
“Apa sebenarnya yang kamu incar dengan menginvasi dunia kami?”
Terhadap pertanyaan sang pahlawan, Sang Raja Iblis terlihat kebingungan.
Sudah jelas bahwa selama ini dia pada akhirnya mengikuti rencana Baal datang ke dunia Gaia tidak lain untuk mencari lawan yang kuat.
Berdasarkan oracle Baal, dia akan mendapatkan lawan kuat yang dimaksud di dunia Gaia ini.
Namun ketika ditanya sendiri apa yang dia incar, sang Raja Iblis Ozazil bingung untuk menjawabnya.
Dia telah memperoleh kekuatan yang cukup hingga dengan sekali sapuan tangannya, dia bisa menghempaskan sebuah tata surya.
Dia juga tak butuh yang namanya ketenaran karena baginya itu justru merupakan suatu hal yang merepotkan.
Apakah yang dia inginkan adalah subjek?
Itu pun juga tidak terlalu.
Entah ada atau tidak ada para pengawal demon di sampingnya, sang Raja Iblis Ozazil tidak terlalu peduli.
Lantas apa yang dia benar-benar inginkan? Apa yang dia incar?
Tidak ada hal lain yang terlintas di pikirannya selain lawan yang kuat.
Namun buat apa itu semua?
Ozazil pun sulit untuk menjawabnya.
Tidak ada yang diinginkan pula dari lawan yang kuat itu selain sekadar pengisi waktu baginya untuk mengatasi kesenggangannya melalui pertarungan yang menggairahkan dengan menghadapi lawan yang kuat.
Jadi alih-alih subjek itu sendiri, apa yang sebenarnya diinginkan oleh Ozazil adalah kegunaan dari subjek yang bersangkutan.
“Apa yang kuincar? Hmm. Entahlah, mungkin tubuhmu?”
Akhirnya, keluarlah jawaban dari Raja Iblis Ozazil setelah mempertimbangkan dalam-dalam.
Mendengar jawaban itu, seketika seluruh tubuh Helios merinding.
Setelah dicernanya kembali, memang benar bahwa satu-satunya kekurangan Ozazil saat ini adalah tubuh boneka yang kuat.
Tubuh lamanya, Ozama, sudah berusia sepuluh ribu tahun lamanya sehingga dia bisa dikatakan tergolong barang pakai yang sudah sangat tua.
Ozazil membutuhkan tubuh baru.
Apa maksud Ozazil dan apa yang ditangkap oleh Helios jelas berbeda. Namun, itu tak ada gunanya lagi dalam percakapan mereka sejak jelas bahwa salah satu dari mereka akan musnah dari tempat ini dan jelas pula bahwa pemenang akan mengambil segalanya.
Termasuk jika yang diambil itu adalah mayat dari yang kalah.
“Aku takkan pernah sudi menyerahkan tubuhku padamu, Ozazil!”
-Slash, trak, trak.
Helios maju menyerang Ozazil.
Namun dengan malas, Ozazil menangkis serangan Helios.
“Oh, ayolah. Aku telah menanti pertarungan ini selama sepuluh ribu tahun lamanya. Aku harap ini tidak akan mengecewakan. Karena kalau begini saja, kuhancurkan sekarang saja planet ini beserta segala isinya.”
Walaupun Ozazil mengucapkan itu dengan tampang yang malas, dia sejatinya serius.
Jika Helios tidak mengentertainmen Ozazil dengan pertarungan yang menarik, dunia Gaia akan benar-benar segera dihancurkan oleh Raja Iblis bengis itu tanpa berpikir panjang.
Tapi, Ozazil salah.
“Apa?”
Bayangan Ozazil terdistorsi.
Itu menyerang Ozazil dengan puluhan duri hitam yang tersembunyi dari balik bayangannya di kala tubuhnya sendiri goyah oleh lunaknya pijakannya yang tiba-tiba.
Itu adalah jurus objek Isis yang telah Helios serap dengan baik.
“Oho. Setidaknya kamu tidak mengecewakan karena berhasil mendaratkan serangan padaku, pahlawan. Tapi sebaiknya kamu waspada karena aku takkan lengah lagi.”
Demikianlah, Ozazil pun akhirnya mulai serius dalam menghadapi sang pahlawan.
Pedang Alsbringer dan pedang Djienn mulai saling beradu menghempaskan kilatan cahaya dan kegelapan di saat yang bersamaan.
***
Di lain pihak, Leon dan kawan-kawan yang berada di posisi bertahan melakukan tugasnya dengan cukup baik.
Leon, Alice, dan juga Albexus membentuk party dadakan untuk menghadapi duo kembar heavenly four.
-Trang, trang, trang.
Tapi bagaimana pun Alice dan Leon berupaya menembus pertahanan mereka, itu sangatlah sulit.
Namun di lain pihak.
-Slash.
“Ukh.”
“Albexus!”
“Tenang saja. Aku baik-baik saja.”
Serangan si mulus benar-benar gesit dan cekatan yang tidak bisa diprediksi di mana dia selanjutnya akan mendaratkan serangan.
Selain itu, serangan pedang rapier-nya amat presisi mengincar titik vital lawan.
Walau demikian, berkat kekuatan suci Albexus yang besar terlebih dengan buku kebijaksanaan Liza yang mendukungnya, luka-luka yang terbentuk segera tertutup kembali.
Namun, baik Leon, Alice, maupun Albexus sendiri paham apa benar yang musuhnya tersebut rencanakan.
Sejak Albexus berperan sebagai penyokong tim dengan sihir pemulihannya, maka dia mau tak mau akan menjadi incaran lawan duluan sejak efektifitas pemulihan tim akan seketika menurun drastis jika Albexus segera dieliminasi dari posisinya.
Leon ingin segera memanfaatkan celah si mulus yang keluar dari perlindungan si kumal di saat menyerang untuk balik menyerangnya, namun itu ternyata tidak semudah yang dibayangkannya.
Bagaikan besi yang tertarik oleh gaya magnet yang sangat kuat, si kumal seketika melaju dengan sangat cepat melindungi si mulus.
Melihat hal itu, wajah Alice tampak kecut.
“Bagaimana bisa ada monster yang seperti itu?”
“Dia benar-benar hebat melindungi rekan setimnya. Aku ingin sepertinya.”
Ekspresi Alice menggambarkan bukan kesal ataupun frustasi, melainkan iri.
***
Sementara itu, di dekat mereka ada pula pertarungan Dokter Minerva yang disupport oleh Olbero Chalkie Obraham.
Lawannya adalah si merah dengan senyum yang sangat mengerikan. Tidak, itu bukan senyum sejak itu bentuk asli dari mulutnya sendiri.
Delapan lingkaran merah kecil terletak di belakangnya dan itu mensummon kekuatan supranatural yang berbeda-beda.
-Tiiiiiing.
-Truk.
Dokter Minerva ingin memanfaatkan portalnya untuk membuat celah dalam menyerang sosok merah tersebut, tetapi portalnya itu seketika hanya hancur dibarengi oleh menyala terangnya salah satu lingkaran merah kecil di belakang si merah.
Tampaknya salah satu kekuatan supranatural yang dimiliki oleh salah satu lingkaran merah itu adalah kekuatan yang berhubungan dengan dimensional sehingga dapat mendistorsi portal milik Dokter Minerva.
Dokter Minerva bahkan tidak sempat memikirkannya.
Badai salju segera keluar lewat lingkaran merah yang lain.
Dokter Minerva mengeluarkan sihir apinya.
Dokter Minerva sejatinya tidak hanya bisa menggunakan sihir teleportasi saja.
Dia adalah seorang grand magician yang bisa segala jenis sihir, salah satunya adalah sihir api.
Akan tetapi, di tempat itu tidak hanya ada dirinya saat ini.
Ada Olbero, terlebih banyak prajurit biasa yang ada di sekitar mereka juga.
Salah sedikit dalam mengeksekusi badai salju dengan api, bisa saja terjadi momentum ledakan sangat dahsyat yang akan seketika menyapu bersih daerah di sekitarnya.
Inilah perbedaan antara Dokter Minerva dengan sang lawan yang memberikan kerugian untuknya.
Dokter Minerva memperhatikan keselamatan para prajurit lain di sekelilingnya, namun tidak demikian adanya bagi the heavenly four.
Bagi mereka, demon minion hanyalah alat.
Dengan hati-hati, Dokter Minerva pun menyerang bukan pada titik krusial yang bisa menimbulkan ledakan di daerah sedekat mungkin dengan lingkaran merah, tempat badai salju tersebut disummon.
***
Sementara itu di luar kastil Raja Iblis, Albert dengan gagah berani menghadapi ribuan demon dengan sesosok heavenly four bersama mereka.
Seluruh tubuh Albert ada yang digigit, ditusuk, bahkan dicengkeram, namun Albert tidak patah semangatnya.
Dia mengayunkan pedang besar Toraniumnya sehingga seketika menghempaskan puluhan demon minion yang melukainya.
Namun di saat itulah masalah yang sesungguhnya datang.
Sesosok demon tingkat tinggi yang tidak lain menyandang salah satu gelar the heavenly four terbang dengan sangat cepat lantas menabrak Albert dengan sangat keras tepat di mana sebuah tanduknya itu mengenai ulu hatinya.
Albert pun terpental dengan sangat jauh yang di tempatnya mendarat sudah dinanti oleh ribuan gigitan serta cakaran para demon minion.