Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 37 – HUBUNGAN SAUDARA YANG SEMU



“Dengan begini, aku memenangkan pertarungan. Sesuai janjimu, kamu tidak akan mempermasalahkan lagi soal kesalahan maid-ku itu padamu.”


Dengan acuh, Helios berkata kepada Leon sembari meninggalkan arena. Tampak Leon tak menanggapi lagi sedikit pun perkataan Helios itu.


Akan tetapi, dia menutupi matanya dengan lengan kanannya. Dia menangis.


“Jadi pada akhirnya, maid-mu itu kau nilai jauh lebih berharga daripada diriku ini ya, Kakak Sampah. Kau bahkan yang biasanya tenang sampai marah sedemikiannya hanya untuk manusia rendahan sepertinya. Tapi tak mengapa. Yang jelas tujuanku semula telah tercapai. Dengan begini, para bangsawan perhitungan itu akan mulai waspada terhadapmu sehingga proposalku untuk menarikmu dari Kota Painfinn akan segera terwujud.”


***


Aku awalnya memang mempunyai jumah mana yang sedikit lebih besar daripada yang lain. Tetapi entah mengapa, aku merasa bahwa sejak kejadian the king of undead itu, kapasitas mana-ku yang awalnya sudah besar itu, bertambah besar lagi. Dan sejak melawan Leon, akhirnya semua itu benar-benar terkonfirmasi. Tetapi apa penyebabnya?


Namun percuma memikirkan sesuatu yang tidak jelas penyebabnya. Yang jelas itu adalah sesuatu yang bagus jika kapasitas mana-ku meningkat. Dengan demikian, aku mempunyai kekuatan yang lebih untuk melindungi orang-orang yang berada di sisiku.


Walau demikian, aku sedih.


Entah sejak kapan hubunganku dengan adikku Leon itu menjadi seburuk ini.


Padahal ketika kami masih kecil, betapa aku sering bermain bersamanya.


“Kakak, ayo main kuda-kudaan.”


“Hiks, hiks, Kakak, kakiku sakit karena jatuh dari pohon.”


“Kakak, buah pocane liar dari halaman istana ini begitu enak.”


Masih terngiang dengan jelas wajah imut Leon di ingatanku ketika dia mengajakku bermain, atau di kala dia menangis, ataukah sewaktu kami melakukan permainan petualangan bersama dengan riangnya.


Betapa aku rasanya ingin mengulang kembali kenangan berharga itu. Saat-saat di mana aku bisa berinteraksi dengan saudara-saudariku yang lain tanpa merasa terkekang oleh pengawasan kuil suci.


“Master, Anda sangat hebat. Anda bisa mengalahkan pangeran sombong itu tanpa berkeringat sedikit pun.”


Begitu aku turun dari arena dengan membawa pulang kemenangan, Albert segera menghampiriku lantas memberikanku selamat.


“Master, maaf telah menyusahkanmu.”


“Tidak apa-apa kok, Yasmin. Ini bukan salahmu. Sejak awal, Leon bersikap demikian karena ingin mencari gara-gara denganku. Justru akulah yang merasa bersalah karena kamu hanya dimanfaatkannya.”


Yasmin pun turut menghampiriku dengan perasaan bersalah, tetapi aku segera mampu untuk menenangkannya.


Aku cukup sedih karena tiada yang bertepuk tangan atas kemenanganku di atas arena selain Albert, Yasmin, dan Talia walaupun ini sesuatu yang sudah kuduga akan terjadi sebelumnya. Namun demikian, ada mereka tempat aku bisa berbagi suka dan duka telahlah cukup bagiku.


Sebelum aku turun dari arena, aku sempat melirik ke arah adikku yang bebal itu. Tak kusangka dia menangis hanya karena kukalahkan. Tetapi ini pastinya akan menjadi pelajaran yang berharga baginya agar tidak terlalu sombong dengan kekuatannya karena akan selalu ada orang lain yang akan lebih baik darinya. Dengan demikian, Leon pastinya mampu menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya.


***


Hari berganti malam dan malam pun terus berlalu hingga cukup larut. Yasmin telah lama tertidur, akan tetapi belum ada tanda-tanda Albert akan tertidur juga.


Kami jadinya bercengkerama dalam suasana bertabur bintang itu di teras istana.


Tentu aku tak dapat menjawab jujur pertanyaan Albert bahwa aku telah lama menderita suatu penyakit yang menyebabkanku tidak bisa tidur. Entah keributan macam apa yang akan diperbuatnya jika sampai Albert mengetahui hal itu.


Aku pun hanya menjawab pertanyaannya dengan basa-basi.


“Ya, aku juga sudah cukup mengantuk. Sebentar lagi aku akan tidur. Jadi kamu juga segeralah bergegas tidur, Albert.”


“Akan kulakukan itu, Master. Tetapi untuk saat ini, aku ingin menemani Master lebih lama lagi.”


Terlihat raut khawatir terpampang jelas di wajah Albert. Apa ini karena kejadian tadi pagi? Namun, dia segera mengonfirmasikan sendiri apa yang mengganggu pikirannya itu lewat ucapannya.


“Aku sama sekali tidak bisa mengerti apa pemikiran para kaum bangsawan itu, terlebih-lebih para keluarga kerajaan. Jelas-jelas kalian berdua bersaudara. Tetapi tak ada satu pun nampak afeksi di antara Anda dengan adik Anda, Yang Mulia Pangeran Leon itu. Apakah tahta segitu pentingnya sampai mengalahkan afeksi di antara saudara? Tidak hanya itu, para bangsawan juga hanya terus menjilat dengan cara menjijikkan di sekitar Yang Mulia Pangeran Leon.”


“Bukankah itu hal yang wajar di kalangan para bangsawan? Tiada afeksi, hanya ada hubungan untuk saling mencari keuntungan satu sama lain bahkan di antara sesama saudara sendiri. Bukankah kau yang lebih mengerti hal itu, Albert? Sejak kau juga pernah menjadi bangsawan.”


Albert terdiam setelah aku mengucapkan kalimat itu padanya. Namun bodohnya aku, setelah sekian detik, aku baru tersadar bahwa perkataanku itu telah membuka luka lama bagi Albert.


Keluarga Albert adalah mantan bangsawan yang dicabut gelar kebangsawanannya lantas semua keluarganya dieksekusi perihal tuduhan pengkhianatan. Hanya dirinyalah yang selamat kala itu karena masih berusia di bawah 13 tahun sehingga tidak dapat dieksekusi berdasarkan aturan Kekaisaran Vlonhard, tempat di mana kampung halaman Albert berasal.


“Oh, iya. Ngomong-ngomong bagaimana pelatihan pedang auramu, Albert? Apakah kamu sudah bisa mencapai level 5?” Aku segera mengalihkan pembicaraan agar pikiran Albert segera teralihkan dari traumanya itu.


“Oh, saat ini aku masih tertahan di level 4, Master. Ada dinding yang belum bisa aku terobos untuk mencapai level 5 tersebut.”


“Tetapi mencapai master pedang level 4 di usiamu yang masih 18 tahun sudah merupakan prestasi yang sangat luar biasa lho, Albert. Bahkan banyak ksatria kerajaan yang sudah mencapai usia lebih dari 20 tahun, tetapi belum sanggup untuk menembus level 2.”


“Hahahahahaha. Terima kasih atas pujiannya, Master. Aku akan lebih berusaha lagi ke depannya. Dengan demikian, ketika Master ada masalah seperti hari ini, kali itu Master akan dapat mengandalkanku.”


“Apa yang kamu katakan, Albert? Aku telah sangat mengandalkanmu saat ini. Sebagai seseorang yang bertarung dengan sihir, aku butuh ksatria yang dapat melindungiku di saat aku merapalkan mantra yang panjang. Dan di situlah aku sangat membutuhkanmu untuk menyupportku.”


“Aku senang mendengarnya, Master.”


Demikianlah jawab Albert, tetapi tak nampak sedikit pun raut wajah senang pada ekspresinya.


Sesaat kami terdiam, lalu tiba-tiba Albert pun menanyakan pertanyaan yang paling tabu untuk kudengar.


“Master, apakah Master benar-benar tidak berniat menjadi raja?”


***


“Praaak.”


Terdengar suara pukulan meja yang bergema di ruangan itu.


“Dasar para lintah darat sialan! Bahkan setelah mereka mengetahui kekuatan sebenarnya dari Kakak Sampah itu, mereka tetap menolak untuk mendukung rencanaku. Ini tidak boleh dibiarkan. Kakak Sampah itu tidak boleh dibiarkan lebih lama lagi berada di kota itu. Jika demikian, harapan terakhirku kini hanya berkolaborasi dengan Ilene saja dan memanfaatkan koneksinya dengan para perkumpulan sarjana itu.”


Dialah Leon yang tampak telah kehabisan akal dalam menjalankan rencananya.