
Di penjara yang terletak di lantai bawah tanah mansion itu, Codi terkurung di sana.
Di tengah menikmati kesunyian waktunya di tempat yang hampir tidak ada siapapun itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat yang membuat rasa penasaran Codi bergidik.
Codi pun menjadi penasaran lantas menoleh ke arah luar sel.
Rupanya yang datang adalah sosok yang sama sekali tidak diduganya. Dia adalah Nunu.
“Tuan Codi.”
Nunu memanggil nama Codi, tetapi tampak tak ada satu pun niat dari Codi untuk menjawab panggilan itu.
“Hei, Tuan Codi, Tuan Codi, Tuan Codi, Tuan Codi, Tuan Codi, Tuan Codi, Tuan Codi, Tuan Codi!”
“Cukup! Aku bisa mendengarnya!”
Codi pada akhirnya menjawab panggilan tersebut karena tak tahan lagi mendengar Nunu terus-terusan mengulang-ulangi memanggil namanya, malahan setengahnya sudah terdengar seperti ejekan.
“Syukurlah. Aku kira Tuan Albert dan Nona Yasmin memukul Anda terlalu keras sehingga telinga Anda menjadi tidak berfungsi lagi.”
“Kau ke sini datang untuk mengejekku ya?!”
Bahkan assassin kelas kakap seperti Codi yang telah dilatih untuk meredam rasa amarah mereka, tidak bisa menang menghadapi tingkah menjengkelkan Nunu.
“Hehehehehehehe, mendengar suara Tuan Codi yang menggelegar, aku jadi lega. Itu artinya Tuan Codi baik-baik saja.”
“Jadi, apa tujuanmu kemari? Kamu ingin membalaskan dendam karena aku telah melukai majikanmu?”
Terhadap pertanyaan Codi itu, Nunu menggelengkan kepalanya.
“Tidak, Tuan Codi. Justru sebaliknya, aku ingin menghibur Anda karena kuyakin itu pulalah yang diharapkan oleh Tuan Helios.”
“Heh, semuanya tampak mengagungkan Pangeran Iblis itu tanpa mengetahui bagaimana isi hatinya yang sebenarnya.”
“Andalah sebenarnya yang tak paham, Tuan Codi.”
Suasana santai seketika berubah tegang ketika itu masuk pada pembahasan mengenai Pangeran Helios.
“Tak paham apanya? Jelas-jelas dialah yang telah membunuh Pangeran Leon.”
“Tuan Codi. Coba pikirkan ini baik-baik. Bukankah kita sama-sama pergi menjelajahi hutan monster bersama Tuan Helios? Lantas kapan Beliau punya waktu untuk mencelakai Tuan Leon.”
“Bukankah dia terpisah dari kita selama lebih dari sejam selama terkurung di bagian dalam dungeon itu?”
“Jadi Tuan Codi berpikir bahwa Tuan Helios telah memanfaatkan waktu yang sesingkat itu untuk keluar dari dungeon lantas bergerak dengan kecepatan kilat menuju ke ibukota yang seharusnya normalnya bisa ditempuh dalam waktu lebih dari sehari jika berjalan kaki lantas melakukan pembunuhan kepada Tuan Leon lalu segera kembali lagi kemari dengan kecepatan kilat pula tanpa semua orang di tempat itu saat itu menyadarinya?”
Nunu menjeda sedikit ucapannya sebelum melanjutkan, “Wow, aku sama sekali tidak terpikirkan hal itu. Imajinasi Tuan Codi sangat luar biasa. Tampaknya Tuan Codi berbakat menulis novel wuxia.”
“Hei, gadis dari suku mata merah. Kamu benar-benar berpikir bahwa Pangeran Iblis itu tidak mampu melakukannya? Kamu sendiri sudah lihat kan bagaimana dia tiba-tiba memiliki sayap lantas terbang dengan cepat pada saat itu?”
“Dengan suara yang dihasilkan oleh sayap itu, mungkin aku dan Tuan Codi sudah terlalu budeg kali ya sehingga kita sama sekali tidak bisa mendengarkan suara anginnya pada saat itu.”
“Mungkin dia menggunakan semacam sihir peredam suara. Ataukah mungkin Pangeran Iblis itu bahkan bisa sihir teleportasi seperti di novel-novel wuxia yang kamu bicarakan itu.”
“Sudah kubilang ini bukan khayalan, tapi kenyataan! Sejak Hestia tidak mungkin membohongi kami dan mengkhianati Pangeran Leon.”
“Yah, mungkin saudara perempuan Anda itu tidak bohong, tetapi bisa saja kan bahwa ingatannya palsu? Kan kita sudah ketemu witch wabah pada saat itu, tidak mustahil kalau ada juga witch yang mampu mengubah ingatan seseorang. Bukankah menyalahkan sihir hitam di sini lebih logis daripada menuduh Tuan Helios sebagai pelakunya?”
Ucapan dari Nunu itu seketika membuat keyakinan Codi bergetar. Dia tanpa sadar membenarkan ucapan Nunu itu di dalam hatinya sebab semuanya memang mungkin jika itu melibatkan sihir hitam. Lebih masuk akal jika ingatan dari sisi Hestia-lah yang diubah ketimbang memikirkan bagaimana Helios mampu bolak-balik dari tempat yang berjarak sangat jauh plus melakukan pembunuhan dalam waktu hanya sekitar sejaman saja.
***
Hidupku seketika terasa hampa ketika kumendengar berita kematian adik bodohku itu. Dia adalah seorang pemuda yang kurang ajar dan selalu merendahkan kakaknya. Walau demikian, aku tetap sangatlah mencintai adik nakalku itu.
Jika saja hari itu aku tidak meninggalkannya, maka sudah pasti aku bisa melindunginya sehingga Leon tidak harus meninggal dengan cara yang sangat kejam.
Tetapi mengapa ini bisa terjadi? Leon itu sangat kuat. Dia adalah master pedang level 5 yang dengan sedikit dorongan lagi, seharusnya bisa menjadi grand master menyusul jejak pahlawan pertama yang sebenarnya, Pahlawan Aries. Siapa gerangan yang bisa mengalahkan pemuda sehebat dirinya? Aku sama sekali tidak memiliki petunjuk.
Apakah ini perbuatan rekan witch wabah yang dipangginya Isis itu? Jika itu memang dia, maka aku akan bersumpah untuk mengoyak tiap dagingnya untuk kujadikan makanan ikan. Aku bersumpah akan melakukannya atas kehormatanku!
Namun, apa yang akan terjadi setelah aku balas dendam? Tiada lagi adik bodohku itu di dunia ini. Tiada lagi adik kurang ajar yang akan mengatai kakaknya sebagai sampah. Balas dendam apapun yang kulakukan, takkan mengubah fakta bahwa Leon tidak ada lagi di dunia ini.
“Hidup itu menyesakkan. Haruskah aku menyusulmu ke alam sana, Leon?”
Sembari menggumamkan kalimat itu, aku tanpa sadar tertidur.
Suatu mimpi yang aneh. Apa ini karena aku sangat merindukan Leon sehingga aku memimpikan masa lalu kami?
Itu adalah kenangan tentang masa lalu kami di mana aku menggunakan kekuatan elemen air-ku untuk membentuk gelembung-gelembung yang sangat indah yang bertaburan di langit di mana Leon kecil pada saat itu tampak sangat menikmati pertujukan gelembung-gelembungku tersebut.
“Kakak Helios memang yang terbaik! Kak Tius takkan sanggup untuk membuat gelembung-gelembung cantik seperti ini dengan elemen apinya.”
Aku pun menepuk atas kepala Leon sembari tersenyum kepadanya.
“Lihat kan? Kakak hebat kan? Mulai sekarang, kamu dapat mengandalkan Kakak kapan saja.”
“Hmm.” Leon mengangguk atas pernyataanku itu.
“Tapi sayangnya, kita tidak mungkin akan melakukan hal ini lagi ya, Kak, soalnya aku kini sudah menjadi mayat.”
Suasana di mimpiku itu seketika berubah suram. Muka Leon pun perlahan memucat bagai sosok mayat. Lalu, sosoknya itu perlahan ikut menghilang ke dalam kegelapan.
“Tidaaaaaaak! Jangan pergi, Leon!”
Aku tak dapat melukiskan perasaan sedih yang kurasakan saat itu. Aku hanya bisa berpikir untuk turut menghilang dari dunia saja ketimbang merasakan perasaan sakit yang teramat sangat itu.
Namun seketika seseorang menepuk pundakku dari arah belakang. Itu adalah Leon, kali ini dalam wujud dewasanya.
“Yo, Kakak. Lama tidak jumpa.”
Aku seketika tahu bahwa itu hanyalah ilusi sejak Leon tersenyum begitu lembut padaku saat itu. Aku hanya tidak bisa membayangkan jika itu Leon yang asli, dia bisa tersenyum seramah ini padaku. Oleh karena itu, sudah pastilah bahwa Leon yang berdiri di hadapanku saat ini hanyalah gambaran perwujudan dari sosok yang paling ingin aku lihat saat ini lubuk hatiku yang terdalam.
“Leon.”
Walau demikian, aku sangat bersyukur bisa melihat sekali lagi sosok wajah adikku itu meski itu hanya di dalam mimpi.