Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 48 – LUKA LAMA ALBERT



[POV Albert]


Aku terlahir di dalam keluarga bangsawan. Namun demikian, aku paling takut sekaligus membenci yang namanya bangsawan.


Dari kecil, aku selalu dididik oleh ayahku untuk menjadi seorang ksatria demi mendukung kakak pertamaku sebagai calon penguasa wilayah selanjutnya.


Sebagai seorang pemimpin, ayahku adalah orang yang bijaksana. Namun demikian, dia adalah tipe yang keras terhadap anak-anaknya. Dia tidak menginginkan serang anak yang lemah. Oleh karena itulah aku rajin latihan sedari kecil demi memenuhi harapannya.


Namun, badai seketika menerjang di kala usiaku menginjak 7 tahun. Keluargaku dituduh bidat oleh kuil suci lantas dieksekusi oleh kaisar perihal tuduhan tidak berdasar atas rumor yang disebarkan oleh para bangsawan.


Demikianlah betapa bahayanya makhluk yang bernama bangsawan tersebut. Dengan lidah mereka yang tajam, mereka mampu menghancurkan hidup orang lain melalui rumor, ketakutan, dan pengkhianatan.


Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana Ayah, Ibu, kakak laki-laki pertama, kakak laki-laki kedua, dan kakak perempuanku dieksekusi mati dengan kejam tepat di hadapanku. Mereka mengembuskan nafas terakhir mereka di dalam nyala api sambil diteriaki oleh orang-orang sebagai pemuja iblis.


Karena aku dilindungi oleh hukum kekaisaran dan waktu itu kaisar cukup baik hati untuk membiarkanku hidup, aku pun berhasil lolos dari eksekusi mati. Namun sebagai gantinya, aku dijual sebagai budak kolosium. Tiada ubahnya sebagai hukuman mati.


Mereka melemparkanku ke dalam arena untuk bertarung dengan monster di saat kuil suci itu telah merusak inti mana-ku. Jadi bagaimana aku yang seorang anak kecil yang tidak bisa lagi menggunakan mana mengalahkan para monster itu?


Itu sama saja dengan mereka sengaja membuang aku di sana untuk dibantai oleh monster sebagai bentuk lain hukuman mati yang sebelumnya tidak diperbolehkan kepadaku perihal hukum kekaisaran yang melindungi anak di bawah umur.


Namun, yang membuat aku lebih sedih kala itu adalah inti mana yang merupakan kenang-kenangan berharga terakhir Ayah padaku dihancurkan begitu saja oleh kuil suci. Dan, itu pulalah yang menjadi penyebab aku belum juga bisa mencapai master pedang level 5 hingga saat ini perihal sirkuit sihir yang terluka pasca inti mana itu dihancurkan.


Di kala aku terlarut di dalam keputusasaan itu, di kala aku telah menyerah terhadap semuanya, Yang Mulia Pangeran Helios pun datang menyelamatkanku.


Dia datang sebagai salah satu pengunjung kolosium untuk memilih budak yang akan dijadikan ksatrianya.


Sejak tiada anak bangsawan pengikutnya yang bersedia melayaninya sebagai ksatria-nya, Yang Mulia Pangeran Helios pun terpaksa mengandalkan seorang budak. Lalu, di tengah banyaknya budak-budak berpotensial lainnya yang memiliki tubuh yang lebih sehat dariku, yang lebih dewasa dariku pula kala itu, Yang Mulia Pangeran Helios memilihku.


Dia mengatakan bahwa aku lebih berpotensi dibandingkan para budak yang lain, makanya dia memilihku. Dan itu pun membuat aku senang. Aku senang karena di kala aku terjerembab di dalam lubang yang sangat dalam, masih ada orang yang menaruh kepercayaannya padaku lantas menyelamatkan aku dalam kubangan hina ini.


Oleh karena itulah, dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku pun menganggap Yang Mulia Pangeran Helios sebagai adikku sendiri. Kutahu itu adalah tindakan ketidaksopanan atas keluarga kerajaan, makanya aku hanya memendam hal itu dalam hatiku saja. Yang jelas, apapun yang terjadi pada Yang Mulia Pangeran Helios, aku akan melindunginya sebagai pedangnya, meski itu akan mengorbankan nyawaku sendiri.


***


“Hei Kakak Sampah, tampaknya anak buahmu sama denganmu ya, sampah semuanya.”


Mendengar hinaan Leon pada Helios tersebut, Albert tak dapat lagi menahan amarahnya. Melupakan status tinggi Leon, dengan pandangan amarah, Albert melakukan hal yang seharusnya apa yang bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap keluarga kerajaan. Dia menatap Leon secara tidak mengenakkan sembari meninggikan suaranya.


“Harap hentikan semua itu, Pangeran Leon. Jika Anda memang merasa hebat, ayo bertarung denganku. Jika aku menang, maka Anda harus mencabut kembali perkataan Anda itu dan meminta maaf kepada Yang Mulia Pangeran Helios.”


“Hahahahahaha. Entah itu tuan, entah itu anjingnya, kalian sama-sama mudah terprovokasi. Tetapi hei anjing kampung, jangan pikir hanya karena aku berhasil kalah dari tuanmu secara memalukan, aku juga akan kalah dari anjing kampung sepertimu.”


Albert menatap Leon dengan penuh amarah, lalu Leon pun membalas tatapan itu dengan lebih menyeramkan. Melihat perkembangan situasi itu, Helios menggelengkan kepalanya dengan kecewa.


Dia pun menepuk pundak Albert seraya berkata, “Hei, Albert. Kamu tenanglah. Apa gunanya kamu malah terprovokasi seperti itu. Lagipula Leon sama sekali tidak berniat buruk kok. Coba pikirkan sekali lagi, semua sarannya itu benar adanya. Jika mengikuti sarannya, maka Nunu dan Alice dapat sekali lagi berkembang. Cara bicaranya memang mengesalkan dari sananya, jadi kamu maklumilah kekurangannya itu.”


“Hei, apa maksudnya itu, Kakak Sampah?!”


“Kamu juga, Leon. Perbaikilah kebiasaanmu yang selalu gampang memprovokasi orang itu. Sebenarnya, ke mana perginya adik imut-ku yang selalu tersenyum kepadaku itu. Kenapa kamu bisa berubah menjadi mengesalkan seperti ini.”


Helios memelintir pipi Leon yang sangat bertampang tidak enak itu yang sedang menatapnya. Akan tetapi, Leon dengan sigap segera menampik tangan Helios itu.


“Jadi, bagaimana, Leon? Maukah kau memenuhi permintaan latih tanding dari Albert itu? Kurasa ini juga bukan tawaran yang buruk untuk kalian berdua demi mengasah kemampuan kalian masing-masing.”


“Hah, Kakak pikir anjing lemah sepertinya bisa menjadi lawan yang sepadan untukku? Nanti jangan menyesal saja kalau sampai anjing kampungmu itu terluka parah. Tapi yah, mumpung aku juga punya waktu luang sekarang, maka baiklah, ayo lakukan.”


“Hehehehehehe. Adikku memang imut.”


“Hentikan itu, Kakak Sampah!”


Demikianlah, akhirnya Leon pun memenuhi permintaan latih tanding melawan Albert itu.


Albert menggertakkan giginya terhadap provokasi Leon.


Dia maju dengan pedang besarnya, melingkupi area luar pedangnya dengan aura yang dikumpulkan dari pembuluh luar mana-nya yang diserapnya langsung dari alam. Sejak inti mana-nya pecah, hal itulah yang maksimal dapat Albert lakukan saat ini. Alhasil, walau aura pedang itu telah cukup luar biasa untuk seorang master pedang level 4, itu adalah terlalu tipis dan tumpul terlebih-lebih tanpa elemen dibandingkan dengan aura api sang master pedang level 5 Leon.


“Trang, trang, trang.”


Tumbukan pedang terjadi berkali-kali. Tampak Albert telah kewalahan walau hanya beberapa kali benturan oleh panas aura api Leon, sementara Leon tampak senang seolah hanya mempermain-mainkan Albert saja.


Tubuh Albert jelas lebih besar dan kekar dari Leon, walau tubuh Leon tidak juga bisa dikatakan tidak atletis, walau demikian, Albert-lah yang terpukul mundur di saat tiada tanda-tanda sedikit pun bahwa Leon kelelahan. Inilah yang dinamakan gap besar antara master pedang level 4 biasa dibandingkan dengan sang jenius master pedang level 5.


“Hah, aku mulai bosan. Apa benar kamu sedang mengayunkan pedang bukannya tusuk gigi, wahai Anjing Kampung?”


Albert semakin merasa direndahkan oleh hinaan sang mulut tajam Leon. Alhasil, gerakan Albert dalam amarahnya menjadi semakin simpel.


Melihat itu, Leon pun tiba-tiba saja diliputi amarah,


“Kamu mengaku sebagai pedang Kak Helios, tetapi kamu dengan mudahnya diprovokasi oleh lawan?! Kamu pikir kamu bisa menang melawanku dengan temperamen seperti itu?! Hanya hinaan sedikit saja, kamu sudah kehilangan ketenanganmu dalam bertarung?! Kamu pikir bisa melindungi si sampah itu dengan jiwa pedang setengah-setengah begini, hah?!”


“Slash slash slash.”


Leon tiba-tiba saja meningkatkan pace bertarungnya, menghempaskan pedang Albert lantas menebas melalui zirahnya menembus kulitnya berkali-kali hingga membuat darah Albert bercucuran di mana-mana.”


“Aaaaakkkkkhhhh!”


“Albert!”


“Tuan Albert!”


“Albert!”


“Komandan!”


Helios, Nunu, Alice, dan Damian tidak dapat menahan kekhawatirannya begitu melihat sekujur tubuh Albert dilumuri oleh darah. Di lain pihak, walau Yasmin berekspresi datar, dia juga sama halnya mengkhawatirkan Albert.


“Kontrollah emosi yang tidak perlu itu jika kamu ke depannya memang ingin menjadi pedang Kakak Sampah itu karena justru sifatmu yang sederhana itulah yang paling berbahaya baginya.”


Sembari mengatakan itu, Leon kembali menyarungkan pedangnya.


Dia pun pasrah menerima bogeman mentah dari Helios itu tanpa menangkisnya perihal amarah Helios yang tak tertahankan setelah melihat anak buahnya sendiri disakiti.


“Kamu? Apa yang kamu lakukan pada Albert, Leon?!”


Leon tidak menanggapi amarah kakaknya itu. Dia yang tersungkur ke tanah pasca menerima bogeman mentah Helios hanya segera berdiri sembari mengusap darah di ujung mulutnya seolah tidak terjadi apa-apa. Dia hanya berkata,


“Sebagai pimpinan Kota Painfinn ini, aku perintahkan kepadamu, Kakak Sampah. Obatilah dia secara menyeluruh melalui dokter wilayah.”


Leon perlahan melangkah meninggalkan mereka. Namun sesaat kemudian, Helios menghentikan langkahnya dengan menghampirinya.


“Leon, jadi kamu menyadari semuanya?”


Leon tersenyum karena niat baiknya itu disadari oleh kakaknya walau yang lainnya tampak tak menyadarinya.


Dia pun membisikkan ke telinga kakaknya yang dilapisi oleh dinding sihir sehingga bahkan orang terdekatnya tidak akan ada yang bisa mendengar suaranya itu kecuali Helios seorang, “Aku pastinya senang jika bisa melawan kembali anjing kampung itu ketika levelnya telah setara denganku.”


Apa yang diincar Leon adalah kesembuhan inti mana Albert sehingga dia turut bisa segera mencapai master pedang level 5. Dengan sengaja membuat seluruh tubuh Albert terluka parah, mereka jadi punya alasan untuk menyembunyikan perawatan inti mana Albert itu dengan dalih penyembuhan luka-luka beratnya pasca pertarungan dengan Leon.


Dan sejak perintah itu datang dari Leon dan bukannya Helios, maka walaupun mata-mata kuil suci berada di dekat mereka, itu takkan menyadari apapun.