
Desas-desus perang menyebar dengan cepat bagaikan suatu wabah yang menular. Rumor itu akhirnya sampai pula di Kota Painfinn dan masuk ke telinga Talia.
Tak bisa dicegah bahwa Talia jadi mengkhawatirkan suaminya yang sedang jauh darinya di ibukota kerajaan demi bekerja dengan giat sebagai seorang pangeran negeri ini.
Di taman yang awalnya cerah itu, tiba-tiba saja langit mendung dan angin menjadi kencang. Pada saat itu, Talia dan Alice sedang berada di sana. Talia terduduk di salah satu bangku taman, sementara Alice berdiri di dekatnya sebagai seorang pengawal.
Melihat cuaca yang memburuk sehingga tidak baik bagi kondisi kandungan Talia yang telah dekat masa-masa kelahiran bayinya itu, Alice mengajak Talia memasuki mansion.
“Nyonya, mari kita ke dalam.” Ujar sambil Alice menatap Talia yang terlihat tidak sedikit pun bisa melepaskan pikirannya dari keadaan suaminya itu yang sedang berada jauh di sana.
“Hmm.” Talia membalas dengan anggukan ringan.
Alice pun dengan ditemani beberapa pelayan, memapah Talia dengan hati-hati untuk memasuki mansion.
Sembari berjalan, Talia mengungkapkan kekhawatirannya kepada Alice.
“Mas Lou akan baik-baik saja di sana kan?”
Mendengar itu, Alice lantas tersenyum lembut kepada Talia.
“Pasti Tuan akan selalu baik-baik saja.”
Talia segera menganggap positif perkataan Alice itu sebagai doa keselamatan bagi Helios di sana. Dia pun turut mengiyakan perkataan Alice tersebut.
Semuanya tampak baik-baik saja. Namun seketika, sebuah panah dilayangkan ke arah mereka yang rupanya mengincar Talia yang sedang hamil besar.
Syukurlah Alice berinsting tajam sehingga mampu menyadari serangan itu jauh lebih cepat dan mampu dengan sigap menangkis serangannya.
-Tuak.
Panah justru akhirnya mengenai zirah Alice. Terlihat bahwa bagian perak dari zirah emasnya itu tiba-tiba saja meredup warnanya. Panah tersebut mengandung racun.
“Cepat bawa Nyonya masuk ke dalam mansion dan segera perketat pertahanan!”
“Baik.”
“Siap!”
Alice melakukan perintah cepat kepada para pelayan dan prajurit yang kebetulan sedang berjaga di sekitar mansion tersebut.
-Tuak, tuak, tuak, tuak.
Alice menerima tiap serangan panah itu menggantikan Talia yang sedang dipandu ke dalam mansion dengan zirahnya yang tebal.
Ada enam orang assassin yang tiba-tiba keluar dari balik bayangan. Mereka pun secara serempak menyerang Alice.
Alice harus menerima serangan mereka bertubi-tubi. Walau demikian, dia tidak pernah menunjukkan sedikit pun tanda-tanda kegentaran.
Hanya saja,
-Tuak, tuak, tuak, tuak.
Tidak ada satu pun dari serangan Alice yang mampu mengenai para penjahat yang membuat para penjahat itu kegirangan.
“Hai, Nak. Sadarkan dirimu. Bukan saatnya untuk melamun. Akh!”
“Larilah Alice! Setidaknya kamu harus selamat menceritakan kejadian hari ini! Akh!”
Alice kembali mengenang kejadian pembantaian para pasukan demon yang berhasil lolos dari hutan monster di Kekaisaran Vlonhard itu.
“Nona, selamatkan aku. Aku tidak ingin mati di sini. Akh!”
“Mengapa? Mengapa ini semua terjadi pada kami? Akh!”
Alice kembali mengingat kejadian pembantaian para anak buahnya di hutan monster itu.
Dia lemah dan tak berdaya yang hanya bisa melihat kematian rekan-rekannya tanpa bisa berbuat apa-apa.
Suatu hari Alice menyadari ada suatu keanehan pada dirinya.
"Tidak! Tidak! Akh!”
“Alliandro! Carmine! Edward!”
Alice menyadari bahwa sejak hari itu, dirinya dikutuk dan keberadaannya menjadi pancingan yang kuat bagi kemunculan para monster.
Namun, dalam keadaannya yang terpuruk itu, uluran tangan Helios pun datang untuk menyelamatkannya.
“Alice, kamu pun pantas hidup bahagia.”
Dengan kata-kata sederhana itu, Alice terselamatkan. Dia seketika kembali memiliki benih-benih harapan bersemi di hatinya yang telah lama suram itu.
Sejak saat itu, wanita itu telah membulatkan tekadnya untuk akan selalu mengabdi kepada orang yang telah menyelamatkan dirinya tersebut.
Namun kembali muncul rasa ragu di hati wanita itu, apakah dirinya layak untuk menjadi anak buah bagi seseorang yang sehebat Helios?
“Alice, kutukan monster itu hanya berpengaruh terhadap agro monster saja. Namun, soal kamu tak dapat lagi menggunakan pedangmu, itu adalah trauma. Hanya kebulatan tekad di dirimu saja yang mampu menyembuhkannya.”
‘Mengapa aku selemah itu? Aku tak ingin selamanya menjadi lemah! Trauma?! Yang benar saja! Betapa pengecutnya dan lemahnya pikiranku! Aku ingin maju. Aku ingin terlepas dari trauma ini, agar aku bisa berguna bagi Master.’
‘Master telah berjuang keras demi membangun Kota Painfinn yang sebelumnya berantakan karena serangan monster. Master juga berhasil mengatasi wabah kolera di Kota Lobos. Master telah berjuang yang terbaik yang bisa dia lakukan di tengah keterbatasannya dihujat oleh orang-orang. Master tidak pernah peduli dengan semua hujatan itu dan terus melangkah maju demi apa yang diyakininya.’
‘Bahkan Albert dan Yasmin bisa menyupport Master dengan baik. Albert dengan ilmu pedangnya, sedangkan Yasmin dengan sihirnya. Terus terang, aku iri dengan mereka berdua. Aku pun ingin berguna bagi Master!’
Alice mengayunkan pedangnya yang tak pernah bisa mengenai target itu dengan putus asa. Walau demikian, Alice tidak menyadari bahwa keberadaannya telah sangat berguna bagi penyelamatan Talia saat itu.
Berkat zirah kokoh Alice, tiada satu pun dari para assassin yang mampu menembus pertahanannya.
Namun itu tidak cukup.
Sikap defensif tanpa ofensif takkan mampu untuk memenangkan pertarungan. Suatu saat stamina Alice akan habis saja dan dia pun pada akhirnya akan kalah.
“Tidak! Aku tak ingin menjadi lemah! Aku ingin kekuatan layaknya skill berpedang Albert, layaknya skill sihir Yasmin!”
Lalu, kejadian supranatural itu pun terjadi. Petir menyambar dari langit, tersummon oleh pedang Alice. Tidak, itu tersummon oleh tekadnya yang kuat.
“Aaaaaaaaaaaaakkkkkkkhhhh!” Balutan petir menyelimuti zirah emas pejuang wanita itu.
Lalu kemudian, beberapa petir secara liar menyambar di sekeliling Alice. Itu sama sekali tidak menyerang Talia beserta para prajurit dan pelayan. Itu hanya menyerang para musuh yang hendak mencelakakan orang-orang tercinta dari tuan milik Alice.
“Akh.”
“Tidak!”
Beberapa musuh pun berhasil terbakar dalam sekejap oleh amukan petir itu.
Alice telah berevolusi dalam ranah yang sangat jauh berbeda dari Albert. Alice telah menjadi salah satu dari keberadaan sang magic swordsman yang sangat langka di dunia.
“Hiyaaat!”
Hanya dalam satu tebasan pedang yang diselimuti oleh petir itu, seluruh musuh yang tersisa pun berhasil dienyahkan.
Serangannya tidak lagi meleset. Kali ini Alice berhasil mengenai targetnya dengan sempurna. Dia tidak lagi terkungkung dalam traumanya itu.
“Ukh, hah, hah.” Nafas wanita itu terengah-engah.
“Apakah aku berhasil?”
Pandangannya mulai kabur, namun dia bisa menyadari bahwa untuk pertama kalinya dia akhirnya bisa terlepas dari traumanya.
“Alice! Tidak, Alice! Sadarlah!”
“Nyonya?”
“Alice?”
“Syukurlah Anda baik-baik saja. Dan syukurlah Master memiliki pendamping yang baik seperti Anda.”
“Alice! Alice! Sadarlah!”
Itu adalah Talia yang mengkhawatirkan Alice. Dia begitu sedih mendapati Alice menutup matanya demi menyelamatkan dirinya.
“Tenang saja, Nyonya. Alice baik-baik saja. Dia hanya pingsan.”
Tanpa diduga, Dokter Minerva turut datang ke tempat itu lantas menenangkan Talia yang panik sebelum akhirnya memapah Alice ke klinik Venia.
“Kamu sudah berjuang keras, Alice. Sisanya, serahkan padaku untuk memeriksa kondisi tubuhmu. Ngomong-ngomong, selamat karena telah terpromosikan menjadi seorang magic swordswoman.” Ucap Dokter Minerva dengan penuh ketulusan.