Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 84 – INVASI UTARA



Helios berupaya menahan amarah di dalam dadanya perihal kesombongan Kekaisaran Vlonhard yang lagi-lagi melanggar pakta perjanjian damai dengan menyerang kerajaannya.


Syukurlah bahwa banyak petualang dan mercenary yang menjadi pondasi utama pertahanan utara telah disembuhkan dan kini bisa bertarung kembali.


Beruntungnya pula bahwa Duke Glenn dan para prajurit di bawahnya adalah orang-orang yang beranggapan bahwa tiada yang lebih baik selain percaya dengan stamina sendiri ketimbang bergantung dengan yang namanya potion atau air suci. Berkatnya, Duke Glenn dan para prajuritnya itu tidak turut pula menjadi korban wabah kolera yang ditularkan melalui potion atau air suci itu.


Karenanya, walau invasi Kekaisaran Vlonhard datang dengan terlalu mendadak di saat benteng pertahanan hampir runtuh perihal wabah kolera, benteng pertahanan utara Kerajaan Meglovia masih mampu bertahan dengan kokoh.


Walau demikian, serangan Kekaisaran Vlonhard masih terlalu brutal untuk dihadapi oleh pasukan Duke Glenn dalam keadaannya yang sekarang. Hanya sekitar enam puluh persen kekuatannya saja yang saat ini berhasil dipulihkan perihal wabah kolera yang menyerang, terlebih dengan masih belum pulihnya para master pedang dan mage andalan mereka serta sekitar dua puluh persen kekuatan itu masih dalam keadaan baru sembuh.


Terlintaslah di benak Helios bagaimana jika dia mengamuk saja di tempat itu. Namun, itu tentu saja memiliki konsekuensi yang sangat besar padanya. Berbeda dengan di Kota Painfinn, mata dan telinga kuil suci aktif di Kota Lobos. Tiada jalan bagi Helios untuk mampu mengelabui lagi kuil suci dan juga kerajaan jika dia mengamuk menggunakan kekuatannya di tempat itu.


Orang-orang akan seketika menyadari potensi bahaya dari seorang tiran yang memang akan diramalkan menghancurkan dunia itu. Jika demikian, Helios tidak akan lagi berada dalam posisi aman. Tidak hanya dirinya saja, tetapi para anak buah yang mengikutinya juga akan turut menanggung akibatnya.


Akan tetapi melihat kesombongan Kekaisarn Vlonhard itu tepat di hadapan matanya, Helios merasa tak mampu lagi mengabaikannya.


Dengan menggunakan artifak pembesar suara, salah seorang jenderal penyerangan dari Kekaisaran Vlonhard tersebut berkata dengan angkuhnya, “Hahahahahahaha. Hancurkan tiap sudut kota sampah ini! Hancurkan benteng yang terlihat seperti kertas itu! Tiada di antara para kecoak ini yang akan sanggup untuk menghentikan kejayaan Kekaisaran!”


Helios telah kehilangan kesabarannya. Namun, begitu dia tepat akan kehilangan kendalinya, sesuatu tiba-tiba jatuh dari langit. Itu adalah aliran mana yang dia kenal dengan baik. Itu adalah milik kedua pengikutnya yang paling setia.


“Praaaak!”


“Aduh, duh, duh. Hei, Yasmin, bisakah kau mendarat dengan sedikit lebih mulus. Pantatku sakit tahu tersungkur di tanah.”


Mereka adalah Yasmin dan Albert.


“Yasmin, Albert, apa yang kalian lakukan di sini?” Helios bertanya dengan penasaran kepada mereka berdua.


“Masteeeeeer!” Namun, alih-alih menjawab pertanyaan Helios, Albert malah berlari demi memeluk masternya itu.


Akan tetapi seperti biasanya, Helios mengelak dengan lihai dari pelukan badan beruang milik Albert.


Mengabaikan Albert, Helios lantas menatap Yasmin, tetapi seketika Helios baru menyadari keanehan di pakaian Yasmin.


“Yasmin?” Helios pun menjadi gelisah dan memiliki berbagai pikiran yang liar setelah melihat pakaian Yasmin yang compang-camping tampak sudah sengaja ditarik-tarik hingga sobek di bagian atas dekat dengan dadanya.


“Hei, Albert, apa yang sudah kamu lakukan pada Yasmin?!”


“Hah, itu bukan aku kok yang melakukan itu pada Yasmin, Master. Itu Nunu.”


Sejenak, muncul pemikiran delapan belas tahun ke atas di antara kedua wanita yang beradegan panas di dalam kepala Helios. Namun, Helios segera menampik pemikiran itu. Malahan, dia jijik untuk memikirkannya.


“Albert benar, Master. Nunu bersikeras ikut dengan kami. Tapi karena itu akan menghambat kecepatan kami dan lagipula dia tidak akan banyak membantu di pertempuran, aku mengabaikannya dan hanya membawa Albert bersamaku saja.


“Ah, jadi itu ya mengapa pakaianmu sampai disobek Nunu?”


“Master?”


“Ehem, bukan apa-apa, Yasmin. Daripada itu, mengapa kamu bisa menggunakan jurus terbang?”


Itu adalah adegan ketika Helios datang dengan heroik ke hadapan Yasmin dengan sayapnya yang sebening es menyelamatkan benteng yang diserang oleh para kawanan monster tarantula dua tahun silam.


Seketika Helios terkagum akan bakat salah satu bawahannya yang sangat prominen itu. Dia memang semula sudah tahu bahwa Yasmin memiliki kekuatan yang omnipoten terhadap sihir layaknya Nunu, dan bahkan lebih hebat lagi darinya perihal berbeda dengan Nunu, Yasmin dilahirkan dengan sirkuit sihir yang sempurna.


Walau demikian, Helios masih terus saja terkagum-kagum dengan kecepatan Yasmin dalam mempelajari sihir yang bisa segera meniru sebuah sihir dengan sempurna padahal hanya sekilas melihatnya.


“Yang lebih penting daripada itu, Master. Serahkan saja masalah di sini pada kami.”


“Itu benar, Master. Serahkan saja semuanya pada kami. Master tidak perlu membuang-buang tenaga Master hanya untuk menghadapi para kroco ini.”


Sebenarnya, masih banyak yang Helios ingin tanyakan kepada mereka berdua terutama apakah sedari awal mereka sudah tahu soal invasi Kekaisaran Vlonhard ini sehingga mereka bisa datang kemari di waktu yang sangat pas, dan jika iya, darimana mereka bisa mendapatkan sumber informasi itu. Namun, karena waktu yang tak memungkinkan, Helios pun hanya melepaskan kepergian anak buahnya itu dengan senyuman.


“Aku mengerti. Kalian berdua pergilah. Beri pelajaran pada antek-antek kekaisaran yang sombong itu dan bawa kembali kemenangan.”


“Siap, Master.”


“Dimengerti, Master.”


Jawab Albert dan Yasmin secara bersamaan.


Dengan mempercayakan garis depan kepada kedua anak buahnya yang terhebat itu, Helios pun kembali menuju ke garis belakang untuk kembali merawat pasien yang masih dalam proses pemulihan.


Jika itu mereka berdua yang ada di sana, maka Helios merasa tidak perlu lagi untuk turut turun tangan, setidaknya itulah pemikiran Helios saat itu.


***


Di garis depan penyerangan, rupanya musuh dipimpin oleh dua orang jenderal terkenal dari Kekaisaran Vlonhard. Mereka adalah Charlot Jackiel Albaramaz dan Medina Valaqous Yospherina.


Dengan mempercayakan para kroco kepada prajurit kerajaan, Albert menembus pertahanan musuh dan langsung menuju ke tengah-tengah pusat komando mereka dan akhirnya bertemu dengan salah satu jenderal musuh tersebut, Charlot.


Sementara Medina ingin membantu Charlot menghadapi kecoak yang berhasil menyelinap tepat di bawah hidung mereka itu, salah satu prajurit gagah berani yang lain dari kerajaan menyerang dari atas dengan terbang menggunakan sayapnya yang seputih salju menghalau serangan Medina itu. Dia adalah Yasmin.


Terjadilah pertarungan dua kubu tingkat atas yang seketika menggemparkan tanah di sekeliling mereka.


Charlot maju dengan perlahan dengan pedang besarnya yang bahkan melebihi besarnya pedang Albert. Dia lantas menyerang dengan momentum pedang besarnya itu yang bahkan membuat pegangan pedang Albert hampir saja terlepas.


Kedua tangan Albert gemetaran hanya dengan menerima serangan tanpa aura dari Charlot tersebut.


Melihat itu, Charlot pun tersenyum. Kali ini dia mengaktifkan auranya untuk menyerang Albert. Albert lantas turut pula mengaktifkan auranya yang tipis yang bahkan tak bisa dibandingkan dengan Aura milik Charlot tersebut yang padahal mereka adalah sama-sama master pedang level 4.


Seketika berbenturan, aura pertahanan pedang milik Albert pecah bagaikan kaca rapuh. Albert pun terpental oleh serangan aura milik sang jenderal dari kekaisaran. Albert sudah menduga hal ini akan terjadi sehingga dia telah menyiapkan ancang-ancang agar impak serangan tidak akan terlalu fatal melukai fisiknya. Walau demikian, Albert tetap terluka parah.


“Siapa yang akan menyangka bahwa kekaisaran akan mengirimkan kartu as-nya hanya untuk invasi kecil-kecilan ini. Ck, kekaisaran benar-benar menangkap kita di saat keadaan terlemah kita.” Ujar Albert dengan putus asa.


Tetapi tiba-tiba, sebuah suara menggema di kepala Albert, “Wahai rekan seperjuangan sang terpilih, dapatkah kau mendengar suaraku?”


Itu adalah suara laki-laki yang menggema dengan sangat jelas di kepala Albert.