
Demikianlah aku pergi hanya dengan membawa Yasmin dan Alice bersamaku. Walau demikian, kami sanggup untuk menyapu bersih seluruh tentara Kerajaan Maosium yang diutus untuk mengacaukan kekaisaran kami.
Selepas dari sana, aku kembali mengajak Albert untuk bicara berdua denganku. Pembicaraan terakhir kami benar-benar membuatku merasa mengganjal.
Aku telah lama hidup bersama dengan si bodoh itu, jadi akulah yang paling mengenal sifatnya. Dia dari luar terlihat selalu bersemangat dan ceria, namun sejatinya dia adalah seseorang yang bermental lemah dan mudah down.
Dan kali ini, itu lagi-lagi terjadi hanya karena rasa cemburunya terhadap Alice dan Yasmin.
“Albert, dengar. Tidak baik untuk selalu membandingkan kemampuan kita dengan orang yang lebih jago dari kita. Terkadang, kita juga perlu memandang ke bawah agar kita dapat mensyukuri apa yang kita punya.”
“…”
Si bodoh itu hanya mengangguk dalam diam menanggapi ucapanku sehingga aku pun tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya untuk membuat mentalnya itu pulih.
“Dengar ya, Albert. Menurutku, kamu sebagai seorang petarung sudah cukup hebat, lho. Kamu kan baru-baru ini mengalahkan Charlot yang dikenal sebagai penjagal di Kekaisaran Vlonhard. Janganlah terlalu membandingkan diri kamu dengan Alice atau Yasmin. Mereka itu kini telah berada di ranah yang tidak bisa dibandingkan lagi dengan manusia normal.”
“…”
Bukannya semangat, kini Albert justru tambah menunduk dengan mata yang berkca-kaca sehingga sedikit saja kusentuh lagi, mungkin mentalnya akan benar-benar break down. Apa yang harus kulakukan pada satu-satunya pengawal kepercayaanku ini?
Namun itu bukan berarti aku mempunyai banyak waktu untuk mengurusi bayi besar itu yang bahkan tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri yang sangat mudah jatuh mental. Aku pun kembali membiarkannya sementara waktu dan berharap bahwa waktu akan menyembuhkan luka-lukanya.
Tidak, lagian itu salah!
Jika kamu segitu merasa kemampuanmu kurang, seharusnya kamu manfaatkan waktu-waktu yang ada untuk latihan lebih giat lagi demi menjadi lebih kuat, bukannya jadi murung seperti orang idiot! Jika begini terus, aku khawatir bahkan Damian akan segera menyusul kemampuan Albert karena kudengar baru-baru ini dia baru saja terpromosikan menjadi swords master level 5 selama perang.
Aku pun untuk sementara waktu menitipkan Albert kepada Paman Alcus yang merupakan swords master level 6, berharap dia bisa mendidiknya menjadi seorang individu yang bermental lebih kuat.
Dua bulan setelah perang berlalu, Kak Vierra kini berhasil melahirkan bayinya dengan selamat. Dia menamakan bayinya dengan nama Ilyaas yang berarti kebaikan jika diterjemahkan dari bahasa kuno.
Semejak kekuasaanku kini telah kokoh di kekaisaran baru ini, tiada lagi yang berani menentangku dan itu semakin memudahkanku untuk menjadikan Ilyaas di bawah pundi-pundiku.
Kalau dibilang apakah aku tidak khawatir dengan peringatan Duke Rodriguez, sebenarnya aku sangat khawatir. Bagaimana pun kini Ilyaas telah resmi menjadi salah satu pangeran yang bisa mewarisi tahta. Aku takut jikalau besar, dia akan bersitegang dengan Helion hanya karena masalah tahta.
Begitulah bibit dari keluarga kerajaan Meglovia selama ini, hanya selalu menyisakan seorang keturunan di tiap generasinya, dan untuk generasi sebelumnya, yaitu Ibunda. Ini benar-benar membuatku khawatir, merasa bahwa memang benar ada semacam kutukan yang mengalir di garis keturunan keluarga kami.
Tetapi karena di generasiku ada aku dan Ilene, kurasa itu hanyalah sekadar omong kosong belaka, jadi aku tak terlalu memikirkannya kini.
Kembali kepada masalah Ilyaas, sejatinya, ayahnya-lah, Tius star Meglovia, yang harusnya mewarisi tahta alih-alih diriku. Kutakut ini akan menjadi pembenarannya di masa depan untuk merebut hak tahta milik Helion ketika tiba saatnya nanti.
Tetapi itu hanyalah cerita untuk masa depan yang masih panjang. Kuharap dengan mendidiknya dengan baik, mereka akan menjadi saudara yang akur layaknya saudara kandung.
Namun kemudian, timbul masalah lagi dengan Kekaisaran Vlonhard yang telah kami kalahkan tersebut.
Ini berawal dari senat yang memutuskan untuk mengeksekusi seluruh anggota keluarga kekaisaran Vlonhard yang tersisa beserta para bangsawan bawahan mereka yang menjadi tokoh utama pelecehan perang termasuk seluruh keluarga mereka untuk mencegah tragedi yang sama terulang kembali dan mencaplok negeri mereka di bawah pundi-pundi Kekaisaran Meglovia.
Aku tidak punya alasan untuk membantah itu. Bagaimana pun, tidak ada itikad baik dari mereka untuk berdamai dengan kekaisaran kami. Mereka terlalu rasis dengan bangsa lain yang mereka anggap tak lebih dari sekadar monyet, terutama itu didalangi oleh sang Ratu Pertama.
Namun berkat mempertimbangkan Lusiana, aku memutuskan untuk menyelamatkan Permaisuri yang merupakan ibunda mantan putra mahkota Albexus dan Ratu Ketiga yang merupakan ibunda dari Lusiana beserta anak-anak mereka yang lain, Pangeran Keenam, Pangeran Ketujuh, dan Putri Keempat.
Putri Pertama dan Putri Kedua dieksekusi bukan sebagai keluarga kekaisaran, tetapi sebagai pengikut keluarga suami mereka masing-masing yang terlibat secara aktif dalam pelecehan perang tersebut.
Sayangnya, tiada jejak yang tersisa dari Pangeran Ketiga. Dia berhasil melarikan diri dengan menghapus semua jejaknya. Adapun untuk Pangeran Kelima, dia sedari awal tidak ada lagi di Kekaisaran Vlonhard sewaktu pelecehan perang terjadi, jadi aku pun memutuskan untuk memutihkan statusnya sebagai penjahat perang.
Namun, masalah lain timbul menyusul hal itu. Bagaimana pun rakyat membenci pemerintahan mereka, bahkan setelah ditunjukkan kekejian proyek the first order keluarga kekaisaran mereka yang mengorbankan rakyat mereka sendiri, mereka tetap lebih membenci penjajah dari tanah asing.
Itu jelas adalah salah Vlonhard yang berniat untuk menjajah negeri kami duluan, namun setelah mereka jelas kalah, kamilah yang disalahkan sebagai penjajah yang mencaplok tanah mereka. Tentu saja itu hak kami sebagai pemenang perang untuk kalian membayar kerugian atas perang yang kalian sebabkan sendiri.
Ada dua pilihan sebagai kaisar yang dapat aku ambil terhadap mereka.
Pertama melepaskan mereka tanpa pemerintahan di mana tentu nantinya mereka akan menghancurkan diri mereka sendiri sejak mereka akan kekurangan uang pasca membayar biaya kekalahan perang. Itu tentu saja bukan urusanku lagi dan buat apa juga aku menolong mereka yang begitu rasis terhadapku.
Tetapi jika itu dibiarkan lebih lanjut, ini tentu saja akan membahayakan keamanan perbatasan utara kekaisaran kami sejak pasti akan timbul bandit dan penjarah baru di tanah tandus pasca perang dari orang-orang yang kelaparan itu.
Lalu ada pilihan kedua. Kami tinggal membumihanguskan mereka saja semuanya sekaligus, tidak peduli bangsawan atau rakyat jelatanya, mengusir mereka dari tanah air mereka yang telah kalah dari perang. Walaupun itu terkesan tidak manusiawi, aku punya hak untuk melakukannya sejak aku yang memegang kekuasaan.
Tetapi itu tentunya akan menjadi alasan bagi negeri lain untuk menjadikan kami sebagai musuh bersama mereka yang merusak prestige hak asasi manusia dan itu tentunya berbahaya bagi tatanan negeri kami di masa depan.
Melihat permasalahan pelik itu, Lusiana pun datang menemuiku secara formal di depan para audience. Namun apa yang disampaikannya benar-benar membuatku naik pitam.
“Yang Mulia, hanya ada satu cara untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan damai. Lagipula sejak awal, rakyat kekaisaran kami berunjuk rasa hanya karena mereka tidak rela saja tanah mereka dijajah oleh bangsa asing…”
“Berani-beraninya kau mengatakan hal itu padahal kekaisaran kalian sendirilah yang memulai perang dan hendak menjajah tanah air kami duluan! Bersyukurlah kalian karena aku tidak menjual para tawanan perang dari bangsa kalian sebagai budak untuk menutupi kerugian kami pasca perang! Kami hanya meminta sedikit ganti rugi kepada kalian dengan jumlah yang wajar, dan itupun kalian masih keberatan?!”
“Maafkan hamba, Yang Mulia. Bukan maksud hamba untuk mengkritik Yang Mulia seperti itu. Hamba hanya ingin menawarkan diri hamba sebagai selir Yang Mulia agar Yang Mulia bisa memanfaatkan hamba sebagai alasan untuk menenangkan amarah rakyat.”
Aku seketika menganga agape, tidak paham dengan jalan pikiran putri kekaisaran tetangga itu. Menawarkan dirinya sebagai selir? Apa dia pikir kecantikannya itu berhasil membuatku terpesona lantas akan mengkhianati Talia, istri yang paling kucintai di dunia ini?!
“Berani-beraninya kau mengatakannya! Memangnya rakyat kalian itu pikir mereka siapa, hah?! Hanya dengan sedikit jentikan jariku saja, mereka dan seluruh keturunan mereka akan musnah!”
“Yang Mulia!”
Itu bukanlah Lusiana yang berteriak. Itu adalah Talia yang selama ini duduk bersamaku dalam diam di atas singgasana permaisuri-nya.
“Mohon pertimbangkan usulan dari Putri Lusiana itu, Paduka Kaisar. Aku pun sebagai permaisuri negeri ini berpikir bahwa itu adalah solusi yang terbaik.”
Ujar Talia dengan tanpa ekspresi kesedihan apapun.
Bahkan ketika aku melirik kepada perdana menteriku yang tidak lain adalah ayah Talia sendiri, mantan Marquess Newmann van Growmyerre, dia hanya mengangguk seakan sebagai isyarat dia pun menyetujui usul Talia itu.
Apakah hanya aku yang gila di sini?
Lantas bagaimana dengan cinta kita yang tidak akan terpisah selamanya?
Aku selama ini mengutuk seseorang yang melakukan pernikahan politik karena kekuasaan. Menikah itu karena cinta dan kekuasaan bisa diraih dengan sendirinya jika kita bertambah kuat. Aku tidak semengenaskan itu untuk menikahi putri kekaisaran tetangga demi membangun kekuatan.
Aku menikahi Kak Vierra hanya semata-mata demi status untuk menyelamatkan masa depannya. Tetapi tidak ada alasanku untuk menikahi Lusiana!
Tetapi mengapa justru orang yang kucintai mengkhianati rasa cintaku ini?
“Mengapa, Talia?”