Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 126 – KEMBALI KE IBUKOTA



Pasca kemenangan Alice dan Albert menghadapi Ibelal dan beberapa panglima perang pilihannya, situasinya menjadi lebih mudah bagi Kakek Glenn untuk menekan invasi kekaisaran. Kemenangan mutlak jatuh bagi Kerajaan Meglovia.


[Master, apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah kami tinggal sejenak di Kota Lobos ini untuk membantu perbaikan?]


Terhadap pertanyaan Alice itu, aku menjawab,


“Tidak. Tolong bawa segera Albert bersama pulang kembali ke ibukota Megdia. Kita akan bertemu di sana.”


[Sesuai perintah Anda, Master.]


Demikianlah, setelah ucapan salam singkat dengan Kakek Glenn, Alice membawa pulang Albert yang masih pingsan bersamanya dengan kereta kuda yang diberikan oleh Kakek Glenn padanya. Setidaknya, itu yang tampak dari luar.


Aku segera memodifikasi kendaraan itu menggunakan beberapa familiarku untuk menjadi kereta kuda express. Yah, intinya itu tidak lagi melaju dengan menggunakan kaki kuda, melainkan kecepatan angin. Berkatnya, Alice dan Albert dapat tiba kembali ke ibukota Megdia dalam waktu yang lebih singkat.


Aku melakukan hal yang sama dalam perjalanan pulang. Kami hendak akan berangkat pulang kembali ke ibukota Kerajaan Meglovia dengan mengendarai kereta express yang terbuat dari sihir es-ku.


Sisa orang terakhir yang kami tunggu.


“Master, maaf telah membuat Anda menunggu lama. Ini makanan buat Anda.”


Yasmin membawa pulang beberapa buah-buahan yang langsung siap makan.


Aku pun sebelum pulang, memakannya bersama yang lain untuk menjaga stamina. Aku terasa hidup kembali setelah tujuh hari tujuh malam tidak menyentuh makanan sedikit pun.


“Maaf telah merepotkanmu, Yasmin.”


“Ah, bukan apa-apa kok, Master. Justru sebagai maid Anda, aku merasa malu karena hanya bisa melakukan sebatas ini, itu pun terlambat karena ada sedikit trouble di jalan.”


“Tidak, Yasmin. Kamu sudah melakukannya dengan sangat baik.”


Mendengar jawaban itu, Yasmin pun tersenyum puas dan aku pun ikut tersenyum lega melihatnya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi setelah selesai makan, kami segera menaiki kereta kuda untuk kembali ke ibukota Megdia. Namun sebelum itu, berdasarkan keterangan Yasmin dan Talia, ada satu orang lagi yang harus kami jemput di sudut ibukota Cabalcus. Dia adalah Swein, anak buah kepercayaan Kak Tius yang kini sedang menjaga jasad Kak Tius yang telah aku awetkan dengan pembekuan di sana.


Dokter Minerva telah lama kembali ke Kota Painfinn jauh sebelum kedatangan Yasmin kembali.


Alasannya jelas mengapa dia tidak boleh ikut kami kembali ke ibukota Megdia.


Kekuatan mengenai sihir portal milik Dokter Minerva belum saatnya terekspos ke dunia. Akan merepotkan untuk menjelaskan tanpa mengekspos kekuatan itu tentu saja tentang bagaimana Dokter Minerva dapat sampai ke tempat ini dalam waktu singkat padahal baru saja dia berada di Kota Painfinn.


Di Kota Painfinn sendiri, tampaknya belum ada yang menyadari bahwa Dokter Minerva sementara menghilang karena dia telah mempersiapkan perizinan cuti di klinik Venia sebelum Dokter Minerva berangkat ke mari. Pasti sekarang, Venia sementara kalang kabut di kliniknya perihal dia menjadi dokter tunggal saat ini di klinik untuk mengobati pasien yang berjibun jumlahnya itu.


Namun sebelum pergi, berkat petunjuk Dokter Minerva, aku akhirnya mengetahui proyek keji kekaisaran yang mereka namakan sebagai the first order. Aku harus segera memikirkan cara agar bagaimana aku bisa menghancurkan proyek keji kekaisaran itu.


Jika perlu, kekaisaran sendiri akan aku lahap. Namun, bukan saatnya untuk memikirkan nasib negeri orang lain saat ini. Bagaimana gerangan nasib Kerajaan Meglovia di masa mendatang sebab sang putra mahkota kini telah tiada. Terlebih, pengganti nomor satunya juga malah telah tiada jauh lebih lama lagi.


Keributan pasti tidak akan terhindarkan dalam waktu dekat ini.


“Mas Lou?”


Mungkin karena melihat ekspresiku terlalu muram, Talia jadi mengkhawatirkanku.


Badannya lemah. Walau demikian, Talia tetap menyusui anak kami yang baru saja lahir itu dengan senyuman.


Aku telah menjadi suami yang buruk perihal berkat keegoisanku, aku hampir saja menghilangkan nyawa mereka berdua. Aku beruntung mereka berdua masih dapat selamat. Apa jadinya aku tanpa keberadaan mereka?


Aku harus segera kembali setidaknya ke ibukota Megdia terlebih dahulu demi menstabilkan kondisi kesehatan Talia dan bayi kami.


“Iya, Sayang. Aku baik-baik saja. Kamu istirahatlah yang banyak bersama bayi kita. Kalian nampak sangat lelah.”


Talia tersenyum padaku. Entah mengapa, setiap kali Talia tersenyum, serasa ada kelopak bunga bermekaran di dalam diriku. Itu membuatku sangat bahagia.


Bahkan tanpa kusadari, aku telah balik tersenyum padanya, terpesona di balik senyumnya yang menawan itu. Sesuai kata pepatah, tiada yang mengalahkan manisnya hidup selain rasa cinta di antara pasangan. Itulah yang kurasakan saat ini yang seketika menghempaskan seluruh gundahku yang hampir saja membuatku runtuh itu.


“Kuekhekhekhekhe.”


“Mas Lou, tampaknya Lion ingin bermain-main dengan ayahnya.”


“Itu nama putra kita Mas. Kita kan sudah sepakat kalau bayi ini terlahir sebagai laki-laki, kita akan menamainya dengan nama yang mirip dengan Mas, Helion, dipanggil Lion.”


Aku hanya menanggapi ucapan Talia itu dengan senyum yang hangat. Aku pun meraih bayi mungil kami yang aktif itu, Lion, ke pangkuanku.


Dia tampak bersenang-senang bermain bersama ayahnya. Namun Lion tampaknya amat sangat tertarik dengan warna mataku yang segelap abyss itu. Dia berupaya menggapai-gapainya. Akan tetapi itu sedikit membuatku terganggu. Siapa juga yang bisa betah jika matanya ditusuk-tusuk seperti mainan walaupun pelakunya adalah bayi imut milik kita sendiri.


Aku pun berupaya menenangkan Lion dengan menunjukkannya sihir air yang memutar-mutar layaknya gondola.


“Kuekhekhekhekhe.”


Tampak Lion sangat menikmati pertunjukan itu, terlihat bagaimana cara dia berusaha mengacak-acak gondola airnya yang kali ini berapa kali pun dia acak-acak, hanya akan tetap utuh seperti sedia kala.


Tentu saja aku senang melihat putraku yang aktif. Itu berarti dia terlahir dengan sehat. Dia lumayan aktif bergerak untuk seukuran bayi yang baru saja terlahir ke dunia. Normalnya, bayi biasanya akan kebanyakan tertidur setidaknya tiga hari setelah dia dilahirkan. Namun Lion kecil kami sudah seaktif ini dalam bergerak begitu terlahir ke dunia. Itu hanya mungkin karena Lion juga anak yang spesial yang terlahir dengan perlindungan mana.


Begitu pandangan Lion teralihkan, aku pun kembali menatap istriku. Dia telah tertidur pulas dalam keadaan terduduk. Karena kedua tanganku sementara disibukkan oleh Lion, aku hanya membaringkan istriku saat ini di bahuku.


Aku membelai rambut peraknya yang dulunya halus itu, tetapi kini terlihat acak-acakan setelah tiba di tempat ini.


Kulihat Talia tersenyum di dalam tidurnya setelah kubelai. Dia benar-benar terlihat sangat imut.


Aku merasa telah menjadi orang yang paling beruntung saat ini di dunia karena memiliki Talia dan Lion di sampingku. Semoga kebahagiaan ini akan bertahan seterusnya.


Aku pun tidak butuh waktu lama untuk menggapai tempat di mana Swein berada. Lalu kulihatlah kembali mayat Kak Tius yang terawetkan lewat sihir es-ku.


Badannya terpisah-pisah karena dimutilasi secara keji, namun telah berhasil aku satukan kembali. Walau demikian, Kak Tius tetap terbujur kaku apa adanya. Secanggih-canggihnya pun ilmu pengetahuan sihir dan sains yang aku miliki, aku tak mungkin dapat menghidupkan orang yang telah mati.


Aku telah kehilangan sosok Kak Tius untuk selamanya.


Namun aku terlalu naif. Aku mengabaikan bahwa kondisi kesehatan ayahku, sang raja Kerajaan Meglovia, saat ini sedang tidak baik.


Sesampainya aku di ibukota kerajaan, persaingan politik antarkubu semakin menguat.


Aku benar-benar marah dengan mereka semua. Itu sama saja berarti mereka mengharapkan kematian ayahku sesegera mungkin. Tampak Ilene menjadi sorotan mereka selanjutnya untuk menduduki jabatan putri mahkota.


Begitu aku mengunjungi Ayahanda, kondisinya benar-benar sangat lemah sehingga aku pun berinisiatif untuk segera memeriksa kondisi kesehatannya.


“Kau anak sialan! Dasar anak pembawa sial!”


Namun Ibunda segera menyambutku dengan amarahnya.


“Kau… kau tahu apa yang menyebabkan kondisi kesehatan ayahmu sampai seperti ini?”


“Maafkan aku, Ibunda. Andai aku menyadari semuanya dan ikut bersama Kak Tius sedari awal, pasti aku bisa menyelamatkan nyawa Kakak.”


Aku mengatakan itu dengan perasaan tulus.


-Plak.


Tapi apa yang kudapatkan adalah tamparan yang amat menyayat hati.


Bukan sakit secara fisik yang membuatku terluka, aku terluka karena Ibunda yang tega berbuat itu padaku.


“Kematian anak kami yang berharga, Tius, memang sangat menyayat hati kami. Tapi kami telah berupaya ikhlas dengan semua itu. Tetapi apa yang kamu lakukan?! Kedua putra kami telah meninggal, tapi malah seorang putra kami yang tersisa justru menjadi monster! Apa kamu tak kasihan pada kami?! Mengapa kamu harus menjadi monster, Helios?! Setidaknya bunuh kami dulu sebelum kamu mau melakukannya!”


Aku sama sekali tidak mengerti perasaan ini. Entah mengapa aku justru merasakan sensasi senang pada perkataan sarkastik Ibunda. Ah, aku mengerti. Ini pertama kalinya Ibunda mengakuiku secara langsung sebagai putranya. Dan itulah yang membuatku senang.


Akan tetapi, karena aku yang kurang mengontrol diri, aku telah membuat kedua orang tuaku kembali terluka padahal baru saja mereka harus menerima kematian kakakku, Tius, menyusul kepergian adikku sebelumnya, Leon.


Tetapi apa yang terburuk, bahkan bersedih pun aku tak punya waktu.


“Yang Mulia Ratu! Gawat! Yang Mulia Baginda Raja kejang-kejang!”


Ayahanda tiba-tiba saja berada dalam kondisi yang sekarat. Itu semua perihal setelah mengetahui aku yang menjadi monster dan membantai semua pengkhianat Cabalcus. Itu semua salahku.