Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 98 – RENCANA JAHAT DIMULAI



“Siapa kalian?”


Dalam ketakutan, sang putra mahkota, Albexus Star Vlonhard menatap para pembunuh bertopeng yang menyelinap memasuki kamarnya beserta lusinan mayat para pengawalnya yang berserakan.


Para pembunuh itu pun mendekat ke arah sang putra mahkota. Mengetahui bahwa para pembunuh bertopeng pastilah tidak memiliki niat yang baik kepadanya, sang putra mahkota segera melarikan diri melalui jalan rahasia di balik ranjangnya. Namun, para pembunuh bertopeng tetap bersikukuh mengejar sang putra mahkota yang malang itu.


“Srak.”


“Akh!”


Satu demi satu, anak panah mengenai tubuhnya yang membuat sang putra mahkota terluka hingga semakin lambat dalam bergerak. Tidak, itu lebih buruk lagi karena rupanya anak-anak panah yang mengenainya mengandung racun. Pada suatu ketika, sang putra mahkota pun tak sanggup lagi mempertahankan langkah kakinya yang semakin mati rasa dan akhirnya terjatuh lemas.


Albexus menatap baik-baik wajah para pembunuh bertopeng itu. Lalu dengan cepat, satu tebasan dari salah satu pembunuh bertopeng segera mengakhiri hidup sang putra mahkota Kekaisaran Vlonhard tersebut.


Dari balik layar, sang kepala kuil suci sekte penyembah matahari, Robell Zarkan, menatap pemandangan kematian sang putra mahkota itu dengan ekspresi kepuasan.


“Akhirnya… Akhirnya! Satu dari kelima party pahlawan yang diramalkan berhasil kusingkirkan! Dengan demikian, kejayaan Tower akan semakin dekat! Hahahahahahahaha.”


Tawa menggelegar terdengar menggema di seisi ruangan. Namun, ruangan begitu kedap suara perihal penerapan sihir sehingga tawa menjijikkan sang kepala kuil suci tak dapat tembus terdengar ke luar.


***


“Hmm. Kini sang putra mahkota kekaisaran telah tewas. Hanya tersisa empat orang lagi yang menjadi penghalang besar bagi rencana Tower. Dua lagi berada di dalam pengawasan si sialan itu. Kini aku hanya bisa untuk menyingkirkan si priest terlebih dahulu.”


Itu bukanlah Robell Zarkan yang mengatakannya kali ini, melainkan Magnus Slafonn, kepala kuil suci sekte penyembah bintang yang terdapat di Kerajaan Ignitia, seolah tubuh dan pikiran mereka berdua menyatu.


“Tapi ke mana perginya priest sialan itu? Seharusnya setelah Kerajaan Rimuru dihancurkan, si priest itu sudah berada dalam genggaman kami, tapi dia tak bisa ditemukan di mana pun. Bahkan seisi tempat di Kerajaan Ignitia yang rata-rata pengungsi dari Kerajaan Rimuru mengungsi kemari, tidak ditemukan pula keberadaan dari sosok priest itu seolah dia tertelan ke dimensi lain. Apa ada tempat yang aku lewatkan?”


Tampak sang kepala kuil suci sekte penyembah bintang berpikir begitu keras.


“Kau mencariku, Rahib Magnus?”


Namun secara tiba-tiba saja, seorang sosok wanita yang entah datang dari mana menghampirinya. Wanita itu mengenakan setelan jas dokter berwarna putih.


“Kau? Kau… Kau?! Priest?! Mengapa ada di sini?!”


“Bukankah itu terlalu kejam kau merekayasa penghancuran satu kerajaan hanya demi mengincar nyawaku, Rahib Magnus? Tapi yah, sejak awal mana mungkin kamu mengerti apa yang kumaksud ya? Sejak iblis tidak memiliki rasa simpatik.”


“Kau… Akh!”


Belum sempat Rahib Magnus berucap lebih jauh, lehernya telah tertebas duluan oleh sang wanita yang mengenakan setelan jas dokter. Walau demikian, jas dokternya tetap putih berkilauan tanpa terkena sedikit pun cipratan darah dari sang kepala kuil suci yang telah dibunuhnya.


Wanita yang tanpa segan-segan membunuh kepala kuil suci sekte penyembah bintang itu tidak lain adalah Dokter Minerva, dokter yang saat ini menangani kehamilan Talia.


“Mempelajari anatomi tubuh manusia memang sangat berguna. Hal itu membuat assasinasi menjadi jauh lebih efisien sejak kita bisa mengetahui bagian arteri mana yang harus digorok duluan untuk menimbulkan kematian instan yang sangat menyakitkan bagi target.”


Ujar Dokter Minerva sembari benar-benar memperhatikan mayat sang kepala kuil suci dengan penuh ketertarikan, bukan kepada individunya, melainkan kepada anatomi tubuh manusia itu sendiri. Tidak, tepatnya kepada tubuh buatan mirip manusia milik sang iblis.


Terlihat sebuah portal bercahaya biru tepat di belakang Dokter Minerva. Dokter Minerva rupanya adalah seorang pengguna portal, sihir teleportasi yang keberadaannya seharusnya masih jauh dari peradaban manusia zaman itu seolah-olah dia berasal dari masa depan. Itulah rupanya yang menjadi alasan mengapa Dokter Minerva yang harusnya berada di Kota Painfinn bisa berada di ibukota Kerajaan Ignitia dalam waktu sekejap.


***


Di tempat lain, sesuatu tidak terduga telah terlewatkan oleh Rahib Robell Zarkan.


Dari balik bayang-bayang, seorang sosok pemuda yang tak lagi terlihat jelas bentuk wajahnya karena dipenuhi oleh sisik reptil, menenteng seorang pemuda lain bersamanya. Itu tak lain dan tak bukan adalah sosok Albexus Star Vlonhard, putra mahkota Kekaisaran Vlonhard. Dan dia masih hidup.


Apa yang ditebas oleh sang pembunuh bertopeng sebelumnya hanyalah duplikat tubuh palsu yang dibuat oleh sang pemuda berwajah seram penuh sisik reptil itu. Pemuda itu jelas yang sebelumnya bersama dengan witch mimpi buruk.


***


“Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana? Mengapa Putra Mahkota Albexus belum membalas pesanku?”


Tius Star Meglovia, sang putra mahkota Kerajaan Meglovia, terlihat sedang gelisah di kamarnya karena tak kunjung pula menerima kabar lebih lanjut dari sang putra mahkota kekaisaran. Dalam kegelisahannya, dia menatap jauh ke langit dari arah jendela sembari mondar-mandir di dalam kamarnya berharap kedatangan seekor burung pembawa pesan yang membawakan berita yang diharapkannya.


Namun, apa yang ditunggunya tak kunjung datang sampai tibanya saat di mana rapat penentuan pembalasan tindakan agresi Kekaisaran Vlonhard diputuskan. Jika demikian, berarti perang tak dapat lagi dihindarkan.


-Tok, tok.


“Yang Mulia, rapatnya sudah akan dimulai.”


“Oh, baiklah Swein. Aku akan segera ke sana.”


Tius pun keluar dari dalam kamarnya dalam keadaan yang bertambah gelisah.


***


“Ouch!”


“Nyonya! Apa Anda baik-baik saja?”


Talia tanpa sengaja menjatuhkan cangkir teh yang masih berisi teh panas yang berada di tangannya sehingga kulitnya yang putih halus itu memerah akibat panasnya air teh yang tertumpah.


Melihat itu, Alice segera mendekati Talia untuk memastikan kondisi sang majikan.


Dia mengelap tangan Talia yang memerah karena air panas secara hati-hati dengan menggunakan saputangan yang tergeletak di atas meja. Setelah itu, Alice memunguti pecahan cangkir dengan hati-hati pula yang berhamburan di sekeliling kaki Talia yang sedang duduk di sofa.


“Nyonya, saya pergi sebentar dulu keluar” Ujar Alice sembari membawa saputangan berisi pecahan cangkir di tangannya hendak membuangnya.


”Pengawal, tolong panggilkan Dokter Minerva segera untuk memeriksa kondisi Nyonya Talia.”


Mendengar ucapan Alice, tampak Talia merasa tidak enak karena telah merepotkan orang-orang di sekelilingnya akibat kecerobohannya itu.


“Alice, tidak usah memanggil Dokter Minerva segala. Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit ceroboh.”


Namun, menanggapi kekhawatiran tak perlu majikannya yang terlalu baik itu, Alice hanya tersenyum lembut.


“Tidak apa-apa kok, Nyonya. Nyonya tenang saja. Kami hanya menjalankan tugas kami.”


Demikianlah, Alice akhirnya mampu untuk menenangkan Talia. Walau demikian, ekspresi Talia masih terlihat gugup.


“Ada apa, Nyonya?”


Terhadap pertanyaan Alice itu, Talia mengelengkan kepalanya.


“Hmm, bukan apa-apa kok, Alice. Aku hanya tiba-tiba mengkhawatirkan Kakanda Helios saja di ibukota.”


“Yang Mulia Pangeran pasti akan baik-baik saja di sana. Atau mari kita putar kembali rekaman yang dikirimkan oleh Yang Mulia Pangeran tadi pagi lewat televisi saja yuk, Nyonya.”


“Hmm.” Talia hanya mengangguk pelan pada ajakan Alice itu pertanda persetujuannya.


Namun, Talia merasa bahwa apa yang membuat hatinya tiba-tiba saja merasa gelisah itu bukanlah sekadar kerinduan semata. Itu adalah firasat buruk.


Akan tetapi, tidak ada yang dapat wanita lemah itu dapat lakukan selain mendoakan kepulangan suaminya dengan selamat.


“Mas Lou, kuharap kamu akan baik-baik saja di mana pun kamu berada. Pulanglah dengan selamat.” Pinta wanita lemah itu dengan tulus.