
Pagi itu Helios berjalan-jalan santai di sekitaran taman istana utama bersama dengan rombongannya yang biasa, Albert dan Yasmin.
-Pluk, pluk, pluk.
Helios seketika mendapati dirinya penasaran akan suara batu-batu kecil yang dilemparkan ke arah danau.
Tidak ada lagi anak kecil yang bisa bermain-main di istana itu yang berbeda waktu dulu, di mana mungkin Helios akan segera berpikir bahwa itu adalah Leon atau Ilene kecil yang lagi bosan. Karena penasaran, Helios pun memutar langkahnya menyusuri arah danau.
-Srerererek.
Mendengar suara gemerisik dedaunan yang disebabkan oleh kedatangan Helios, pelaku pelemparan batu di danau itu pun berbalik ke arah tersebut.
“Dik Helios?”
“Kak Vierra rupanya. Apa yang Kakak lakukan di sini?”
“Ah, aku hanya sedikit pengap rasanya setelah menerima surat dari Ayahanda.”
“Surat dari Ayahanda?”
“Ah, maksudku Ayahanda Andrew. Isi suratnya juga bukan apa-apa. Hanya belakangan ini aku sering banget merasa letih tanpa sebab. Kalau begini terus, aku bisa-bisa jadi tante-tante gemuk di usiaku yang baru menginjak 22 tahun ini.”
“Perlu aku periksa, Kak Vierra? Gini-gini, aku juga seorang medician.”
Vierra menggelengkan kepalanya terhadap uluran bantuan Helios tersebut.
“Tidak perlu, Dik Helios. Aku juga tidak seletih itu kok.”
Pandangan Helios sayu menatap Vierra.
Helios sadar benar akan apa yang membuat wanita peri yang dulu seriang itu kini tiba-tiba saja mendadak sering murung.
Posisinya di istana.
Konstitusi istana mengatur bahwa siapapun yang telah menjadi istri keluarga kerajaan, tidak boleh melakukan perceraian dengan pasangannya. Jika diri mereka-lah yang justru digugat cerai oleh keluarga kerajaan, tiada jalan lain yang menunggu mereka selain harus mengabdikan sisa hidup mereka selamanya di kuil suci.
Dalam kasus Vierra, dirinya tidak digugat cerai oleh Tius star Meglovia, hanya saja dirinya telah ditinggal mati oleh sang suami tanpa melahirkan seorang pun keturunan.
Itulah kini yang menjadikan posisi Vierra menjadi ambigu di istana.
Dengan kematian Tius star Meglovia tanpa mewariskan seorang anak satu pun, Vierra bisa dikatakan sebagai orang luar keluarga kerajaan. Tetapi itu bukan berarti bahwa dia bisa kembali ke kediamannya di Keluarga Peronaz sejak dia telah menjadi properti keluarga kerajaan sebagai istri dari Tius star Meglovia.
Jika Vierra ingin keluar dari istana, dia hanya bisa menetap di kuil suci untuk selamanya. Vierra sadar betul akan hal itu. Begitu raja atau ratu baru terpilih, dirinya akan segera terusir ke kuil suci.
Itulah yang membuat Vierra kini sangat bersedih hati karena dia paham benar bahwa setelah dia menjadi ‘tawanan’ di dalam kuil suci tersebut, dirinya takkan mungkin mampu lagi menginjakkan kaki ke dunia luar lagi, terkurung dalam penjara suci itu selama-lamanya sebagai wanita suci yang tak akan pernah lagi memberikan cintanya setelah kematian sang suami.
Helios mengutuk dalam-dalam konstitusi kerajaan itu, tetapi dia juga tidak punya kuasa untuk merubahnya. Bahkan jika Helios terpilih menjadi raja sekali pun, itu tetaplah sesuatu yang tak dapat dirubahnya seorang diri sejak tingkatan hukumnya adalah strata satu dari ketujuh tingkatan konstitusi kerajaan, tingkatan tertinggi.
Itu hanya bisa dirubah oleh raja dengan pengajuan yang membutuhkan pengakuan dari minimal 1/3 anggota senat kerajaan serta juga membutuhkan persetujuan kepala kuil suci. Tidak sampai di situ, walaupun itu akhirnya disetujui kala itu, penerapannya baru bisa dilaksanakan 50 tahun kemudian dengan syarat minimal terjadi sekali pergantian raja.
Dan itu akhirnya baru bisa diterapkan jika selama 50 tahun waktu berjalan itu, tiada lagi dari keturunan raja atau para bangsawan yang memprotesnya.
Begitulah hebatnya konstitusi strata tertinggi di kerajaan, strata tingkat satu, tersebut. Belum ada sekali pun itu berhasil dirubah sejak penciptaannya 500 tahun silam. Begitulah kerajaan menilai tingginya terkait hal seseorang memasuki keluarga kerajaan, yang statusnya sama sangat pentingnya seperti hak kuil suci di kerajaan serta syarat berhak jadi raja bagi anggota keluarga kerajaan.
Aturan itu bahkan jauh lebih tinggi nilainya daripada sekadar aturan penghormatan kepada bangsawan yang hanya berada pada strata dua.
Itulah sebabnya ketika Helios menyadari kesedihan Vierra tersebut, dia menjadi kasihan padanya. Helios sedih, namun dirinya juga tak berdaya untuk melakukan apa-apa.
Dia hanya bisa bertekad untuk setidaknya melindungi Vierra selama Vierra masih berada di bawah tanggungan keluarga kerajaan. Seiring waktu berjalan, Helios yakin akan bisa memperoleh solusi untuk menyelamatkan masa depan kakak iparnya itu.
***
Di tengah kesibukan Helios mengurus berbagai dokumen dalam membantu meringankan pekerjaan ibundanya, Theia, yang bertambah berat setelah ditinggal pergi oleh sang ayah, Helios menemukan suatu temuan yang unik bertumpuk di antara jejeran dokumen-dokumen itu.
Itu adalah surat kepindahan tugas Damian kembali ke ibukota kerajaan. Helios merasa ini aneh sejak status Damian telah sangat tinggi di Kota Painfinn di mana dia telah menjadi wakil kepala ksatria di sana.
Apakah ini masalah homesick berhubung karena Damian awalnya memang terlahir di ibukota? Tetapi mengapa baru sekarang dari sekian waktu selama tiga tahun dia telah betah di posisi jabatannya itu? Bagaimana pun, ada sesuatu yang mencurigakan yang bisa dicium oleh Helios perkara itu.
Kepindahan tugas Damian terlalu bertepatan dengan kematian kakaknya, Tius star Meglovia, di mana sang istri, Vierra, yang ditinggalkan kini telah menjanda.
Di samping itu, dulu sempat ada desas-desus yang beredar di kalangan prajurit bahwa Damian sempat terlibat hubungan asmara dengan Vierra. Tentu saja Helios telah mengonfirmasi hal itu keliru dengan kekuatan familiarnya. Akan tetapi, walaupun Vierra tidak menaruh rasa pada Damian, itu tidak menutup kemungkinan hal sebaliknya akan terjadi.
Helios curiga bahwa kepindahan tugas Damian kembali ke ibukota itu ada kaitannya dengan persoalan ingin memperjuangkan cintanya kepada Vierra.
Merasa perlu untuk memastikan rasa penasarannya itu dengan segera, Helios pun tanpa pikir panjang bergegas mencari untuk menemui Damian.
Akhirnya Helios secara kebetulan menemukannya di salah satu barak latihan prajurit.
“Hai, Damian. Kamu sudah kembali ke ibukota rupanya. Mengapa tidak mengabariku? Jika aku tahu, aku pasti akan membantumu memperoleh tempat yang lebih baik di istana.”
Damian yang waktu itu hanya mengenakan setelan celana sehingga otot-otot dadanya yang kekar terekspos bersamaan dengan keringatnya yang menetes membasahinya, lantas menoleh ke arah Helios yang menyapanya tersebut.
Damian pun buru-buru membuang pedangnya lantas membungkukkan badannya rendah-rendah untuk menyapa Helios.
“Hormatku kepada sang pendamping bintang yang cemerlang, Yang Mulia Pangeran Helios de Meglovia.”
“Hahahahahaha. Tidak usahlah seformal itu, Damian, sejak hanya kita berdua saja yang kebetulan berada di tempat ini.”
“Ah.”
Terlihat tingkah Damian yang begitu gugup di hadapan Helios, walaupun sebenarnya itu semua hanyalah akting.
Helios segera meraih pundak Damian yang sementara berada pada posisi membungkukkan badannya itu untuk menenangkannya yang tampak panik. Pandangan mata Helios tiba-tiba saja berubah menjadi tampak sangat menyeramkan.
Helios *******-***** sejenak bahu Damian sebelum akhirnya sang pangeran berucap, “Jadi, mengapa kamu akhirnya memutuskan untuk pindah ke ibukota, Damian? Apakah ini demi menemui Kak Vierra?”
Helios memutuskan untuk to the point.
“Ah, tampaknya tidak ada yang bisa kusembunyikan dari Yang Mulia Pangeran. Itu benar, Yang Mulia Pangeran. Aku ke sini demi Nona Vierra.
Helios terkejut akan pengakuan jujur Damian yang tidak disangka-sangkanya itu. Dia sama sekali tampak tak berupaya menyembunyikan hal tersebut. Tetapi kemudian, Helios baru tersadar bahwa bagaimana pun Damian hanyalah seorang rakyat jelata sehingga mungkin tidak mengetahui hukum kerajaan dengan baik.
“Damian, dengar. Apakah kamu sudah tahu kalau mantan istri atau suami keluarga kerajaan itu tidak bisa lagi menikah dengan orang lain jika bercerai atau ditinggal mati oleh pasangannya?”
Mendengar penjelasan Helios tersebut, Damian segera mengeleng-gelengkan tangannya kuat-kuat.
“Ah, kalau itu, aku juga tahu, Yang Mulia Pangeran. Maksudku bukan begitu!”
“Jadi apa maksudmu?”
Pada jawaban Damian itu, Helios tampak kebingungan. Akhirnya Damian pun menjelaskannya kepada Helios.
“Aku hanya berpikir kalau saat ini Nona Vierra sedang rapuh dan butuh teman hiburan. Jadi aku kemari agar setidaknya bisa sebagai pelampiasan laranya. Bagaimana pun, Nona Vierra adalah sahabatku yang berharga. Dia bersedia berteman denganku yang padahal hanya seorang anak tukang kebun ini. Tiada yang bisa mengalahkan kebaikan hati Nona Vierra. Itulah sebabnya aku pun ingin berguna baginya di kala dia membutuhkannya.”
“Begitu rupanya.”
Setelah mendengar jawaban Damian itu, ekspresi Helios pun kembali melembut.
Helios pun dengan tulus berkata,
“Jikalau pun kamu mencintai Kak Vierra lantas memperjuangkannya dan Kak Vierra membalas cintamu itu, aku takkan berkata apa-apa. Aku justru akan membantu kalian agar bagaimana bisa kalian kawin lari meninggalkan kerajaan ini. Namun,…”
Ekspresi yang lembut itu, seketika berubah kembali seram.
“Jika kamu sedikit saja melakukan hal yang tak perlu lantas menyakiti Kak Vierra, maka aku takkan segan-segan dengan tanganku ini sendiri membunuhmu. Camkan itu baik-baik, Damian.”
Mendengar ancaman Helios itu, sekujur bulu kuduk Damian pun merinding.