Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 153 – KALUNG PERBUDAKAN ILENE



Sambil menyeruput secangkir teh daarjeling, Ilene membolak-balikkan lembar demi lembar koran yang dibacanya.


“Apa ada informasi yang membuat Anda sangat tertarik, Yang Mulia Putri?”


“Tidak. Bukan apa-apa. Hanya saja Kak Helios tampaknya baru-baru ini melakukan hal yang menarik.”


“Apakah Anda membicarakan soal kompetisi beladiri se-benua itu?”


“Itu benar. Tampaknya usai perang, Kakak kini berfokus untuk memperkuat barisan tentaranya dengan mencari para ahli beladiri yang dapat dijadikan landasan pionnya.”


Terlihat jelas raut wajah khawatir yang ditunjukkan oleh Mellina sewaktu Ilene membahas hal tersebut.


“Aku bisa bilang kalau pencapaian Yang Mulia Kaisar Helios itu sangat luar biasa. Ini pertama kalinya dalam sejarah negeri ini, seorang raja dapat berdiri di puncak tanpa satu pun pihak oposisi yang mampu menentangnya, terlebih-lebih mengendalikannya.”


“Yah, siapa juga orang waras yang mau menentang tiran gila seberbahaya dirinya?”


“Tapi Yang Mulia Putri, jika suatu negara ada di tangan satu penguasa mutlak, maka suatu saat negara itu hanya akan diperas hingga tak bersisa untuk memuaskan nafsu penguasa tersebut tanpa ada siapapun yang bisa menghentikannya lagi. Dan lambat laun, negeri ini pun pasti akan hancur. Mesti ada pihak oposisi yang berdiri untuk mengontrol kemutlakan kekuasaan raja saat ini.”


Tangan Ilene seketika gemetar begitu Mellina menyinggung hal tersebut.


“Yang Mulia Putri, teh di tangan Anda tumpah…”


Mellina hendak mengambil teh yang akan tumpah di tangan Ilene. Namun Ilene yang kaget segera menepis tangan itu.


“Hentikan, Mellina!”


“Yang Mulia Putri?”


Entah seruan ‘hentikan’ itu merujuk kepada Mellina yang hendak memegang tangannya atau merujuk kepada ucapan tabu yang baru saja diucapkan oleh Mellina, kurang jelas dalam konteks kalimat yang diucapkan Ilene. Namun dari perkataan Ilene selanjutnya,


“Apakah kau juga menyuruhku untuk menentang monster mengerikan itu?!” Itu tampaknya adalah konteks yang kedua.


“Tidak, bukan itu maksudku, Yang Mulia Putri.”


“Tidak tahukah kamu, bahkan untuk bisa bertahan hidup dari pengawasannya saja sudah sangat susah?! Bahkan tidak ada yang tahu bahwa sekarang mungkin saja dia masih mengawasiku dari suatu tempat dengan familiar-familiarnya yang bagai kecoak yang dapat menyelinap ke mana-mana itu.”


“Yang Mulia Putri…”


“Mellina, aku hanya ingin hidup! Kumohon, jangan berbicara hal yang semenyeramkan itu lagi di hadapanku!”


Terlihat jelas raut sedih, tidak, itu adalah raut putus asa terpampang di wajah Ilene. Dia jujur dari lubuk hatinya sangat takut akan keberadaan sosok itu.


Melihat ketakutan Ilene yang teramat sangat pada kakak kandungnya sendiri, Mellina pun hanya bisa menghela nafas sembari menjawab, “Aku mengerti, Yang Mulia Putri.”


Mellina pun hanya bisa menelan rasa kekecewaannya lantas meninggalkan Ilene sendirian di ruang tamu yang terletak di salah satu pojok bangunan kuil suci utama itu.


Dia berjalan menyusuri koridor, namun kemudian seorang wanita yang tampak merupakan satu di antara pelayan suci kuil suci datang untuk menghentikan langkahnya.


“Kepala Kuil Suci ingin menemui Anda.”


Mellina sempat terkaget tentang mengapa kepala kuil suci tiba-tiba saja ingin bertemu dengan dirinya yang hanya merupakan seorang pelayan itu. Namun dia segera memperbaiki ekspresi rumit di wajahnya lantas mengikuti sosok wanita itu pergi ke tempat yang dituntunnya.


***


Hari ke-21 bulan ke-10 Tahun 532 Kalender Kekaisaran Meglovia, aku baru saja menerima kabar gembira dari dokter yang kini bertanggung jawab terhadap kesehatan Talia. Talia positif mengandung anak kedua kami.


Ini adalah kabar yang paling menggembirakan buatku di tahun ini. Aku pun merayakannya dengan mengadakan pesta kecil-kecilan bersama para pengikut setiaku. Namun kemudian mendengar berita calon keluarga baru, aku tiba-tiba saja mengingat sosok adikku Ilene. Karena rindu, aku pun berusaha mengoneksikan kesadaranku pada kalung hadiah pemberianku padanya yang seharusnya masih dikenakan oleh Ilene.


Kalung itu jelas-jelas masih menunjukkan fungsinya karena jika seseorang berusaha melepas secara paksa kalung itu dari leher Ilene atau Ilene dalam bahaya sehingga perlindungan di kalung itu akan aktif, maka sinyal bahayanya pasti sudah akan segera sampai kepadaku.


Karena khawatir, aku kembali berusaha menyelinapkan beberapa familiarku ke dalam bangunan utama kuil suci itu. Namun lagi-lagi, persoalan terdapat kubah energi yang sangat besar di dalam bangunan utama kuil suci tersebut, kesadaranku jadi tidak bisa terhubung dengan para familiarku yang aku kirimkan ke sana.


Karena aku tidak menerima kabar apapun dari kuil suci sampai saat ini, itu berarti bahwa seharusnya tidak terjadi masalah apa-apa pada Ilene di sana. Namun entah mengapa, aku tidak bisa melepaskan rasa kekhawatiranku pada adikku itu.


Untuk memastikan keadaan dan untuk meredakan rasa khawatirku yang kian menjadi, aku pun segera menuliskan surat kepada Ilene lalu kusuruh salah satu pengawal istana untuk mengantarkannya langsung ke bangunan utama kuil suci tempat Ilene berada tersebut. Aku menekankan kepada pengawal istana itu bahwa dia tidak boleh pulang sampai Ilene benar-benar mengirimkan balasan suratnya untukku.


Kalau dipikir-pikir lagi, tidak ada satu pun anak buahku yang merupakan bangsa keturunan asli Meglovia. Albert dan Alice berasal Vlonhard, Dokter Minerva dari Rimuru, Yasmin dari Ignitia, sementara Nunu dan Olo dari kepulauan selatan.


Akan jadi masalah kalau salah satu dari merekalah yang kuutus ke kuil suci buat mengantarkan suratku sejak kuil suci terkenal sangat rasis dengan bangsa luar Meglovia. Itulah sebabnya aku memilih mengutus orang luar saja untuk mengirimkan surat itu kepada Ilene.


Namun sampai beranjak malam hari, pengawal istana yang kuutus ke kuil suci itu belum juga sampai kembali ke istana. Hal itu lantas membuatku semakin khawatir sehingga aku akhirnya memutuskan untuk pergi langsung saja ke sana walau itu pasti akan menimbulkan keributan politik keesokan harinya.


***


Mellina memasuki kamar Ilene bersama dengan pelayan suci itu. Mellina menginformasikan kepada Ilene tentang keinginan Rahib Vyndicta Eros untuk menemuinya secara langsung.


Ilene pun lantas menyetujui hal itu lantas mengikuti Mellina dan pelayan suci itu menuju ke ruang pribadi sang rahib.


Namun kemudian, tepat di saat dia akan memasuki pintu luar yang terhubung dengan koridor di mana ruangan pribadi sang rahib Vyndicta Eros berada, keempat penjaga yang berdiri di sana meminta Ilene untuk menanggalkan kalung pemberian Helios itu padanya dengan alasan mereka dapat mendeteksi keberadaan sihir serangan yang terlarang untuk dibebaskan masuk ke dalam, sama halnya dengan pedang dan senjata tajam lainnya.


Ilene awalnya sedikit ragu, namun kemudian Mellina memberikannya isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ilene tahu benar tentang bagaimana keahlian Mellina dalam beladiri bahkan tanpa senjata satu pun di tangannya. Hal itu pun membuatnya merasa aman bahkan tanpa pelindung yang diberikan oleh kakaknya itu.


Tidak, sejatinya Ilene hanya takut jika melepaskan hadiah pemberian kakaknya itu di lehernya sendiri akan menyinggung perasaan Helios dan Ilene akan menerima kemarahan yang luar biasa darinya.


Namun karena ini memang sudah prosedur resmi dari kuil suci, Ilene pun berpikir bahwa mungkin tak apa baginya jika melepaskan kalung yang menjadi simbol perbudakan dirinya kepada Helios itu untuk sejenak. Toh pastinya jika kakaknya akan marah, kuil sucilah yang pastinya nanti akan menerima tanggung jawabnya.


Ilene pun memasuki koridor itu bersama dengan Mellina dan sang wanita pelayan suci yang sedari tadi bersama mereka dengan menitipkan kalung pemberian Helios itu kepada para penjaga di luar.


Di saat Ilene melepaskan kalungnya dengan kehendaknya sendiri itulah, koneksi Ilene terhadap kalungnya menghilang yang beberapa saat kemudian dideteksi oleh Helios tanpa sebelumnya ada peringatan yang sampai pada Helios sejak Ilene melepaskan kalung itu atas kehendaknya sendiri, mengabaikan permintaan Helios bahwa dalam kondisi apapun, Ilene sama sekali tak boleh melepaskan kalung itu dari lehernya.


Ilene dengan didampingi oleh Mellina dan sang pelayan suci memasuki kamar pribadi sang rahib. Namun, rupanya sang rahib tidak sendirian berada di kamarnya. Tepat di samping sang rahib juga duduk seorang wanita berambut merah dan berkulit putih yang mengenakan pula pakaian merah yang sangat mencolok yang juga dengan lipstik tebalnya yang merah semerah darah.


“Jadi ini wadah kutukan baru yang kamu siapkan, Rahib?”


“Tepat sekali, Marie.”


Ilene pun bisa segera merasakan ada kejanggalan di balik ucapan sang rahib dan wanita misterius tersebut. Namun begitu dia menyadarinya, semuanya telah terlambat. Pintu telah terkunci rapat dan baik Mellina, maid kepercayaannya, maupun sang wanita pelayan suci, keduanya telah menghilang dari dalam ruangan, menyisakan Ilene sendirian bersama sang rahib dan sosok wanita misterius itu di dalamnya.


“Nah, mari kita mulai saja percobaannya, Marie.”


Ujar sang rahib sembari tersenyum dengan sangat jahat.


“Sesuai keinginanmu, Rahib.”


Nampaklah keluar dari balik pakaian Marie itu sebuah boneka voodoo dengan tampang yang sangat menyeramkan yang memiliki desain dua buah taring panjang di bagian gigi taring atasnya.


Boneka itu rupanya bisa bergerak seakan hidup, lantas dengan sangat cepat, bahkan tanpa Ilene sadari, boneka itu telah menggigit lehernya kemudian mengisap darahnya. Sejenak kemudian, Ilene pun jatuh pingsan.


Sang rahib dan sesosok wanita yang dipanggilnya Marie itu kemudian mendekat ke tubuh Ilene yang terkapar pingsan dengan senyum sinis nan menjijikkan terpampang di wajah mereka masing-masing.


Ya, sosok misterius itu adalah Marie, sang witch kelima dari legion witch raja iblis, Marie sang witch kutukan.