
Trial kepemilikan formasi dungeon Milanda dimulai.
Itu dimulai dengan berhadapan terhadap monster yang terlemah.
Seekor goblin muncul dari balik kekosongan yang seketika terbentuk dari bayangan.
Aku mengalahkannya dengan mudah.
Monster kemudian muncul lagi satu persatu. Tiap kali aku mengalahkannya, maka akan muncul monster yang lebih kuat lagi.
Hingga pada akhirnya, monster keseratus pun muncul yang berupa lesser dragon.
Monster itu menyemburkan apinya ke mana-mana. Oleh karenanya, aku cukup sulit untuk mendekatinya lantas mengalahkannya.
Apa yang terburuk adalah ini adalah pertarungan di dalam dunia astral. Itu artinya, mana pool-ku yang besar tidak ada gunanya. Ini bukanlah tentang pertarungan menghadapi monster secara langsung di kehidupan nyata. Ini lebih kepada kekuatan mental. Aku harus menghadapi monster-monster itu yang berada di dalam alam bawah sadarku dalam kondisi yang yakin bahwa aku sanggup mengalahkannya.
Itu tentu saja tidak mudah kedengarannya. Tidak hanya asal yakin saja monster itu dapat dikalahkan. Ada hukum-hukum perantara antara dunia astral dan dunia nyata yang tetap tidak boleh dilanggar.
Aku menyerang monster itu dengan serangan jarak jauhku berupa jarum-jarum es yang kubentuk dari uap air sekitar. Namun sudah kuduga bahwa itu hanya akan meleleh bahkan sebelum sempat melukai sang monster.
Monster yang kuhadapi adalah lawan yang terburuk untuk elemen dasar es seperti diriku. Kulitnya yang sangat keras nan panas hanya akan seketika melelehkan es-esku.
Pada akhirnya, aku memodifikasi tanah tempatnya berpijak. Aku mencoba menanamkan sugesti di bawah alam sadarku bahwa aku adalah manusia super yang tahan panas.
Itu tidak akan bekerja sampai aku benar-benar menjadi manusia api karena walau itu di alam mental sekalipun, itu tetap akan mengikuti hukum-hukum di dunia nyata sampai taraf tertentu. Namun untuk sekadar tahan pada panas yang sedikit lebih besar, itu memungkinkan.
Menahan apa yang sebenarnya bisa kita tahan, tetapi kita enggan melakukannya di bawah pengaruh kenyamanan adalah tentang kekuatan mental soalnya.
Aku pun mendekati monster itu dalam gerakan zig-zag untuk menghindari serangan apinya. Momentum serangannya sedikit mengenaiku, tetapi itu tidak berdampak sampai benar-benar melukaiku dengan luka yang fatal.
Begitu aku sampai di area sekitar mulutnya, aku pun meminumkannya sebuah cairan. Itu bukan cairan biasa. Aku memanfaatkan pengetahuan alkimiaku untuk mensintesis metana dari karbondioksida dan uap air di udara lantas aku dinginkan hingga menjadi cairan. Sisanya, aku tinggal melemparkan cairan metana yang sangat tidak stabil di udara terbuka itu ke mulut sang lesser dragon.
Dia pun yang kebetulan sedang mengecas apinya untuk ditembakkan, seketika meledak sendiri di dalam mulutnya dalam ledakan yang cukup dahsyat. Itu bukanlah ledakan yang wah yang membuatku sampai merinding. Tetapi pada dasarnya mekanisme tubuh lesser dragon hanya kuat terhadap panas dan benturan dari luar, namun sejatinya dia sangat rapuh di dalam.
Dia pun mati ketika apinya meledak sendiri di dalam tubuhnya.
Trial menghadapi monster tampaknya telah berakhir ketika kutidak lagi mendapati monster yang tiba-tiba muncul.
Aku kemudian lanjut menyusuri koridor yang sangat gelap itu yang syukurlah dengan inderaku yang spesial, aku tetap mampu menyesuaikan diri dan tetap dapat melangkah dengan baik tanpa terpengaruh oleh gelapnya sekeliling.
Aku lantas tiba-tiba mendengar suara orang yang mengumpat marah, ada pula yang terdengar sedih akan sesuatu dengan penuh penyesalan, dan ada pula yang sedang menangis. Suaranya terdengar seperti suara tenggorokan yang begitu membuat merinding hingga aku sampai tak mengenali suaranya.
Namun begitu kuperhatikan dengan seksama, rupanya mereka adalah orang-orang yang aku kenal dengan baik, keluargaku tercinta yang kini telah tiada.
“Helios…” Dengan lirih, sesuatu yang tampak seperti Ayahanda memanggilku.
“Ini semua salahmu… Ini semua salahmu sehingga aku meninggal!” Kali ini giliran sesuatu yang menyerupai Leon yang berteriak dengan marah padaku.
“Seandainya aku masih hidup, aku pasti akan menjadi sosok kaisar yang lebih baik darimu. Mengapa aku yang harus mati?” Sesuatu yang menyerupai Kak Tius tampak meringkuk dengan penuh penyesalan.
“Hiks… Hiks… Hiks… Semuanya karenamu. Jika saja kamu tidak ada, kami tidak akan sampai mati!”
Lalu sebagai penutupnya, Ilene-lah yang mengungkapkan kesimpulan dari penyesalan-penyesalan mereka.
Itu benar. Aku tak dapat memungkiri hal tersebut. Mereka sampai mati karena menjadi target Baal, itu semua karena mereka adalah keluargaku, sang hero yang ditakdirkan.
Walau kutahu ini tak nyata, walau kutahu mereka hanyalah perwujudan dari penyesalanku semata, aku tak dapat menahan tetes air mata ini jatuh tetes demi tetes membasahi pipiku.
“Itu benar. Keluargaku mati karena kelemahanku yang tak dapat melindungi mereka.”
Monster-monster yang menyerupai keluargaku itu pun mendekat perlahan demi perlahan padaku bergerak layaknya zombie dengan mata, telinga, hidung, serta mulut mereka yang mengeluarkan darah. Kuku-kuku mereka menajam, ujung jari mereka memanjang, seakan semuanya siap untuk mencekik leherku demi aku pula menjemput kematianku.
Aku menyesal karena tak mampu melindungi mereka. Walau demikian, di rumah masih menunggu Ibunda Theia, Talia, Helion, serta istri dan anak-anakku lainnya, juga ada Yasmin, Alice, Nunu, aku belum ingin berpisah dari mereka. Aku masih ingin menggunakan waktuku ini demi melindungi mereka. Setidaknya, akan kujalani takdirku sebagai pahlawan demi memastikan jalan kedamaian untuk generasi-generasi selanjutnya.
-Wuuush.
“Itu benar adanya. Makanya aku berlatih untuk menjadi lebih kuat demi melindungi keluargaku yang masih ada dari iblis-iblis jahat seperti kalian!”
-Slash.
Aku menebas monster-monster itu. Sosok yang tadinya menyerupai Ayahanda, Ilene, Leon, dan Kak Tius pun berubah menjadi hitam menampakkan wujud asli mereka lalu hilang kembali ke abyss.
Aku sekali lagi melangkah. Kali ini kusaksikan di kiri dan kananku terjadi kekacauan. Di sebelah kiri ada rakyat Kekaisaran Meglovia yang hendak diterkam oleh monster-monster burung dari Benua Arteik. Sementara di sebelah kanan terdapat keluargaku yang sadang diserbu oleh para minotaur.
Itu terjadi secara bersamaan sehingga jelas bahwa jika aku pergi menyelamatkan salah satunya, maka yang lain tak akan sempat terselamatkan.
“Cih.”
Aku meringis menggertakkan gigi-gigiku.
“Kalian pikir aku siapa, hah?! Aku tak selemah itu! Walau tulang dan daging ini remuk, demi keluargaku dan demi mewujudkan tempat tinggal yang damai buat mereka, akan kulewati batasan fisikku!”
Aku berlari ke arah kanan, membantai tiap minotaur yang akan melukai keluargaku itu. Tak kubiarkan satu pun dari mereka menyentuh sehelai rambut pun keluargaku yang berharga. Lalu secara bersamaan, kusummon jarum-jarum es dari jauh untuk menembak tiap-tiap monster burung yang hendak akan memangsa rakyat-rakyatku.
Semua monster lenyap di mana aku bisa menyelematkan semuanya.
“Maaf saja aku egois. Tapt takkan kubiarkan siapapun lagi mati di hadapanku!”
Aku kemudian sekali lagi berjalan. Lalu yang selanjutnya kutemukan adalah sosok monster yang menyerupai diriku. Tidak, itu benar-benar diriku.
“Mengapa? Mengapa semuanya terenggut dariku?”
“Andai saja… Andai saja aku menemukan penyakit Ayahanda lebih awal, maka aku pasti akan menyelamatkannya!”
“Andai saja aku bisa mencegah kedatangan Leon ke Kota Painfinn kala itu, maka aku pasti juga akan bisa menyelamatkannya!”
“Andai saja aku mengikuti firasat burukku saat itu lantas mengikuti Kak Tius ke Cabalcus, orang-orang lemah itu pasti tidak akan bisa membunuh Kakak karena aku akan segera membunuh mereka duluan!”
“Andai saja tak kubiarkan Ilene masuk ke sarang musuh yang padahal aku sudah mencurigainya sebelumnya… Andai saja aku menggunakan kediktatoranku saat itu walaupun Ilene akan membenciku, pastilah Ilene masih hidup!”
“Mengapa… Mengapa aku selalu mengambil keputusan yang salah?!”
Aku melihat sosok diriku itu berteriak-teriak, meraung-raung dalam keputusasaan yang teramat dalam.
“Andai saja aku lebih jeli dan tidak membiarkan seorang pengkhianat berada di sisiku hingga Albert tidak mesti jatuh ke dalam perangkapnya, sahabatku itu pasti masih ada di sisiku.”
Lagi-lagi perasaan sesak ini datang padaku.
Itu benar.
Selama ini Leon meninggal, disusul oleh Kak Tius, Ayahanda, lalu Ilene, aku kuat menghadapinya karena selalu ada Albert yang menghiburku di sisiku. Namun kini sosok sahabat terbaikku itu pun kini telah tiada karena ketidakmampuanku melindunginya.
Dada ini rasanya sesak. Aku begitu ingin mengulang waktu demi mencegah kebodohannya yang berujung pada kematiannya itu. Kepalaku tiba-tiba merasakan sakit yang tidak tertahankan. Hidungku pun mulai mengeluarkan darah yang sampai menetes membasahi tanah.
Namun, itu tidak akan mengubah apa-apa jikalau aku terus berputus asa. Aku pula harus menjaga Allios, satu-satunya kenangan Albert yang ditinggalkannya. Begitu pula dengan Talia, Helion, aku harus menjaga mereka.
Aku tidak ingin istri-istri dan anak-anakku menganggap aku sebagai ayah yang lemah. Aku ingin dibanggakan oleh mereka sebagai kepala keluarga sejati.
Itulah sebabnya aku tidak boleh tumbang di sini.
Aku pun perlahan mendekati sosok itu.
Sosok itu kemudian berbicara kepadaku.
“Hei, apa boleh aku membunuh semuanya? Menahan diri rasanya tidak baik.”
Aku pun dengan yakni menjawab pertanyaannya itu.
“Tentu saja. Kita punya kekuatan, lantas untuk apa ditahan-tahan. Jika ada yang menyakiti kita, kita tinggal membalasnya berkali-kali lipat lebih sakit lagi.”