Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 227 - ASHBRINGER



Dengan pengawalan Adam dan Vierra di depan, serta Olo dan Nunu di belakang, Talia, Lusiana, serta anak-anak Helios berhasil keluar dengan selamat dari istana yang telah dikepung oleh para demon.


“Yang Mulia!”


“Yang Mulia Permaisuri, kedua Yang Mulia Ratu, serta para pangeran dan putri telah berhasil selamat semuanya!”


“Ah, Yang Mulia silakan di sebelah sini.”


Mereka pun akhirnya berpapasan dengan para prajurit istana yang berjaga di luar sehingga mereka semua bisa bernafas lega.


“Kak Vierra? Kakak mau ke mana?”


Melihat Vierra yang masih mensummon pedang aura-nya hendak pergi kembali ke dalam istana yang penuh dengan demon, Talia yang takut terjadi apa-apa pada Vierra pun berusaha mencegatnya.


“Kita masih perlu menyelamatkan Yang Mulia Ibu Suri. Tampaknya Beliau belum juga keluar dari tempat tersebut.”


Di saat itulah semuanya baru tersadar bahwa Theia Madama Meglovia belum juga berada di lokasi pengungsian.


Talia tidak dapat berkata apa-apa lagi.


Dia mengkhawatirkan Vierrra.


Namun sebesar rasa khawatirnya kepada Vierra, begitu pula terhadap Ibunda Theia.


Talia sadar bahwa di antara mereka, memang Vierra-lah yang paling memenuhi kualifikasi untuk menyelamatkan Ibu Suri, sementara dirinya tidak mungkin sejak dia lemah.


Mana Talia sudah di ambang batasnya dan itu pun dia hanya bisa menggunakan sekadar sihir perlindungan suci.


Dirinya bisa sedikit bertarung, tetapi jelas itu tidak akan cukup kuat untuk menghadapi para demon.


Itulah sebabnya Talia tak dapat berkata apa-apa.


“Setidaknya bawa Adam bersamamu.”


Lusiana-lah yang kemudian menawarkan bodyguard pribadinya untuk membantu Vierra.


“Tidak perlu. Di antara orang-orang di sini, dialah yang terhebat. Aku tidak mungkin mengambilnya sejak itu akan menurunkan dengan drastis kekuatan tempur kalian. Di sini tampaknya telah aman, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.”


“Kalau begitu, biar aku…”


“Kamu juga diam saja, Olo. Bukankah kamu pelindung nomor satu seniormu?”


“…”


Olo berusaha menawarkan diri, tetapi segera ditolak mentah-mentah pula oleh Vierra yang justru memberikan serangan kata-kata balik tak terduga kepada Olo yang seketika membuatnya salah tingkah.


Akhirnya, Vierra dengan seorang diri kembali memasuki istana.


-Slash, slash, slash.


Satu-persatu demon yang datang kepadanya ditebasnya seolah memotong tahu.


-Slash, slash, slash.


Terdengar suara tebasan lagi.


Tetapi kali ini, itu bukan berasal dari perbuatan Vierra.


Suhu ruangan seketika mendingin.


Dari situ, Vierra sudah bisa menebak apa yang terjadi, lantas dugaannya benar.


Begitu Vierra melihat dengan seksama, rupanya telah ada para golem es milik mantan adik iparnya yang kini telah menjadi suaminya tersebut.


Di belakangnya, nampak pula Ibunda Theia yang hendak dicari oleh Vierra yang sedang bersama makhluk golem es lain dengan ukuran yang lebih ramping dan kecil.


“Ibunda Theia!”


Vierra berteriak kemudian segera bergegas menghampiri Ibunda Theia.


“Vierra? Pedang itu?”


“Syukurlah Ibunda Theia juga selamat.”


Vierra seketika mengeluarkan air mata lega sembari memeluk sang ibu mertua, mengabaikan ekspresi terkejut Ibunda Theia yang baru pertama kali melihat pedang aura Vierra walaupun dia juga telah tahu sebelumnya rahasia kemampuan Vierra tersebut.


***


Pemandangan itu secara real time dikirim melalui kesadaran Helios yang berada di benua iblis Armtemis.


Helios tersenyum lega setelah mengetahui seluruh anggota keluarganya berhasil selamat.


“Begitu rupanya. Para kecoak tidak berguna itu gagal melakukan tugas yang semudah itu.”


“Kau terlalu menganggap remeh manusia, Ozazil.”


“Hahahahahaha. Dalam keadaan babak belur begitu, kau masih saja angkuh, hero. Tapi itu pulalah yang membuatku jadi tidak bosan-bosannya bertarung melawanmu.”


“Kalau seperti itu, aku tetap akan menghabisi mereka sekarang juga. Tidak, bukan hanya keluargamu saja, tetapi seluruh makhluk di muka Gaia ini.”


“Tenang saja, akan kutunjukkan tarian pedang yang akan menghabisi nyawamu, Ozazil.”


-Trang, trang, trang.


Pedang Ashbringer dan Pedang Djienn kembali saling berbenturan.


Ozazil sama sekali tidak tahu fungsi dari artifak pedang yang selalu digunakan oleh para pahlawan dari generasi ke generasi tersebut.


Helios telah mempersiapkan serangan pamungkasnya yang dia yakini akan sanggup untuk membunuh tubuh boneka Raja Iblis Ozazil yang hanya mengandung kekuatan satu persepuluhribu kekuatan aslinya saja.


Yang Helios perlukan saat ini adalah waktu.


Sekarang merupakan perjuangan terberat untuk mengulur waktu selama mungkin.


Selama waktu yang diperlukan itu cukup, peluang kemenangan Helios akan bertambah besar secara drastis.


Itu tentu saja belum menjamin kemenangannya, tetapi setidaknya peluang akan sangat bertambah.


Namun di situasi di mana ada secercah harapan di matanya, seakan menyadari hal itu, Ozazil segera menghempaskannya dengan memberikan Helios keputusasaan yang lebih dalam.


“Apa-apaan ini? Bukankah tubuh bonekamu asalnya dari manusia?”


“Kau pikir selama sepuluh ribu tahun ini aku tidak memodifikasinya agar nyaman aku tempati?”


“Kau berkata mengharapkan pertarungan yang menarik, tapi tampaknya tidak demikian. Jika tidak, kau tak akan meningkatkan batasan kekuatanmu.”


“Hero, tahukah kau apa maksud dari pertarungan yang menarik itu?”


“Pertarungan itu baru dikatakan menarik ketika kau menggunakan kekuatan optimalmu untuk berjuang mati-matian demi keluar sebagai yang hidup dalam pertempuran.”


“Jika aku menahan diri demi menyesuaikan kemampuan dengan lawan, itu bukan lagi pertarungan yang menarik, melainkan aku sedang mempermainkan lawanku.”


“Jadi jika kau tak sanggup menyeimbangiku dalam wujudku ini, maka tiada gunanya lagi aku mempertahankanmu hidup, hero.”


Ujar Ozazil sembari memandang rendah Helios.


Tidak, itu bukan sarkasme, melainkan arti secara harfiah.


Ukuran Ozazil baru saja berubah hingga seukuran raksasa sembari menatap Helios yang sejajar dengan ujung kakinya.


-Swing.


Ozazil melayangkan Pedang Djienn-nya yang ikut berukuran besar menyesuaikan ukuran tubuhnya ke sekitar tanah tempat Helios berpijak.


Tanah seketika goyah sehingga Helios menggunakan auranya untuk bisa melayang ke udara.


Helios mengumpulkan uap air sebanyak-banyaknya dari udara untuk dijadikannya batu es sebagai tambahan perlindungan fisik baginya sejak mana begitu tercemar di benua iblis sehingga akan sulit mengekstrak mana murni demi membentuk aura.


-Trang, trash.


Helios mencari celah melewati ayunan Pedang Djienn untuk menusuk bahu sang Raja Iblis Ozazil raksasa.


Encounter Pedang Ashbringer otomatis tidak lagi sanggup untuk menahan Pedang Djienn yang ukurannya telah menjadi raksasa pula.


Namun ukuran tubuhnya yang kini jauh lebih kecil tidak hanya memberikan Helios kerugian, tetapi juga keuntungan sejak dengan demikian, dia bisa bergerak lebih lincah daripada Ozazil, ditambah Ozazil semakin memiliki banyak titik buta.


Itulah kini strategi penyerangan Helios berubah menjadi taktik serangan gerilya, bagaikan nyamuk yang hendak mengisap darah manusia.


Ozazil jelas bertambah sangat kuat.


Namun sekuat apapun batu karang juga suatu saat akan lapuk oleh tetesan air hujan.


Terlebih yang dibutuhkan oleh Helios saat ini hanyalah mengulur waktu sampai kekuatan artifak pedangnya itu bisa diaktifkan.


Keadaan sekarang di mana agility Ozazil menurun karena pertambahan ukuran badannya jelas lebih menguntungkan.


***


“Ukh. Ini? Berasal dari tempat Master, bukan? Aku harus segera ke sana demi melindunginya. Tapi bagaimana aku bisa melewati ribuan demon-demon itu? Di tambah…”


-Syuuur.


Bagaikan kilat, sang tanduk menyambar Albert.


Albert berhasil mengelak sehingga serangan itu justru mengenai tanah.


Namun tanah yang berhasil dikenainya justru menjadi ambruk dengan radius yang sangat luas hingga Albert tak mampu lagi melihat ujungnya.


“Master.”


Albert pula telah berada di ambang batasnya.