Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 107 – TRAGEDI BERDARAH CABALCUS (bag. 2)



Bertolak setelah membunuh Ludwig, Helios memulai perburuan berdarahnya di Kerajaan Cabalcus.


Dia bukan lagi seorang pangeran berhati lembut yang naif. Kematian kakaknya mutlak mengubah kepribadiannya 180 derajat menjadi monster haus darah. Setiap musuh yang datang duluan menerjangnya, tidak akan ragu dia koyak tubuhnya, entah itu tua, muda, wanita, atau pria. Bagi Helios, setiap yang ingin merenggut hidupnya adalah musuh yang harus dibunuh.


Darah berceceran di mana-mana di setiap tempat yang dikunjungi oleh Helios. Tetapi itu tidak berarti dia membunuh semua manusia yang dilihatnya.


“Bersalah.”


“Tidak bersalah.”


Helios akan melabeli mereka dengan dua label. Jika dilabelinya ‘tidak bersalah’, maka Helios hanya akan melewatinya saja, namun jika sampai dilabelinya bersalah, di saat itu pulalah nyawa orang tersebut berakhir.


Namun, Helios tetap punya aturan. Dalam kegilaannya, dia tampaknya masih memiliki sedikit akal sehatnya. Dia tidak akan membunuh anak-anak, termasuk rakyat jelata yang sama sekali tidak terlibat dalam pengkhianatan Kerajaan Cabalcus pada aliansi tiga kerajaan selatan.


Suatu ketika, sampailah dia di suatu area hutan tidak jauh dari tempat di mana kakaknya itu dibunuh. Dia menyaksikan seorang pemuda yang berlari dengan sangat ketakutan. Dan pemuda itu, juga memiliki bau kakaknya yang sekarat sebelum akhirnya meninggal.


Helios segera mengerjar pemuda itu.


“Aaaakkkh.”


Pemuda itu, Rowen de Ignitia, tampak sangat ketakutan dengan ekspresi yang tidak bisa tergambarkan melalui kata-kata.


Namun, begitu pemuda itu menyaksikan wajah Helios baik-baik,


“Pangeran Helios? Andakah itu?”


Mengabaikan penampilan Helios yang saat itu sangat menyeramkan dengan matanya yang hitam nan gelap segelap abyss, ditambah auranya yang dingin dengan es yang menyelimuti sekujur tubuhnya, terlebih dengan cakar es-nya yang penuh akan darah, Rowen segera menghampiri Helios lantas memegangi Helios dengan gemetaran.


Rowen tidak ketakutan terhadap Helios. Dia lebih takut pada kemungkinan prajurit Ludwig berhasil mengejarnya sampai ke tempat itu ataukah munculnya binatang buas yang bisa saja terjadi tiba-tiba di hutan tersebut.


Apakah karena dia kikuk, atau tidak bisa memperhatikan hawa membunuh Helios dengan baik saat itu saking ketakutannya dia akan bahaya lain, Rowen malah memeluk Helios yang berpenampilan tidak jauh bedanya dengan monster setelah berjuang dengan ketakutannya selama berjam-jam berlarian di dalam hutan. Itu karena dia sangat ketakutan dan keberadaan Helios di tempat itu justru meredakan sedikit ketakutannya.


Itu karena Rowen mengenal Helios dengan baik. Rowen menghadiri langsung pernikahan adik sepupunya, Helios, sebagai wakil kerajaan Ignitia. Di situlah dia mengenal Helios dan mereka langsung dekat. Mungkin kesamaan ciri-ciri fisik mereka yakni rambut hitam dan mata hitam menjadi salah satu penyebabnya.


“Pangeran, kamu tidak mengenal aku? Aku datang sewaktu upacara pernikahanmu setahun yang lalu, lho. Aku kakak sepupumu, Rowen de Ignitia.”


Di situlah Helios baru turut pula mengenali kakak sepupunya itu.


“Ah, Kak Rowen rupanya. Jadi Kakak ya yang mewakili Kerajaan Ignitia di pertemuan persatuan tiga kerajaan selatan kali ini.”


Ekspresi Rowen tiba-tiba saja menegang. Itu bukan karena dia akhirnya menyadari tampang Helios yang menyeramkan dengan aura hitam bercampur es yang mencekamnya. Itu karena dia seketika teringat Tius Star Meglovia.


“Pangeran Helios, bagaimana dengan nasib Putra Mahkota Tius? Kamu ada di sini baik-baik saja, itu berarti Dik Tius juga berhasil selamat dari Putra Mahkota Ludwig kan?”


Helios hanya tersenyum. Dia tidak menjawab pertanyaan itu.


“Untuk sekarang, akan bahaya jika Kakak terus-terusan berada di wilayah ini.”


-Srurururuk.


“Uaaaakhhh!”


Golem yang terbuat dari kumpulan uap air yang seketika berubah menjadi es membuat Rowen sangat terkaget sehingga dia tersungkur di tanah. Pantatnya tepat mengenai tanah duluan sehingga itu semakin membuatnya kesakitan.


“Tenang saja, Kak Rowen. Ini adalah golemku.”


“Ka… kam… kamu bisa sihir objek?! Bukankah itu sihir kuno yang sudah tidak ada lagi di zaman ini, Pangeran Helios?!”


“Golem ini akan mengantar Kakak tiba selamat di perbatasan Kerajaan Ignitia.”


-Srururururuk.


“Tidak, uwaaakh! Pangeran Helios, tunggu sebentar!”


Namun golem es itu keburu membawa Rowen pergi jauh di mana Helios tidak lagi menoleh ke arahnya.


Helios saat ini hanya tertarik untuk melanjutkan perburuannya, bukan berburu monster, melainkan berburu pengkhianat kemanusiaan.


Dia membunuh hampir semua bangsawan beserta prajurit yang ditemuinya, kecuali beberapa yang termasuk semua anak-anak. Sekali lagi, Helios meninggalkan rakyat jelata yang tidak berdosa dan anak-anak.


Sampai ketika, tibalah Helios di istana Kerajaan Cabalcus.


Kekacauan yang diperbuat Helios begitu besar sehingga sudah pasti berita pembantaiannya itu telah sampai ke telinga istana walau itu baru berlalu sekitar enam jam saja.


“Pangeran Kedua Helios de Meglovia. Kami ingin menawarkan Anda perjanjian dama… Uaaaakhh.”


Helios tidak peduli dengan pembawa pesan itu. Dia turut membunuhnya tanpa hesitasi begitu insight-nya menangkap bahwa pria paruh baya itu juga terlibat akan pengkhianatan Kerajaan Cabalcus yang menjadi penyebab kematian kakaknya.


“Tidak, jangan!”


“Tidaaaaaak!”


“Aaaaakkkkhhhh!”


Helios membantai setiap orang yang ada di dalam istana, termasuk para ratu, selir, dayang istana, butler, dan semua yang terlibat dalam penghianatan Kerajaan Cabalcus. Dia hampir membantai semua keluarga kerajaan Cabalcus, kecuali sepasang kembar laki-laki dan perempuan yang tampak berada di usia sepuluh tahun mereka serta seorang bayi wanita yang ada di tangan seorang maid yang tersisa.


Tidak, masih ada lagi seseorang yang hidup. Itu adalah raja sendiri, Palpico Sun Cabalcus, raja Kerajaan Cabalcus.


“Mengapa kamu melakukan semua ini?”


“Kalian sudah tahu jawabannya.”


“Maafkan aku, kumohon maafkan aku. Aku berjanji mulai saat ini aku akan menjadi pendukung kerajaan kalian dan tidak akan pernah berkhianat lagi.”


“Sekali air kutukan mencemari segelas susu, itu tidak akan pernah kembali menjadi susu yang segar. Menurutmu apa yang akan aku lakukan pada segelas susu itu? … Tentu saja lebih baik segera membuangnya sebelum membuat perut sakit.”


Dengan senyum sadis seseram iblis, Helios melayangkan cakarnya tepat ke perut sang raja lantas mengoyak-ngoyak setiap isi di dalamnya. Raja pun tewas berhamburan darah dengan disaksikan oleh ketiga keturunannya yang masih tersisa.


***


Di tempat lain, rupanya tentara Kekaisaran Vlonhard telah menunggu di gerbang perbatasan utara Kerajaan Cabalcus. Jumlahnya ada sekitar 100.000 tentara.


Yang memimpin tentara itu, ada dua orang pangeran muda kekaisaran. Mereka gagal menotice peristiwa mencekam yang saat ini sedang terjadi di dalam barier yang memerangkap Kerajaan Cabalcus tersebut perihal para familiar Helios mencegah siapapun dan apapun keluar dari pintu masuk barier.


Barier itu awalnya dirancang untuk mecegah baik perwakilan Kerajaan Meglovia maupun perwakilan kerajaan Ignitia untuk melarikan diri dari jebakan sang putra mahkota Cabalcus, namun kini itu telah menjadi senjata makan tuan bagi kerajaan pengkhianat itu sendiri sejak keberadaan barier-lah yang mencegah mereka meminta bantuan bagi sekutu mereka yang stand-by di luar.


“Aku gugup, Kakak.” Yang berbicara adalah Pangeran Bonivetto de Vlonhard, pangeran kedelapan Kekaisaran Vlonhard yang masih berada di usia empat belas tahun-nya.


“Tenang saja. Kakak yang akan memimpin para prajurit. Kamu ikut di belakang Kakak saja untuk mengawasi sejak ini adalah pengalaman pertamamu dalam perang.” Kemudian yang diajaknya berbicara adalah Pangeran Brian de Vlonhard, pangeran keempat Kekaisaran Vlonhard.


Keduanya ingin meraih prestasi selama perang demi memperoleh pujian dari sang kaisar untuk tujuan mereka masing-masing.