
Aku lengah.
Aku membiarkan kewaspadaanku turun sehingga orang-orang lemah itu sampai bisa menusukku dari belakang.
“Master!”
Lalu bisa kulihatlah sosok Albert yang semula berdiri di sana dengan secepat tenaganya menghampiriku. Dia pun balas menebas orang-orang yang sebelumnya telah melakukan itu padaku.
“Tidak, Master Albert! Anda telah dikendalikan oleh iblis kejam itu! Anda sadarlah dari pengaruhnya. Aaaakkkkhhhh!”
Bisa kulihat dan kudengar jeritan putus asa orang-orang itu di bawah ketajaman padang Albert. Aku berhasil menyelamatkan nyawa keluarga mereka, namun karena kebodohan mereka sendiri, mereka kini yang justru harus meregang nyawa.
“Master. Master, sadarlah!”
Ah, aku lengah. Tak sepatutnya aku membiarkan Albert mendekat ke arahku karena dia pasti akan tertular penyakit black death ini.
Namun, pikiranku tak bisa kuatur kala itu. Aku terlalu sedih sehingga aku butuh orang untuk menenangkanku. Mungkin tanpa sadar, harapan itulah yang membuatku membiarkan Albert mendekat ke arahku.
Dia yang mencintai penduduk di wilayah Lugwein lebih daripada siapapun, harus membunuh tiga di antaranya dengan kedua tangannya sendiri. Albert pasti lebih terluka dibandingkan diriku yang hanya sekadar tertusuk oleh tajamnya tombak.
“Luka segini takkan sanggup untuk membunuhku. Kamu tenanglah.”
Aku mencabut tombak-tombak yang menancap di dadaku itu dengan kedua tanganku sendiri yang membuat Albert yang menyaksikannya dari dekat hampir saja pingsan. Tidak butuh waktu lama bagi luka-luka itu untuk menutup kembali perihal kespesialan tubuhku.
Apa yang kusaksikan dari pandangan para warga desa yang telah kuselamatkan adalah seakan mereka menatap seonggok sampah yang sangat menjijikkan.
Aku telah berupaya sekuat tenaga menyelamatkan nyawa mereka dan kekaisaran ini dari bencana black death. Aku pula telah cukup memberikan mereka bantuan pangan yang setidaknya cukup sampai mereka berhasil pulih kembali dari bencana wabah ini. Namun alih-alih rasa terima kasih, pandangan dingin dari merekalah yang aku terima.
Bukannya aku begitu menginginkan mereka mengingat jasa-jasaku dan bukannya aku butuh penghargaan, hanya saja setidaknya senyum ramah dapat mereka tunjukkan sebagai sedikit hadiah dari kerja kerasku ini.
Dan tidak hanya para warga saja, entah untuk beberapa alasan, para prajurit dari istana yang aku bawa ke sini juga memberikan pandangan yang tak enak padaku. Bahkan ketika aku ditusuk oleh para warga itu, aku bisa merasakan harapan mereka yang menginginkan aku mati saja dalam kejadian naas itu.
Apa yang telah kulakukan pada mereka sehingga mereka sangat membenciku demikian?
Aku terlalu percaya diri setelah berhasil mengambil hati para prajurit Kota Painfinn sehingga aku melupakan jati diriku sebagai seseorang yang mudah dibenci.
Namun aku seorang kaisar. Aku harus kuat. Masa depan kekaisaran ini yang begitu pula berdampak pada masa depan keluargaku dipertaruhkan lewat kedua tangan ini. Masalah trivial seperti ini tidak selayaknya meruntuhkan aku.
Albert telah menghukum para warga pemberontak itu dengan kematian yang layak. Salah sedikit aku bertindak, keluarga mereka juga akan kena imbasnya dengan guillotine jika sampai masalah ini terdengar publik.
Aku pun menekankan kepada para prajurit untuk melaporkan kejadian penyeranganku itu ke istana sebagai tindak penyerangan liar yang pelakunya telah dibunuh di tempat dan melarang mereka untuk jangan sekali-kali mengungkapkan bahwa mereka mengetahui identitas keluarga para penyerang itu.
Masalah ini tidak usah diperpanjang. Penyakit black death telah menghilangkan rasionalitas mereka sehingga tidak layak untuk mencap mereka sebagai pengkhianat hanya karena segelintir dari mereka kehilangan akan sehatnya sampai-sampai menusuk seorang kaisar.
Aku pun memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu saja sebelum kehadiranku yang lebih lama bisa membuat posisi para warga wilayah Lugwein berada dalam bahaya.
Namun sebelum pulang bersama Yasmin,
“Albert, kamu juga harus melakukan karantina. Carilah Sara untuk memandumu.”
Karena Albert terlanjur terkena droplet cairan tubuhku yang positif mengidap black death, dia pun wajib menjalani karantina. Yah, tetapi untuk ksatria sepantaran Albert dengan perlindungan mana yang besar, kuyakin dia akan sanggup bertahan, terlebih dengan telah tersedianya obat-obatannya.
Aku bermeditasi sejenak untuk menekan bakteri penyebab penyakit black death yang berada di dalam tubuhku itu. Aku lantas meminum obat antibiotiknya lalu dengan bantuan aliran mana-ku, aku tepat mengarahkan aliran obatnya secara langsung ke jaringan-jaringan di mana bakteri-bakteri itu bersemayam.
Aku tentunya masih akan butuh perawatan lebih lanjut karena ketahanan dinding sel bakteri cukup kuat, tetapi setidaknya bakteri-bakteri itu telah dalam keadaan terisolasi dengan baik, terperangkap di dalam aliran mana tubuhku sehingga tidak akan menular lagi ke orang lain.
Yah, walaupun sebenarnya masih ada peluangnya sekitar 20 % untuk menular, tetapi paling tidak aku bisa sedikit jalan-jalan keluar dengan lebih bebas untuk sementara waktu, asalkan itu di daerah hutan.
Masih ada yang aku dan Yasmin perlu lakukan. Berburu sang pelaku.
Lantas kemudian aku bertanya-tanya, mengapa sampai witch wabah melakukannya? Padahal selama ini seharusnya witch hanya tertarik dengan kegelapan hati manusia untuk menyesatkannya. Di situlah aku berhipotesis, pasti ada keinginan seseorang yang telah diwujudkan oleh sang witch dalam membawa bencana wabah ini sekali lagi ke dunia.
Sang wich wabah tidak melakukannya atas kehendaknya secara langsung, tetapi dia melakukan ini demi memperoleh kegelapan hati dari seorang pemohon. Lalu kemudian, siapa pemohon itu? Siapapun pemohon itu keberadaannya pasti tidak akan jauh dari tempat kejadian perkara agar dia bisa melihat secara langsung dendamnya terbalaskan.
Lalu bingo.
Aku benar-benar menemukan orang yang dimaksud.
***
“Hei, Leriana, Ramie. Wabah black death itu berhasil ditangani! Bukankah kamu bilang cara ini akan ampuh untuk menghabisi kekaisaran sehingga aku bersedia mengikuti rencanamu yang konyol dengan mengorbankan budak kesayanganku itu sebagai sumber penularan wabahnya?”
“Itu memang tidak terduga, Tuan. Aku juga tidak menyangka kalau kaisar itu akan sanggup menghentikan keganasan wabah black death yang sempat memporak-porandakan kekaisaran kuno.”
“Tetapi, Tuan, Kak Leriana, bukankah bisa dibilang rencana kita cukup berhasil walaupun berbeda seperti yang diharapkan mengingat para warga kini mulai membenci kaisar itu.”
“Sedari awal kaisar itu memang telah dibenci karena ramalan tiran itu. Bukan itu yang kuinginkan. Aku ingin membalaskan dendam pada semuanya yang telah membuangku beserta keluargaku yang selama ini sudah berkorban banyak buat mereka. Lantas setelah semuanya menghilang, aku akan mendirikan Kekaisaran Vlonhard baru dengan bantuan Kekaisaran Tong Kong di timur.”
Di tengah pembicaraan para dalang itu, suara langkah kaki terdengar. Tidak, dia dengan sengaja menampakkan hawa keberadaannya. Dialah Helios sun Meglovia, sang kaisar yang sedang mereka bicarakan.
“Aku bertanya-tanya ke mana kamu selama ini bersembunyi, Pangeran Fabian. Tak kusangka kamu akan bersembunyi di Kekaisaran Tong Kong yang padahal telah lama menjadi sekutu grand duchy Ignitia. Tidak, lebih daripada itu, aku lebih tertarik pada kedua selirmu ini. Hmm, itu salah, maksudku witch.”
“Witch? Apa yang…”
Pangeran Fabian, pangeran ketiga mantan Kekaisaran Vlonhard, yang awalnya tidak mengerti segera bisa memahami maksud ucapan Helios itu di kala kedua selirnya itu menampakkan wujud asli mereka. Mereka adalah Angele dan Marie.
“Kalian? Kalian adalah witch?!”
“Tidak usah sekaget itu dong, Pangeran. Lagipula kita telah bercumbu berkali-kali. Hanya karena identitas kami sebagai witch kini telah terungkap, apa kamu sekarang membenci kami?”
“Tidak, bukan begitu.”
“Baguslah, kalau begitu izinkan saya menggunakan prajurit Anda sebagai senjata.”
Marie tertawa jahat seraya mengatakan itu. Tidak lama berselang, masing-masing boneka voodoo merasuki tubuh para prajurit dan seketika semuanya kehilangan kewarasan mereka. Mereka kemudian berbondong-bondong hendak menyerang Helios.
Yasmin ingin maju, tetapi Helios segera menghentikan langkahnya.
“Kamu tidak perlu maju kali ini, Yasmin. Tugasmu sekarang adalah untuk menangkap Pangeran Fabian agar dia tidak kabur agar bisa merasakan segala akibat perbuatannya.”
Yasmin hanya mengangguk atas perintah Helios tersebut lantas sejenak kemudian turut pula menghilang dari tempat itu.
Para prajurit yang kini lebih menyerupai zombie itu hendak menyerang Helios, namun ada yang aneh. Seketika prajurit itu berhenti di tengah-tengah.
“Kenapa?”
“Kamu bertanya kenapa? Bukankah kalian yang telah mengajarkanku sesuatu yang menarik, witch. Bakteri-bakteri itu benar-benar bisa menjadi senjata biokimia yang mematikan jika sedikit saja dimutasikan, bukan?”
Para zombie itu kemudian menunjukkan gejala kejang-kejang dengan sangat cepat lalu mati begitu saja dalam keadaan tubuh yang telah menghitam.
“Apa yang telah kamu lakukan?”
“Bukankah wanita yang sedari tadi diam saja di sana yang lebih tahu segalanya bagaimana indahnya melihat kematian dengan senjata biokimia tak kasat mata itu?”
“Kau. Kau telah melakukan sesuatu pada anak-anak kesayanganku.”
Helios tersenyum jahat, bahkan tampak lebih jahat daripada kedua witch yang ada di hadapannya itu.