
Albert yang terluka parah dibawa ke klinik Venia atas perintah pimpinan Kota Painfinn sementara, Leon.
Walau demikian, yang melakukan perawatan di sana bukanlah Venia, melainkan sang pemilik skill penyembuhan luar biasa, Yasmin.
Yasmin mulai mengalirkan apa yang disebut orang-orang sebagai api suci ke seluruh tubuh Albert.
Apa yang disebut orang-orang sebagai api suci itu sejatinya adalah foton-foton cahaya sihir yang membuat aktivitas regenerasi sel-sel makhluk hidup bertambah cepat. Oleh karena itu, Albert pun mulai tersembuhkan dengan luka-lukanya segera teregenerasi pulih di bawah sentuhan lembut api suci dari Yasmin.
Walau demikian, api suci itu tak bisa menyembuhkan sirkuit sihir Albert yang rusak.
“Yasmin, aku belum bisa merasakan inti mana Albert pulih.” Ucap Helios dengan was-was sambil menatap bolak-balik antara Yasmin dan Albert.
“Maafkan aku, Master. Perawatan Albert seharusnya sudah selesai. Kini dia seharusnya sudah pulih sepenuhnya.”
Seperti apa yang dikatakan oleh Yasmin, seluruh luka-luka parah di tubuh Albert sudah tersembuhkan sepenuhnya. Walau demikian, sirkuit sihirnya tetaplah apa adanya, bagian yang seharusnya ditempati oleh inti mana tetaplah dalam keadaan rusak seperti pada awalnya.
Di situlah Helios baru menyadari suatu teori yang pernah dibacanya di dalam buku. Kekuatan penyembuhan api suci sejatinya hanyalah kekuatan yang merangsang sel-sel di tubuh untuk memaksimalkan dan mempercepat kinerjanya dalam menyembuhkan diri.
Namun defenisi menyembuhkan diri itu mengacu kepada bentuk keadaan semula yang dinilai normal oleh tubuh. Sama halnya ketika orang buta yang terluka matanya diobati dengan kekuatan api suci. Luka pada mata orang buta itu akan tersembuhkan, tetapi dia akan tetap buta apa adanya seperti semula. Itu karena tubuhnya telah terlanjur menganggap kondisi butanya itu adalah hal yang normal bagi tubuhnya.
Begitu pula pada kondisi tubuh Albert saat ini. Kerusakan inti mana-nya telah terjadi sejak dia berusia 7 tahun sehingga kondisi itu akhirnya telah dinilai normal oleh tubuh Albert. Akibatnya, kekuatan api suci tak lagi menyembuhkan kerusakan inti mana-nya.
Dengan kecewa, Helios pun terduduk sembari merengut. Dia menggenggam tangan Albert yang masih tertidur itu erat-erat.
“Albert.” Lirih Helios.
Alice dan Nunu yang ikut menyaksikan pemandangan itu hanya mampu memberikan tatapan simpati kepada Albert.
Situasi diam untuk sejenak, tetapi tiba-tiba, Yasmin memegangi kepalanya lantas terjatuh ke lantai. Seketika, semua pandangan tertuju kepada Yasmin.
Helios segera melepaskan tangannya dari Albert lantas bergegas menghampiri Yasmin.
“Yasmin, kamu kenapa?”
Yasmin menggeleng kepada pertanyaan Helios itu dan berkata bahwa dia baik-baik saja hanya sedikit keletihan sembari tersenyum.
Helios lega sejenak lantas segera menyuruh Yasmin untuk beristirahat, walaupun dia tidak dapat menahan rasa bersalahnya perihal mungkin apa yang menyebabkan Yasmin keletihan adalah karena pengeluaran kekuatan api suci yang terlalu berlebihan yang terlalu memporsir energi spiritualnya akibat perintah dari dirinya.
Akan tetapi kemudian, Yasmin ditemukan berkali-kali memegangi kepalanya dan hampir pingsan. Di situlah Helios mulai menyadari bahwa ada yang tidak beres terhadap kondisi Yasmin tersebut.
“Maaf, Master. Aku merasakan ada aura aneh di sekitar hutan monster. Aura aneh itulah yang membuatku sakit kepala.”
Helios awalnya tidak mengerti atau lebih ke arah sangsi akan pernyataan Yasmin itu perihal jelas-jelas bahwa Helios telah memperbaiki artifak yang mengendalikan monster di hutan monster dan jelas-jelas bahwa artifak itu masih berfungsi dengan baik sampai dengan sekarang. Hampir mustahil bahwa monster akan meliar seperti dulu lagi lantas menyerbu masuk ke benteng kota.
Tetapi tiga hari kemudian, Helios pun menyadari bahwa omongan Yasmin itu bukanlah isapan jempol belaka. Mulai terdengar raungan-raungan aneh berdasarkan kesaksian para prajurit penjaga benteng di daerah kedalaman hutan monster. Raungan yang begitu menyeramkan dan dalam, tampak berasal dari suatu monster raksasa yang beringas.
Lalu, di malam harinya, monster-monster yang berhasil keluar dari ilusi artifak pengendali monster setelah berjalan ke pinggiran hutan monster yang tepat berbatasan dengan padang rumput di luar wilayah monster, mulai menyerang benteng pertahanan Kota Painfinn dengan ekspresi yang aneh.
Monster yang keluar menyerang adalah monster yang menyerupai cheetah, tetapi dengan ukuran yang enam kali lipat dari ukuran cheetah normal di mana terdapat satu mata tambahan di dahinya, salah satu produk dungeon beast. Akan tetapi pada monster itu, terlihat beberapa keanehan. Matanya menghitam serta air liurnya terlihat berbusa.
Di luar dugaan, para prajurit berhasil mengalahkan monster yang berada di rangking rare itu dengan cukup mudah. Walaupun ada Damian dan Alice di sana, tetap monster itu terlalu dikalahkan dengan mudah.
Di situlah akhirnya mereka menyadari bahwa monster itu telah berada dalam kondisi terparalisis oleh suatu sebab yang tidak diketahui.
Malam berikutnya dan malam berikutnya lagi, hal yang sama terulang kembali. Tiap monster yang secara beruntung bisa terlepas dari artifak pengendali, mengalami kondisi terparalisis sama yang menyebabkannya menjadi mudah untuk dikalahkan.
Ini tentunya adalah sesuatu yang menguntungkan bagi para prajurit penjaga benteng sejak kondisi monster yang menyerang bertambah lemah. Akan tetapi, sesuatu yang tak diketahui penyebabnya itu justru lebih menyeramkan bagi para prajurit itu.
Perihal belum jelas apa yang menyebabkan kondisi monster yang berhasil keluar dari hutan monster itu menjadi kacau, mau tak mau para prajurit menjadi lebih was-was.
Mereka takut bahwa jangan sampai ada keberadaan monster lain di hutan monster saat ini yang lebih membahayakan setara dengan the king of undead atau bahkan lebih tinggi lagi.
Mereka tidak dapat menahan rasa ketakutan mereka akan suatu potensi bahaya besar tersebut, walaupun itu semua belum pasti keberadaannya dan untuk saat ini hanya sekadar sebuah prediksi dari banyak prediksi akan penyebab yang mungkin saja terjadi.
Di lain pihak, kondisi Yasmin dari hari ke hari kian memburuk. Yasmin sampai-sampai mengigau dengan mengatakan seperti, “Tolong hentikan! Aku bukan witch!”
Tepat tiga hari setelah Yasmin mengatakan perihal aura aneh di hutan monster kepadanya, Helios akhirnya juga mulai merasakan aura aneh itu. Suatu perasaan dingin menusuk kulit yang sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Ditambah dengan berbagai laporan para prajurit penjaga benteng tentang keanehan monster yang menyerang dari hutan monster, Helios akhirnya memutuskan untuk mengirim beberapa familiarnya menyelidiki hutan monster tersebut.
Walaupun awalnya dia ingin menghindari untuk melakukan hal itu lagi pasca kasus serangan gelombang monster selesai perihal tekanan mana yang sangat kuat di hutan monster yang membuat Helios merasakan sakit kepala yang teramat kuat dalam mengendalikan familiarnya di sana.
Sayangnya, didapatinya-lah kabut aneh di area hutan monster itu yang mengalir secara tidak biasa yang bahkan lebih pekat lagi dari yang pernah didapatinya sewaktu mengadakan penyelidikan bersama Yasmin dan Alice yang kali ini sampai-sampai membuat Helios tidak mampu melihat apapun di sana dari atas udara.
Namun Helios berhasil merasakan sumber tidak mengenakkan yang begitu menyengat kulitnya itu. Itu berasal dari salah satu dungeon. Dungeon yang sempat dilihatnya sewaktu melakukan ekspedisi ke hutan monster bersama dengan Alice dan Yasmin. Dungeon yang di depan pintu gerbangnya tampak gambar terukir batu seorang wanita raksasa yang matanya ditutupi oleh kain putih. Itulah dungeon Milanda.