Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 134 – HELIOS DAN ILENE, DUA KAKAK-BERADIK (bag. 4)



Aku benar-benar telah salah langkah.


Seharusnya ketika kutahu bahwa Rahib Vyndicta akan datang menemui Ilene, aku melakukan segala cara yang kubisa untuk mencegatnya.


Namun itu semua telah terlambat.


Rahib Vyndicta tampaknya telah mengatakan sesuatu kepada Ilene tentang diriku yang tak seharusnya.


Bagaimana pun, aku tidak bisa mengetahui percakapan mereka itu perihal rahib sialan itu memasang suatu barier dan menon-aktifkan alat penyadap yang kupasang di kalung Ilene sehingga aku tidak bisa mendengarkan percakapan mereka.


Begitu aku menemui Ilene, tak kusangka bahwa dia akan sehisteris itu. Padahal aku juga adalah kakak kandungnya layaknya Kak Tius dan Leon, tetapi ketika aku mendekatinya, dia malah berteriak histeris dan memperlakukan aku layaknya monster.


Aku juga tidak bisa memaksakan kondisi Ilene yang memucat setiap kali melihatku sehingga untuk saat ini aku memutuskan untuk menjauh darinya. Mungkin apa yang dibutuhkan oleh Ilene saat ini adalah ketenangan. Tentu saja dengan kepergian Ayahanda dan Kak Tius di waktu yang hampir bersamaan akan membuat putri yang rapuh itu menjadi sangat terpukul.


Di samping itu, persiapan perang harus menjadi konsentrasi utamaku saat ini. Yah, selama Ilene berada di istana, maka aku yakin aku akan dapat melindunginya. Selama aku bisa mencegah kunjungan orang yang menyesatkan layaknya Rahib Vyndicta sebelumnya yang mengacaukan kondisinya.


Akan tetapi, hal itu tidak berjalan sesuai bayanganku.


Kini giliran Ibunda yang jatuh sakit mungkin karena stres pasca kematian Ayahanda, ataukah mungkin itu semua adalah salahku.


Aku menyayangi Ibunda, makanya aku berniat untuk selalu melindunginya. Tetapi aku sama sekali tak memperhitungkan kesehatan mental Ibunda dalam menjalankannya. Itulah mungkin sebabnya Ibunda menjadi stres karena merasa terkurung di istananya sendiri lantas jatuh sakit.


Sejak saat itu, aku pun melonggarkan penjagaan ketat Ibunda tersebut dan aku biarkan dia berkunjung ke kuil suci untuk memulihkan kondisi mentalnya. Tentu saja pengawasan tetap ada demi mencegah Rahib Vyndicta melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya kepada Ilene terhadap Ibunda.


Lalu hal yang tidak kalahnya mengganggu pikiranku adalah desakan dari para senat bangsawan untuk segera mengusir Kak Vierra keluar dari istana sesuai dengan apa yang tercantum pada pasal di konstitusi strata tingkat pertama kerajaan.


Untuk saat ini, aku bisa mengelaknya dengan dalih keluarga kerajaan yang masih berkabung dengan kepergian Ayahanda Alfreon, namun aku tahu benar bahwa alasan itu tidak akan lagi bisa bertahan lama. Namun setidaknya aku bisa menunda hal itu terjadi sampai pemilihan raja baru.


Aku tak ingin Kak Vierra berakhir menjadi pelayan suci yang akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya di dalam kuil suci yang sempit tanpa bisa menghirup udara luar lagi, tanpa bisa melakukan hobinya lagi, dan tanpa bisa merasakan indahnya dunia lagi.


Lalu di saat aku memikirkan bahwa Ilene telah tenang belakangan ini tanpa membuat scene kepanikan, rupanya aku telah salah. Dia secara tiba-tiba saja mengumumkan akan menjadi pelayan suci kuil suci lantas secara resmi mundur dari perhelatan perebutan tahta yang membuatku akhirnya menjadi satu-satunya kandidat raja masa depan Kerajaan Meglovia.


Mengetahui hal itu, aku segera menemui Ilene.


“Ilene! Apa yang kamu pikirkan dengan menjadi pelayan suci?! Tidak tahukah kamu jika kamu melakukannya itu berarti kamu telah menyerah pada hidupmu?! Kamu tidak lagi bisa menikah dan melakukan segala aktivitas luar!”


Berbeda dari perkiraanku, kulihat Ilene tetap tenang.


“Aku tentu saja telah tahu hal itu sebelum membuat keputusannya, Kak.”


“Lantas mengapa kamu melakukannya?!”


“Bukankah pada akhirnya aku juga akan berakhir sama, Kak? Aku hanya mempercepat prosesnya saja.”


“Apa maksud kamu?”


“Di konstitutisi strata dua kerajaan pasal 134, dikatakan bahwa tiap keluarga kerajaan yang tidak lagi menjadi bagian dari raja baru yang berkuasa, diwajibkan untuk meninggalkan istana dengan mengabdikan hidupnya sepenuhnya pada kuil suci.”


“Apa yang kamu katakan, Ilene? Walaupun aku yang terpilih menjadi raja, mana mungkin aku akan mengusirmu keluar dari istana? Sampai kapan pun, kamu adalah adikku yang berharga. Kamu akan tetap bisa berada di dalam istana dengan menjadi salah satu orangku. Aku akan menjamin kebahagiaanmu hidup di dalam istana tersebut.”


Terhadap perkataanku itu, Ilene secara tiba-tiba saja menatapku dengan tajam.


“Tampaknya kamu salah akan satu hal, Kak Helios. Walaupun Kakak tidak membuangku, akulah yang tak sudi untuk tinggal di istana ini lebih lama lagi. Tempat ini terlalu menyeramkan, Kak. Sejujurnya, aku takut dan tak dapat menahan ini lebih lama lagi. Maaf Kak, aku tak dapat menjadi orang Kakak seperti yang Kakak inginkan. Aku hanya ingin segera menjauh dari tempat yang penuh darah ini.”


“Ilene…”


“Ilene! Kakak tidak pernah sekali pun menganggapmu sebagai duri penghalang Kakak!”


“Baguslah kalau begitu, Kak. Jika demikian, artinya Ilene sekarang bisa hidup tenang.”


Kulihat Ilene tersenyum sembari mengatakan itu dengan ekspresi yang tenang seakan segala beban yang memberatkan hatinya telah terangkat. Jadi begitu rupanya. Akulah yang telah menjadi sumber stres Ilene selama ini.


Lagipula jika dipikirkan kembali, jika Ilene memang ingin hidup tenang tanpa terganggu oleh masalah duniawi lagi, maka kuil suci memang adalah pilihan yang tepat.


Memang sangat disayangkan bahwa Ilene tidak lagi bisa menikah dan merasakan nikmatnya kehidupan rumah tangga begitu pula melakukan aktivitas membahagiakan lainnya yang biasa dilakukan oleh wanita pada umumnya, selama pikiran Ilene bisa tenang dan tidak lagi terbebani berbagai pikiran rumit, mungkin itu adalah hal yang baik.


Namun aku tetap tak dapat melepaskan rasa khawatirku terhadap apa yang bisa Rahib Vyndicta lakukan kepada adikku itu di dalam daerah kekuasaannya. Selama Ilene berada di dalam kuil suci, maka pergerakanku menjadi terbatas untuk melindunginya.


Aku tidak punya bukti dan bukannya ini karena Rahib Vyndicta-lah yang mengeluarkan ramalan tiran itu yang membuatku dibenci oleh seisi kerajaan, tetapi aku selalu punya firasat buruk terhadap sosok itu.


Nyatanya terbukti bahwa Rahib Robell Zarkan dari kuil suci kekaisaran tidaklah sebaik di permukaan di mana dialah dalang dari rencana the first order. Rahib Robell Zarkan pula yang telah mengompori Kaisar Ethanus untuk menggencarkan perang atas nama penyatuan benua demi menghadapi kebangkitan Raja Iblis.


Setidaknya, mungkin saja Rahib Vyndicta sebelas dua belas dengannya atau bahkan dia memang sedari awal terlibat terhadap semua kejahatan Rahib Robell Zarkan tersebut.


Tindakannya yang membuat Ilene membenciku entah karena apa menjadi bukti kuat akannya. Ini bukan karena prasangka, tetapi instingku sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya yang bisa merasakan bahwa Ilene bisa berada dalam bahaya hanya dengan berada di dalam kuil suci.


Tetapi melihat tekad kuat Ilene untuk pergi ke kuil suci, bukan berarti aku bisa menghalanginya. Salah sedikit saja aku menyentuhnya lagi, Ilene yang rapuh itu bisa saja pecah berkeping-keping.


“Tidak bisakah kamu percaya pada Kakak untuk melindungimu, Ilene.”


“Maaf Kak, aku tak bisa percaya.”


Ilene dengan tegasnya menjawabku sambil tetap tersenyum dengan tenang. Di kala itu aku tersadar bahwa tiada lagi yang bisa kulakukan untuk mencegah keputusannya.


Sebagai langkah terakhirku, aku pun memberinya kembali kalung menggantikan yang sebelumnya dibuangnya perihal Rahib Vyndicta sialan itu membongkar keberadaan alat penyadap di dalamnya.


“Kalau begitu, Ilene, terimalah kalung pemberian Kakak ini. Apapun yang terjadi kali ini, kamu tak boleh melepaskannya.”


“Apakah ini mengandung alat penyadap lagi, Kak?”


“Tidak akan. Kakak berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi padamu. Kakak juga minta maaf atas ketidaksopanan Kakak waktu itu yang memberikanmu kalung yang mengandung alat penyadap dan pelacak. Lagipula jika ini mengandung alat penyadap maupun pelacak, ketika memasuki gerbang kuil suci, itu juga akan terdeteksi. Jadi rasanya kamu tidak perlu khawatir lagi dengan hal itu.”


“Jadi ini hanya kalung biasa?”


“Hmm.”


Aku menggeleng terhadap pertanyaan Ilene itu.


“Aku menanamkan sihir perlindungan yang bahkan efektif menahan serangan monster tingkat legendary kelas atas selama tiga menit sama seperti sebelumnya, hanya saja kali ini tanpa alat penyadap maupun pelacak. Sebagai gantinya, jika kamu berada dalam bahaya, ini akan memberikan sinyal kepada Kakak untuk segera mengetahuinya agar Kakak bisa segera datang untuk melindungimu.”


“Begitu rupanya.”


“Ini memang hanyalah prototype versi pertama dari model kalung yang Kakak buat, tetapi dengan peningkatan defensif seribu kali lipat lebih kuat. Jadi kumohon berjanjilah, Ilene. Apapun yang terjadi, jangan pernah lepaskan kalung ini dari lehermu.”


Kulihat Ilene tersenyum sembari mengangguk menyetujui keinginanku itu.


Aku pun tanpa menunggu waktu lebih lama lagi segera memasangkan kalung itu ke leher Ilene.


Setidaknya, itu membuat aku sedikit lega karena jika Ilene berada dalam bahaya, aku tetap bisa segera melindunginya dengan keberadaan kalung itu.