
Usai penanganan wabah kolera, aku bersama dengan Tuan Erick fou Hygone dan Nona Anna Rosse Bridgette mengunjungi ibukota demi menemui Kak Tius. Itu demi membahas soal pendirian toko farmasi yang selama ini tertunda karena sentimen kuil suci. Namun sejak kejadian wabah kolera di kota utara itu, pandangan kerajaan tentang farmasi kini berubah 180 derajat dan seketika menganggapnya urgen untuk segera didirikan.
Demi pendiriannya, kini aku bersama Tuan Erick dan Nona Anna mengurus segala sesuatu dokumen administrasinya melalui persetujuan Putra Mahkota, alias kakakku, Tius star Meglovia.
“Jadi kurang lebih begitu rencananya, Yang Mulia.”
“Hmm, aku rasa rencananya sudah cukup baik. Tidak ada yang perlu dikoreksi lagi. Segera dilaksanakan seperti itu saja.”
Tuan Erick menjelaskan segala rencananya dan tampak bahwa Kak Tius tidak banyak mempermasalahkan persoalan detilnya sehingga rencana pembangunan toko farmasi yang pertama pun berjalan dengan lancar.
“Nah, sebagai wakil kerajaan yang mengawasi pembangunannya, bagaimana jika kamu yang turun sendiri, Helios?”
“Eh, aku? Tapi jika aku yang turun tangan langsung, bukankah pandangan orang-orang akan langsung negatif soal pendirian tokonya? Kakak tahu sendiri kan tentang pandangan orang-orang terhadapku?”
Kak Tius hanya menanggapi keluh-kesahku itu dengan senyumannya yang seperti rubah seperti biasa.
Dia lantas menepuk pundakku sembari berkata, “Kamu belum tahu kan, Helios, bagaimana prestasimu itu di utara menjadi topik perbincangan hangat di ibukota saat ini? Tidak hanya menyelamatkan kota barat yang hampir tumbang karena invasi monster, kamu juga berhasil menyelamatkan kota utara dari ancaman wabah mematikan, kini famormu sudah meningkat lho di kalangan masyarakat. Bahkan kuil suci saja kini tak bisa berbuat banyak persoalan itu.”
Kurang lebih seperti itulah perkataan Kak Tius padaku yang sejenak memberikanku semangat untuk melangkah. Apa aku harus mencobanya? Lagipula jika terbukti ada masalah di kemudian hari, aku masih bisa mundur dan menyerahkan semuanya kepada Ilene. Jadi mungkin benar apa kata Kak Tius, tidak apa bagiku untuk mencoba kali ini.
Aku bersama Tuan Erick dan Nona Anna pun pertama-tama mengunjungi akademi sihir sebagai base kami. Dan baru di pintu masuknya, cobaan pertama itu segera datang.
“Heh, apa yang dilakukan orang tidak berpendidikan kemari?”
“Hanya karena berhasil menciptakan satu atau dua produk alkimia, dia sudah sombong dan menganggap dirinya bagian dari kita? Sungguh memuakkan!”
“Dasar parasit ilmu pengetahuan!”
Aku baru tersadar kembali akan fakta bahwa hanya departemen alkimia sajalah di akademi sihir ini yang memperlakukan aku dengan baik sebab ketua departemen mereka tidak lain adalah sahabat dari ayah mertuaku. Adapun sisanya seperti yang kalian lihat, di luar dari departemen alkimia, mereka semua memperlakukan aku dengan dingin.
Apa mereka berpikir bahwa aku tidak bisa mendengar bisik-bisik dari belakang yang mereka lontarkan itu? Ataukah mereka memang sengaja mengatakan itu agar aku bisa mendengarkannya.
Rupanya, masih ada di antara mereka, tidak, hampir sebagian besar dari para murid, ilmuwan, dan bahkan sarjana akademi sihir yang menganggap rendah nilaiku persoalan aku tidak pernah mengenyam pendidikanku secara formal.
Itu pun guru yang bersedia menjadi pengajarku hanyalah berasal dari kalangan rakyat jelata saja. Para guru dari kalangan bangsawan akan seketika merasa ternoda namanya hanya karena menjadi guru dari murid dari orang yang dicap buruk oleh kuil suci sepertiku. Tapi yah, ada manfaatnya juga hal itu. Sebab berkatnya, aku bisa bertemu dengan Guru Zizi yang benar-benar ahli dalam pengobatan herbal.
Tapi kalau dipikir-pikir, walau sistemnya berbeda, bukankah salah satu tim pengajarku itu yakni Guru Kanazawa Junoichi bisa dikatakan pula sebagai salah satu bangsawan sebab Beliau adalah adik dari salah satu raja di kerajaan Benua Asium? Hanya saja sistem kerajaan Benua Asium agak sedikit berbeda dengan yang ada di Benua Ernoa sehingga tidak ada sistem pembagian kasta yang membedakan antara rakyat jelata dan kaum bangsawan secara jelas di sana.
Syukurlah bahwa aku meninggalkan Yasmin di kota utara untuk membantu Rasiel sementara di sana pasca penanganan wabah kolera. Aku rasa bahwa aku tidak akan bisa menangani combi dua orang itu sekaligus yang mengamuk lantaran aku dihina.
Aku saja kini semakin kewalahan menangani tenaga Albert yang meningkat pesat pasca terpromosikan menjadi master pedang level 5 yang ingin mengamuk dengan pedangnya menebas orang-orang yang sebelumnya membicarakan aku dengan buruk di belakang.
Syukurlah bahwa aku masih bisa mencegah Albert mengeluarkan pedangnya itu dari sarungnya. Sungguh anak buah yang merepotkan. Tetapi tentu saja aku bersyukur bahwa kini baik Albert maupun Yasmin telah menjadi lebih kuat dibandingkan dengan dulu.
Tidak banyak yang kami persiapkan di akademi sihir ini sejak kami hanya memberikan rencana pembangunan tokonya kepada Kak Tius setelah menjelaskan dengan detail tentang tata letak ruangan-ruangan yang kami inginkan. Masalah penyediaan bahan-bahan dasar dan alat-alat laboratorium yang kami butuhkan pun telah diserahkan kepada kerajaan.
Yang kami persiapkan palingan hanyalah beberapa salinan resep yang kami anggap perlu serta pembagian kerja dan rencana perekrutan karyawan toko. Telah ditetapkan bahwa Nona Anna akan berperan sebagai pimpinan toko dengan aku sebagai penanggung jawab tokonya. Demikianlah proyek pendirian toko farmasi pertama di kerajaan direalisasikan.
Sepulang dari akademi sihir kerajaan, aku kembali mengunjungi Kak Tius di kediamannya. Tampaknya, Kak Tius ingin membicarakan sesuatu yang di luar topik pembangunan toko farmasi padaku.
“Helios, bagaimana menurutmu jika kamu menggantikan peran Leon menjadi sisi gelap kerajaan? Kita tentunya tidak boleh menyia-nyiakan upaya Leon selama ini yang dia lakukan demi masa depan kerajaan.”
“Apa maksud perkataan Kakak itu?”
“Kita tidak boleh membiarkan para bangsawan korup itu berkeliaran begitu saja. Awalnya, aku berniat agar Leon merangkul mereka semua agar kita bisa tahu siapa-siapa saja yang menjadi anggota mereka untuk kita habisi tanpa satupun yang bersisa di saat yang tepat. Namun kini Leon sudah tidak ada.”
Pikiranku seketika kosong ketika Kak Tius mengatakan hal itu. Sedari awal, apakah benar bahwa itu Kak Tius yang aku kenal? Sebab, Kak Tius yang aku kenal adalah sosok yang bijak dan berhati lembut. Namun, ada apa dengan ekspresi dan nada bicara yang ditunjukkannya padaku kali ini?
Kak Tius yang terlihat dingin dan kejam itu kemudian berkata kepadaku, “Hei, Helios, kini kamu sudah diakui oleh para warga kerajaan sejak beberapa kesuksesan yang telah kamu raih. Jika itu sekarang, rasanya takkan menjadi masalah jika kamu menjadi pahlawan keadilan yang akan membasmi para bangsawan korup dari balik bayang-bayang sejak aku yang berperan sebagai putra mahkota yang lembut bagi rakyatnya, takkan mungkin sanggup menjalankan peran itu.”
Dengan langkahnya yang pelan namun mengintimidasi, Kak Tius mendekat ke arahku.
“Nah, Helios, sejak Leon sudah tidak ada, maukah kau menggantikan perannya untuk mendukungku demi mewujudkan kerajaan yang bersih?”
Pikiranku benar-benar kosong. Hanya ada rasa amarah yang tertumpuk.