
“Noel Dumberman, jadi apa semua ini ulahmu?!”
Tatapan menusuk tajam seketika diarahkan oleh Helios kepada Noel Dumberman yang telah membawa sebuah portal yang terhubung dengan ribuan bangsa demon di belakangnya.
“Ulah? Aha! Aku tidak terlalu memahami arti ulah yang kamu maksud di sini, tapi apapun yang ada di pikiranmu, anggap saja itu benar.”
Noel Dumberman masa bodoh dengan pertanyaan Helios tersebut dan itu semakin membuat Helios geram.
“Kamu sialan!”
Helios tanpa berpikir panjang lagi segera menyerang Noel Dumberman.
“Master, tunggu!”
Yasmin yang ada di belakang Helios, ingin mencegah sang master dalam berbuat tindakan ceroboh yang bisa membahayakan dirinya sendiri, namun gerakan Helios terlanjur terlampaui cepat untuk ditangani oleh Yasmin.
-Trang.
Pedang aura Helios pun berbenturan dengan tajamnya cakar Noel Dumberman.
Yasmin kemudian bergegas ingin segera membantu Helios di dalam pertarungan itu. Sayangnya, beberapa dummy yang terbentuk dari sisik-sisik Noel Dumberman dilemparkan oleh sang villain yang harus membuat Yasmin sibuk untuk beberapa waktu.
“Aku salah berpikir bahwa kamu orang yang baik. Ternyata beginilah sifat aslimu!”
-Trang, trang, trang.
“Aku sama sekali tidak mengerti dengan maksud orang baik di ucapanmu itu, Hero. Tapi kalau kau mengacu pada aku yang sudah melatihmu beberapa jurus, sebaiknya kau pertimbangkan kembali. Itu semua kulakukan tanpa ada intensi niat baik sedikitpun.”
“Benar juga. Memangnya apa yang kuharapkan dari seekor monster sepertimu. Kau tidak jauh bedanya dengan para witch itu.”
-Trang, trang, trang.
Duel terus berlangsung. Benturan antara pedang aura Helios dan cakar Noel Dumberman semakin intens.
Tinggal menunggu waktu sampai portal terbuka sepenuhnya. Namun Helios tidak dapat segera menutupnya karena terhalang oleh Noel Dumberman. Satu-satunya cara agar Helios bisa segera menutup portal tersebut adalah dengan membunuh Noel Dumberman sebagai mastermind yang menghalangi langkahnya sebelum bergegas lari untuk menutup portal yang bersangkutan.
Helios telah mahir menerapkan rune yang dapat mengganggu keseimbangan kerja portal, terima kasih berkat ilmu yang diberikan oleh Milanda beserta latihan praktiknya yang diberikan oleh Dokter Minerva. Jadi yang tersisa yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana caranya membunuh Noel Dumberman.
Helios berlari menukik ke samping untuk berada pada titik buta Noel Dumberman yang diakibatkan oleh matanya yang rabun sebelah perihal sisik, namun seperti yang sudah diduganya, itu sangatlah sulit untuk menipu seorang Noel Dumberman.
Miasma segera naik menghalau Helios. Namun, latihannya bersama sang guru selama ini tidaklah sia-sia. Dia telah sedikit lebih paham terhadap gerakan Noel Dumberman. Helios mengaktifkan barier pelindung untuk melindunginya sejenak dari bahaya miasma sambil dia berlari untuk menebas Noel Dumberman.
Lalu,
-Slash.
Helios yang sudah berlatih di bawah arahan Noel Dumberman, kini benar-benar berhasil menggores sisik kerasnya itu setelah berlatih menajamkan pedang auranya.
Cakar melayang ke arah Helios, namun Helios segera bersalto untuk menghindarinya. Dijadikanlah tangan Noel Dumberman yang melayangkan cakar itu sebagai landasan. Lalu,
-Tuak.
Helios berhasil melayangkan tendangan cantik ke arah wajah Noel Dumberman.
-Ptui.
Noel Dumberman meludahkan darah.
“Kini gerakanmu tidak lagi lucu, Hero. Kamu terlihat lebih waspada dan gerakanmu semakin variatif sehingga tidak mudah dibaca. Latihan kita memang tidak sia-sia.”
Ada rasa pahit di hati Helios ketika sang guru menyinggung hal tersebut. Bagaimanapun dia dari dulu telah membulatkan tekadnya bahwa Noel Dumberman adalah eksistensi yang harus dibunuhnya.
“Terima kasih, guru.”
Dia menggumamkan kalimat itu di dalam sanubarinya sembari tanpa ragu berlari untuk melayangkan serangan selanjutnya kepada Noel Dumberman.
Helios maju melayangkan pedang auranya, lantas Noel Dumberman ingin menangkisnya dengan cakarnya. Namun hal yang tak diduganya, pedang aura Helios itu menekuk dengan licik menghindari cakarnya lantas,
-Slash, slash, slash.
Itu berhasil mengenai badannya berkali-kali hingga Noel Dumberman pun berada dalam luka yang fatal.
“Ukh.”
Kali ini dia tidak hanya meludahkan darah, tetapi ada muntahan darah yang keluar sendiri lewat mulutnya.
Noel Dumberman memegangi dadanya sendiri yang terluka akibat terkena sayatan Helios.
Pergerakan Noel Dumberman tampak telah terkunci oleh luka-lukanya.
Di situlah Helios menyadari, Noel Dumberman tidak sehebat yang diduganya. Selain keahliannya membaca gerakan serta kulitnya yang keras, Noel Dumberman sebenarnya adalah lawan yang cukup kikuk dengan berbagai kekurangan.
Kini, Noel Dumberman bukan lagi momok yang mengerikan bagi Helios.
Helios pun berlari untuk melakukan serangan penghabisan.
Di luar dugaan, kali ini tidak ada niat untuk Noel Dumberman menghindar. Dia justru hanya menutup matanya, memasrahkan pedang aura Helios itu mengakhiri hidupnya.
Namun, sesaat sebelum pedang itu berhasil mengenai leher Noel Dumberman,
-Baaaaaaang!
Portal yang berada di belakang Noel Dumberman tiba-tiba saja meledak hingga para demon dari benua iblis pun berhasil keluar dari sana setelah portal yang meledak itu berhasil terbuka. Impak dari ledakan seketika menghempaskan tubuh Helios, lantas secara beruntung itu menyelamatkan nyawa Noel Dumberman.
“Tidak, bagaimana ini?”
Daripada memperhatikan Noel Dumberman, kini terlihat benar raut wajah putus asa pada ekspresi Helios menatapi ribuan demon mengerikan berhasil menembus masuk ke wilayah Benua Ernoa.
“Ck.”
Helios mendecakkan lidahnya dan segera kembali pada kesadarannya.
Itu bukan saatnya untuk frustasi.
Helios yang telah mutlak melupakan keberadaan Noel Dumberman berfokus pada para demon yang berasal dari benua iblis tersebut.
-Swooosh!
Helios membuka formasi busur dungeon lantas monster-monster keluar merangkak dari dalam tanah. Undead, ghost, insect, beast, lipan, tarantula, troll, titan, holy beast, minotaur, segala jenis monster keluar merangkak dari dalam tanah. Itu tidaklah menyerang Helios yang telah memanggil keberadaan mereka, tetapi para monster justru menghalau para demon yang hendak keluar dari dalam portal.
Pertarungan antara demon dan monster pun terjadi di bawah kepemimpinan Helios, sang pemilik formasi dungeon baru setelah melulusi ujian Milanda.
Sayangnya, dengan semakin banyaknya pula monster yang disummon oleh Helios, itu juga akan berdampak buruk bagi tubuhnya sebab sejatinya mana yang kini digunakan oleh para monster juga tidak lagi bersumber pada Milanda dan Arxena, melainkan mutlak mana milik Helios sendiri.
Sebanyak apapun mana di dalam mana pool Helios, itu juga tetap akan ada batasnya. Helios mencoba mengekstensi mana-nya melalui pola rune yang menarik mana alam dari luar secara instan ke tubuhnya. Namun, tetap itu ada efek sampingnya.
Para demon efektif dihalau dengan menggunakan para monster, tetapi itu harus dibayar dengan semakin terdeteriorasinya tubuh Helios.
“Ukh.”
Helios pun mulai memuntahkan darah.
Namun di saat keadaan Helios mulai tampak buruk,
“Dasar, Master memang tidak bisa apa-apa tanpaku.”
Seseorang datang menyelamatkannya dengan penyelamatan yang cantik. Tetapi itu bukanlah Yasmin yang masih sibuk menghadapi dummy dari Noel Dumberman yang semakin dibelah, semakin pula tumbuh banyak yang akhirnya mengeroyok Yasmin dalam jumlah yang hampir tak terbatas.
Itu adalah anak buah kepercayaan Helios yang lain. Melihat sosok tersebut berada di tempat itu saat ini, Helios pun membelalakkan matanya tidak percaya.
Sosok sang grand master itu, mengeluarkan pedang besarnya yang bersinar yang dilapisi oleh segenap auranya yang murni. Lantas tanpa hesitasi, dia pun mulai mengayunkan pedangnya pada para demon.
Sosok itu sama sekali tidak mengkhawatirkan jika beberapa monster ikut tertebas selama prosesnya karena dia tahu bahwa itu bukanlah hal yang penting untuk dicemaskan sejak monster-monster hanyalah makhluk summon yang bisa didaur ulang kapan saja.
Para demon perlahan tapi pasti, hancur dalam sapuan maut pedang sosok itu tanpa bisa melawan balik di dalam dahsyatnya serangan sepanas matahari itu yang mengenai tubuh mereka secara langsung. Sosok demon sejatinya adalah sosok kuat yang empat saja keberadaan mereka telah berhasil membantai party Alice di masa lalu yang terdiri dari para prajurit yang prominen di bidangnya.
Helios sendiri masih ragu akankah bisa selamat dari kepungan ribuan demon-demon itu sejak satu demon terlemah saja sudah setara dengan seekor monster berlevel heroik tingkat menengah. Begitulah hebatnya para demon jika dibandingkan dengan monster lainnya, sama sekali tak layak dibandingkan kekuatannya.
Walau begitu adanya, sang sosok berpedang secerah matahari, mampu mengalahkan ribuan demon-demon itu dalam sapuan pedangnya.
Helios menatap sosok itu dengan kaget.
“Albert?” Ujar Helios pada sosok itu.
Ya, sejatinya sosok tersebut di luar dugaan adalah Albert, yang telah diduga beberapa bulan lalu tewas dalam rencana pengkhianatan Damian.
Helios seharusnya sempat melihat mayatnya sendiri terkapar tak berdaya tewas di tangan Damian, lantas Helios sendiri yang telah menggunakan jasad milik Albert untuk diubahnya menjadi zombie untuk mengeliminasi para musuh yang menyebabkan kematiannya sampai kulit dan daging Albert benar-benar terdeteriorisasi dan benar-benar musnah.
Lantas mengapa sosok yang seharusnya telah berada di alam lain itu justru berdiri di hadapan Helios saat ini? Itu sama sekali tak dimengertinya.
Namun alih-alih mempertanyakan keanehan itu, air mata Helios tumpah perihal kesenangan tak tergambarkan yang dia rasakan. Helios bahkan lupa waspada jika seandainya saja sosok itu hanyalah makhluk lain yang menyamar sebagai Albert.
“Albert, syukurlah kau masih hidup.”
Albert menerima pelukan Helios itu dengan lapang dada karena menyadari rasa sedih yang dirasakan oleh masternya selama ini. Namun sejenak kemudian, Albert terpaksa harus menghentikan kesenangannya itu.
“Maaf, Master. Pasti banyak yang Master ingin tanyakan. Tapi mari kita tunda itu dulu sejak ada yang lebih mendesak di timur.”
Pikiran Helios segera tersadar tentang ancaman dari timur tersebut, serangan dari Benua Asium. Helios mutlak melupakan keberadaan Noel Dumberman yang sekarat atau dia hanya sekadar tak mau untuk membunuh gurunya tersebut jauh di dalam lubuk hatinya.