Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 71 – SERBUAN TARANTULA



Sore itu di benteng pertahanan Kota Painfinn.


“Hei, bukannya monster itu makhluk yang nokturnal? Mengapa mereka bisa menyerang sekarang?”


“Bukankah sebelumnya juga begitu? Ini bukan hal yang tidak lazim lagi. Monster-monster pun berevolusi.”


“Bukan itu maksudku. Dullahan di pagi hari lalu lanjut Titan Perses di siang hari, ini sudah kelewat aneh.”


“Ya, sabar saja. Kita bertahan saja sampai Yang Mulia Pengeran Helios tiba. Kalau orang itu, dia pasti punya solusinya.”


Dua prajurit biasa tak bernama saling mengobrol satu sama lain sembari sibuk memusnahkan para labah-labah kecil yang terus saja berdatangan dari hutan monster.


Sejak dari pagi, monster tersummon secara acak ke berbagai tempat di tengah kota yang seketika menyebabkan kekacauan. Syukurlah, kali ini para monster labah-labah yang berjibun bermunculannya di luar benteng pertahanan Kota Painfinn. Entah bencana apa yang akan terjadi jika sampai ribuan monster itu juga ikut tersummon di tengah-tengah kota.


Walau demikian, para prajurit Kota Painfinn mulai kewalahan menghadapinya di luar kenyataan monster labah-labah tersebut lemah saking banyaknya jumlahnya.


“Ah, tidak!”


Di luar dugaan, di antara kerumunan para monster labah-labah dengan tinggi selutut manusia dewasa itu, muncul sosok monster lain yang tampaknya masih satu spesies dengan para monster labah-labah tersebut, hanya saja bentuk tubuhnya sangat mirip dengan manusia dengan kaki ramping, cakar tajam, dan mata tipikal labah-labah, serta dengan kedua antena yang menjuntai di dahinya.


Monster itu hendak akan mengoyak tubuh salah seorang prajurit itu dengan cakarnya yang tajam.


Akan tetapi tiba-tiba, seorang wanita dengan kecepatan yang tinggi berlari mencegah monster itu melukai sang prajurit.


“Puaaaaakh.”


Dialah Yasmin.


[Jangan sok baik kamu, witch. Jangan pikir dengan membasmi sesamamu, kamu adalah bagian dari sang terpilih.]


Suara-suara aneh tetap menggema di kepalanya. Namun demikian, Yasmin berusaha sekuat tenaga mengabaikannya perihal saat ini ada hal yang lebih penting untuk dilakukannya, yakni untuk melindungi kota tercinta tuannya itu.


“Master, pasti akan sedih jika kota ini dihancurkan oleh para monster itu.”


Yasmin mensummon api sucinya, tetapi kali ini bukanlah api hangat yang seperti biasa untuk pengobatan, melainkan api panas membara yang bisa membakar semuanya dalam sekejap.


“Lotus fire.”


Api mekar bagai bunga teratai menghantam seluruh monster yang sedang berjuang memanjat benteng.


Seketika keadaan berbalik menjadi keuntungan di kubu para prajurit dengan musnahnya hampir semua kroco-kroco monster labah-labah yang memanjat dinding itu hanya dalam satu serangan api milik Yasmin.


“Nona, awas! Aaaaakh!”


Monster labah-labah berwujud manusia itu dengan licik menggunakan skill stealth-nya untuk menyerang Yasmin dari arah belakang begitu dia lengah. Tetapi beruntungnya, seorang prajurit berkorban menjadi benteng daging bagi Yasmin menggantikannya terluka perihal serangan fatal itu.


“Shaaaak.”


Yasmin tidak terlihat gemetar begitu dia tepat menyaksikan di depan matanya sendiri prajurit itu bersimbah darah sampai membasahi seragam pasien rumah sakit-nya dengan darah prajurit itu.


Dia hanya menatap langsung ke arah sang monster lantas menikamnya secara langsung dengan menggunakan tangan kosong. Dengan tangannya yang diperkuat oleh aura yang terlihat putih bersih, tangan Yasmin menembus ke dalam perut sang monster lantas mengoyaknya dari dalam.


Satu monster labah-labah berwujud manusia pun tumbang. Sayangnya, itu bukan yang terakhir. Masih ada tiga lagi yang berseliweran di sekitar benteng.


Yasmin menatap ke arah pemuda yang berkorban menggantikannya terkena serangan monster itu.


“Hei, apa kamu bodoh? Kamu pikir kamu bisa hidup setelah terkena serangan itu? Jelas-jelas kamu lemah, tapi masih saja memaksakan diri. Atau apakah aku terlihat lemah di matamu sehingga serangan seperti tusuk gigi seperti itu saja bisa melukaiku?”


Walaupun Yasmin mengatakannya secara kasar, dia tetap mengalirkan api sucinya yang hangat untuk mengobati luka parah sang prajurit pemuda tersebut. Dalam sekejap, pemuda itu berhasil sembuh melupakan luka-lukanya yang begitu parah sebelumnya.


“Ini tidak baik. Monster-monster tiada habisnya menyerang seharian. Ini belum terlihat akan berakhir sampai malam ini.”


Di tengah Yasmin beristirahat sejenak untuk melihat keadaan, dia pun menyaksikan perubahan keadaan di sisi selatan benteng. Terlihat suatu sosok membuldoser para monster dengan serangan overpowernya.


“Para prajurit, jangan menyerah! Mari tunjukkan kekuatan prajurit Kota Painfinn kepada para monster-monster itu! Hidup Kota Painfinn! Hidup Yang Mulia Pangeran Helios!”


Melihat sosok heroik Damian, moral para prajurit kembali meningkat ke puncaknya. Dalam keadaan mereka yang telah letih, mereka kembali bersemangat untuk berjuang mengalahkan invasi para monster.


Menyaksikan kejadian itu yang dengan sorakannya, dia dapat memanipulasi semangat para prajurit, Damian pun tertawa secara internal di dalam hatinya.


‘Yah, tentu saja harus begitu. Begitulah babi-babi seperti kalian dapat berguna buatku.’ Ucap Damian dalam hati dengan penuh rencana jahat.


Yasmin menatap lurus ke arah Damian dengan tanpa ekspresi. Tidak jelas apa yang dipikirkan oleh Yasmin. Namun tiba-tiba, Yasmin bergumam, “Dia pengganggu.”


Ketiga monster labah-labah berwujud manusia di luar dugaan bersatu untuk menyerang Yasmin. Itu mungkin karena mereka menyaksikan bahwa Yasmin-lah yang telah membunuh jenis mereka sebelumnya.


Tetapi Yasmin segera memanipulasi udara sekitar. Seketika tubuh para monster itu keriput dan mati. Mereka mati dalam keadaan dehidrasi dan juga darah mereka kering.


Pertarungan masih terus berlanjut hingga matahari pun mulai terbenam.


***


Di saat yang sama, party Helios berlari dengan kecepatan tinggi keluar dari hutan monster.


Pada suatu titik, terlihat jelaslah bagi indera keenam Helios dengan memanfaatkan aliran mana bahwa ribuan monster tengah menyerang benteng pertahanan Kota Painfinn.


“Itu? bukankah itu dari dungeon tarantula? Pertama, living armor, lalu minotaur, kini tarantula lagi-lagi dungeon dari Kekaisaran Vlonhard yang menyerang? Bukankah summoner iblis itu sudah dibasmi sebelumnya? Mengapa jurus yang sama masih bisa dikeluarkan? Apa jangan-jangan tidak hanya satu, tetapi ada dua summoner iblis di Kota Painfinn?”


Pandangan Helios seketika terlihat kalut.


“Albert, aku akan pergi duluan. Yang lain segera percepat langkah kalian untuk segera menyusulku.”


Demikianlah kata Helios. Lalu secara tiba-tiba saja, terbentuk sepasang sayap berbahan es di punggung Helios yang membuat baik Codi maupun Alice tercengang melihatnya.


“Master, punggung Anda.”


“Maaf, Alice. Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Albert, kamu pimpin party sementara menggantikan aku.”


“Tunggu, Master!”


Albert berusaha menahan Helios yang ingin bertindak ceroboh, akan tetapi Helios dengan cepat menghilang dari hadapan mereka dengan terbang melalui kecepatan tinggi dengan sayap-sayap es itu.


***


“Pantas saja situasinya kacau. Ratu Tarantula rupanya ada di sini. Bukankah ini sudah masuk skala invasi alih-alih hasil ritual?”


Walau demikian, Helios tidak bisa mendekat perihal sang Ratu Tarantula dikelilingi oleh ribuan monster dari berbagai spesies.


Helios bahkan sempat berpikir untuk membuka kartu rahasianya saja di tempat tersebut saking kacaunya situasinya saat itu. Dia bisa saja pergi ke tengah-tengah kerumunan monster dalam kecepatan tinggi lantas menggunakan skill es-nya untuk sekejap membekukan para monster tersebut. Bagaimana pun, sang ratu tarantula hanyalah di rank heroik tingkat rendah yang tidak setara dengan the king of undead tingkat legendary yang sempat menjadi mimpi buruknya.


Namun demikian, Helios menahan dirinya. Lebih dari keamanan kota, walau dia tahu itu adalah keegoisan, sang adik, Leon, jauh lebih berharga baginya. Leon adalah sedikit dari anggota keluarganya yang sangat Helios sayangi. Dia tidak bisa mengorbankan itu untuk dibenci dan diwaspadai oleh adiknya sendiri ketika Leon mengetahui kekuatan sejati Helios walaupun demi keamanan kota sekalipun.


Tetapi itu tidak berarti nyawa seisi penduduk kota tidak penting bagi Helios. Dia pun menemukan keberadaan Damian di sana lantas memberikannya instruksi.


“Damian, aku akan membersihkan para monster sekitar. Percayakanlah keamanan punggungmu padaku dan kamu terjanglah langsung ke arah sang ratu tarantula. Jika itu kamu, aku yakin kamu telah cukup kuat untuk membasmi sang ratu tarantula sendirian.”


“Siap, Pangeran.”


Damian seketika menyetujui usulan itu tanpa terlihat hesitasi sedikit pun walaupun itu artinya sama saja mempercayakan nyawanya kepada Helios.


Damian tanpa gentar pun menyerang langsung ke ratu tarantula dengan menggunakan jalan yang dibuka oleh Helios melalui pembantaian massal Helios kepada para monster yang melindungi sang ratu.


Helios sama sekali tidak tahu bahwa Leon sejatinya telah menghilang dari dunia ini di mana pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah Damian.