secepatnya.


Sebenarnya masih ada peluang juga jika salah satu di antara Kekaisaran Vlonhard atau kuil suci terlibat.


Yah, apapun itu, entah ini feeling seorang kakak, aku juga tidak mampu mengabaikan mimpi itu persoalan batinku mengatakan bahwa itu benar-benar Leon yang datang lewat mimpiku melalui media sihir hitam yang entah pula bagaimana bisa berakhir seperti itu.


Itulah sebabnya aku tetap tidak menurunkan kewaspadaanku. Akan terlambat jikalau aku terlanjur ditikam dari belakang oleh seorang pengkhianat.


Melupakan soal pembicaraan yang kelam itu, kini aku sedang berjalan-jalan santai bersama Talia menikmati berbagai spot indah di Kota Painfinn ini. Aku tidak menyia-nyiakan waktuku begitu saja selama 2 tahun masa-masa damai di Kota Painfinn ini. Aku juga telah membangun banyak spot pariwisata di sini selama waktu itu.


Namun tiada kusangka, di antara sekian banyak tempat pariwisata yang telah kubangun tersebut, justru tempat yang sebenarnya bukan tujuan utamanya sebagai alat wisata-lah yang paling disenangi oleh Talia.


Itu adalah goa tempat aku mengembangbiakkan tanaman grassfilt.


Sejak akan ribet untuk selalu memakai api yang harus dijaga suhunya setiap waktu ketika akan memasuki goa demi melihat pemandangan cantik tanaman tersebut yang tanpa membunuh tanamannya, sejak grassfilt bisa layu jika terkena suhu di atas 5 derajat celcius, aku pun mengembangkan sebuah sistem pencahayaan yang aku namakan sebagai sistem iluminasi pendarfluor.


Selama energi yang tersimpan di kotak cahaya masih ada, itu akan terus memancarkan cahaya. Adapun panas yang dihasilkannya akan segera tereduksi kembali oleh kotak pendingin yang terhubung dengan sistem chlorofluorocarbon (CFC) di luar. Ada juga beberapa rune sihir yang aku pelajari dari Milanda untuk segera menguraikan CFC ini sebelum terlepas ke udara luar demi menekan dampaknya pada pencemaran lingkungan.


Ilmu sains benar-benar bermanfaat. Aku sama sekali tak memahami mengapa sampai kuil suci selalu mendikte para warga untuk menjauhinya.


Alhasil berkat sistem itu, cahaya mampu menerangi gua tanpa meningkatkan suhu di dalamnya.


“Iya ya, benar-benar cantik.” Ucapku membalas ucapan itu sembari memandang wajah Talia dengan senyuman.


“Ah, Mas Lou, apa yang kamu lakukan? Maksudku yang cantik itu adalah pemandangannya, kenapa Mas Lou malah melirikku?”


Ujar Talia kembali tampak tersipu malu dengan balasan ucapanku.


“Tapi bagiku, kecantikan Dinda Talia jauh lebih mengagumkan ketimbang kecantikan ribuan kilau biru tanaman grassfilt yang mempesona mata ini.”


“Duh, Mas curang.”


Wajah Talia pun memerah bagai tomat masak dan seketika memelukku erat demi menyembunyikan ekspresi malunya itu.


“Duh, imutnya.” Setidaknya, hanya itulah isi kepalaku yang bisa kupikirkan saat ini.


Terlepas dari berbagai kesialan yang kualami sejak ramalan tiran itu, sosok Talia-lah yang tidak pernah sekalipun melepaskan genggaman tanganku sejak kami bertunangan di usia 5 tahun, yang menyelamatkanku.


Aku benar-benar bersyukur bisa memperolehnya sebagai tunangan waktu itu dan bahkan kini kami telah menikah. Banyak hal buruk yang terjadi pada diriku, namun itu semua tiada artinya karena kini aku bisa menjadi orang yang paling bahagia dengan hidup di sisinya selamanya.


Sehabis jalan-jalan, aku menyuruh Albert dan Alice untuk lebih merenggangkan punggung mereka dengan beristirahat sejenak sembari aku dan Talia menikmati waktu santai kami selanjutnya dengan menikmati teh buatan Yasmin.


Bagiku, tiada yang seenak setelah menghadapi penatnya rutinitas selain menikmati teh manis buatan Yasmin. Ada sensasi sejuk di dalamnya yang entah mengapa setiap kali aku meminumnya, vitalitasku akan terasa bertambah vit.


Jika saja aku tidak memiliki kemampuan mendeteksi aliran mana yang prominen, aku bahkan bisa saja curiga bahwa Yasmin benar-benar seorang witch seperti yang dirumorkan oleh orang-orang ibukota.


Tentu saja bukan witch malapetaka seperti yang dirumorkan, tetapi witch cinta, witch yang senantiasa membawa kedamaian cinta di manapun dia berada.


Hari ini betul-betul menyenangkan. Rasanya, kehidupanku telah lengkap hanya dengan keberadaan Talia saja di sisiku, menemaniku di kala aku suka maupun duka.


Seharusnya, hari itu akan menjadi salah satu hari yang indah tanpa adanya masalah. Setidaknya, itu sampai Curtiz datang dengan membawa selembar surat di tangannya.


Itu adalah surat dari Ilene.


Awalnya, tentu saja aku bahagia karena mengira bahwa surat dari adikku itu akan berisi ucapan selamat menjalani kehidupan santai pasca hari-hari pernikahanku atau paling banter tentang persiapan kelulusannya dari akademi royal.


Tetapi isi surat itu benar-benar menusuk seketika hari bahagiaku itu. Itu adalah permintaan darurat dari Ilene mengenai situasi mencekam yang sedang terjadi di utara kerajaan.


Tentu saja itu bukanlah mengenai situasi dingin yang sedang terjadi karena suasana perang dengan Kekaisaran Vlonhard, karena jikalau itu demikian, maka akan ada banyak ahli di ibukota sana yang mampu menangani masalahnya dengan lebih baik. Lagian aku sama sekali tidak terbiasa dengan urusan militer seperti Kak Tius atau Leon.


Namun, itu adalah situasi yang lebih genting lagi daripada hanya sekadar perang. Itu adalah wabah penyakit kolera.