
Aku benar-benar membuat ibuku khawatir perihal begitu kupulang, pakaianku tengah compang-camping dan tanganku ada bekas luka pula. Aku berhasil menyembuhkan lukaku dengan sihir sampai taraf tertentu setelah digigit oleh seekor monster lipan, tetapi itu tidak menghilangkan bekasnya secara sempurna.
Aku benar-benar khawatir jika kejadian pada saat itu akan menjadi penyebab ibuku melarangku untuk berpetualang lagi. Syukurlah, ibuku tidak berkata apa-apa dan hanya membantuku memulihkan diri dengan sabar.
Aku mulai terbiasa tinggal di kota ini. Aku bekerja sebagai petualang sekaligus pengumpul herbal di tengah perjalananku kembali ke kota. Dan itu benar-benar menyenangkan.
Kulihat ibuku juga mulai terbiasa bersosialisasi dengan warga sekitar. Setiap sore sepulang kerja terkadang kulihat ibuku minum teh sambil ngerumpi bareng dengan ibu-ibu tetangga sebelah. Benar-benar suasana damai yang benar-benar aku impikan. Tiada hasudan, tiada intrik politik, dan tiada pula senyum palsu. Semuanya hanyalah masyarakat yang ramah.
Dan tanpa terasa, tiga bulan telah berlalu sejak aku tinggal di kota itu.
Namun terkadang ada yang membuatku terganggu, yakni perihal ingatanku. Sesekali, aku mengingat ingatan-ingatan aneh berupa diriku sebagai seorang raja. Itu benar-benar konyol mengingat aku hanyalah seorang pemuda yang berasal dari desa yang lusuh. Akan tetapi, itu tidak hanya datang sekali atau dua kali saja, namun itu datang berkali-kali dan kian lama kian sering dan semakin menjadi-jadi.
Aku terkadang dalam tidurku mengigaukan nama-nama orang lain yang tidak pernah aku kenal sebelumnya. Talia, Lusiana, Vierra, Alice, Nunu, Dokter Minerva, Helion, Ruvaliana, Farhaad, Illies, Illios, Ilyaas, semuanya adalah benar-benar nama yang terasa asing bagiku.
Namun dari kesemuanya yang paling menggangguku adalah ketika aku menyebutkan nama orang tertentu yakni Albert. Aku terkadang akan menangis sendiri tanpa sadar. Padahal aku tidak bisa mengingat sama sekali siapa Albert itu.
Aku mencoba menelisik ingatanku lebih dalam, dan sudah kuduga, itu sama sekali tidak membuahkan hasil.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, usai sarapan dan mengantar Ibu ke tempat kerjanya, aku segera bertolak bertemu party-ku untuk berpetualang.
Belum ada ada solusi berguna tentang retakan dimensi yang terdapat di dasar danau di tengah hutan tersebut sehingga monster terus saja tercipta dan kami sebagai petualang harus membasminya. Setidaknya, itu sampai hari ini. Seorang petualang bernama Sheila mengaku mempelajari sihir ruang dan waktu sehingga sanggup untuk menutup celah dimensi tersebut.
Aku dan Paman Surya serta ke enam rekan party-ku yang lain mulai menyusuri daerah hutan. Begitu memasuki area tertentu, betapa aku dikagetkan karena zirah tanpa orang di dalamnya bisa bergerak dengan sendirinya karena pengaruh miasma.
Kami seketika berhadapan dengan para monster itu. Namun lagi-lagi, ketika aku mulai berhadapan dengan para monster itu, suatu ingatan tumpang-tindih di kepalaku. Itu adalah sama sekali bukan ingatan yang baik. Yang aku ingat di kepalaku adalah suatu kejadian pembantaian di mana party-ku hampir tersapu bersih semuanya. Tidak, ukurannya tidak sesederhana sebuah party. Itu lebih seperti pasukan yang tengah berperang melawan monster.
Lalu kulihatlah punggung sosok pemuda berbadan besar tertentu yang melindungiku dari depan dengan barier-nya yang super tipis. Namun itu entah mengapa bisa menyelamatkan kami.
“Master, Anda baik-baik saja?”
“Albert.”
Albert? Lagi-lagi nama itu terngiang sendiri kembali lewat mulutku. Dan seketika itu pula kepalaku kembali sakit.
Aku berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakit kepala ini karena kini aku sedang berhadapan dengan para monster.
Aku menebas para monster living armor itu bersama dengan para anggota party-ku. Berbeda dengan para monster yang lain, monster tersebut benar-benar hampir abadi. Serangan sihir hanya dipantulkan oleh zirah armor monster-mosnter itu. Namun, ketika kami menyerangnya dengan serangan fisik dan armor itu sempat hancur, itu akan segera beregenerasi kembali dalam waktu sekian detik.
Itu benar-benar membuat kami kesulitan. Namun secara tiba-tiba saja, suatu ingatan yang entah berasal dari mana lagi-lagi terlintas di benakku. Aku seketika mengetahui cara efektif untuk mengatasi para living armor itu.
Ingatan itu mencurigakan karena aku tidak tahu kapan aku, pemuda yang berasal dari desa ini, mengetahuniya. Namun perihal tidak ada salahnya untuk mencobanya karena kalau gagal, teman-teman party-ku pasti akan segera mendukungku, aku pun mencoba mempraktikkannya.
Aku menyelinapkan pedangku ke bagian wajah zirah yang kosong lantas menusukkan pedangku itu ke bayangan hitam yang ada di dalamnya lantas aku memberikan kekuatan lebih di tanganku untuk menebas zirah itu dari dalam. Bayangan yang menyelubungi bagian dalam zirah itu seketika ikut sirna bersamaan dengan zirahnya. Dan sejak saat itu, tidak ada lagi tanda-tanda bahwa living armor tersebut akan bangkit kembali.
Aku pada akhirnya mengetahui kelemahan monster-monster itu, terima kasih berkat ingatan yang juga tidak kuketahui asalnya darimana.
“Teman-teman! Gunakan serangan fisik untuk menghancurkan bagian bayangan yang berada di dalam zirahnya. Jika bayangan itu hancur, monsternya tidak akan bangkit kembali!”
Aku memberitahukan kelemahan itu kepada para anggota party-ku yang lain dan mereka dengan cepat dapat mempraktikkannya. Sejak saat itu, para monster living armor pun tidak dapat bangkit kembali dan mereka pun dengan cepat dapat kami basmi.
Begitu memasuki wilayah hutan terdalam, akhirnya kami menemukan danau yang terkontaminasi miasma yang berasal dari celah dimensi.
Sekali lagi ingatan mencurigakan yang entah berasal darimana muncul di benakku.
“Tunggu, Paman Surya, teman-teman, berikan aku kesempatan untuk mengatasi masalah ini.”
Awalnya anggota party-ku yang lain akan memberikan buff maksimal mereka kepada Paman Surya untuk Paman Surya mengintip ke dalam danau yang dicurigai terdapat retakan dimensi yang mengandung miasma. Paman Surya dipilih perihal Beliau adalah petualang terveteran di antara kami sehingga jika seandainya saja ada monster di bawah air yang akan menyelinap untuk menyerang, Paman Surya akan lebih lihai dalam menghindarinya.
Namun tetap saja bagi Paman Surya pun, itu adalah suatu keputusan yang amat ceroboh. Itulah sebabnya aku berinisiatif mengajukan diri dalam menggantikan Paman Surya untuk mengatasi hal tersebut.
Namun tentu saja aku tidak akan menyelam secara langsung ke dalam danau seperti yang akan Paman Surya lakukan.
Aku mengucapkan mantra sihirku sembari mengalirkan aliran mana dingin yang berupa campuran antara esensi angin dan uap air. Seketika, seluruh danau pun membeku. Para monster yang bersembunyi di bawahnya juga seketika tak bisa berkutik dan mati membeku bersamaan aku mengeluarkan jurus ‘freeze’-ku itu. Bukankah itu lebih efisien ketimbang kamu harus capek-capek menyelam ke dalam danau sendirian untuk membasmi monster itu satu-satu?
Sudah kuduga, membasmi lingkungannya adalah cara yang tercepat membasmi para monster itu.
Aku kemudian dengan sihirku pula mengangkat bongkahan es dari dalam danau yang ukurannya tidak terlalu kecil namun juga tidak terlalu besar itu.
Setelah air diangkat, celah dimensi pun terlihat.
Sebagai orang yang lebih berpengalaman, kami pun menyerahkan hal itu kepada Sheila untuk menindaklanjutinya.
Untuk menutup suatu retakan, diperlukan pemahaman mengenai sihir portal, serta konsep ruang dan waktu yang baik. Butuh waktu dua hari lamanya bagi Sheila untuk menyelesaikan misi penutupan celah dimensi itu. Sementara selama itu, kami fokus untuk melindunginya dari para monster yang terlanjur terpapar miasma.
Betul-betul misi yang melelahkan dan sangat berat, tetapi berkat kerja keras kami, semuanya dapat terselesaikan dengan baik.
Aku pun pulang ke rumah. Ibuku menyambutku dengan pelukan serta makanan yang hangat. Tiada hal yang lebih membahagiakan daripada itu.
“Aku senang kita dapat hidup bahagia di tempat baru kita ini, Bu.”
“Itu benar, putraku. Kita dapat terus hidup bahagia di tempat ini selama apapun yang kau inginkan.”
Aku menggeleng terhadap pernyataan ibuku itu.
Setiap mimpi indah pun, akan ada saatnya untuk kita bangun. Seindah apapun suatu mimpi, itu tetaplah hanya mimpi. Itu tidak akan pernah menggantikan posisi dunia nyata.
Setelah lama berada di tempat ini, aku pun tersadar darimana asal ingatan-ingatan tak jelas yang kadang-kadang terukir di dalam benakku itu. Itulah kehidupan nyataku yang saking pahitnya, aku berusaha lari darinya.
Tetapi tentu saja aku tidak boleh melakukannya. Aku adalah seorang suami, seorang ayah, dan juga seorang kaisar. Aku tidak boleh meninggalkan istri dan anak-anakku menderita. Talia, Helion, dan yang lainnya telah lama menunggu aku di dunia nyata untuk segera kembali. Aku tidak boleh mengecewakan harapan mereka.
Tentu saja itu berlaku pula untuk semua rakyatku bagaimanapun mereka membenciku sebagai kaisar mereka.
Jika mereka memang membenciku, setidaknya aku tetap harus mengakhiri ini secara baik. Aku pun memutuskan untuk keluar dari mimpi ini.
Itu memang sangat disayangkan bahwa aku tidak akan lagi bisa melihat Ibunda yang ramah. Hanya saja,
“Sudah saatnya aku bangun dari mimpi ini, Bu. Terima kasih atas segala kenangan indah yang Ibu berikan di dalam mimpiku ini.”
“Lios sayang, apa yang kamu katakan? Mimpi apa?”
Aku hanya tersenyum pada Ibunda di dalam mimpiku itu. Lagipula dia mungkin tidak akan percaya kalau dunia yang kami tinggali selama ini hanyalah di dalam mimpiku saja. Tidak, sedari awal aku sangsi bahwa Beliau punya kehendak sendiri sejak Beliau hanyalah perwujudan dari alter ego-ku belaka.
“Lios, jangan-jangan apakah kamu sadar di mana sebenarnya tempat aneh yang kita tiba-tiba datangi ini? Apakah ini di dalam mimpi?”
Namun perkataan Ibunda Theia berikutnya seketika membuatku membelalakkan mata.
Jika saja ada kemungkinan… Jika saja ada kemungkinan kecil Ibunda Theia yang ada di hadapanku ini nyata.
Aku terbangun dari mimpi panjangku itu. Kudapati tempat yang gelap gulita. Aku segera tahu bahwa itu adalah berada di dalam dunia astral. Akan tetapi di sampingku telah terbaring Ibunda Theia pula.
“Mmm. Lios, apa kita sudah bangun dari mimpi itu?”
Ibunda yang baik hati itu masih ada di sisiku. Tiada yang lebih membahagiakan melebihi hadiah yang begitu besar ini.
“Ibu.”
Aku pun serta-merta memeluk Beliau diiringi isak-tangis lantas Beliau pun mengusap kepalaku dengan hangat.
“Selamat kembali, Lios anakku sayang.” Lirihnya dengan hangat pula.