
Cinta.
Itu adalah suatu ekstasi yang sangat indah yang akan membuat hidupmu seketika berbunga-bunga. Namun, itu bisa pula berubah seketika menjadi racun yang akan membunuhmu.
Cinta yang tak terkontrol pada akhirnya hanya akan menyakiti dirimu sendiri.
Aku tak ingin Yasmin mengalami hal itu, terlebih apa yang dirasakannya selama ini lantaran rasa cintanya yang tiada berguna. Itu bukanlah sesuatu yang nyata, melainkan hanya sekadar perasaan yang dikontrol oleh suatu kekuatan.
Aku tak ingin Yasmin merasakan itu dan menjadikan aku sebagai objek penderitaannya. Aku ingin Yasmin terbebas dari kutukan itu padaku.
Aku sampai kapanpun takkan pernah bisa membalas perasaan cintanya lantaran aku sudah memiliki seseorang di hatiku. Namun keegoisan di hatiku ini melarangku untuk melepaskannya. Aku tanpa sadar telah berharap bahwa Yasmin bisa hidup denganku selamanya dengan terjebak perasaan palsu itu.
Bukankah itu terlalu kejam? Aku terlalu kejam. Aku ingin mengakhiri semua ini. Setidaknya jika Yasmin memilih untuk tinggal di sisiku, dia harus melakukannya bukan didasarkan pada perasaan palsu.
Itulah alasannya sehingga mengapa aku ingin dia segera mengakhiri jurus peletnya kepada dirinya sendiri itu.
Dan walaupun seandainya begitu jurus peletnya berakhir dan kini dia menganggapku sebagai musuh layaknya witch-witch yang lain, aku pun tetap takkan membencinya. Yasmin tetaplah Yasmin. Apapun perasaan nyatanya padaku, akan kuhadapi dengan lapang dada.
“Master, Anda tahu aku takkan mungkin menginginkan hal itu kan?”
Aku menatap lembut tepat mengarah ke matanya.
“Aku menginginkan yang asli itu.”
“Tapi, Master, itu…”
“Apakah kamu juga ragu bahwa perasaanmu padaku itu akan selamanya palsu?”
“Tapi…”
“Aku ingin bersamamu, namun aku tidak bisa memberikan cintaku padamu. Aku egois, bukan? Dan kamu tidak bisa berbuat apa-apa lantaran tidak bisa menolaknya karena jurus pelet itu.”
“Aku tidak apa-apa dengan itu, Master.”
“Yasmin! Aku… juga ingin melihat sosokmu yang asli.”
“Master.”
“Tenang saja. Apapun itu, aku akan tetap memilih untuk bersamamu”
Yasmin terdiam sejenak. Lalu lama terdiam, sesuatu pun kembali terucap lewat bibirnya.
“Baiklah jika itu yang Master inginkan.”
Cahaya hitam kelam tampak keluar dari pelupuk mata Yasmin.
Aku saat itu baru menyadarinya, perihal kesalahankulah wanita itu menderita akibat cinta tak terbalas.
Ingatan samar itu segera terbangkitkan lagi di dalam kepalaku.
Sosok sang kura-kura Yasmin yang bersedih akan tuannya yang sekarat perihal serangan the king of undead datang untuk menyelamatkan tuannya. Lalu sang tuan yang senang bisa memperoleh pelipur laranya di ujung kematiannya pun mencium sang kura-kura, menyentuh bibirnya dengan lembut.
Di saat itulah jurus cinta Yasmin terjalin membentuk koneksi dengan aliran mana-ku. Penghambaan yang mendalam dan kepasrahan demi keselamatan tuannya yang benar-benar terukir di hatinya seketika memasangkan pelet kepada dirinya sendiri untuk menyelamatkan sang tuan. Sungguh besar kasih sayangnya kepada sang tuan hingga dia pun rela mengorbankan kebebasannya.
Namun, itu cukup sampai di sini.
Tuannya bukan lagi sosok lemah yang harus dilindungi. Kini, giliran sang tuan itu-lah yang harus melindungi balik para anak buahnya.
Aliran mana hitam tak kasat mata yang terhubung antara hatiku dan mata Yasmin yang bahkan luput dari ketajaman indera keenamku seketika terputus. Di situlah aku yakin Yasmin telah terbebas dari peletnya sendiri.
“Yasmin?”
Wajahnya selalu datar hingga aku pun sama sekali tidak bisa menebak dengan akurat apa yang tergambarkan oleh hatinya.
Aku was-was.
Aku benar was-was.
Bagaimana jika apa yang menghubungkanku antara Yasmin selama ini benar-benar murni karena pelet semata?
Bagaimana jika dia akan meninggalkan sisiku begitu pelet itu sirna?
Namum, penantian itu berbuah manis.
“Master. Hiks, hiks…”
Yasmin menangis sembari memelukku erat.
“Aku takut… Aku takut, Master.”
“Selamat datang kembali, Yasmin.”
Aku pula membalas pelukan itu dengan hangat.
Waktu pun sejenak lama berlalu dalam diam. Aku mengajak Yasmin duduk di sebuah pohon menjauh dari tempat yang penuh darah dan bau busuk bekas sisa-sisa jasad milik Angele.
“Bagaimana perasaanmu sekarang, Yasmin?”
“Jadi, setelah jurus pelet itu diangkat, masih bisakah kamu melihat cicit dari cicit dari cicitmu ini sebagai seorang pria?”
Aku berupaya sebisa mungkin menghaluskan ucapanku itu. Aku hanya tak ingin Yasmin ikut sakit hati karena aku menyinggung usianya yang tua.
“Hatiku tidak lagi berdebar-debar seperti dulu ketika menatap Master. Hanya saja, perasaanku untuk selalu ingin di sisi Master, tetap saja sama. Tentu saja aku tak lagi melihat Master sebagai seorang pria, melainkan sebagai keluarga.”
Aku lega bahwa semuanya berakhir dengan baik. Cintanya yang tak terbalaskan syukurlah hanya berupa kepalsuan. Dan kini sosok sebagai seorang keluarga terpatri di antara hubungan kami berdua. Yasmin bagaimanapun adalah salah satu dari orang-orang yang tak ingin aku lepaskan.
Aku tidak peduli jika orang-orang akan menganggap aku jahat dan egois. Aku hanya tak ingin berdiri sendirian di tahta yang penuh dengan duri beracun nan mematikan ini. Aku butuh orang-orang yang mampu sebagai pelipur laraku di mana salah satunya adalah Yasmin.
Masalah Yasmin telah selesai. Namun, tanda yang muncul di dalam tubuhku ini, benar-benar lelucon.
Ini terjadi begitu aku masih berada di dalam tempat penuh kegelapan di dunia astral tersebut.
“Helios, jantungmu!”
“Ibunda?”
Namun begitu kumelirik ke tempat di bagian tubuhku yang menarik perhatian Ibunda, tanda ini pun muncul.
Tanda kepahlawanan.
Namun, tidak seperti yang Damian miliki, tampaknya kali ini, ini adalah tanda kepahlawanan yang asli.
Benar-benar lelucon, bukan?
Setelah apa yang aku alami, rupanya pahlawan yang ditunggu-tunggu tidak lain adalah diriku sendiri.
Baal lebih licik dari yang kuduga. Dia telah menciptakan karakter fiksi berupa sang tiran es untuk menyingkirkan posisi pahlawan sebenarnya untuk digantikannya dengan pahlawan palsu yang bisa dia peralat sesuka hatinya.
Bahkan setelah hidupku dihancurkan oleh Baal, aku tetap tidak bisa hidup tenang menikmati kejayaanku sebagai seorang kaisar.
Aku telah diserahi tugas yang benar-benar berat.
Namun, mana mungkin aku mengabaikannya sejak salah satu di antara orang-orang yang harus kulindungi tersebut adalah keluargaku sendiri, Talia, Helion, dan yang lain.
“Kamu tampak bersenang-senang menyalahgunakan ketampananmu itu, Hero!”
Suatu suara tiba-tiba saja terdengar dari balik atas pohon.
Aku tidak dapat menahan ekspresi keterkejutanku begitu kumelihat sosok orang itu perihal dia adalah orang yang sebelumnya penampakannya kusaksikan di wilayah hutan monster di dekat Kota Tarz bersama Angele.
“Kamu?”
Wajahnya tertutupi topeng, namun itu bukan lagi wajah yang asing bagiku perihal itu tidak salah lagi adalah wajah milik Leon, adik yang sudah lama kukira telah meninggal.
“Menjadi tampan sungguh berdosa. Aku iri pada ketampananmu itu. Berkatnya, kau membuat salah satu pengikut setia kami mengkhianati kami. Jadi begitu, seperti ini rupanya tipe pria idaman Cassandra. Hmm, seleramu tinggi juga ya, sang witch cinta Cassandra.”
Aku segera melirik ke arah Yasmin karena tampak sosok bertopeng yang mirip Leon itu mengenalnya.
“Yasmin, apakah kamu kenal dia?”
Aku segera bertanya kepada Yasmin apakah sosok itu adalah orang yang dikenalnya. Karena jika demikian, itu berarti, dia dan Leon memang hanyalah sekadar mirip belaka.
“Tidak, Master. Aku juga baru pertama kali melihatnya.”
Aku sejenak merasa lega mengetahui bahwa masih ada kemungkinan dia benar-benar Leon. Tetapi kemudian, sang sosok bertopeng pun memperkenalkan dirinya.
“Perkenalkan, aku dari legion the great five witch Raja Iblis di bawah naungan langsung sang witch objek Isis, Noel Dumberman.”
Seketika segalanya runtuh kembali.
***
Di wilayah demon itu, pertarungan yang intens sedang terjadi di antara para demon dengan kedua sosok manusia tertentu.
-Trang, trang, trang.
“Ah, ini melelahkan! Monster-monsternya nggak ada habisnya juga.”
“Makanya sudah kubilang kamu kan baru sembuh, mengapa bertindak berlebihan begitu?”
“Yah, mau bagaimana lagi. Aku telah berbuat salah sebelumnya. Jadi setidaknya aku ingin menebus kesalahanku pada Master dengan melakukan ini. Yang lebih penting dari itu, bisakah kau sembuhkan lukaku sekarang, Albexus?”
“Ck. Kau tidak tahu ya kalau berbeda dengan sihir biasa, sihir suci itu jumlahnya sangat terbatas. Harusnya kau bisa jaga tubuhmu dengan lebih baik, Albert.”
Sejenak kemudian, mereka tak lagi dapat mengobrol bersama. Seorang pemuda yang tampak berasal dari kelas priest hanya mampu segera mengobati temannya yang tampak berasal dari kelas swordsman itu dalam waktu yang sangat terbatas sehingga hanya mampu menutupi luka luarnya untuk sementara. Itu karena para demon sudah mengepung mereka.
“Ini tidak lucu kan kalau kita harus mati kedua kalinya di tempat seperti ini?”
“Yah, itu sangat tidak lucu, Albexus. Maka mari kita selamat.”
-Trang, trang, trang.
Kedua pemuda itu pun melanjutkan pertarungan mereka melawan demon yang tampak bermunculan tiada akhirnya.