
Masa-masa damai memang benar-benar adalah yang terbaik. Ini hanyalah masa damai dalam sebentar sebelum tibanya pertempuran akhir melawan Raja Iblis, walau demikian aku menikmatinya dengan sepenuh hati.
Tiada yang tahu apa yang akan terjadi kepada umat manusia ke depannya. Apakah kami bisa memenangi perang melawan Raja Iblis? Ataukah, ini adalah akhir bagi umat manusia? Tiada gunanya terus-terusan terbelenggu oleh masa depan yang belum pasti.
Sebagai manusia, yang harus kita lakukan adalam memiliki keyakinan dengan berusaha sekuat tenaga. Dan jangan lupa menikmati hari-hari saat ini. Jangan sampai kita terlalu fokus pada masa depan yang masih jauh, namun pada akhirnya kita melupakan masa kini. Lalu ketika semuanya berlalu dan tak bisa kembali, kini giliran kita menyesali mengapa dulu kita mengabaikan masa lalu.
Yah walaupun tentu saja kita bisa menyesali masa lalu jika kita bisa memenangkan perang melawan Raja Iblis di masa depan.
Dan di sinilah aku saat ini bersama dengan para anakku. Di pangkuanku ada anakku yang kedua, Ruvaliana yang manis.
Dia benar-benar mewarisi kecantikan ibunya ditambah dengan rambut hitam yang diwarisinya dari ayahnya. Anakku itu benar-benar anggun dan mempesona untuk anak seusianya. Wajahnya yang benar-benar cantik menambah nilai plusnya. Namun jikalau ada kekurangannya, dia selalu berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa hesitasi sedikit pun.
Apakah dia mewarisinya dari ayahnya? Adalah hal yang baik untuk berpendirian keras dan tidak mudah goyah jika kita memandangnya dari aspek tertentu. Hanya saja Ruvaliana memiliki kebiasaan buruk bahwa jika dia sudah terobsesi terhadap sesuatu, maka dia tidak akan mau sampai melepaskannya lagi.
Sama halnya ketika dia memiliki mainan boneka yang dibuat dengan bentuk unicorn yang sangat indah. Bahkan, ketika Farhaad, adiknya yang berusia satu tahun lebih muda darinya, ingin memegangnya sebentar, dia akan segera merebutnya kembali dari tangan Farhaad.
Farhaad menangis, tetapi Ruvaliana sama sekali tidak memberikannya boneka itu. Dia hanya membujuk adiknya untuk berhenti menangis sembari tetap menyembunyikan boneka kesayangannya itu di balik badannya.
Sayangnya, itu tidak berlaku hanya untuk benda saja.
Aku tahu bahwa Allios terlahir dengan muka yang imut yang nuansanya jauh berbeda dari ayahnya, Albert, yang memberikan kesan kesangaran yang membuat siapapun pertama kali melihatnya akan tergoda untuk membelai pipinya yang halus itu. Tapi Allios dengan muka yang imut itu baru saja ditandai oleh Ruvaliana sebagai hak miliknya.
Setiap kali ada kesempatan di mana tidak ada yang memperhatikannya, Ruvaliana terkadang akan mencium Allios, baik di pipi, maupun bahkan di mulut. Dia juga selalu ingin agar dirinya saja yang bisa bermain dengan Allios. Ketika Ilyaas yang supel datang untuk sekadar berinteraksi biasa dengan Allios, maka Ruvaliana seketika memukul Ilyaas sampai-sampai mereka berdua akhirnya jadi ribut.
Tentu Ilyaas yang dewasa selalu mengalah kepada adiknya itu. Hanya saja terkadang dia juga tidak bisa lagi mengontrol dirinya yang terlalu marah hingga pada akhirnya membalas pukulan Ruvaliana. Jadilah mereka ribut berdua yang bikin sakit kepala. Allios pun menangis dan jadilah rantai keributan para anak.
Inilah yang dikatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Namun melihat putriku sendiri memiliki sifat buruk ayahnya, membuatku sebagai ayah merasa menyesal. Obsesi itu baik karena dengan demikian itu akan membuat kita lebih bekerja keras lagi untuk mendapatkannya, namun jika itu terlalu berlebihan, itu justru akan menjadi penyakit yang membuat kita menjadi karakter yang buruk.
Itu juga bisa menyusahkan orang lain yang berada di sekitar kita, menjadi risih di sekitar kita, dan bahkan bisa mencap kita sebagai sumber gangguan.
Aku tidak ingin putriku Ruvaliana berakhir menjadi pribadi yang seperti itu.
Okelah untuk Ruvaliana yang tidak ingin berpisah dari Allios, tetapi siapa yang mengajarinya untuk berciuman? Seorang anak tidak mungkin melakukan sesuatu yang dewasa seperti itu tanpa contoh di sekitarnya. Aku pun bersama para istriku ingat betul bahwa kami tidak pernah melakukan hal dewasa sama sekali termasuk berciuman di hadapan anak-anak kami.
Hanya ada satu jawabannya, itu bisa berasal dari para pengasuh, maid, atau pengawal yang terkadang bertugas untuk menjaga para anak. Lalu akhirnya ketahuanlah bahwa seorang pengasuh berpacaran dengan seorang prajurit istana dan mereka sempat melakukan hal begituan sekali di hadapan Ruvaliana yang terekam oleh salah satu familiarku.
Aku pun memberikan sanksi tegas pada pengasuh dan prajurit istana itu sampai taraf tertentu karena mereka telah lengah dalam menjalankan tugas mereka yang sampai merusak pribadi anak yang masih pada usia dini tersebut kemudian memindahtugaskan mereka di pelosok terpencil kekaisaran.
Bukanlah hal yang salah dalam bercinta, tetapi kamu harus tahu waktu dan tempatnya. Kamu tidak boleh melakukannya di saat jam kerja apalagi pekerjaanmu itu berkaitan dengan anak yang masih usia dini yang masih sangat polos yang justru mengabaikan keprofesionalan pekerjaanmu yang berimpak negatif pada hasil kinerjamu.
Aku berkali-kali melakukan segala cara untuk mengajarkan Ruvaliana bahwa itu bukanlah kebiasaan yang baik, namun itu sama sekali tidak bekerja. Para istriku pun yang membantu, tidak ada yang berhasil melakukannya.
Kini, yang dapat kulakukan hanya mengontrol setiap tindakan Ruvaliana pada taraf tertentu hingga setiap dia akan melakukan hal yang demikian, ada seseorang di dekatnya yang bisa segera mencegahnya. Kuberharap bahwa seiring dia semakin besar, dia akan lebih mengerti soal ketidakpantasan melakukan hal-hal tersebut sembarangan sebelum dewasa.
Itu benar. Memangnya kenapa kalau Ruvaliana adalah anakku? Allios juga sudah kuanggap seperti putraku sendiri yang sangat kusayangi. Aku harus melindunginya walaupun itu terhadap putriku sendiri. Aku ingin mereka berdua tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bermartabat.
Lalu yang tidak kalahnya dengan sifat Ruvaliana adalah Helion, anak pertamaku sekaligus yang akan mewarisi gelar putra mahkota. Anakku itu tumbuh dalam masalahnya sendiri yang sedikit berbeda dari Ruvaliana.
Helion cenderung pendiam dan ekspresinya agak sulit ditebak walaupun tidak separah Yasmin. Namun yang lebih menjadi kekhawatiranku adalah terkadang anakku itu memiliki emosi yang tidak terkontrol.
Dia dalam keadaan biasa sering bersikap baik tanpa membeda-bedakan orang lain entah itu kepada para bangsawan atau pelayan, tua atau muda, laki-laki atau perempuan. Semuanya diperlakukan secara sopan oleh Helion secara setara. Namun begitu dia marah, sama halnya pula dia tidak akan membeda-bedakan orang lain dalam seketika melampiaskan rasa amarahnya.
Helion pernah sekali menyepak tulang keringku ketika kumembentak adiknya, Ruvaliana. Helion juga pernah menumpahkan nampan yang dibawa oleh seorang maid karena dia bercerita yang tidak-tidak kepada adik angkatnya, Ilyaas.
Tidak suka terhadap perbuatan salah tentu saja adalah sikap yang terpuji. Namun itu akan seketika menjadi keliru jika cara kita menyampaikannya tidaklah tepat. Helion cenderung menggunakan kekerasan fisik dalam melampiaskan amarahnya ketimbang dengan kata-kata.
Apakah itu karena dia pendiam? Namun yang jelas, ini akan menjadi masalah sejak Helion adalah penerus utamaku yang nantinya akan digelari sebagai putra mahkota. Jika dia tidak mengontrol emosinya itu secara tepat, maka dia hanya akan jadi bahan santapan para bangsawan licik.
Aku merasa aku sudah menyingkirkan para bangsawan licik di sekitarku dan aku pula telah menstabilkan pemerintahan sampai taraf tertentu. Tidak akan ada lagi yang akan berani untuk main-main dengan keturunanku. Namun itu hanya berlaku ketika aku masih hidup dan ada di sisinya.
Begitu aku lenyap, tiada yang menutup kemungkinan bahwa para bangsawan licik yang selama ini menyembunyikan ekornya akan muncul lagi satu-persatu menggerogoti keluarga kekaisaran.
Itulah sebabnya aku harus mendidik Helion dengan baik agar dia tidak terjerumus pada sifat amarahnya itu. Dia harus mampu mengontrol emosi dan ekspresi wajahnya secara tepat di depan publik untuk menjadi pemimpin yang baik.
Entah mengapa anak-anakku itu hanya mewarisi sifat buruk dari ayahnya.
Tetapi anakku Helion itu sejatinya tidaklah keras kepala. Dia mau mendengarkan nasihat dari ayahnya, hanya saja dia pendiam sehingga terkadang isi pikirannya tidaklah dimengerti oleh banyak orang. Dengan bujukan, perlahan aku berhasil mendekati anakku itu secara mental.
Ini jelas kesalahanku karena selama ini terlalu sibuk dengan urusan negara sehingga sebagai akibatnya, pendidikan dasar tentang attitude anak-anakku menjadi terlantar. Bagaimanapun kau mempercayakannya pada seorang pendidik profesional, tanpa contoh langsung dari ayahnya, itu akan percuma.
Namun, aku telah bertekad dalam hati, aku takkan pernah lagi meninggalkan putraku itu, juga Ruvaliana, Farhaad, termasuk Illies dan Illios, juga anak angkatku Ilyaas, serta tak lupa pula yang sudah kuanggap sebagai anak sendiri, Allios. Setidaknya selama mungkin di masa-masa tenang ini, aku akan berada di sisi mereka menjadi sosok ayah yang baik bagi mereka.
Siapa yang tahu di masa depan, akankah aku bisa selamat setelah bertarung melawan Raja Iblis. Jika takdirku untuk mati setelahnya, setidaknya, aku telah mengokohkan landasan yang kuat bagi anak-anakku menyusuri jalan dunia yang berliku ini.
“Papa!”
Sementara Helion terbenam di pelukanku dan Ruvaliana di pangkuanku, Farhaad turut merangkul kakiku dengan bahagianya.
Mungkin karena masih berusia dua tahun-an, dialah anakku yang selama ini sikapnya tidak banyak membuat masalah. Dia ramah, mudah senyum, dan penurut. Aku berharap bahwa Farhaad dapat tumbuh menjadi pribadi yang terus baik seperti itu.
Tentu saja aku tidak mengatakan bahwa sikap Helion maupun Ruvaliana itu buruk. Mereka hanya butuh bimbingan lebih dan sudah tugaskulah sebagai ayahnya untuk melakukannya.
Begitu pula dengan anak-anakku yang saat ini belum genap berusia satu tahun, Illios dan Illies, semoga mereka semua dapat tumbuh dengan baik dan menjadi pribadi yang baik pula.
Demi mereka, dan juga termasuk Ilyaas dan Allios, aku akan menjaga negeri ini untuk dapat menjadi tempat tumbuh-kembang mereka dengan baik.