
Albert telah tampak terengah-engah dikepung oleh suatu makhluk yang bertangan dua, berkaki dua, serta berkepala satu layaknya milik manusia, namun susunannya tak sama sekali lagi menyerupai seorang manusia. Itu monster.
“Hah, hah.”
Suara nafas Albert berat. Walau demikian, pedang besarnya tak sekalipun dia biarkan terlepas dari tangannya.
“Aku harus bergerak lebih cepat dan menyerang lebih kuat untuk mengakhiri semua ini agar bisa segera menyupport Alice dan Dokter Minerva di sana. Tapi jumlah mereka terlalu banyak.”
Keringat menetes membasahi pipi Albert. Dan belum sempat keringat itu jatuh mendarat ke tanah.
-Slash.
Gerakannya secepat kilat menebas sang monster.
Walau demikian, pedang Albert mulai tumpul oleh bekas darah para monster. Dia pun mulai tampak lelah dan kehabisan tenaga. Walau dengan penguatan aura swords master level 5 pada pedangnya, pedang Albert itu tetap tak cukup tajam untuk menebas sekaligus para monster yang tercipta dari hasil pengorbanan puluhan ribu manusia tersebut.
Lalu hal yang tak terduganya pun terjadi. Pedang besarnya itu patah.
“Dasar bajingan sialan!”
Albert pun kini seperti anjing liar, berkelahi dengan mengandalkan pukulannya. Namun di luar dugaan, dengan semangatnya yang tak pernah surut, dialah yang keluar sebagai pemenangnya.
Tangannya yang dia gunakan untuk memukul, walau telah dilapisi aura sekalipun, kini bergelimangan darah.
Pandangannya mulai mengabur, namun dia tetap tak menghentikan langkahnya ke arah di mana Alice dan Minerva sebelumnya beranjak.
Dia membuka pintu itu. Namun akhirnya dia seketika tersadar bahwa sejak awal Alice dan Minerva sama sekali tak pernah membutuhkan bantuannya.
***
Alice dan Minerva melakukan serangan kombinasi dengan sangat baik.
Minerva sebagai penyerang jarak jauh, membatasi pergerakan lawannya walaupun bergerak sangat cepat. Kemudian sebagai pengeksekusi serangan fatal yakni Alice yang kini kembali mewujudkan pedang spiritnya.
Sebuah burung es yang terhubung dengan kesadaran Helios sesekali bertindak sebagai umpan untuk mengalihkan perhatian sang lawan. Namun begitu Baal sedikit saja berusaha mengabaikan burung kecil Helios itu, itu akan segera berimbas balik kepadanya dengan serangan tusukan es yang sangat mematikan.
Secara tak terduga, hanya dengan munculnya faktor Helios di antara mereka berdua, serangan Alice dan Minerva menjadi terkoordinasi dengan sangat menakutkan.
Lalu sebagai serangan penutup, serangan es Minerva membuka pertahanan Baal, lantas Alice segera mengeksekusinya dengan melubangi dadanya. Terakhir, burung kecil Helios-lah yang mematuk dan menghancurkan kristal inti sihir yang menjadi penyokong tubuh boneka Baal dari dalam.
“Terkutuklah kalian, para manusia. Jangan kira ini adalah akhirnya. Selama kalian tidak menghancurkan tubuh utamaku di tower lantai 44, aku hanya akan terus bangkit dan membawa kehancuran di muka dunia ini. Hahahahahahaha.”
Tubuh boneka Baal pun kembali ke wujud asalnya. Itu bukanlah wujud sebagai Rahib Robell Zarkan atau Rahib Ngezot lagi, tetapi benar-benar wujud boneka putih dari tanah liat. Berasal dari tawanya yang menampakkan mulutnya yang terbuka lebar, itu retak, yang perlahan keretakannya menyebar hingga tubuh boneka itu pun benar-benar menjadi debu lalu kembali menyatu dengan tanah.
Albert dari jauh menyaksikan bagian akhir pertarungan mereka. Dia mampu melihat bahwa betapa perkasanya kedua wanita itu, duo Alice dan Minerva. Lalu muncullah sedikit rasa iri di dalam hati Albert.
“Tidak hanya Yasmin rupanya, kini Alice juga jelas-jelas telah sangat jauh melampauiku dari dulu.”
Bisa terpampang dengan jelas ekspresi sedih dan frustasi di wajah pemuda tampan berambut kuning emas itu dari balik bola mata emasnya. Dia dan rekannya jelas-jelas berhasil menyelesaikan misi dari tuannya, namun entah mengapa Albert merasakan perasaan gagal yang tiada terkira.
***
Sementara itu di perbatasan utara Kota Lobos, tempat di mana medan perang antara tentara Kekaisaran Selatan Meglovia dan tentara Kekaisaran Utara Vlonhard berada, Alcus von Maxwell memimpin para prajuritnya dengan sangat baik.
“Jangan menyerah! Kemenangan ada di depan mata!”
Dia berteriak memberikan semangat kepada anak buahnya itu. Namun demikian, para prajurit first order yang ada di medan perang, walaupun tak sekuat dari bentuk sempurna yang Alice dan Minerva lawan, mereka tetaplah sangat kuat, sangat jauh lebih kuat dari puluhan yang dilawan oleh Albert yang masih dalam bentuk cacatnya.
Jika puluhan bentuk cacat makhluk itu saja sudah membuat seorang swords master level 5 menjadi kewalahan, apatah lagi jika jumlahnya mencapai seribu. Walaupun itu telah dilemahkan oleh Helios sekitar 80 %-nya sebelumnya, itu tetaplah sangat kuat bagi prajurit biasa seperti mereka. Mereka hanya akan dilumat oleh tubuh yang tak bisa ditembus oleh senjata biasa itu.
Itu meminimalisir jumlah korban dari kalangan tentara Kekaisaran Meglovia dan senjata mereka cukup efektif melukai para prajurit first order, hanya saja tetap ada batasan dari tenaga mereka yang membuat mereka terpukul mundur oleh kekuatan mutlak milik lawan tersebut.
“Dan kalian pikir kalian pantas menjadi tentara Master dengan tubuh kalian yang lemah itu?! Dasar menyedihkan!”
Itu Yasmin.
Helios sadar bahwa para tentara di bawah akan segera kehilangan keuntungannya begitu dia menarik dirinya dalam menghadapi para prajurit first order itu perihal berkonsentrasi untuk menaklukkan satu-satunya grand master di benua itu saat ini, Kaisar Ethanus sun Vlonhard.
Helios pun mengutus Yasmin demi menutupi kesenjangan kekuatan para prajuritnya.
Sihir suci segera menyelubungi seisi medan perang meningkatkan stamina para tentara Kekaisaran Meglovia, namun sebaliknya, itu menjadi racun bagi para prajurit first order yang notabene penciptaannya berasal dari sorcery yang memanfaatkan mana mati.
Mana pool Yasmin sangatlah besar yang sampai saat ini masih belum bisa diketahui batasnya, layaknya Helios. Itu membuatnya bisa mengalirkan sihir suci dalam area yang luas tanpa terlihat lelah sedikit pun. Satu-satunya keterbatasannya adalah walaupun sebesar apapun mana pool itu, tetap membutuhkan stamina untuk mengalirkannya. Jadi tetap ini berjuang dengan waktu sampai stamina Yasmin mencapai batasnya.
“Sekarang kesempatan kalian! Tunjukkan bahwa kalian pantas berada di bawah pundi-pundi Kaisar Helios sun Meglovia!”
Dipimpin oleh Alcus von Maxwell, para tentara yang dibuff maksimal oleh Yasmin pun kembali memperoleh momentumnya demi mengalahkan para prajurit first order tersebut.
***
Sementara itu di atas udara, terjadi pertarungan puncak antara kedua penguasa, sang tiran es, Helios sun Meglovia, melawan grand master satu-satunya Benua Ernoa, Ethanus sun Vlonhard.
“Matilah kamu, bocah!”
Kaisar Ethanus merasa sangat percaya diri bisa mengalahkan Helios jika itu soal adu kekuatan. Itu perihal dia yakin Helios adalah kelas wizard yang lemah terhadap pertarungan jarak dekat walaupun dia bisa sedikit ilmu pedang.
Namun dia telah keliru. Ada satu kelas unggul lainnya selain jalur swordsman dan jalur wizard. Itu justru adalah kelas yang menjadi landasan penciptaan para prajurit first order, kelas yang bisa melakukan sihir tingkat tinggi layaknya arch wizard, tingkatan lebih tinggi dari wizard, namun bisa pula bertarung dengan pedang yang tak kalah dengan seorang swords master. Kelas yang akan menjadi cikal-bakal hero, kelas champion, kelas yang paling langka di dunia.
Helios secara tiba-tiba saja mensummon pedang dari kekosongan. Itu adalah senjata spirit yang mirip dengan Alice, namun lebih ramping dan megah serta berelemen es.
-Trang.
Itu menangkis pedang sang grand master.
“Untuk berpikir kamu bisa mensummon senjata spirit yang mampu menangkis serangan seorang grand master yang dikatakan sebagai puncak ilmu berpedang. Begitu rupanya. Kamu bukan wizard, tetapi champion.”
-Srururuk, srak, srak.
Adu pedang tetap berlanjut sembari Kaisar Ethanus melanjutkan pembicaraannnya dengan Helios.
“Jika kamu punya kekuatan sehebat ini, mengapa kamu merahasiakannya sampai sekarang? Kudengar kamu diasingkan di istanamu perihal ramalan tiran itu. Kalau punya kekuatan sebesar ini, seharusnya kamu bisa melawan balik lantas menguasai balik istana seorang diri.”
-Srururuk, srak, srak.
Helios tidak menjawab. Dia hanya fokus bertarung.
“Oh ho, begitu rupanya. Kamu membangkitkan kekuatanmu baru-baru ini perihal tidak ada guru yang bersedia mengajarimu dan mencari tahu bakatmu lantas membangkitkan kemampuanmu sewaktu kamu masih kecil. Sungguh sangat malang, berpikir bahwa anak ingusan sepertimu yang justru terpilih oleh ramalan tiran itu. Padahal itu seharusnya aku yang memperoleh tempatmu.”
Helios yang keheranan dengan ekspresi Kaisar Ethanus yang menampakkan keirian padanya seolah memperoleh ramalan itu baik lantas mengajukan pertanyaan padanya.
“Apa menurutmu menjadi tiran penghancur dunia itu baik?”
“Tentu saja itu adalah hal yang baik. Ketakutan orang lain adalah kemewahan terbesar untuk menikmati dunia di bawah telapak kaki kita. Baik itu gelar tiran, maupun gelar pahlawan yang menyelamatkan dunia, keduanya akan kumiliki lantas kuwujudkan dunia idealku sendiri.”
Di saat itulah Helios memahami bahwa sampai kapan pun dia tidak akan pernah mengerti jalan pikiran Kaisar Ethanus. Baik kepribadian maupun cara berpikir mereka berdua benar-benar bertolak belakang.