
Di salah satu ruangan dungeon itu, api unggun menyala disertai oleh aroma daging yang menggugah selera. Albert beserta party-nya sedang asyik dalam menikmati waktu makan mereka sembari menunggu tuannya keluar dari balik pintu dungeon yang lain.
“Hmm. Ini benar-benar enak, Alice. Kamu yang terbaik. Tak kusangka bisa menikmati makanan mewah selama berada di dalam ekspedisi.”
“Aku pengalaman pada ekspedisi sebelumnya. Walau tidak mengatakannya, Tuan Helios terlihat sangat tidak nyaman memakan daging tawar yang diawetkan. Hehehehehehe. Oh iya, ngomong-ngomong, sudah hampir sejam berlalu, tetapi Tuan Helios kok belum balik-balik juga ya? Aku jadi khawatir padanya.”
Ekspresi Alice murung.
Namun, Albert tetap fokus pada tujuannya untuk membuat Codi tidak nyaman. Rupanya, ada salah seorang di dalam party itu yang terkucilkan dalam suasana makan yang nikmat itu. dialah Codi, sang serigala penyendiri. Ataukah lebih tepat jika memanggilnya sebagai ular penyendiri? Sejak codename yang ditetapkan Leon padanya adalah Snake.
Benar, Codi terkucilkan di dalam party perihal dia pada dasarnya memang bukan bagian dari kelompok Helios. Dia adalah salah seorang anak buah kepercayaan Leon.
“Hmm. Alice memang yang terbaik. Berkatmu suasana party menjadi lebih hidup dengan makanan mewah ini. Tidak seperti seseorang yang bisanya hanya mengeluh, tetapi tidak bisa membantu apa-apa.”
Sembari mengucapkan itu, Albert melirik ke arah Codi. Albert terlihat kesal padanya. Namun, Codi hanya pura-pura tidak peduli terhadap tatapan mata itu.
“Cih, aku juga tidak butuh makanan darimu. Daging keras ini saja sudah cukup untuk membuatku kenyang. Lagian, mana ada ksatria yang begitu lembek tidak dapat bertahan hidup dalam ekspedisi tanpa daging panggang. Sesuai dugaanku, didikan Yang Mulia Pangeran Leon memanglah yang terbaik. Tidak seperti didikan seseorang yang gagal. Ck, ck, ck. Lihat saja anak buah hasil didikannya.”
Codi balik memprovokasi Alice dan Albert yang segera membuat Alice dan Albert naik pitam.
“Apa kamu bilang?! Kau baru saja menghina Master kami!”
“Kalau kau mau bertarung, sini! Akan kutunjukkan padamu siapa yang lebih hebat di antara kita!”
Di luar dugaan, berbeda dari tingkahnya yang biasa, justru Nunu yang keluar sebagai orang yang paling dewasa di antara mereka.
“Sampai kapan kalian akan bertingkah seperti anak kecil? Tidakkah kalian sadar bahwa Tuan Helios kini sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya di dalam sana sementara kita asyik-asyikan bersantai di sini? Setidaknya kalian harus tenang sembari mendoakan keselamatan Tuan Helios.”
Albert dan Alice terdiam dan tak bisa berkata apa-apa lagi atas ucapan Nunu tersebut. Keduanya pun meminta maaf secara bersamaan.
“Maaf.”
“Maaf.”
Kini giliran Nunu yang menghampiri Codi.
“Tuan Codi juga, ini aku berikan satu tusuk sate. Makanlah.”
“Cih, aku tidak butuh kebaikan dari kalian.”
Mendengar ucapan tidak sopan Codi, terbentuk tanda x di pelipis Nunu. Namun bagi Nunu yang telah terbiasa menghadapi seorang adik perempuan nakal dengan mulut yang lebih kasar di kampung halamannya, sikap Codi itu bagaikan hanya seonggok debu dibandingkan kubangan lumpur.
“Anda juga tidak perlu berkeras kepala begitu. Lagian ini semua demi kesuksesan party. Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika Anda tiba-tiba saja pingsan karena lemas kurang makan di tengah pertarungan, hah? Tidakkah Anda memikirkan hal itu? Setidaknya terima ini dan jangan anggap itu sebagai kebaikan, melainkan sebagai profesionalisme Anda dalam bekerja. Tidakkah Anda ditugaskan kemari oleh Tuan Leon untuk membantu party kami?”
Dan di luar dugaan pula, Codi bisa dijinakkan oleh Nunu.
Dia pun menerima makanan pemberian Nunu itu dengan patuh dan tak lagi menunjukkan sikap keangkuhan.
Beberapa saat setelah itu, akhirnya apa yang ditunggu-tunggu mereka akhirnya tiba juga. Pintu dungeon yang entah menghilang ke mana, tiba-tiba muncul dan terbuka kembali, lantas Helios pun keluar dari sana.”
“Tuan Helios!”
“Master.”
“Master.”
Helios segera menyambut anak buahnya itu dengan tangan yang terbuka untuk berpelukan disertai dengan senyuman yang hangat.
Namun, Helios tidak bisa mengambil banyak waktu lagi lantas segera menyuruh party-nya bersiap-siap untuk pulang.
“Ayo bergegas.”
“Tapi, Master, Anda sebaiknya makan dulu bareng dua atau tiga suap. Aku sudah menyiapkan bagian Anda.”
“Terima kasih, Alice.”
Helios pun membuka mulutnya dan dengan cepat Alice menyuapi masternya itu. Tetapi keputusan Helios untuk bergegas tidak berubah.
Itu karena kota saat ini sedang kacau-balau perihal serangan monster dan berdasarkan keterangan dari Milanda, itu semua disebabkan oleh Raja Iblis.
Mereka mempercepat langkah kaki mereka, tidak, party itu berlari dengan pace yang dua sampai tiga kali lebih cepat dibandingkan sewaktu mereka kemari.
“Master, apakah kini dungeon-nya sudah berhasil diatasi?”
“Setidaknya kini dungeon Milanda telah normal seperti sedia kala, Albert. Jadi kurasa hanya tinggal butuh waktu bagi kabut-kabut ini untuk kembali normal pula seperti sedia kala.”
“Tidak. Tidak ada satu pun. Walaupun ada, ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahasnya. Untuk saat ini, marilah fokus untuk bergerak cepat saja.”
“Aku mengerti, Master. Tapi, Master, apa keadaan kota saat ini memang segitu gawatnya? Bukankah di kota saat ini juga ada Yang Mulia Pangeran Leon. Juga di sana ada Damian yang lumayan tangguh. Saya rasa Master tidak perlu terlalu khawatir tentang keamanan kota ketika ada orang-orang hebat seperti mereka di sana.”
Helios tidak lagi menanggapi pernyataan Albert itu dan memilih untuk diam. Namun dalam hati, Helios tak dapat menahan keraguannya.
'Semoga saja begitu. Semoga adik bodohku itu tidak merencanakan skema berbahaya hanya karena hal tolol seperti tahta. Sama halnya dengan Damian yang mencurigakan itu.'
“Ah.”
Helios segera menyadari bahwa ada akan serangan dadakan yang tiba-tiba ditujukan kepada party-nya.
“Master, awas!”
Alice sang tanker pun segera turut menyadarinya lantas dengan cepat berdiri di hadapan Helios dan kawan-kawan untuk mencegah serangan tersebut mengenai party-nya.
“Puaaaaakh!”
Terdengar suara guncangan hebat mengenai zirah emas Alice. Walau demikian, wanita itu tetap mampu berdiri dengan kokoh.
“Kerja bagus, Alice. Tetap berada dalam posisi siaga. Mungkin kalian sudah merasakannya, kabut-kabut kembali bergerak secara tidak wajar. Fokus menyerang pada senjata dan jangan keluarkan sihir atau aura apapun. Ini perintah, mengerti?”
“Siap, Master.”
“Dimengerti.”
“Baik, Tuan Helios.”
Masing-masing dari anak buah Helios memberikan jawaban yang berbeda-beda seperti biasa, namun mereka menuruti dengan baik perintah itu karena mereka selalu yakin bahwa akan selalu ada maksud dari tiap perintah masternya itu.
Dan walaupun Codi diam saja, dia pula tetap menuruti perintah Helios sebagai bentuk penghormatannya kepada perintah masternya, Leon. Karena walau tak ditunjukkannya, sebagai salah seorang yang paling dekat dengan masternya, Codi sadar bahwa betapa Leon sangat menyayangi kakak yang selalu dipanggilnya sampah itu.
Codi semata-mata melindungi Helios karena dia tahu bahwa Leon pasti akan sedih jika Helios sampai terluka di dalam ekspedisi ini.
Helios yang tajam segera menyadari bahwa ada racun tak kasat mata yang ikut bercampur ke dalam kabut-kabut itu.
“Luar biasa! Benar-benar luar biasa! Tak kusangka akan ada sosok manusia yang bisa melihat ke dalam jebakanku.”
Suara wanita pun terdengar dengan nyaring yang menggema di sekeliling mereka. Walau demikian, karena efek gaung, Helios dan party kesusahan untuk menebak posisi pasti suara wanita itu berasal. Bahkan Helios yang peka terhadap aliran mana dibuat kebingungan olehnya, padahal sosok tersebut benar-benar menyalurkan suaranya lewat mana.
Sang wanita atau demikianlah prediksi Helios dan party berdasarkan suara sosok itu, kelihatannya adalah seorang penyihir yang sangat pandai memanipulasi mana hingga bahkan sanggup untuk menipu Helios.
“Clang, clang, clang, clang, clang.”
Suatu sosok yang tersembunyi dalam kabut pun mulai menyerang mereka, namun sesuai dengan aba-aba Helios, anggota party-nya bertahan dengan baik hanya dengan menggunakan senjata mereka yang tanpa dialiri oleh mana ataupun aura sehingga mereka pun tak menjadi keracunan oleh racun yang bercampur di dalam kabut.
“Syukurlah bahwa aku sudah berlatih tombak dengan Tuan Damian sebelumnya.”
“Nunu, tetap fokus.”
“Tenang saja, Alice, kau fokuslah untuk meindungi Tuan Helios.”
Dengan formasi penyerang utama Albert di depan dan Codi di belakang, di mana Nunu bertindak sebagai support serangan di sekeliling Helios dan Alice sebagai pelindung utamanya, party itu mempertahankan pola serangan yang seperti itu untuk beberapa saat.
Helios pun dapat berkonsentrasi penuh menerapkan jurus baru yang baru saja Milanda ajarkan kepadanya sejak dia dapat mempercayakan kepada para anak buahnya itu untuk pertahanan sekaligus serangan balik.
Lalu beberapa saat kemudian,
“Netralization.”
Seluruh kabut aneh yang disisipi racun tersebut seketika menghilang dari hadapan party Helios, terurai oleh skill penulisan ulang mantra Helios.
Nampaklah jelas apa yang menyerang mereka di depan adalah beberapa sosok orc yang terlihat gila. Dan yang memimpin para orc itu, di luar dugaan mereka adalah seorang wanita cantik yang kecantikannya mirip dengan nuansa Yasmin dan Milanda.
“Ini luar biasa. Tak kusangka akan ada manusia yang bisa mematahkan mantraku. Sesuai dugaan dari manusia pilihan the second.”
“Siapa kau?”
Albert segera berdiri di hadapan tuannya itu sembari menanyakan identitas wanita mencurigakan yang tiba-tiba ada di depan mereka.
“Oh, maaf atas ketidaksopananku yang lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan, saya adalah anggota ketiga dari batalyon the great five witch dari pasukan raja iblis, Angele.”
Jawab sosok wanita mencurigakan itu dengan senyum yang tak kalah mencurigakannya pula.