
Sihir objek diarahkan oleh Isis kepada Helios.
Tidak. Helios telah salah menduga. Sedari awal apa yang menjadi sasaran Isis adalah Leon.
Helios terlambat menyadari hal itu.
“Tidak! Leon!”
Sejak tak ada waktu lagi mengeluarkan mana demi menangkis sorcery tersebut, Helios pun berlari menggunakan tubuhnya sebagai tameng. Dia menggenggam erat tubuh Leon yang berada di belakangnya.
“Master!”
“Master!”
Yasmin dan Alice akhirnya menjadi turut panik melihat Helios-lah yang kini kemungkinan akan terkena oleh sorcery Isis.
Alice tak sempat lagi untuk mendarat ke tempat Helios berada, namun Yasmin masih punya peluang. Di detik-detik terakhir, Yasmin mampu berdiri di depan Helios.
Rupanya, itu bukanlah sorcery objek secara langsung, melainkan sorcery objek yang dilayangkan oleh Isis untuk mendistorsikan ruang dan waktu di sekitar untuk memerangkap apa yang ada di dalamnya ke dalam suatu ruangan dimensional yang dapat terlepas dari konsep ruang dan waktu dunia nyata.
“Tidak! Master!”
Helios, Leon, dan Yasmin terhisap ke dalam ruangan dimensional tersebut yang membuat Alice yang tidak dapat sanggup turut menggapainya seketika berteriak histeris.
Blow up yang sangat dahsyat pasca momentum yang dikeluarkan oleh ruangan dimensional yang terisolasi dari dunia luar ketika terbentuk tersebut membuat Madam Shipton hampir terhempas dengan sangat dahsyat pula. Untunglah Alice sempat menangkapnya sebelum nenek tua itu harus terhempas ke belakang dengan tubuhnya yang telah tua dan keriput.
“Nenek, apa Anda baik-baik saja?”
Namun Madam Shipton tidak lagi sempat memperhatikan pertanyaan Alice tersebut.
Raut wajah Madam Shipton tiba-tiba menunjukkan ekpresi kekhawatiran yang melebihi batas sekadar panik. Iu ketakutan seakan melihat akhir dunia. Seluruh tubuhnya gemetaran. Dia yang tak mampu lagi menahan berat tubuhnya sendiri dengan badannya yang telah renta itu, akhirnya tersungkur ke tanah.
“Tidak. Apakah pada akhirnya ramalan di dalam setiap mimpi burukku tersebut memang tak dapat diubah?” Lirih Madam Shipton dengan putus asa.
***
“Ukh.”
“Master, apa Anda baik-baik saja?”
Helios segera kembali ke kesadarannya. Di hadapannya telah pula berada Yasmin yang siap melindunginya kapan saja.
Begitu Helios menelisik apa yang ada di dalam pelukannya, dia segera bernafas lega. Dia berhasil melindungi Leon, adiknya yang telah dikira meninggal sebelumnya tersebut, dari sorcery sang witch Isis yang kejam.
Namun ekspresinya seketika kusut melihat bahwa Leon sangat sedang tidak baik-baik saja.
“Ukh.”
“Leon, bagian mana yang sakit?”
Leon segera bangun dari pelukan Helios lantas menolak tawaran bantuan Helios tersebut untuk memapahnya.
“Aku baik-baik saja, Kak. Tidak usah terlalu khawatir. Daripada itu…”
“Ya. Kita harus mampu membunuhnya di tempat ini.”
Kedua kakak-beradik itu seketika melihat Isis yang ada di hadapan mereka tampak membulatkan tekad mereka untuk bertarung habis-habisan. Walau demikian, ekspresi kejam di wajah Isis tidak bergidik sedikit pun terhadap hawa membunuh kedua kakak-beradik tersebut.
Namun begitu kedua kakak-beradik itu hendak menyerang Isis,
“Aaakkkkhhhh!”
Helios terpental ke belakang dan seketika sekat tak kasat mata terbentuk di antara ketiga orang yang berada di dalam ruangan dimensional tersebut.
Leon berdiri sendirian di depan di mana Helios dan Yasmin sama-sama terkurung di dalam sesuatu yang menyerupai sangkar secara terpisah.
“Sayangnya aku tetap harus mematuhi perintah dari Raja Iblis untuk tidak menyentuh sang terpilih. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa melepaskan kemarahan ini karena sikap kurang ajarnya. Jadi apa ya yang kira-kira bisa kulakukan?”
-Swooosh.
Isis segera melayangkan sorcery yang sangat tampak aneh seakan berasal dari dimensi yang berbeda.
“Aaaaakkkkhhhh!”
Sasarannya bukanlah Helios maupun Yasmin, tetapi justru Leon yang berdiri di luar sangkar sendirian.
“Aku dilarang menyentuh sang terpilih, begitu pula dengan keluarganya karena Raja Iblis tidak ingin mainannya rusak secara mental sebelum menghadapinya secara langsung. Tetapi bagaimana ini? Apa yang kusakiti saat ini adalah tidak lain mainanku sendiri bernama Noel yang sudah rusak karena berani melawan majikannya sendiri.”
Ujar Isis sembari tersenyum penuh kesinisan menatap Helios.
“Isis bajingan!”
Helios begitu murka. Namun semurka apapun dirinya, dia tetap tak bisa melepaskan diri dari belenggu sangkar sorcery objek milik Isis.
“Aku baik-baik saja, Kak. Jadi Kakak duduk diam saja di sana! Tidak usah terprovokasi pada ucapan nenek tua itu. Aku sendirilah yang akan membunuhnya.”
-Swosh, swosh.
Aliran sorcery aneh Isis sekali lagi mengalir baik dari sisi kanan maupun dari sisi kiri Leon. Namun Leon kali ini tidak lagi menggunakan cakarnya untuk bertarung. Dia mensummon pedang auranya lantas mengeluarkan ledakan aura melalui pedangnya untuk menghempaskan sorcery objek Isis menjauh dari sekitarnya.
Dengan cepat Leon berlari memperpendek jarak antara dirinya dan Isis. Tipe petarung jarak jauh biasanya akan segera melemah begitu jarak pertarungannya dibuat menjadi pendek, atau setidaknya itu yang diduga oleh Leon.
-Trang.
Namun ketika Leon hendak akan menebas leher Isis, tiba-tiba muncul tongkat ular di tangannya yang bahkan sanggup menangkis tajamnya pedang aura milik Leon tersebut.
Akan tetapi jurus Leon tidak berhenti sampai di situ saja. Amukan api keluar secara membara dari balik pedang yang hendak akan menelan Isis hidup-hidup. Namun jurus Isis pula belum berakhir. Dari balik tongkat ularnya, keluar penampakan ular-ular spiritual ganas yang seketika melahap tiap api milik Leon.
-Tuk, tuk, tuk, tuk, tuk, tuk.
“Ukh.”
Ular-ular ganas itu lanjut menjalar lantas mematuk-matuk sekujur tubuh Leon. Kerasnya sisik menahan Leon untuk terluka fatal, walau demikian, patukan ular setidaknya berhasil semakin membuat sisik-sisik Leon terdeteriorisasi yang pada akhirnya membuat kulit bagian dalamnya juga ikut membusuk.
“Leon!”
Hal itu semakin membuat Helios yang hanya mampu menyaksikan kejadian penyiksaan adiknya dari dalam kandang objek itu menjadi semakin histeris.
-Ptui.
Leon memuntahkan darah dari balik ludahannya.
Kondisinya terlihat sangat putus asa. Walau demikian, tatapan matanya menunjukkan hal yang berlainan. Leon sama sekali tak menganggap bahwa keadaannya saat ini adalah suatu keputusasaan. Setidaknya, Leon berpikir bahwa masih ada peluang bagi dirinya untuk mengalahkan Isis.
-Swarsh.
Leon memancangkan pedangnya ke samping. Seketika muncul ilusi-ilusi pedang yang membentuk heksagonal bersamaan dengan pedang aura asli yang ada di tangannya.
Leon kembali maju menghadapi Isis. Gerakannya lebih lambat daripada yang sebelumnya. Itu pun lantas membuat Isis tersenyum sinis padanya mengira bahwa kekuatannya telah berkurang banyak sejak serangan terakhirnya kepada Leon.
Namun Isis telah salah. Sama seperti dirinya yang menguasai sorcery objek, Leon berhasil bertahan hidup berkat sambungan kehidupan yang disalurkan oleh dirinya sendiri itu kepada Leon, membuat Leon kini juga akhirnya memahami sedikit banyak tentang sorcery objek berkat buah pengetahuan yang dia otomatis pahami berkat terkoneksinya alam pikiran Isis dan Leon dengan terbentuknya kontrak majikan-hewan peliharaan antara Isis dan Leon tersebut.
Itu berarti Leon sekarang juga bisa menggunakan sihir objek.
Berbeda dari dugaan Isis, pedang aura Leon hanya berhasil melewati tongkat ularnya tanpa berbenturan sama sekali. Lalu tanpa disangka-sangkanya,
-Slash, slash, slash, slash, slash, slash.
“Aaaaakkkkhhhh!”
Beberapa tebasan aura berhasil mengenai tubuh yang telah dirawatnya dengan susah-payah itu selama lima ribu tahun lebih.
Itu rupanya tidak berhasil sampai memberinya luka fatal karena segera tersembuhkan oleh kekuatan penyembuhan mana mati yang tersimpan di dalam dirinya yang telah dikumpulkannya selama lima ribu tahun tersebut, tetapi setidaknya dia jadi mengalami lebam-lebam yang tidak sepenuhnya bisa disembuhkan bahkan oleh mana matinya tersebut.
“Tubuh indahku… Budak sialan! Terkutuk kau!”
Isis yang sebelumnya telah sangat murka kepada Leon kini malah semakin menjadi-jadi sampai di taraf di mana witch itu akhirnya memperlihatkan kegilaannya.
Isis tidak peduli lagi dengan penampilan cantiknya begitu bertarung kala itu. Ekspresinya beringas, sangat tidak sesuai dengan image wajah yang seharusnya penuh keanggunannya.
-Trang, trang, trang, trang.
Suara tongkat dan pedang aura beradu semakin intens terdengar. Baik Leon maupun Isis sama-sama meningkatkan kecepatannya untuk menyerang tanpa terlihat ada satu pun yang ingin menyerah terhadap yang lain walau dengan semakin intensnya pertarungan.
Udara terasa semakin panas berkat aura api milik mereka berdua.
Namun kemudian, seiring Isis bertambah kesal, pace menyerangnya pun semakin meningkat pesat yang menunjukkan kalau dia benar-benar adalah seorang monster. Pace menyerang tersebut semakin meningkat dan terus meningkat hingga tibalah ke suatu titik di mana Leon tak lagi mampu dapat menyeimbanginya.
-Trang, trang, trang, trang.
Leon bersalto ke sudut atas kanan, sudut atas belakang, depan, kanan, serta berbagai arah lain secara bergantian demi menutupi celah yang seketika terbentuk di antara dirinya dan Isis ketika pertarungan memasuki babak yang semakin intens.
Rencana Leon adalah untuk mengulur waktu selama mungkin untuk menghabiskan stamina Isis yang terlihat sedang dalam keadaan tidak terkontrol lagi untuk memikirkan batasan pengeluaran kekuatan tubuhnya yang tentunya tidak dalam jumlah yang tak terbatas.
Dengan demikian, begitu stamina Isis berkurang drastis dan dia menunjukkan kelemahannya, Leon akan segera memberikan serangan eksplosif tiba-tiba untuk mengincar bagian vital sang witch objek tersebut.
Namun Leon salah menduga. Gerakan Isis hanya semakin cepat dan bertambah cepat saja sehingga justru Leon-lah yang akhirnya melakukan kesalahan.
Suatu ketika dia melayang di atas udara, kaki kanan Leon terbentur oleh tongkat ular Isis yang menyebabkan keseimbangannya seketika goyah yang itu langsung dimanfaatkan Isis dengan baik untuk segera menghempaskan tubuh Leon ke dinding.
Lalu kemudian,
-Srarararak.
“Tidak! Leon!”
Helios di dalam kandang objek milik Isis hanya bisa membelalakkan matanya begitu jurus petir bercampur api dahsyat milik Isis itu mengenai Leon yang telah terkapar tak berdaya lantas mulai membakarnya hidup-hidup.