Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 163 – AMARAH RAKYAT DI TENGAH WABAH



Albert tiba bersama Damian dan para prajurit lain di wilayahnya dari ibukota pasca mendengar musibah black death tersebut.


Namun, apa yang disaksikannya sesampainya di sana adalah tuannya sendiri, sang kaisar Helios sun Meglovia, melukai para warga berkerumun yang hendak menyerbu masuk ke dalam desa yang berasal dari Kota Tarz dan desa lain di sekitarnya yang ingin memastikan keselamatan keluarga mereka yang terjebak di dalam desa terjangkit wabah tersebut.


Apa tah lagi, dapat tercium bau mayat terbakar di hidung mereka yang berasal dari dalam desa. Itu semakin membuat mereka mengkhawatirkan kondisi keselamatan keluarga mereka yang ada di dalam.


Tentu saja sebagai orang yang telah lama bersama Helios, Albert tetap mempercayai tuannya itu walaupun apa yang tampak di hadapannya seakan tidak manusiawi. Itu karena sejak dulu Albert telah menanamkan kepercayaan tak bersyarat kepada Helios.


Bagaimanapun, warga desa yang kali ini dilukai oleh Helios adalah para warga desa yang berasal dari kampung halaman Albert, terlebih sejak mengelola wilayah itu, Albert telah bersama mereka lebih kurang selama empat tahun. Telah terbina rasa kekeluargaan di antara mereka.


Damian pun membisikkan sesuatu di kuping Albert.


“Tuan Helios sungguh hebat. Bahkan di saat seperti ini, Tuan Helios tidak kehilangan ketenangannya perihal hati nurani. Aku tahu itu kejam, tetapi itu memang diperlukan demi menghadapi penyakit menular yang sangat mematikan jauh melebihi kolera. Bahkan, pasti Tuan Helios tidak akan berpikir dua kali untuk memusnahkan para warga desa jika diperlukan.”


“Kalau itu aku, aku pasti sudah tidak akan sanggup membayangkan kematian penduduk di tanganku tiap kali aku tertidur.”


Mata Albert seketika bergetar begitu mendengar pernyataan Damian tersebut.


Baginya, para penduduk desa di wilayahnya itu sudah dia anggap sebagai keluarganya sendiri sejak mereka adalah orang pertama yang mempercayakan nasib mereka di bawah kepemimpinan Albert.


Namun Albert tidak berkata apa-apa, tidak menolak, namun tidak pula menyetujui ucapan Damian itu. Hanya saja, mulai timbul benih-benih keraguan di hati kecilnya, mempertanyakan kemanusiaan sang tuan. Tampaknya, hujatan-hujatan para warga desa kepada Helios selama ini sedikit banyak membekas di benak Albert tanpa dia sadari.


“Hei, hentikan! Apa yang kalian lakukan di hadapan Yang Mulia Kaisar?!”


Seketika para pendemo terdiam begitu mendengar suara pimpinan wilayah mereka menggema.


“Master Albert, kumohon tolong kami. Keluarga kami ada di dalam, tetapi Yang Mulia Kaisar sama sekali tidak mengizinkan kami masuk.”


Seraya mendengar itu Albert pun menatap Helios dari kejauhan bersamaan dengan para golem es-nya yang berjaga di gerbang pintu luar.


“Master.”


“Ah, Albert. Baguslah kamu datang. Tampaknya para warga lebih mendengar ucapanmu daripada ucapanku. Tolong bantu aku menangani mereka sembari aku mulai menyiapkan cara mengatasi wabah ini.”


“Master, apakah tidak memungkinkan bagi para warga untuk masuk demi memastikan keselamatan keluarga mereka? Setidaknya salah satu saja dari warga sebagai perwakilan.”


Terhadap permintaan Albert itu, Helios kembali kehilangan ketenangannya.


“Dasar bodoh! Kamu kira ini apa, hah?! Ini tidak salah lagi penyakit black death yang sudah menghancurkan kekaisaran kuno! Berbeda dengan kolera yang hanya menular jika terkena droplet penderita, ini bisa menular melalui udara secara langsung oleh bakteri kutu-kutu kecil yang tak kasat mata pada hewan-hewan pengerat! Aku saja masih belum tahu apa bisa menyelamatkan mereka semua sejak kekaisaran belum siap mempersiapkan obatnya!”


“Lalu bagaimana dengan nasib orang-orang yang ada di dalam itu, Master?”


“Jika kita tidak bisa menemukan obatnya tepat waktu, maka terpaksa semua penduduk di dalam desa tersebut harus dibasmi.”


Tepat seperti apa yang dikatakan Damian. Helios tidak segan-segan untuk membasahi tangannya dengan darah penduduk demi menyelamatkan banyak nyawa lain. Akan tetapi Albert, bagaimanapun dia berpikir, hati nuraninya tidak bisa menerima tindakan yang seperti itu. Untuk pertama kalinya, Albert pun membenci keputusan tuannya.


“Ini… Ini terlalu kejam, Master!”


“Aku juga bukannya berniat untuk melakukannya sekarang. Lagipula ada beberapa golem es di dalam yang merawat mereka. Maka dari itu kuminta kau untuk menenangkan warga. Para golem es-ku juga beberapa tetap akan berjaga di depan pintu gerbang dan takkan segan-segan membunuh siapa saja yang hendak masuk apalagi keluar melalui pintu gerbang. Jadi jika kau tidak ingin kematian yang sia-sia, tanganilah para warga ini dengan baik, Albert.”


“Master…”


“Aku percayakan sementara tempat ini padamu. Aku butuh untuk pergi ke suatu tempat.”


Demikianlah, Helios meninggalkan tempat itu dengan menyerahkannya kepada Albert.


***


Namun di luar sepengetahuan Albert, dengan jahatnya Damian membisikkan suatu kalimat provokatif kepada para warga tanpa diketahui siapapun.


Damian berkata bahwa seakan-akan Helios tidak akan bertindak sekejam itu jika korbannya berasal dari rekan sebangsanya.


Para warga pun seketika merasakan rasa sakit hati yang tiada terkira. Sejak mereka dikhianati oleh rekan sebangsanya sendiri yang menjebak mantan Duke Alphonse melakukan dosa bidat yang tak pernah dilakukannya, kini justru mereka memperoleh perlakuan tidak adil dari kaisar baru mereka karena menganggap mereka sama dengan rekan sebangsa yang telah mengkhianati mereka tersebut.


Hal itu pun semakin memicu api-api kebencian di hati para warga wilayah Lugwein terhadap kaisar mereka.


Namun apalah daya, mereka lemah. Walau mereka semua bersatu sekalipun, mereka bahkan takkan sanggup untuk mengalahkan satu pun golem es milik Helios yang menjaga pintu gerbang desa yang jumlahnya jibunan. Salah bersikap sedikit, nyawa melayang akan menjadi akibatnya. Satu-satunya harapan mereka pun, Albert Ernest Lugwein, tampak selalu menyembunyikan ekornya di hadapan tuannya itu.


Hingga pada akhirnya, keputusasaanlah yang menghinggapi hati mereka.


***


Bagaimana ini?


Apa yang harus kulakukan?


Ketika aku melihat kemunculan sang witch wabah, Angele, empat tahun silam, aku sudah memikirkan bahwa kemungkinan bencana black death akan segera terulang kembali. Oleh karena itu, aku telah menyiapkan tim peneliti untuk melanjutkan penelitian para warga Kerajaan Rimuru mengenai antibiotik black death yang sempat terhenti karena invasi Vlonhard.


Padahal antibiotik itu katanya telah dikembangkan. Tetapi semua data dan sampelnya hangus menjadi abu karena dibakar oleh kaisar tolol itu. Terpaksa, kami memulai kembali penelitiannya dari nol.


Akan tetapi, perihal seruan-seruan bidat para penganut kuil suci ortodoks itu, semuanya bertambah lebih kacau. Para profesor yang memegang peranan penting dalam penelitian antibiotik itu semuanya telah dibunuh.


Ada beberapa dokter yang selamat karena berhasil melarikan diri perihal putusan bersalah mereka jauh lebih lama daripada para profesor yang menjadi tonggak dasar penelitian, perihal mereka tidak terlibat langsung dalam penelitian maupun produksi obat, tetapi karena itu pula mereka semuanya hanyalah asisten dokter atau dokter menengah yang kemampuannya tidak sehebat profesor-profesor yang telah dibunuh dan tidak memegang pondasi penemuan antibiotik.


Seandainya data-data itu masih ada dan tidak dibakar… Aaaakkkkhhhh! Dasar Kaisar Ethanus bajingan!!!”


Tidak, percuma untuk marah saat ini.


Yang harus aku lakukan adalah berpikir jernih.


Itu juga di luar perkiraanku bahwa wabah black death akan segera menyerang perihal tidak ada tanda-tanda kemunculannya sebelumnya.


Tidak dapat dihindari perihal masalah penyakit manafobia Lilia lebih mendesak saat itu, walaupun sampai sekarang juga belum ditemukan obatnya.


Aku benar-benar tidak berdaya saat ini.


Apakah aku harus tanyakan lagi kepada para peneliti yang sedang mengerjakan proyek black death itu?


Tidak. Aku baru saja menerima laporan dari mereka bahwa tidak ada perkembangan yang signifikan. Itu berarti mereka belum menemukan obat terbaiknya.


Namun, kepada siapa lagi aku harus meminta pertolongan?


Siapa orang di benua ini, tidak, di dunia ini yang pengetahuan medisnya lebih baik daripadaku saat ini?


Ah.


Seketika aku mengingat nama seseorang.


Itu adalah Guru Zizi. Walaupun Beliau adalah seorang ahli herbal, bukannya dokter, tetapi justru karena itulah pasti pengetahuan Beliau tentang pengembangbiakan jamur lebih hebat daripada dokter mana pun di benua.


Berdasarkan keterangan para tim peneliti yang awalnya bekerja pada para profesor yang menerima eksekusi bidat dari kuil suci mantan Kekaisaran Vlonhard, para profesor dari mantan Kerajaan Rimuru tersebut membuat obat tersebut dari campuran ekstrak jamur alopondria dan ekstrak daun tanaman sirrah.


Kami telah berhasil menemukan senyawa dengan gugus aktif yang disebut sulfonamida dari ekstrak daun tanaman sirrah, hanya saja kami belum bisa memurnikannya hingga benar-benar jernih sehingga sangat menyebabkan mual dan diare setiap kali dikonsumsi. Ini tentunya tidak baik bagi kondisi pasien yang sedang memperjuangkan nyawanya, namun ini masih bisa diakali dengan IV solution.


Masalahnya adalah ekstrak jamur alopondria. Kami selalu gagal dalam menemukan senyawa yang disebut penisilin di dalamnya. Segala macam hal telah kami lakukan, tetapi kami tidak pernah mendapatkan klu satu pun terhadap kondisi pembentukannya.


Jika itu Guru Zizi, kuyakin Beliau punya jalan keluarnya, atau bahkan Beliau bisa menemukan metode alternatif yang lebih baik lagi.